
Reza datang ke Senyiur kafe berniat untuk sekedar menenangkan diri, ia suka tempat itu. Letaknya yang persis berada di pinggir pantai membuatnya suka sekali berlama-lama duduk di sana, menikmati debur ombak pantai yang saling berkejaran atau menatap langit malam yang bertabur banyak bintang. Terasa menenangkan hati.
Seperti malam-malam sebelumnya, kafe itu selalu ramai didatangi pengunjung. Reza sering datang ke sana bersama dua orang sahabatnya dan selalu memilih tempat yang terpencil dan berada di sudut ruangan dekat dengan pintu keluar yang mengarah langsung ke tepi pantai. Dari tempatnya berada itu, ia bisa melihat setiap tamu yang datang tanpa orang lain mengetahui keberadaannya.
Di bagian sisi kiri kafe, ada tangga turun terbuat dari kayu mahogani sebanyak tiga lembar papan yang memanjang dan lebar, berjajar rapi di bawah sana. Saat menjejakkan kakinya, orang akan merasakan mata kakinya tenggelam karena terserap masuk oleh pasirnya yang selalu basah.
Tidak jauh dari sana, ada pula ayunan dari ban bekas yang tergantung di dahan pohon besar yang terus bergerak dan berputar karena tertiup angin kencang.
“Dari tadi Gue perhatiin, Lo kayak ada masalah gitu Za. Cerita dong sama kita, kali aja kita berdua bisa bantu.” Danil membuka suara, sedari tadi ia perhatikan Reza duduk melamun sambil menatap ke luar kafe.
Reza menggelengkan kepala tanpa menolehkan wajahnya, pandangannya tetap lurus ke depan. “Nothing!” sahutnya kemudian.
“Ck, Gue heran! Kalian berdua ini memang jodoh kali, yak. Selalu saja berada di tempat dan waktu yang sama. Lihat ke arah pintu luar di depan sana.” Aldy menepuk bahu Reza, lalu menunjuk dengan dagunya ke arah pintu luar di mana dua orang wanita muda tengah asyik menikmati makanan di depannya.
“Maksud Lo?” tanya Danil penasaran, menoleh mengikuti arah pandang yang ditunjuk Aldy.
Reza mendelik sambil memegang bahunya, “Apa sih, ganggu aja Lo!”
“Ck, lihat sono!” Aldy kembali berdecak. “Gebetan Lo tuh lagi makan sama sohibnya.”
Reza pun menoleh, lalu terdiam sesaat dengan punggung tegak. Danil mengulum senyum melihat ekspresi di wajah Reza yang langsung berubah saat menatap Galuh.
“Jadi lapar Gue. Pesanin Gue makan dong, Al.” Danil menyikut lengan Aldy sambil menahan senyumnya.
“Ekhem!” Reza tersadar, melirik sekilas pada dua sahabatnya itu yang menatapnya dengan sinar mata menggoda yang kentara. Sudut bibirnya terangkat, ia menyentakkan ujung jaketnya dan bersandar kembali di kursinya. “Manja! Pesan sendiri lah, Bro!”
Danil tergelak mendengarnya. “Gue dikatain manja, Bro. Hahaha!”
Danil lalu memanggil pelayan dan mulai memesan makanan, sambil bertanya pada Aldy menu apa yang diinginkan sahabatnya itu. Hal itu memberikan waktu pada Reza untuk memikirkan kembali tindakan apa yang akan dilakukannya setelah melihat Galuh berada di tempat yang sama dengannya.
Reza menatap ke arah Galuh. Seolah menyadari kehadiran Reza di tempat itu, Galuh pun menoleh. Tatapan keduanya bertemu, Galuh cepat-cepat memalingkan wajahnya. Dengan jantung berdebar lebih cepat dari biasanya, ia menundukkan kepala kembali dan meneruskan makannya.
“Ya Tuhan, kenapa harus bertemu dia lagi di tempat ini.” Galuh berbisik dalam hati.
“Za, Lo mau makan apa biar Gue pesanin sekalian?” tanya Danil, namun Reza bergeming dengan mata terus menatap ke arah Galuh.
“Za, pakai sayur asem gak nih? Lo kan doyan yang kuah ..” Sebelum Danil menyelesaikan ucapannya, Reza sudah bangkit dari kursinya dan berjalan dengan tergesa. Reza hanya mengibaskan tangannya saat Danil mencoba menahan langkahnya. “Woi, Lo mau ke mana Za!”
“Kalian di sini saja, Gue harus bicara sama Galuh!” ucap Reza mantap, menepis keraguan yang sempat bersarang di hati melihat sikap Galuh yang pura-pura tak melihatnya.
Galuh sepertinya masih marah padanya, dan ia harus bicara padanya. Bila perlu membawa wanita itu pergi dari tempat itu dan bicara hanya berdua saja.
“Gass, Bro! Kejar sampai dapat.” Aldy terkekeh, suara teriakannya membuat beberapa pengunjung menoleh padanya. Ia tersenyum mesem sambil mengangkat dua jarinya. “Eh, Danil. Pesanan Lo gimana, kasihan mbaknya dari tadi nungguin!” tegur Aldy.
“Gara-gara Reza, jadi gak fokus Gue.” Danil meringis. “Udah Mbak, pepes kepitingnya dua porsi saja sama ikan bakarnya satu saja. Nanti kalau ada tambahan, biar nyusul belakangan!” ucap Danil menyerahkan buku menu pada pelayan yang masih berdiri menunggu di samping meja, tersenyum menerimanya dan segera berlalu dari sana setelah mengucapkan kata ‘ditunggu ya, Mas’.
Aldy tersenyum samar, menyangga dagu dengan tangannya ke atas meja. Menatap punggung Reza yang berjalan menuju meja Galuh berada. “Baru kali ini, Gue lihat Reza perhatian banget sama cewek yang baru dia kenal. Ngelakuin hal yang gak biasa, sampai Gue ngira itu bukan Reza yang Gue kenal. Lo bayangin aja, dia makan dari piring yang sama dengan Galuh, pakai sendok garpu bekas pakai Galuh juga. Aneh gak menurut, Lo?”
“Aneh sih. Lo kan tahu Reza orangnya kayak gimana, semua kudu terjamin kebersihannya. Pilih-pilih banget kalau soal makanan, apalagi sama yang jualan.” Danil menambahkan.
“Gue jadi penasaran apa yang mau dilakuin itu anak. Tadi diem aja, bengong kayak batu kali. Ditendang baru gerak, sekalinya lihat Galuh datang langsung semangat.”
Danil terkekeh, ia menepuk bahu Aldy seraya mendekatkan satu jari ke bibirnya meminta sahabatnya itu berhenti bicara ketika pesanan makanan sudah datang. “Terima kasih, Mbak.”
Pelayan wanita itu hanya tersenyum mengangguk dan seperti sebelumnya, ia pun bergegas pergi menuju meja di seberang mereka ketika pengunjung di meja itu memanggilnya.
“Gak usah modus pakai senyam-senyum tebar pesona, Bro. Kasihan anak gadis orang Lo php,” tegur Aldy melihat gelagat mencurigakan Danil pada gadis pelayan kafe, yang hanya dibalas dengan tawa khas Danil yang keras.
Sementara di mejanya, Galuh menarik napas dalam beberapa kali untuk menenangkan diri. Ia tak menyangka akan bertemu kembali dengan Reza di tempat itu.
“Luh, kenapa gak dihabisin makannya?” tanya Luna sembari menyeruput jus alpukat di dalam gelas.
Galuh menggeleng, “Mendadak kenyang, Lun. Mungkin kebanyakan minum kali ya, perutku jadi begah.” Galuh beralasan.
Mendadak ia kehilangan selera makannya. Rasa pedas dari makanan yang ada di hadapannya itu tak lagi mampu menggugah selera makannya. Seperti ada yang tercekat di tenggorokannya, ia mendorong piring makannya yang masih penuh dan menyambar gelas minumnya lagi.
“Sudah dong minumnya, Luh. Katanya begah!” Luna mengingatkan.
Suara langkah kaki yang mendekat membuat Galuh mengangkat wajahnya, ia terkesiap dan hampir tersedak minumannya sendiri ketika menyadari kehadiran Reza di dekatnya. “Uhuk!”
Luna menyodorkan tisu ke depan Galuh yang langsung mengambilnya dan segera mengelap mulutnya. Tanpa izin, Reza menarik kursi hadapan Galuh dan duduk di sana.
“Pak Reza?” Luna tersenyum, menganggukkan kepalanya yang dibalas Reza dengan melakukan hal yang sama.
Luna melirik sekilas pada Galuh dan tersenyum maklum. Ia tidak tahu apa sebenarnya yang terjadi di antara Reza dan Galuh, tapi ia merasa sahabatnya itu tak nyaman dengan kehadiran lelaki itu di dekatnya.
“Mau Saya pesanin makanan juga, Pak? Atau mau ...” Luna melirik piring makan Galuh yang masih penuh, lalu menutup mulut dengan tangannya berusaha menyembunyikan tawanya teringat kebiasaan unik Reza.
Reza menarik napas, ia menoleh sesaat pada Luna lalu beralih menatap Galuh lagi. “Saat ini Aku sedang tidak berselera untuk makan,” ucapnya datar. “Aku hanya ingin bicara dengan Galuh, bisa tinggalkan kami berdua saja sekarang?” imbuhnya lagi.
“Maksud Bapak, Saya harus pergi gitu?” Luna menautkan alisnya tak mengerti, bagaimana bisa lelaki itu tiba-tiba datang dan memintanya meninggalkan mereka berdua saja.
Galuh mengembuskan napas kasar, memandang Reza dengan tatapan dingin. Jelas-jelas menunjukkan rasa tidak sukanya karena lelaki itu tiba-tiba datang dan main perintah seenaknya. “Kalau mau bicara, ya bicara saja. Kenapa harus menyuruh Luna pergi, seharusnya Tuan sadar ini meja siapa. Datang-datang main perintah seenaknya!”
Bukannya menjawab, Reza malah menatap bibir Galuh. Ia melihat ada luka kecil di bibir wanita itu, dan berpikir itu pasti akibat ulahnya. Lintasan peristiwa sore tadi kembali terbayang dalam ingatannya, membuat Reza tanpa sadar menelan ludah.
Matanya tak beralih sedikit pun, pandangannya terus melekat pada wajah wanita di hadapannya itu, seolah terhipnotis oleh bibir ranum milik Galuh. Demi Tuhan, tingkahnya seperti remaja yang sedang jatuh cinta saja.
“Berhenti memandangiku seperti itu!” ucap Galuh tak nyaman, namun Reza bergeming tak melepaskan pandangannya sedikit pun.
Luna sadar, sepertinya mereka memang butuh bicara berdua saja. Dan ia harus menyingkir sejenak memberi keleluasaan pada Reza untuk bicara dengan Galuh. Bersamaan dengan ide itu muncul di kepalanya, ponselnya berdering. “Maaf, Aku harus membalas telepon dulu.”
Tanpa menunggu jawaban, Luna bangkit dari kursinya dan melangkah pergi. Hanya berpindah ke meja lain yang sudah kosong, sambil menjawab telepon masuk yang ternyata berasal dari Meldy.
Baru saja ia menjawab salam dari Meldy, tiba-tiba saja matanya melebar ketika melihat Reza menggenggam tangan Galuh dan membawanya pergi dari sana.
“Lun, Luna. Ke mana sih ini anak, hei Lunaaa ...” suara Meldy berteriak dari seberang telepon.
“Meldy, tolong Galuh Mel!”
“Galuh kenapa? Luna, bicara yang jelas. Galuh kenapa?”
“Galuh diculik Mel,” jawab Luna, masih tak percaya menatap kepergian Reza yang membawa Galuh masuk ke dalam mobilnya, meninggalkan dia sendirian di sana.
“Hah!”
▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎