
Lelaki itu benar-benar mengacaukan pikiran Galuh, membuat hari-harinya terasa panjang. Bayangan dirinya terus saja menghantui, bahkan malam-malam yang dilaluinya menjadi sulit membuat Galuh tak bisa tidur nyenyak lagi.
“Katanya mau kasih Aku waktu buat berpikir, tapi kenapa sikapnya jadi dingin seperti itu.”
Setengah melamun Galuh berdiri menunggu Luna di depan konternya, menatap sahabatnya itu yang tengah membereskan barang-barangnya. Sesekali Galuh melirik arloji di tangannya. Jam seperti ini biasanya Reza akan datang untuk menemuinya dan mengajaknya pulang bersama. Tapi, sepertinya hal itu tidak akan terjadi lagi.
“Jangan kebanyakan bengong, yang ada jodoh makin jauh!” Luna tiba-tiba sudah berdiri di depannya, merangkul lengan Galuh dan mengajaknya melangkah bersama.
“Jodohnya sih sudah di depan mata,” sahut Galuh seraya mencebikkan bibirnya. “Gara-gara kelamaan mikir, sekarang jadi menjauh.”
“Ups!” Luna menyembunyikan tawanya, memiringkan wajahnya menatap Galuh saksama. “Nah, itu tau. Kalau gak mau kehilangan, buruan terima lamarannya. Kalau sudah siap kenapa harus ditunda-tunda?”
Galuh menghela napas, balas menatap Luna. “Aku bukan menunda-nunda, Lun. Aku cuman minta waktu buat berpikir. Aku mau menikah hanya sekali seumur hidupku, bersama laki-laki yang Aku cinta dan mencintaiku apa adanya.”
“Yang Aku tahu, Reza cinta sama Kamu dan menerima Kamu apa adanya.” Sahut Luna. “Kamu sendiri sebenarnya cinta gak sih sama Reza?”
Beberapa hari ini ia selalu gelisah tak menentu setiap kali teringat laki-laki itu, kangen ingin bertemu tapi malu untuk menyapa terlebih dahulu. Hatinya terasa kosong, seperti ada sesuatu yang kurang.
“Dih, bengong lagi! Bukannya dijawab malah bengong. Ini nih yang suka bikin orang bingung sama sikap Kamu,” ujar Luna menatap sebal pada Galuh yang hanya meringis mendengar ucapannya.
“Kalau Aku gak cinta sama dia, gak mungkin Aku tiap hari gelisah mikirin dia.” Jawab Galuh pada akhirnya, mengakui perasaan hatinya yang sebenarnya pada Reza.
“Terus apa yang Kamu takutkan, Luh. Reza laki-laki baik, Aku yakin dia bisa buat Kamu bahagia.”
“Aku takut, Lun.” Galuh terdiam sesaat, “Status sosial di antara kami berdua itu beda banget, Aku takut kecewa lagi.”
Luna menggenggam tangan Galuh, menatap lekat mata sahabatnya itu. “Lupakan dia, Luh. Semua sudah berlalu lama sekali, dan Reza bukan dia. Tidak semua orang kaya seperti dia,” ucap Luna meyakinkan.
Galuh menggigit bibirnya, ucapan Luna memang benar adanya. Tidak semua orang kaya memandang rendah pada mereka yang tak punya. Meski sudah lama berlalu, tapi tetap saja sulit melupakan sesuatu yang pernah membuat hatinya terluka.
Tidak mudah baginya untuk bisa membaur dengan gaya hidup orang kaya yang jauh berbeda dari kebiasaan hidunya yang sangat sederhana, acap kali jadi bahan sindiran dan cemooh membuatnya merasa terasing di tengah orang banyak.
Kejadian di pesta oma Reza mengingatkan Galuh pada luka masa lalu, penampilan masih selalu jadi faktor utama diri ini bisa diterima di lingkup pergaulan orang kaya.
“Aku takut, Lun.” Ujar Galuh meremas kedua tangannya sendiri.
Luna hanya bisa menghela napas dalam, ia tak menyangka kalau kejadian beberapa tahun lalu masih begitu membekas di hati Galuh.
“Kita pulang,” ajak Luna setelah melihat Galuh mulai kembali tenang.
Galuh mengangguk, “Lun, apa Kamu gak lihat perubahan sikap Reza sama Aku. Sekarang dia gak sehangat dulu lagi, malah seperti menghindar.”
“Tadi waktu meeting juga gak sekali pun Reza bertanya sama Aku, apalagi mau menatap Aku. Padahal semua laporan teman-teman untuk acara liburan karyawan semua diserahkan ke Aku. Aku jadi gak yakin sama keseriusan dia mau nikah sama Aku,” lanjut Galuh lagi.
“Percaya sama Aku, Reza benar-benar serius dengan lamarannya. Mungkin dia melakukan semua ini dengan niat supaya Kamu bisa berpikir jernih dalam mengambil keputusan, selain untuk menguji kesungguhan hati Kamu. Kalau memang benar kalian saling mencintai akan mudah jalannya untuk bersatu.”
Galuh tersenyum, “Terima kasih , Lun. Rasanya lega habis bicara banyak sama Kamu.”
“Sama-sama, say. Kalau sudah mantap dan yakin dengan hatimu, jangan tunda lagi untuk segera menjawab lamaran Reza.”
Galuh mengangguk kuat, mereka sudah sampai di lantai bawah parkir gedung mal. Kali ini Galuh akan pulang bersama Luna. Sambil menunggu Luna mengeluarkan helm dari jok motornya, Galuh merogoh tasnya dan mengeluarkan ponselnya. “Aku mau telepon Reza dulu.”
“Oke, biar Aku melipir dulu di pojokan.” Sahut Luna memilih duduk di atas motornya sementara Galuh mulai menelepon Reza.
Galuh tertawa melihatnya, baru saja ia hendak menelepon Reza, ponselnya berbunyi. Dan suara serak di sana membuat Galuh berubah panik. Ia memutar tubuhnya memindai sekelilingnya seolah mencari sesuatu sambil terus mendekatkan ponsel di telinga, “Abang sekarang lagi di mana?”
“Ada apa dengan Reza, Luh?” Luna yang melihat kepanikan dari sikap Galuh saat menerima telepon dari Reza, langsung turun dari motornya dan bergegas mendekati Galuh.
“Galuh, tunggu!” teriak Luna sembari berlari mengikuti langkah Galuh.
Galuh berhenti di depan sebuah mobil hitam, di mana di dalamnya ada Reza yang duduk menelungkup sambil memeluk setir mobilnya. “Abang buka pintunya!” Galuh mengetuk kaca mobil Reza.
Reza mengangkat wajahnya yang tampak pucat, ia menoleh ke samping saat mendengar teriakan Galuh di dekatnya. Perlahan kaca mobil itu terbuka, Galuh terkesiap melihat Reza duduk bersandar sambil menutup hidungnya.
“Abang!” Galuh membuka pintu mobil dan langsung memeriksa wajah Reza, matanya melebar melihat sapu tangan Reza yang terkena noda darah.
“Kita ke rumah sakit sekarang, biar Aku yang bawa mobilnya.” Ucap Luna melihat keadaan Reza yang tampak lemah.
“Aku gapapa, hanya kecapaian saja. Dibawa istirahat tidur juga sebentar pulih,” ujar Reza menolak dibawa ke rumah sakit.
“Gak! Abang harus nurut, kita ke rumah sakit sekarang!” jawab Galuh tegas.
Galuh memapah Reza keluar dari mobil dan berpindah duduk ke bangku belakang, sementara Luna mengambil alih menyetir mobilnya. Sepanjang perjalanan Galuh terus menggenggam tangan Reza yang tak berhenti tersenyum di sampingnya.
“Kenapa jadi senyum-senyum seperti itu, apa ada yang aneh di wajahku?” tanya Galuh.
Reza menggeleng, sebelah tangannya yang bebas menyentuh pipi Galuh. “Aku sayang Kamu, kangen sama Kamu.”
“Dih, sempat-sempat aja ngerayu.” Galuh melengos dengan pipi bersemu merah.
“Kacang-kacang!” ucap Luna dari arah depan. “Hiks, tega kalian berdua. Gak kasihan sama Aku yang jomblo ini.”
Reza terkekeh mendengarnya, “Lun, Kamu setuju kan kalau Aku nikah sama Galuh?”
Luna langsung mengangguk kuat, “Yes, seratus persen setuju. Semakin cepat semakin baik.”
“Kalau begitu, bantu Aku buat meyakinkan sahabatmu ini untuk menerima lamaranku. Aku sudah berusaha meyakinkannya kalau Aku benar-benar serius dengan ucapanku, Aku rela kasih waktu lama untuk berpikir meski hati ini gak kuat menahan rindu yang semakin kuat bersarang di dada. Sampai sesak rasanya,” ungkap Reza.
“Dih, malah curhat!” wajah Galuh makin memerah.
“Aku tahu kenapa Kamu takut menikah denganku, Kamu takut jatuh cinta terutama pada lelaki kaya seperti Aku.” Reza menyibak rambut hitam yang tergerai menutupi wajah Galuh.
“Aku bukan dia. Aku tidak mungkin menyakiti wanita yang Aku cintai, karena Kamu bagian terpenting dalam hidupku.” Lanjut Reza lagi.
“Aku bersumpah tidak akan pernah menyakitimu. Aku mencintaimu, dan Aku akan memperlakukanmu dengan penuh cinta.” Pungkas Reza.
Tak terasa sudut mata Galuh berair, jatuh menetes di pipinya. Hatinya menghangat, keharuan menyelimuti dadanya. “Abang.” Galuh membisikkan nama lelaki itu di antara derai air matanya, ia tak kuasa lagi menahan tangisnya.
Lengan Reza memeluk sayang tubuhnya, dikecupnya kening Galuh dengan segenap rasa yang dimilikinya. Lama dan penuh perasaan.
“Kita sudah sampai. Aku harap kalian berdua bisa menahan diri untuk tidak memamerkan kemesraan kalian lagi di depanku atau di tempat umum seperti ini,” ucap Luna ketika mereka tiba di depan rumah sakit.
Reza tertawa, Galuh tersipu malu.
Luna bergegas keluar dan berbicara pada petugas medis di sana, sementara Galuh terus menemani Reza di dalam mobil.
Sebelum lelaki itu dipindahkan ke atas brankar, Reza menahan tangan Galuh untuk tetap bersamanya. “Kapan Kau mau menikah denganku?”
Seketika pipi Galuh langsung memerah, sementara semua mata mengarah padanya menunggu jawaban.
▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎