
Galuh terkesiap, ia tidak menyangka akan melihat Reza ada di dekat rumahnya saat ini. Entah sejak kapan, yang jelas lelaki itu tiba-tiba saja mendatanginya dengan raut wajah memerah dan bicara hal yang tidak di mengerti olehnya, menuntut penjelasan tentang pertanyaan dirinya yang sejak siang tadi sudah Galuh jawab dengan tegas.
“Jadi lelaki itu alasanmu menolak tawaran pekerjaan dariku tadi?” Reza mencengkeram kuat pergelangan tangan Galuh, membuat wanita itu meringis kesakitan. Siku lengannya berdenyut nyeri karena tegang menahan cekalan tangan Reza.
“Lepaskan tanganku, sakit tau!” Galuh menyentakkan cekalan tangan Reza, namun lelaki itu malah menahan kedua tangannya.
“Jawab saja pertanyaanku, apa dia alasanmu menolakku!” ujar Reza dengan nada memaksa.
Galuh meradang, balas menatap Reza tajam. “Siapa pun dia, tidak ada hubungannya dengan masalah ini. Aku menolak tawaran pekerjaan dari Tuan karena Aku memang tidak menginginkan pekerjaan itu. Meski dibayar sepuluh kali lipat gajiku sekalipun, Aku tetap akan menolaknya. Kalau Tuan tetap bersikeras memaksa, lebih baik Aku mengundurkan diri saja daripada ...”
Sebelum Galuh sempat menyelesaikan ucapannya, lelaki itu mendekat dan dengan gerakan tak terduga ia menangkup wajah Galuh dan merampas bibirnya begitu saja tanpa izin darinya. Ia mencium bibir Galuh dengan gerakan menuntut, tanpa memberi kesempatan pada wanita itu untuk sedikit bernapas. Reza seolah sedang melampiaskan emosinya, seperti seorang kekasih yang cemburu karena melihat wanitanya bersama pria lain.
Galuh meronta, sekuat tenaga mendorong dada Reza hingga mundur selangkah menjauh darinya.
Plakk!
“Sial lan Kau!” ucap Galuh berang. Tangannya yang bebas, terangkat dan menampar wajah Reza. Lelaki itu menyeringai seraya memegangi wajahnya yang memerah.
Galuh dapat merasakan tubuhnya gemetar tak karuan. Diusapnya bibirnya dengan gerakan kasar, seolah ingin menghapus jejak bibir lelaki itu dari sana.
“Siapa yang memberimu hak untuk mengatur-atur hidupku. Memutuskan pekerjaan apa yang pantas untukku!” semburnya lagi dengan nada suara dipenuhi kemarahan dan harga diri yang terluka.
Reza mendadak kaku, ada kilatan emosi terpancar dari sorot matanya yang tajam dan Galuh tidak melihat itu. Ia terus memuntahkan amarahnya. “Meski Tuan atasanku sekalipun, Tuan tidak berhak mengatur-atur hidupku. Aku bukan bocah ingusan yang mudah tergiur oleh tawaran pekerjaan demi mendapatkan materi dengan mudah!”
“Teruskan saja bicaramu, Aku tidak peduli. Aku akan terus mengejarmu sampai Kamu mau melakukannya untukku. Dan sebelum hal itu terjadi, Aku akan membuktikan satu hal padamu, yang Aku yakin Kamu juga menginginkannya. Hal yang sama, seperti yang kurasakan padamu!”
Dan lelaki itu melakukan apa yang diinginkannya, meraih pinggang Galuh lagi dan melekatkan tubuh wanita itu padanya.
“Kurang ajar, lepaskan hmpp ...”
Reza tidak memberi kesempatan Galuh untuk bebas, ia menyambar bibir ranum itu lagi dan menggigitnya gemas membuat wanita itu meringis merasakan sakit.
Galuh kembali meronta dan memukul ke sembarang arah. Kakinya terangkat menendang selang kang an Reza, namun lelaki itu sudah bisa menebaknya. Ia menahan kedua lengan Galuh di kedua sisi tubuhnya dan mendorong wanita itu merapat ke dinding tembok yang dingin di belakangnya.
Galuh nyaris tak dapat bernapas, tubuh Reza menekan kuat dadanya yang lembut. Lelaki itu terus melancarkan aksinya, menjelajah bibir wanita itu semaunya.
“Hiks, Kamu menyakitiku lagi.” Suara rintihan Galuh terdengar lirih disela napasnya yang tersendat.
Tanpa terasa bulir air mata jatuh di pipi Galuh, matanya memanas. Suara isak tertahan mulai terdengar dan menyentuh ruang pendengaran Reza. Lelaki itu tersadar, merasakan air mata Galuh mengalir dan jatuh menyentuh bibirnya. Ia mengangkat kepalanya, menatap wajah Galuh yang ketakutan. Matanya memerah karena menangis, wajahnya pucat dan bibirnya terlihat bengkak. Semua itu akibat ulahnya. Reza melepaskan pelukannya, dan menjauh dari tubuh Galuh segera.
Tubuh wanita itu melorot turun dengan kedua kaki ditekuk dan jatuh bersandar pada dinding tembok di belakangnya. Ia duduk sambil memeluk kedua lututnya rapat. Bahunya berguncang hebat, tangisnya pilu meski terdengar lirih.
“Ya Tuhan! Apa yang sudah kulakukan padanya! Bagaimana Aku harus menghadapinya kini, mengapa Aku bisa melakukan hal gila seperti ini padanya.”
Reza menyugar rambutnya kasar, menyesali perbuatannya pada Galuh. Entah setan apa yang merasuki pikirannya, hingga ia begitu marah dan menjadi hilang kendali saat melihat Galuh tertawa senang bersama lelaki lain di depan matanya.
“Ma-af, maafkan Aku.” Reza merendahkan tubuhnya, tangannya terulur menyentuh bahu Galuh. Tapi wanita itu menepisnya kuat.
“Pergi Kamu, pergi dari hadapanku sekarang juga. Aku benci Kamu!” usir Galuh, menatap Reza penuh kebencian. Apa yang sudah dilakukan Reza padanya, sangat menyakiti hatinya. Kecewa! Laki-laki itu sudah membuatnya kecewa, perilakunya semakin membuat Galuh membenci laki-laki itu.
“Kamu boleh memarahiku, memakiku sepuasmu. Silah kan, Aku terima. Tapi jangan suruh Aku pergi. Biarkan Aku di sini menemanimu sebentar saja,” pinta Reza dengan suara bergetar penuh penyesalan.
Ia sadar sudah menyakiti fisik wanita itu, bahkan mungkin meninggalkan trauma mendalam di hati wanita itu padanya. Reza memilih duduk di sebelah Galuh, tak peduli meski dilihatnya wanita itu menggeser tubuhnya menjauh dan menjaga jarak aman darinya.
“Pertama kali dalam hidupku, Aku begitu menginginkan seseorang. Awalnya Aku kira hanya rasa penasaran saja, karena Kamu menolak tawaranku untuk mengantarmu pulang saat hujan hari itu. Siangnya Aku bertemu lagi denganmu di mal, itulah awal Aku mulai mencari tahu tentang Kamu.”
“Jangan tanya bagaimana Aku bisa melakukan semua itu padamu, Aku sendiri tidak tahu karena Aku tidak bisa menolak ketika rasa itu datang menghampiriku. Aku jatuh cinta padamu sejak pertama kali melihatmu di bawah guyuran air hujan, dan tidak bisa menahan diriku lagi. Aku menginginkanmu selalu ada di dekatku, melakukan segala cara yang Aku bisa untuk membuatmu melihat padaku.”
“Maafkan Aku karena tidak mampu mengendalikan diriku saat melihatmu bersama pria lain. Aku menyakitimu dan melukai hatimu. Aku tahu pasti tidak mudah mendapat kata maaf darimu, tapi percayalah. Akan Aku lakukan apa pun! Apa pun itu hingga Kamu mau memaafkan Aku dan menerima rasa ini yang memang hanya tertuju padamu.”
Galuh tertegun, ia tidak menyangka akan mendengar kata-kata itu keluar dari mulut seorang Reza. Tangisnya sudah tak terdengar lagi, meski sisa air mata masih membekas di pipinya. Ketegangannya perlahan mengendur meski belum hilang sepenuhnya. Dilihatnya Reza terduduk lesu di dekatnya, matanya menerawang menatap langit yang mulai beranjak senja.
“Pulanglah, Aku ingin sendiri saat ini.” Galuh berucap pelan, suaranya mulai terdengar wajar.
Reza menolehkan wajahnya, menatap Galuh intens. Helaan napasnya terdengar berat saat tatapannya beralih ke bibir wanita itu yang bengkak. “Aku menyakitimu,” gumamnya pelan.
Galuh memalingkan wajahnya, tak ingin menanggapi. Ia beranjak berdiri dan berjalan perlahan menuju pintu rumahnya. Saat daun pintu itu terbuka, Galuh segera masuk dan menutupnya kembali dengan cepat. Masih sempat didengarnya suara Reza yang kembali meminta maaf padanya sebelum ia melangkah masuk ke dalam kamar dan merebahkan tubuhnya yang lelah di sana.
▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎