If Tomorrow Never Come

If Tomorrow Never Come
Bab 10. Mules



Heik, heik! Galuh cegukan, secepat kilat ia menyambar botol minuman di depannya. Sambil memutar tubuh membelakangi Reza, ia meneguk habis minumannya yang tersisa. Diusapnya bibirnya dengan punggung tangannya, lalu berbalik menghadap lelaki itu kembali.


Entah apa yang ingin dilakukan laki-laki itu lagi dengan mendatangi mejanya, jujur saja ia masih kesal bila mengingat kejadian barusan di konternya. Kakinya masih terasa pegal dan bahunya terasa kencang karena harus bolak-balik mengangkat kotak sepatu dari gudang.


Seringai nakal terlihat dibalik senyum yang terpancar di wajah lelaki yang kini duduk di sebelahnya itu. Galuh melengos dan memilih untuk melanjutkan makannya ketimbang melayani lelaki itu bicara. Sayangnya selera makannya sudah menghilang entah ke mana sejak melihat lelaki itu berada di tempat yang sama dengannya, parahnya lagi ia malah bergabung bersama dalam satu meja dengannya.


“Halo ladies,” sapa Reza ramah, seraya mengulurkan tangannya. Ia memandang ketiga wanita di dekatnya itu satu persatu. “Oh ya, namaku Reza. Dan kalian?”


Meldy menyenggol lengan Luna yang duduk di sebelahnya, “Mingkem!” bisiknya pelan ketika menyadari mulut sahabatnya itu terbuka saat menatap lelaki di hadapannya itu. “Biasa aja kali liatnya, sampai bengong kayak gitu.”


Luna meringis, tersadar dan segera menutup mulutnya. “Apaan sih, Mel. Ganggu aja!” sahutnya balas menyikut lengan Meldy.


“Ish!” Meldy mendelik seraya mengusap lengannya. Reza berusaha menahan senyumnya, sementara tangannya masih menggantung di udara. Ia melirik sekilas pada Galuh yang bersikap cuek padanya.


“Luna Maira,” sahut Luna yang pertama kali menyambut uluran tangan Reza, dan tanpa melepaskan genggaman tangannya ia memperkenalkan kedua sahabatnya itu pada Reza.


“Yang duduk di sebelah Aku ini, namanya Meldy Ayunda. Primadonanya mal ini,” ucap Luna setengah berbisik menutup mulut dengan sebelah tangannya, sambil mengedipkan sebelah mata pada Meldy yang hanya bisa meringis mendengar ucapannya.


“Gak usah didengerin omongan si Luna, itu mah bisa-bisanya dia aja.” Meldy mencubit pinggang Luna, saat melihat Luna masih memegang tangan Reza. “Lepasin tangannya, Lun. Ngapain coba, Lo pegang terus dari tadi?”


“Dih, sirik aja Lo. Yang punya tangan aja kagak protes!” Luna mencebik sembari menolehkan wajahnya pada Meldy, lalu beralih menatap Reza kembali dan tersenyum padanya. “Nah, kalau yang satu itu namanya ... Eh!”


Luna memandangi tangannya, Reza telah melepaskan pegangannya dan kini lelaki itu tengah mengulurkan tangannya pada Galuh. Meski sudah mengetahui namanya dari teriakan pak Susilo di konter tadi, tapi Reza ingin mendengar langsung dari mulut Galuh sendiri.


“Galuh Nanda.” Galuh menyebutkan namanya dan menganggukkan kepala tanpa membalas uluran tangan Reza padanya.


Reza tersenyum dan perlahan menarik tangannya kembali, ia bergumam pelan mengulang nama Galuh pada dirinya sendiri seolah sedang menghafalnya. “Kamu makan apa?” tanyanya kemudian melihat Galuh hanya mengaduk-aduk makanan di piringnya. “Pecel ayam ya?”


“Dih, dia nanya tapi dijawab sendiri.” Luna terkikik geli di dekat telinga Meldy.


“Sstt, berisik. Diem dulu napa!” sahut Meldy menaruh telunjuk di depan bibirnya.


“Ya,” sahut Galuh singkat.


“Enak?” tanya Reza lagi.


Galuh menghela napas, “Tadinya sih enak,” jawabnya seraya mengangkat wajahnya. “Tapi sekarang jadi gak enak!” Galuh meletakkan alat makannya dan mendorongnya ke tengah meja.


“Ups!” Meldy menutup mulutnya, kembali menyenggol lengan Luna.


“Lo kenapa, Luh. Bukannya ini makanan kesukaan Lo?” tanya Luna heran.


“Iya, tumben bilang gak enak?” timpal Meldy selanjutnya.


“Kenapa?” tanya Reza, kali ini ia harus mendengar alasannya. Tidak mungkin selera Galuh berubah secepat itu hanya karena kehadirannya di antara mereka bertiga. Apa mungkin Galuh masih kesal padanya karena kejadian di konternya tadi? Ia harus melakukan sesuatu agar wanita itu mau melihat padanya.


“Kenyang!” jawab Galuh enteng.


“Astaga!”


“Kenyang bagaimana, dari tadi itu makanan cuman Lo aduk-aduk doang?” ucap Luna menunjuk makanan di piring Galuh. “Mubazir atuh Non, sayang makanan dibuang-buang!”


“Ya kalau udah kenyang masa dipaksa!” balas Galuh dengan nada tak suka.


“Loh, itu kan bekas Galuh!”


“Eh, kok dimakan?” Galuh menatap tak percaya, Reza menyantap makanannya tanpa mengganti alat makan yang sudah digunakan Galuh sebelumnya.


Galuh berusaha menghalangi, tapi Reza menepis pelan tangannya dan bahkan kini menahannya dalam genggaman tangannya.


“Beneran enak kok, sayang banget kalau gak dihabisin.” Reza terus menyuapkan makanan ke dalam mulutnya, dan dalam sekejap makanan itu telah habis tandas tak bersisa. “Pedas sih, tapi masih pas di lidah Aku.”


“Oh my God!” Luna menepuk keningnya, Meldy menyambar tisu di depannya dan menyerahkan pada Reza.


Peluh menetes dari kening Reza, seputar bibirnya terlihat memerah kepedasan. Dari mulutnya terdengar suara seperti orang bersiul. Galuh yang tadinya kaget melihat apa yang dilakukan Reza dengan memakan habis makanannya, kini tak dapat menyembunyikan rasa herannya.


“Maksud Kamu apa sih ngelakuin ini semua. Apa yang mau Kamu tunjukkan sama Aku, pakai ngabisin makanan Aku segala. Kalau Kamu tiba-tiba sakit perut gimana? Aku lagi yang bakal disalahkan sama orang satu mal,” cecar Galuh pada Reza.


“Aku gak punya maksud apa-apa, Aku juga gak ingin nunjukkan sesuatu sama Kamu. Aku cuma ingin kenal dan minta maaf sama Kamu soal tadi. Gara-gara Aku, Kamu jadi kena marah pak Susilo.” Reza melepaskan genggaman tangannya, lalu menghapus peluh di wajahnya.


“Udah biasa kali Aku kena omel pak Silo, bukan kali ini aja. Lagian memang hobby dia nyanyi di depan anak buahnya,” sahut Galuh seraya mengusap kedua tangannya.


“Serius Kamu gapapa, itu bibirnya sampai merah gitu?” tanya Luna, “Kalau memang suka, kenapa gak pesan sendiri tadi. Malah makan punya Galuh, itu anak level pedasnya gak kira-kira tau. Kalau gak tahan jatuhnya bisa mules.”


“Aku gapapa,” jawab Reza. Ia lalu memanggil pelayan dan membayar semua pesanan mereka. “Bungkusin dua pecel ayamnya, Mbak. Pedas ya samain kayak yang tadi dipesan sama Mbak ini,” ucapnya kemudian.


“Dih, dia doyan!” ujar Meldy tertawa kemudian.


Mau gak mau Galuh ikutan tertawa, “Memang yang barusan kurang ya?”


“Bukan buat Aku, tapi buat mereka berdua. Masa cuman Aku doang yang mules,” ucap Reza keceplosan.


“Lah, beneran mules kan!”


“Ya udah, bentar kalau dah jadi anterin ke meja sono ya. Kasih ke mereka berdua,” pintanya pada Galuh, dan Reza langsung ngeloyor pergi meninggalkan mereka semua.


“Za, Lo mau ke mana buru-buru gitu?” tanya Danil melihat Reza berjalan cepat keluar dari kafetaria.


“Mules cuy!” sahutnya sambil melambaikan tangannya.


“Emang makan apaan? Perasaan dari tadi kita gak pesan yang pedas-pedas,” tanya Aldy menyapukan pandangan ke atas meja. Hanya ayam goreng dan saus sambal biasa tidak akan membuat perut mereka mulas.


“Kali aja Reza ikutan nyantap makanan mereka, biasalah cewek kan suka yang pedas-pedas. Perut Reza aja yang suka bermasalah,” sahut Danil santai, sembari mencolek saus dengan kentang goreng di tangannya.


“Sampai segitunya, Gue yakin Reza suka beneran sama itu cewek. Jarang-jarang banget lihat dia perhatian kayak gitu sama cewek lain, sudah lama banget sejak .. “


“Sudah, gak usah bahas masa lalu deh. Kalau Reza dengar bisa berabe!” ucap Danil mengingatkan.


Jam makan siang sudah selesai, Galuh dan kedua sahabatnya beranjak pergi dari sana setelah sebelumnya mampir ke meja Danil dan Aldy untuk mengantar pesanan Reza. Dilihatnya Reza belum kembali ke mejanya.


“Luh, anak orang Lo bikin mules!” bisik Luna setelah mereka keluar dari kafetaria mal.


“Lah, bukan salah Aku kali. Dia yang mau cobain makanan Aku kan? Sudah yuk balik kerja,” ucap Galuh menarik tangan kedua sahabatnya. Meski terlihat cuek, sebenarnya ia khawatir juga teringat Reza yang meringis menahan mulas di perutnya.


▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎