
Reza membawa Galuh berjalan keluar kamar, mengajaknya menemui oma di ruang utama. Setibanya di sana, dilihatnya oma sedang duduk bersama papanya menikmati makanan yang tersaji di atas meja.
“Kita temui oma di mejanya,” kata Reza mengeratkan genggaman tangannya, tersenyum menoleh pada Galuh yang berjalan di sampingnya.
“Tapi ...” Galuh ragu-ragu, apa gaun sederhana yang dipakainya itu cukup layak untuk dikenakan saat menemui oma di sana. Galuh menahan lengan Reza, menatap laki-laki itu sejenak lalu beralih menatap pada pakaian yang dikenakannya. “Pakaianku ...”
Reza menghentikan langkahnya dan menatap Galuh dengan sorot mata lembut. “Kamu tampak cantik dengan pakaian yang melekat indah di tubuhmu itu, yank. Oma pasti sangat senang melihatmu datang.”
Blush! Rona merah menjalar di pipi Galuh mendengar ucapan laki-laki itu barusan. Tersipu malu dengan wajah setengah menunduk ia menyelipkan tangannya di lengan Reza. Galuh hanya perlu menyingkirkan rasa khawatir yang sempat singgah dalam benaknya, itu saja. “Baiklah, Aku siap bertemu dengan oma sekarang.”
Reza tersenyum lebar, menepuk lembut tangan Galuh di lengannya. Setengah berbisik ia berkata pada Galuh, “Percaya padaku, Kamu akan langsung jatuh cinta pada oma ketika pertama kali bertemu dan mengenalnya.”
Reza membimbingnya menuju meja yang ditempati oma bersama papanya yang berada paling depan di bagian ruang utama rumahnya.
Kepala pelayan yang berdiri di belakang meja oma langsung menundukkan badan setelah melihat kehadiran Reza dan bergegas menyambut kedatangannya. Ia berjalan menghampiri Reza dan berbisik pada lelaki itu kalau kedatangan dirinya dan Galuh sudah ditunggu sejak tadi oleh omanya.
“Aldi dan Danil, apa mereka berdua sudah datang, Pak Gun?” tanya Reza.
“Tuan Danil dan Aldi sedang bersama dengan teman-teman Tuan yang lain di taman. Mereka berdua datang sejam yang lalu saat Tuan sedang menjemput Nona Galuh,” jelas pak Gun.
“Terima kasih, Pak Gun. Nanti Saya akan temui mereka di taman,” ucap Reza mengangguk mengerti dan kepala pelayan itu pun menyingkir dari hadapan Reza dan kembali mengatur anak buahnya.
Reza dan Galuh meneruskan langkahnya mendekati meja oma, wanita itu rupanya sudah menyelesaikan makannya dan kini sedang duduk santai menikmati lantunan lagu dari band yang sengaja diundang untuk meramaikan acara malam itu.
Sementara papanya terlihat berjalan menemui tamu undangan yang baru saja datang setelah terlebih dahulu berpamitan pada oma.
Oma menoleh cepat ketika merasakan tangan seseorang menyentuh bahunya pelan dari belakang. Ia terkejut dan spontan memukul bahu cucunya itu yang berdiri dengan membungkukkan badan dan wajah sangat dekat dengannya.
“Dasar cucu nakal, ngagetin Oma saja.” Oma Ratna memukul tak hanya sekali, dan Reza harus segera menghentikannya dengan cara menangkap tangan omanya dan merangkulnya dari belakang.
“Mana Galuh yang katanya mau Kamu kenalkan sama Oma malam ini, jangan bohong ya. Atau Kamu harus bersedia Oma jodohkan dengan salah satu tamu wanita yang datang di sini!" ancam oma membuat Galuh yang berdiri di belakang Reza langsung bergegas maju ke hadapan wanita itu dan segera mengenalkan dirinya.
“Selamat ulang tahun, Oma. Saya Galuh Nanda, teman Abang Reza.” Galuh mencium punggung tangan oma, yang menatapnya cukup lama. Lalu senyum wanita itu merekah, dengan wajah senang ia menyuruh Galuh untuk duduk di sebelahnya.
“Abang Reza?” Oma tersenyum penuh arti, “Jadi cucuku sudah jadi abangnya Galuh sekarang.”
Untuk kedua kalinya pipi Galuh merona, apalagi saat dilihatnya Reza mengedipkan sebelah mata padanya. Dan oma sepertinya melihat hal itu, dan wanita itu tiba-tiba saja langsung merapatkan tubuhnya dan memeluk bahu Galuh erat.
“Apa Reza sudah memperlihatkannya padamu, kamar yang sudah Oma siapkan untuk Kamu tempati malam ini saat menginap di rumah ini?” tanya oma dengan wajah serius.
“Sudah Oma,” jawab Galuh.
Galuh mengulum senyumnya, “Suka Oma.”
“Bagus! Oma lega mendengarnya.”
Malam itu Galuh terus berada di sebelah oma, ia menemani wanita itu dan dikenalkan pada tamu undangan sebagai calon cucu mantunya. Tentu saja hal itu menimbulkan kasak-kusuk mereka yang mendengarnya.
Tak lama kemudian sepasang tamu berusia lanjut datang bersama Dio Mahendra, papa Reza. Mereka berjalan menghampiri meja oma yang sedang duduk berbincang bersama Galuh dan Reza.
Reza bangkit dari kursinya diikuti Galuh, sementara oma Ratna tetap duduk di tempatnya. Dio tersenyum pada Galuh dan mengusap rambut kepalanya saat wanita itu menerima uluran tangannya dan mencium punggung tangannya. Demikian pula dengan Reza yang langsung memeluk papanya yang balas mengacak rambutnya sayang.
“Apa kabar, Nak?” sapanya ramah pada Galuh, lalu mengambil tempat duduk di sebelah wanita itu.
“Baik, Om.” Galuh balas tersenyum ramah, hatinya menghangat mendapati sikap keluarga Reza yang manis dan menerimanya dengan tangan terbuka.
Ia paham kini, mengapa Reza begitu bangga dengan papanya itu. Meski dibesarkan oleh seorang papa karena mamanya telah terlebih dahulu meninggal dunia, namun terlihat jelas bagaimana kasih sayang dan keakraban yang terjalin di antara ayah dan anak itu.
Galuh tersenyum pada pasangan lanjut usia di depannya itu, yang balas tersenyum tipis padanya. Mereka berdua lebih banyak bertanya pada Reza, menanyakan masalah pekerjaan hingga hubungan asmaranya.
Reza menjawab sopan, dan seperlunya saja saat diingatkan oleh pasangan itu tentang Indri cucu mereka yang merupakan teman kuliah Reza di kampus yang sama. Sesekali Gio menimpali dan membalas pertanyaan mereka dengan candaan.
“Pak Hendra, anak muda jaman sekarang kalau cari pasangan gak kayak jaman kita dulu, mereka dekat belum tentu jadian. Istilahnya teman tapi mesra, beda sama kita. Kalau sudah sering jalan bareng berdua, ya pastinya memang sudah pacaran.”
“Asal jangan salah pilih saja, sekarang banyak perempuan yang berpura-pura mendekat dan bilang cinta hanya untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Berbagai cara dilakukan agar tercapai tujuan, status sosial pastinya jadi terangkat bila jadi pasangan orang kaya. Maklumlah, bisa dekat dengan lelaki kaya dan sukses macam Reza anak kita ini, pasti sangat diidam-idamkan oleh banyak wanita. Apalagi kalau bisa memikat hatinya,” ucap lelaki itu panjang lebar.
Sebenarnya perbincangan di antara mereka cukup menyenangkan, tapi Galuh menangkap tatapan melecehkan dalam mata mereka saat melihatnya.
Ucapan mereka cenderung menyindirnya. Tampilannya memang berbeda dengan para tamu yang datang malam itu, gaunnya sangat sederhana meski tak bisa dipungkiri Galuh terlihat manis saat memakainya.
Reza tidak tinggal diam, ia tahu pasangan di depannya itu ingin mendekatkan Indri cucu mereka pada Reza. Sayangnya Reza enggan menanggapi, terlihat sekali lelaki itu selalu melibatkan Galuh setiap kali ia berbicara dan tidak membiarkan wanitanya itu duduk diam saja.
Ada saja yang ditanyakannya pada Galuh, setiap tamu lelaki di dekat mereka itu menyebut nama cucu perempuannya.
Oma lebih banyak menjadi pendengar saja, sesekali ia tersenyum dan menanggapi pertanyaan dari tamunya itu soal kesehatan dan pola makannya selama ini. Karena oma Ratna, meski usianya sudah hampir tujuh puluh tahun masih terlihat sehat dan bugar.
Dan ketika pasangan itu berpamitan, lalu mengundang Reza untuk datang ke rumah mereka esok hari, mereka sama sekali tidak melihat pada Galuh atau menyebut nama Galuh.
Lalu berikutnya, saat tamu lain datang dan Galuh mengenal mereka sebagai pengusaha sukses negeri ini yang wajahnya sering ia lihat dari televisi atau berita yang dibacanya di majalah. Galuh sadar perbedaan status sosial yang ada di antara dirinya dan Reza, meski ia tahu sampai detik ini lelaki itu tidak pernah sekalipun mempermasalahkan hal itu dalam hubungan mereka.
▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎