If Tomorrow Never Come

If Tomorrow Never Come
Bab 14. Kamu lagi!



Galuh melajukan motornya dengan kecepatan sedang, sambil terus merutuk dalam hati mengingat kejadian sore tadi. Niat ingin cepat pulang dan beristirahat di rumah santai bersama keluarga, malah berakhir dengan pulang telat.


Jam kerjanya bahkan sudah selesai berjam-jam yang lalu, tapi ia masih saja berkutat mengurus masalah barang yang dibeli pelanggan. Sekarang ia harus bolak-balik ke mal mengembalikan sepatu yang ditukar Reza, juga untuk mengembalikan motor Ami yang dipakainya.


Galuh masih terbakar amarah ketika ia sampai di konternya kembali, ia hempaskan bungkusan kotak sepatu ke lantai dan menyerahkan kunci motor langsung ke tangan pemiliknya yang memandang kedatangannya dengan kening berkerut.


Peluh membanjiri wajah juga punggung Galuh. Wanita itu dengan cepat menegak habis air mineral dari botol plastik yang dibawanya, lalu meremasnya kuat hingga menimbulkan bunyi berderak yang kuat.


“Pengen tendang itu cowok jauuuhh sampai ke Mars, terus dijadiin pepes sama para alien di sana. Dibungkus daun pisang terus dibakar pakai api besar. Biar cepat matang abis itu disantap rame-rame!” ujar Galuh sambil mendengkus membayangkan adegan itu.


“Sadis!” balas Ami. “Boleh Aku bertanya apa yang sudah dilakukan lelaki itu padamu sampai- sampai Kamu ingin ia jadi santapan alien di sana?”


“Aku terus bersabar menghadapi ulahnya, mengalah mengantarkan barang belanjaannya di luar jam kerja. Sampai kepalaku harus terkena bola mental, lalu dia seenaknya saja bilang kalau Aku terpesona dengan ...”


“Terpesona dengan?” alis mata Ami bertaut. “Dengan siapa?”


Galuh berdeham, “Sudahlah, lupakan saja. Toh Aku juga sudah memberi laki-laki itu pelajaran, jadi dia gak bakal berani lagi macam-macam!”


“Sebenarnya apa yang terjadi di sana tadi, dan pelajaran seperti apa yang sudah Kamu berikan padanya?” tanya Ami penasaran. Ia sangat mengenal wanita di hadapannya itu, yang selalu bersikap ramah pada setiap pelanggan mereka dan selama ini tak pernah sekalipun berselisih dengan salah satu dari mereka. Aneh saja beberapa hari ini ia melihat Galuh sering dibuat kesal oleh pelanggannya.


“Aku mengancam melemparnya dengan kotak sepatu yang kubawa, dia mencekal tanganku dan mengatakan kalau Aku harus mengganti sepatuku untuk menyelamatkan diri darinya. Dan dia ... lelaki itu memelukku dan bilang padaku kalau Aku terpesona padanya dan itu kali pertama Aku berada dalam jarak dekat dengan seorang laki-laki.” Wajah Galuh memerah saat mengatakan hal itu, sejenak ia menghentikan bicaranya.


“Aku tidak terima ucapannya dan langsung menendang selang kangannya!” lanjut Galuh, “Aku rasa dia pantas mendapatkan balasan setimpal.”


Ami tergelak pelan, “Sabar Non, ini ujian!”


“Seumur-umur kerja, baru kali ini nemu pelanggan model macam dia. Nyebelin, ngeselin, bikin darting!”


“Jangan emosi terus ih, biasanya kalau kayak gitu suka terbayang-bayang wajahnya. Terngiang-ngiang setiap ucapannya,” celetuk Ami seraya mengulum senyum.


“Ish, apaan sih! Dah lah Aku balik sekarang, mau service body biar bisa fresh lagi besok. Bye, Mi!” Galuh melenggang pergi. Ia berjalan keluar gedung mal dan berdiri di pinggir jalan menunggu angkot pulang.


Setibanya di rumah, ia sudah disambut banyak pertanyaan oleh mama juga neneknya yang kebetulan sudah menunggu kepulangannya sejak sore tadi. Mereka ingin mengajak Galuh jalan-jalan sebelum kembali ke kampung halaman esok lusa. Galuh duduk selonjoran di dekat keluarganya yang duduk mengelilinginya.


“Handak bejalanan kemana gerang, amun kita naik taksi kada maboklah pian?” tanya Galuh. (Mau jalan-jalan ke mana, kalau kita naik taksi mabuk tidak)


“Kadanya mabuk, pang bebayanya bejalan kayak itu haja. Amun mabuk jua dihancapi minum antimo!” jawab mama Galuh. ( tidak akan mabuk kalau cuma jalan begitu saja, kalau mabuk juga cepat minum antimo)


“Bejalanan ke mana-mana kah, terserah yang membawa haja. Jadi kada bahinip di rumah haja, tenyaman jua melihat-lihat di luar.” Nenek menimpali ucapan mama. ( jalan-jalan ke mana saja, terserah yang membawa. Jadi gak diam di rumah saja, nyaman juga melihat-lihat di luar)


Galuh melirik jam tangan mungilnya, beberapa hari ini ia memang lebih banyak disibukkan dengan pekerjaan. Selain itu jam masuk kerja di malam hari sering membuatnya tak memiliki banyak waktu untuk berkumpul bersama keluarganya. Galuh memutuskan untuk membawa keluarganya jalan-jalan ke taman bermain yang ada di tengah kota, di mana banyak terdapat warung tenda yang menjual banyak makanan dan oleh-oleh khas daerah.


“Galuh mandi ai dululah, hadangi setumat. Habis magrib hanyar kita bejalanan,” pungkas Galuh. Ia pamit untuk membersihkan diri. (Tunggu sebentar, Galuh mandi dulu. Habis magrib baru kita jalan)


“Ayo Nak, dihancapi mandinya. Beapa belawas-lawas di kamar mandi. Kena kemalaman kita bejalan!” tegur mama sembari mengetuk pintu kamar mandi, mengingatkan Galuh untuk segera bergegas. (Ayo, nak. Cepat mandinya. Ngapain lama-lama di kamar mandi. Nanti kemalaman kita jalannya)


“Iya, Ma.”


Sambil meringis Galuh keluar kamar mandi, dilihatnya orang di rumahnya sudah selesai bersiap dan duduk manis menunggunya di depan televisi. Tanpa menunda-nunda waktu lagi, Galuh bergegas dan menunaikan kewajibannya terlebih dahulu. Dua puluh menit kemudian ia sudah siap dengan dirinya.


Suasana malam hari itu di taman kota ramai dengan pengunjung, meski bukan malam minggu tetap saja taman kota yang letaknya dekat dengan pantai itu banyak dipadati warga yang kebanyakan datang bersama anak-anak mereka. Sekedar untuk melihat-lihat air terjun buatan dan main odong-odong, atau menikmati jagung bakar dan sekoteng di pinggir jalan. Bila ingin bermain dan menikmati ombak pantai di malam hari hanya tinggal menyeberang jalan saja.


“Luh, adalah parak sini urang yang bejualan gumbili? Nyaman kalo gumbili bakar kayak di wadah kita itu,” tanya nenek yang kontan membuat Galuh memutar otak. (Luh, di dekat sini adakah orang yang jualan ubi bakar? Enak seperti di tempat kita)


“Gumbili, gumbili.” Galuh mengulang ucapan neneknya seraya mengarahkan pandangannya ke sekitarnya. Yang terlihat olehnya hanya penjual gorengan di pinggir jalan dan mobil yang khusus menjual kebab. Tidak ada gumbili seperti yang diinginkan neneknya itu.


“Kedada pinanya Nek ai, amun kebab banyak. Handaklah? Kena isuk Galuh cariakan gasan Pian,” ujar Galuh menawarkan pilihan. (Kayaknya gak ada, kalau kebab banyak. Maukah? Nanti besok Galuh carikan buat nenek)


“Iih, kadapapa. Isuk aja gin,” balas nenek setuju. ( iya, gapapa. Besok saja)


Galuh lalu pamit membeli kebab untuk neneknya, sambil menunggu pesanannya selesai dibuat ia duduk di bangku plastik yang disediakan sambil memainkan ponselnya. Tidak lama kemudian melintas sebuah motor besar dan berhenti persis di depannya.


“Kebabnya dua Mas.” Suara bariton laki-laki menyapa ruang pendengaran Galuh, lalu seseorang menarik kursi dan duduk di sebelahnya sambil menyilangkan kaki.


Galuh mengernyitkan dahi, seolah mengenal suara barusan. Ia mendongak dan menolehkan wajahnya yang langsung terkesiap melihat lelaki di sampingnya itu kini tengah menatapnya garang sembari menepuk-nepuk pahanya keras.


“Kamu lagi!” ketus Galuh, sebal harus bertemu dengan lelaki itu lagi.


“Apa kita memang jodoh kali ya, selalu dipertemukan seperti ini.” Reza melembutkan tatapannya dan kini sorot matanya mulai menelisik wanita di sebelahnya.


Galuh melengos mendengar ucapannya, ia beranjak dari kursinya dan bergegas mendatangi si penjual kebab. “Paman, kalau dah jadi bisa tolong anter di meja sana ya.” Galuh menunjuk meja tempat keluarganya berada yang langsung diangguki si penjual.


“Mau ke mana, mau melarikan diri lagi?” Reza menghadang langkah Galuh.


Galuh memiringkan wajahnya, ujung jarinya terarah ke bagian bawah Reza. “Belum kapok, apa masih mau nambah lagi?”


Reza meringis spontan menutupi area sensitifnya. “Lo jadi cewek sadis amat!”


“Biarin, bodo amat!” cetus Galuh dan berlalu meninggalkan Reza.


“Galuh Nanda, iya mau nambah. Tapi di tempat lain jangan yang itu lagi,” seru Reza sambil terkekeh.


Galuh balik badan dan berhenti sejenak, ia menatap tajam wajah lelaki di depannya itu. Senyum di wajah Reza langsung berubah manyun ketika dengan santainya Galuh memiringkan jari telunjuk di keningnya.


▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎