
Galuh menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan. Ia benar-benar terkejut setelah mendengar pengakuan Reza padanya barusan. Lelaki itu telah jatuh cinta padanya sejak pertama kali bertemu dan menginginkan dirinya untuk secepatnya menjadi istrinya.
Entah rencana apa lagi yang sedang dijalankan laki-laki itu untuk mengganggu hidupnya kini, ia membuat Galuh bingung dengan semua yang dikatakannya. Mungkinkah lelaki itu serius padanya?
“Wah, Aku benar-benar tidak bisa mempercayai hal ini. Tuan tiba-tiba saja bilang jatuh cinta padaku dan ingin menikah denganku.” Galuh menggeleng-gelengkan kepalanya, ia merasa shock berat.
“Aku tahu ini terlalu mendadak buatmu, tapi Aku sudah memikirkan semuanya. Jika kita menikah, Kamu tidak perlu lagi bekerja di kontermu. Aku akan memenuhi semua kebutuhanmu, membantu membiayai seluruh kebutuhan hidup keluargamu dan juga biaya sekolah adik perempuanmu.”
“Dan jika Kamu tetap bersikeras ingin bekerja kembali, Kamu akan bekerja sebagai asisten pribadiku di kantor. Dengan begitu kita akan terus bersama-sama setiap harinya,” ucap Reza lagi, wajahnya tampak serius.
“Ya Tuhan, mimpi apa Aku semalam bisa terlibat masalah dengan laki-laki seperti ini.” Galuh memijit keningnya yang mendadak pening, makin lama ucapan laki-laki itu makin membuatnya bingung. Laki-laki itu seolah menyembunyikan sesuatu, tapi Galuh tak bisa menebaknya.
Dan apa yang diucapkan laki-laki itu barusan memang terdengar sangat serius. Tapi bagaimana mungkin ia bisa percaya begitu saja dengan semua kata-katanya. Hanya beberapa kali pertemuan, dan itu pun berakhir dengan perselisihan di antara mereka juga kemarahan di pihak Galuh. Lelaki itu bahkan sudah bersikap kasar padanya dengan mencuri ciuman pertamanya.
Tapi seolah semua tidak pernah terjadi sebelumnya, begitu percaya diri. Lelaki itu mengajaknya ke pantai ini dan tiba-tiba saja mengungkapkan perasaannya dengan begitu mudahnya. Seolah tanpa beban, meminta Galuh untuk menjadi istrinya. Benar-benar sesuatu hal yang tidak masuk akal bagi Galuh.
Entah apa yang harus dilakukan Galuh saat ini, bersorak girang atau malah menangis kencang setelah dilamar pengusaha muda tampan dan mapan yang sama sekali tak pernah terbesit sekali pun dalam pikirannya.
Seorang pengusaha muda yang terbilang sukses, pemilik banyak kafe di kota ini. Ayahnya juga bukan orang sembarangan, pengusaha ternama pemilik banyak mal dan hotel yang tersebar di beberapa kota di negeri ini. Pasti banyak sekali wanita yang menginginkannya dan berharap bisa menjadi pasangan hidupnya. Tapi kenapa harus dia, wanita biasa yang menjadi incaran laki-laki itu?
Reza mengabaikan komentar Galuh padanya, ia tahu wanita itu kaget mendengar ucapannya. “Aku juga sudah menyiapkan sebuah rumah yang nanti akan kita tempati setelah kita menikah.“
“Dan Aku akan berusaha terus meyakinkanmu agar mau menikah denganku. Aku tidak ingin kehilangan kesempatanku untuk bisa hidup bersama denganmu. Sekalipun waktu yang tersisa untukku tidak banyak,” bisik Reza hanya dalam hati.
Galuh mendelik, lelaki ini rupanya sudah memikirkan semuanya dengan matang. Ia bahkan sudah menyiapkan rumah untuk mereka tinggal nanti.
“Berhenti membuatku bingung dengan semua lelucon Tuan yang gak lucu ini, karena Aku tidak punya waktu banyak untuk melayani keinginan Tuan.” Galuh meraih tasnya dan beranjak pergi, tapi Reza menahan lengannya. Membuatnya harus menghentikan langkahnya dan menjatuhkan bokongnya lagi di sana.
“Apa Kamu tidak mendengar apa yang kukatakan padamu tadi?” tanya Reza, matanya lekat menatap Galuh intens. “Aku serius dengan ucapanku, Galuh sayang. Aku ingin kita menikah. Aku ingin menghabiskan sisa waktuku hanya bersamamu.”
Galuh menghela napas, lalu balas menatap Reza. “Tuan berharap Aku percaya kalau Tuan ingin menikah denganku. Bukankah itu hal yang tidak masuk akal, kita bahkan baru saling mengenal.”
Reza membawa jemari tangan Galuh ke bibirnya dan mengecupnya hangat. “Kamu pasti pernah mendengar ungkapan kalimat ini sebelumnya, jatuh cinta pada pandangan pertama. Aku percaya akan hal itu, itulah yang Aku rasakan saat pertama kali melihatmu di bawah derasnya hujan.”
“Aku jatuh cinta padamu, Galuh Nanda. Aku tidak bisa menghindarinya, Aku melakukan segala cara untuk menarik perhatianmu. Melakukan hal yang memancing emosimu, bahkan nyaris menyakiti dirimu.”
Galuh menarik tangannya dan menaruhnya di bawah meja, ke atas pangkuannya. Sentuhan lembut bibir Reza di tangannya menyisakan rasa hangat pada pipinya yang kini terlihat merona.
Galuh melirik arloji di tangannya, sudah jam sembilan lewat. Ia harus segera pulang sebelum kemalaman di jalan.
“Sudah malam, Aku harus pulang.” Galuh bangkit dari kursinya dan pergi dari hadapan Reza. Ia tak bisa berlama-lama lagi berada bersama dengan laki-laki itu di tempat ini, ia juga tidak mau menanggapi kata-kata manis ungkapan cinta sang atasan.
Belum jauh langkahnya, lelaki itu kembali menghadangnya dan berhasil menangkap lengannya. Galuh tidak dapat menyembunyikan rasa kesalnya, ia menyentakkan pegangan tangan Reza di lengannya.
“Galuh sayang, tolong dengarkan Aku!” Suara itu terdengar dalam dan seolah menghipnotisnya untuk mengikuti ucapannya. "Tunggu sebentar, Aku yang akan mengantarmu pulang."
Galuh bimbang, ia ingin segera berlalu dan pergi dari hadapan laki-laki itu. Tapi nyatanya, ia masih berdiri diam dan menunggu. Lelaki itu mengeluarkan beberapa lembar uang dari saku bajunya dan menaruhnya di atas meja, tanpa melepaskan pegangan tangannya di lengam Galuh. Seolah takut wanita itu akan pergi meninggalkannya.
“Aku Fahreza Raka Mahendra tidak pernah main-main dengan ucapanku!” Reza mengetatkan pegangan tangannya di lengan Galuh, ketika keduanya berdiri saling berhadapan. Tatapan matanya menyatakan kalau ia sangat serius ingin menikah dengannya.
“Dengarkan Aku juga Tuan Fahreza Raka Mahendra yang terhormat. Aku Galuh Nanda hanya akan menikah satu kali seumur hidupku. Menikah dengan laki-laki yang Aku cintai, bukan dengan laki-laki asing yang baru Aku kenal.”
“Jawab dengan jujur, apa Kamu sekarang sudah punya kekasih. Apa dia laki-laki yang waktu itu mengantarmu pulang ke rumahmu?” tanya Reza dingin.
Galuh membuka mulut dan hampir saja berteriak lantang mengiyakan pertanyaan Reza, tapi itu urung dilakukannya. Ia tak boleh melibatkan Kevin, dan menambah masalah baru.
“Selama beberapa hari ini orang-orangku sudah melakukan penyelidikan tentang Kamu. Dan hasilnya, tidak pernah sekalipun Kamu berhubungan dekat dengan seorang pria selama ini.” Tatapan mata laki-laki itu seolah menghunus ke dalam jantung Galuh, sangat tajam.
“Aku sibuk, Aku punya pekerjaan dan Aku punya banyak tanggung jawab. Aku tidak punya waktu untuk memikirkan masalah yang berkaitan dengan kisah asmara apalagi tentang pernikahan,” kilah Galuh.
“Yang Aku tahu, ibumu sangat ingin melihat Kamu menikah. Dan Kamu selalu punya banyak alasan untuk menyangkalnya. Adik perempuanmu bahkan sudah memiliki tunangan dan ingin menikah dalam waktu dekat, tapi ibumu tak setuju karena tidak ingin melihat sang kakak dilangkahi adiknya.”
“Kamu!” Galuh menggeleng tak percaya, “Informasi apa saja yang sudah Tuan dapatkan tentang kehidupan pribadiku!”
“Aku harus melakukannya pada calon istriku. Aku bahkan sudah mengirim kabar pada ibumu, kita akan datang mengunjungi kampung halamanmu akhir bulan ini. Dan Kamu tahu bagaimana sambutan mereka saat mendengar calon suami putrinya akan datang?”
Galuh bungkam, ia sudah dapat membayangkan bagaimana reaksi mama saat mengetahui putri pertamanya sudah memiliki calon suami. Bukankah hal itu yang selalu ditunggu-tunggu mamanya sekian lama, melihatnya menikah. Tidak melulu memikirkan bagaimana membantu menafkahi keluarganya, dan sibuk mencari biaya kuliah adik perempuannya.
Galuh tidak bisa menghindar lagi ketika Reza menyerahkan ponsel miliknya pada Galuh, dan lelaki itu berdiri sambil tersenyum penuh kemenangan sembari menyilangkan kaki. Bersandar pada tiang kayu di belakangnya, setelah wajah mamanya muncul memenuhi layar ponselnya.
▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎