If Tomorrow Never Come

If Tomorrow Never Come
Bab 43. Pandangan orang



Galuh tak pernah bermimpi sama sekali kalau niatnya untuk membantu Yuli akan berakhir seperti saat ini. Bertemu dengan rombongan wanita-wanita cantik dan berpenampilan seksieh, lalu terlibat percekcokan mulut dengan mereka.


Galuh berusaha menahan dirinya sejak tadi. Ia tak ingin membuat kericuhan di pesta omanya Reza dan membuat malu laki-laki itu, meski kini perhatian semua tamu yang berada di taman itu sedang tertuju padanya.


Tapi wanita di depannya itu sudah menyinggung harga dirinya. Meski ia seorang pelayan sekalipun, tak ada salahnya mereka berbicara dan menyuruh dirinya dengan nada yang lebih sopan. Dan bukannya bersikap melecehkan.


“Gue gak mau tahu, pokoknya Lo harus ganti baju Gue yang sudah Lo rusakin.”


“GAK! Aku gak mau,” jawab Galuh tegas dengan nada menantang.


“Kurang ajar Lo ya, berani Lo nantangin Gue. Dasar cewek udik!” Wanita itu menarik masker di wajah Galuh lalu mendorong kuat bahunya, membuat Galuh terhuyung ke belakang dan menabrak teman-temannya yang berdiri mengelilingi meja.


“Gawat, Nil. Mereka nyakitin Galuh!” Aldi terus merekam aksi wanita di depan mereka. “Yang kayak begini gak bisa didiemin, Man!”


“Ya udah, kita ke sono datengin mereka. Gimana sih, Lo. Bukannya nolongin malah sibuk ngerekam. Kalau Galuh kenapa-kenapa, gimana. Bisa habis kita kalau ketahuan Reza!”


“Tanggung, Bro. Sayang kalau gak dilanjut, ini bakal jadi bukti kuat buat meringkus komplotan cewek-cewek itu!”


“Haish!”


Danil beranjak dari kursinya dan berlari mendekat, menyibak kerumunan para tamu yang menonton keributan yang terjadi di depannya.


Mereka bersorak, menertawakan Galuh dan mencekal lengannya. “Kasih pelajaran, Ndri. Enak aja gak mau ganti!”


Mendapat angin dari teman-temannya, Indri melayangkan pukulan ke wajah Galuh. “Gue beri Lo ya!”


Galuh memalingkan muka seraya memejamkan mata, ia tak mungkin bisa menghindar karena lengannya dipegangi teman-teman Indri.


“Hentikan!” Sebelum tangan Indri menyentuh wajahnya, ada sebuah tangan kekar yang menahan gerakannya. “Biar Saya yang akan mengganti gaun Anda!”


Lelaki itu menatap tajam wajah Indri, membuat wanita itu gelagapan dan tak dapat bersuara beberapa saat lamanya hingga akhirnya lelaki itu melepaskan pegangan tangannya.


“Kamu siapanya dia, jangan sok jadi pahlawan deh. Basi tau!” Indri mengusap-usap tangannya yang memerah, melontarkan tatapan tak sukanya karena usahanya kali ini gagal akibat kedatangan laki-laki itu.


“Siapa Saya bukan urusan Anda, Nyonya. Saya hanya seorang tamu di acara ini yang kebetulan lewat dan melihat suatu kejadian yang mengusik hati nurani Saya,” jawab Kevin lugas.


“Hei, enak aja panggil Gue Nyonya. Kapan Gue nikah sama Tuan Lo, Bambang!” protes Indri kesal.


Galuh membuka mata dan menolehkan wajahnya. Tertegun sejenak saat menangkap tatapan khawatir dari pemilik mata sabit di dekatnya itu, lalu meringis kan wajahnya ketika merasakan cengkeraman tangan di lengannya kembali menguat.


“Lepasin!” Galuh hempaskan tangan yang mencekal lengannya itu hingga terlepas, lalu balik mendorong mereka hingga jatuh terduduk di atas tanah dan ganti meringis kesakitan.


Sontak semua yang ada di sana terdiam, bengong melihat seorang lelaki tampan berada di tempat itu dan tiba-tiba saja datang membela Galuh.


Danil yang sudah berada di antara mereka pun kontan terdiam, matanya menelisik memperhatikan lelaki itu yang berjalan mendekati tempat Galuh berdiri. Ia bersiap kalau sewaktu-waktu Galuh membutuhkan pertolongan dirinya.


“Kamu gapapa, Non?” tanya Kevin, ia meraih lengan Galuh dan mulai memeriksanya.


“Udah, Aku gapapa.” Sahut Galuh menepis pelan tangan Kevin di lengannya. “Bang Kevin ngapain di sini?”


“Ish!”


“Hei, Bambang! Lo janji mau gantiin gaun Gue yang rusak gara-gara cewek udik Lo itu, kan? Awas aja Lo ingkar janji!” Indri yang masih belum puas karena niatnya untuk memberi pelajaran pada Galuh terhalang akibat kedatangan Kevin, kembali menagih ucapan laki-laki itu padanya.


“Huuuu!” suasana yang tadi hening tiba-tiba riuh akibat ucapan Indri.


“Oh tidak bisa semudah itu meminta ganti rugi pada orang lain, Maemunah!” Danil yang gerah melihat tingkah Indri langsung maju ke hadapannya.


“Kita yang ada di sini tahu kejadian sebenarnya, siapa yang sudah berbuat. Kalian sengaja kan melakukan semua ini, berpura-pura datang ke acara pesta secara rombongan dengan satu misi agar bisa mendapatkan uang dengan mudah.” Danil berjalan memutar, mengitari Indri dan teman-temannya yang mulai terlihat ketakutan saling berpegangan tangan.


“Huh, cara licik yang kalian lakukan ini sudah tersebar di dunia maya dan Aku punya buktinya.” Danil mengangkat ponselnya, kemudian menaruhnya ke atas meja. “Masih mau minta ganti rugi, Nyonya?”


“Ayo, Ndri. Balik aja, bahaya kalau lama-lama di sini. Mereka sudah pada tau,” bisik salah seorang temannya menarik-narik ujung lengan gaun Indri.


Indri tak berkutik, sambil mengentakkan kakinya marah ia berjalan cepat meninggalkan tempat itu diikuti rombongan teman-temannya yang berjalan dengan wajah tertunduk malu.


Galuh mengembuskan napas lega, dan Kevin tersenyum lebar. “Lumayan, dompet Gue aman. Thank’s Bro!” ucap Kevin lalu menjabat tangan Danil.


“Gue Kevin, temannya Non Galuh.” Kevin mengenalkan dirinya.


“Non Galuh? Beneran dia panggil Kamu gitu, gak takut Reza protes?” tanya Danil diselingi tatapan menggoda.


Galuh menoleh pada Danil dan tersenyum mengiyakan. “Percuma juga dilarang, dia maunya begitu. Terserah dia juga.” Jawab Galuh seraya mengedikkan bahunya.


“Mas Danil, terima kasih ya udah bantuin barusan.” Galuh mengucapkan terima kasihnya. Tadinya sempat khawatir karena harus berhadapan dengan rombongan Indri, beruntung ada Kevin dan Danil yang datang membantu.


“Tadinya sih Aku gak percaya apa yang dibilang Aldi tadi, kalau Kamu jadi pelayan di pesta omanya Reza. Kamu sadar gak sih, kalau apa yang Kamu lakukan ini bisa buat Reza marah?”


Galuh menggeleng sambil meringiskan wajah, “Gak. Spontanitas aja, tiba-tiba ada yang butuh bantuan jadi Aku langsung aja singsingkan lengan baju dan turun buat bantu.”


“Gak mungkin kalau gak ada yang nyuruh Kamu lakuin itu semua, mereka pasti gak tau kalau Kamu itu tun ...”


“Sssstttt!” Galuh menaruh telunjuk di bibirnya, ia menggelengkan kepala kuat membuat Kevin yang berada di sampingnya mengernyitkan keningnya.


“Apa sih?” tanyanya penasaran.


“Secret!” sahut Galuh seraya mengunci bibirnya dengan dua jari, membuat Danil tertawa melihatnya. Ia lalu berpamitan pada Galuh dan kembali menemui Aldi di mejanya.


Tak lama kemudian dari ambang pintu muncul seorang wanita muda memakai gaun hitam sepanjang mata kaki turun menapaki anak tangga, ia tersenyum lebar saat melihat Kevin di sana.


Wanita itu bergegas menghampiri Kevin dan mencium kedua belah pipinya dan memaksa laki-laki itu untuk menemaninya memilih makanan tanpa melirik sedikit pun pada Galuh. Galuh melengos, membiarkan saja wanita itu memaksa Kevin mengikuti kehendaknya.


Ia lalu pergi dari sana dan tidak memedulikan panggilan Kevin padanya. Boleh jadi Galuh merasa tidak nyaman berada di tempat itu karena gaun yang dikenakannya sangat sederhana, berbeda sekali dengan Gaun yang dipakai tamu wanita lain di pesta itu. Tapi Galuh juga tidak ingin dirinya dilecehkan orang.


Semua orang di pesta itu terkecuali Reza dan omanya, tampaknya bisa melihat hal itu, bahkan kepala pelayan di rumah Reza pun mengira dirinya pelayan anak buahnya.


▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎