If Tomorrow Never Come

If Tomorrow Never Come
Bab 26. Gelisah



Reza tersenyum menatap pada wanita cantik yang berjalan di sampingnya itu, tubuh mereka begitu dekat nyaris saling bersentuhan sepanjang jalan. Beberapa kali dirasakannya bahu Galuh bergerak gelisah, namun Reza selalu berhasil menenangkannya dengan mengusap bahunya lembut.


Galuh pasti merasa tidak nyaman saat berada dalam posisi seperti ini, bahkan Reza dapat mendengar debar jantungnya yang berdetak lebih cepat. Benar-benar polos dan belum tersentuh oleh tangan nakal kaumnya, dan Reza merasa dadanya menghangat. Senyum tipis menghias bibirnya.


Sepanjang hidupnya, belum pernah ia merasa begitu menginginkan seorang wanita seperti saat ini, hingga begitu terobsesi ingin memilikinya dalam hidupnya. Mungkin dengan sedikit memaksa, Galuh akan mau menerimanya.


Dulu sekali Reza pernah berpacaran, dan perempuan yang mendekatinya awalnya tertarik karena ketampanannya. Hubungan pun berlanjut dan menjadi saling mengenal lebih dekat. Namun semua berubah saat pasangannya mengetahui uang dan kedudukan yang dimilikinya juga berbagai harta dan kekayaan milik papanya.


Semua jadi tak sama lagi, wanita-wanita itu menempel padanya layaknya lintah yang menghisap darah korbannya. Mengaku mencintainya sepenuh hati dan tanpa rasa malu bahkan dengan suka rela menawarkan dirinya demi mendapatkan apa yang diinginkannya, semua karena gaya hidup yang selama ini dijalani.


Tapi wanita kali ini berbeda, ia tidak peduli dengan apa yang dimilikinya. Ketika semua wanita berlomba menarik perhatiannya, Galuh malah menjauh dan tak ingin terlibat urusan dengannya. Wanita ini bahkan berani menentangnya.


“Tuan, berhenti memelukku seperti ini. Aku bisa berjalan sendiri tanpa harus dibimbing seperti ini?” protes Galuh pada sikap Reza yang begitu protectif padanya, ia merasa tidak nyaman menjadi perhatian banyak orang.


Galuh menyadari banyak pasang mata yang menyaksikan kemesraan sikap Reza padanya. Lelaki itu membimbingnya menyeberangi jalanan yang ramai dan tidak melepaskan pelukannya meski mereka berdua sudah berada di depan mobilnya.


Reza memutar kunci, membuka pintu mobil dan menghela bahu Galuh untuk masuk ke dalam mobilnya.


“Hati-hati,” ucap Reza, menaruh tangan kirinya di atas kepala Galuh melindunginya agar tidak terantuk atap mobil.


“Terima kasih,” sahut Galuh lirih. Ia kagok dengan semua sikap penuh perhatian yang ditunjukkan Reza padanya, dan hal itu membuatnya gelisah.


“Sampai detik ini, terus terang Aku masih belum mengerti apa alasan Tuan yang sebenarnya ingin menikah denganku.” Galuh bertanya ketika sudah berada di dalam mobil, ia menoleh menatap wajah tampan lelaki yang duduk di sebelahnya itu.


Reza mencondongkan tubuhnya, tangannya terulur menyentuh wajah Galuh. Wanita itu membeku di tempatnya, embusan napas Reza hangat menerpa kulit wajahnya. Tangan Reza menangkup sebelah pipi Galuh, dan ibu jarinya mengangkat dagu wanita itu untuk menatap ke arahnya.


“Sudah berulang kali kukatakan padamu, Aku jatuh cinta padamu dan ingin hidup bersamamu. Harus dengan cara apa agar Aku bisa meyakinkanmu, kalau Aku benar-benar cinta padamu dan tulus ingin menikah denganmu.”


Reza tersenyum menatap Galuh, matanya menyusuri setiap inci garis wajah wanita itu. Reza menelan ludah, saat tatapannya berhenti pada bibir ranum milik Galuh.


Galuh memejamkan matanya rapat-rapat, menahan napas seraya melipat bibirnya dalam. Pipinya mendadak bersemu merah saat peristiwa sore hari di teras rumahnya itu kembali melintas dalam pikirannya.


Wajah lelaki itu kini begitu dekat, dan deru napasnya terdengar jelas di telinganya. Apa ia ingin menciumnya lagi? Pikiran tentang hal itu membuat Galuh menggelengkan kepala kuat. Ia belum siap menerimanya, dan hal itu kontan membuat tubuhnya lemas seketika.


“Tuhan, tolong Aku. Jangan biarkan lelaki ini menyakitiku lagi,” bisik Galuh dalam hati, tangannya mengepal kuat menjaga kemungkinan terburuk yang akan terjadi dan menimpanya.


Sreeet!


Tuk!


“Aoww!” Galuh membuka matanya, seraya mengusap keningnya. Reza terkekeh setelah menyentil keningnya gemas, seolah tahu apa yang ada dalam pikiran Galuh saat ini. Meski sejujurnya, ia sebenarnya ingin sekali melakukan apa yang ada dalam pikiran Galuh.


“Memang apa yang Kamu pikirkan, sampai wajahmu memerah seperti itu?” tanya Reza menoleh pada Galuh yang duduk sambil menggenggam sabuk pengaman di tubuhnya yang baru dipasangkan Reza.


“Tuan, apa yang harus Aku lakukan padamu. Hari ini Kamu sudah buat pengakuan yang mengejutkan hatiku. Melihat sikap manismu, perhatianmu, membuat hatiku tersentuh. Tapi itu belum cukup meyakinkan hatiku agar Aku menerima cintamu.” Galuh tidak menjawab, ia menatap wajah itu sesaat sebelum memejamkan matanya. Sungguh, semua ini terlalu cepat untuknya.


Semua terasa menyenangkan saat dilakukan bersama. Sepertinya menerima tawaran lelaki itu bukanlah hal yang buruk dilakukan. Memikirkan hal itu tak urung membuat senyum di wajah Galuh mengembang.


“Kamu senyum-senyum sendiri, sepertinya hatimu saat ini sedang senang. Apa itu pertanda baik, kalau Kamu akan menerima lamaranku?”


“Aku ingin Tuan jujur padaku,” ucap Galuh lagi, ia membuka matanya perlahan lalu duduk menghadap Reza.


“Apa yang harus kuperbuat agar untuk meyakinkan hatimu. Aku berkata yang sebenarnya tentang perasaanku padamu,” jawab Reza.


Galuh menggelengkan kepala, “Bukan itu jawaban yang ingin kudengar darimu. Pasti ada sesuatu yang Tuan sembunyikan dariku, dan Aku penasaran ingin tahu kebenarannya. Apa Tuan sedang menghindari perjodohan dengan seseorang dan mencari cara untuk mengatasinya dengan bersandiwara menggunakan jasa wanita lain dan mengenalkannya sebagai calon istri?”


Reza tergelak, “Ternyata Kamu punya selera humor juga, dan sepertinya Kamu terlalu banyak membaca novel percintaan.”


“Aku tidak akan menikah denganmu!” Galuh menatap lelaki itu, sempat dilihatnya rona terkejut di matanya. Namun itu hanya sebentar saja, karena laki-laki itu mampu dengan baik menguasai dirinya.


“Apa Kamu yakin dengan ucapanmu, Galuh sayang?” tanya Reza mengernyitkan keningnya.


Galuh mengangguk kuat, ia tidak menyadari mata Reza berkilat emosi menatapnya. “Kamu harus memikirkan ulang semua ucapanku padamu tadi. Kamu tidak perlu terburu-buru menjawabnya, karena akhir bulan ini kita juga akan datang menemui orang tuamu.”


“Tuan terus saja membicarakan orang tuaku, dan seolah pasti mereka akan menerima Tuan. Lalu bagaimana dengan orang tua Tuan sendiri, Aku tidak mendengar sekalipun Tuan menyebutkan tentang mereka?” salah satu hal yang mengganjal dalam hati Galuh, dan ia lega sudah mengungkapkannya pada Reza.


“Papa tidak pernah membatasi soal hubunganku dengan wanita yang akan menjadi pasangan hidupku nanti, beliau menyerahkan semua keputusan padaku. Kamu akan senang saat bertemu dengannya, dia pria hebat yang pernah ada dan Aku bangga menjadi putranya.” Reza tersenyum lebar saat berbicara tentang papanya, dan Galuh bisa melihat kebanggaan terpancar dari raut wajahnya.


“Bagaimana dengan ibumu. Apa beliau akan menerima dengan mudah pilihan hidup anaknya, sama seperti papamu?” tanya Galuh lagi, ia ingin mengorek keterangan yang banyak dari mulut laki-laki itu. Bisa jadi sebagai bahan pertimbangan dirinya untuk menerima atau tetap menolak lamarannya.


“Mama sudah meninggal dunia sejak Aku masih kecil, beliau pasti tidak bisa menjawab pertanyaanmu padanya. Tapi yang pasti, ia akan senang dan bahagia bila melihat putranya menikah dengan wanita yang dicintainya.”


“Maafkan Aku,” Galuh meminta maaf, ia tidak pernah mengetahuinya. “Maaf, karena harus membuatmu mengingat masa lalu. Dan maaf kalau ucapanku menyinggung perasaanmu,” ucap Galuh tulus.


“Tidak apa-apa, lagi pula itu sudah lama terjadi.” Reza kembali tersenyum, hingga tak terasa mereka sudah tiba di tempat yang dituju.


“Menyenangkan rasanya bisa berbicara banyak dan santai seperti ini,” ucap Galuh balas tersenyum, ia balik badan membuka pintu mobil dan bersiap turun.


“Terima kasih sudah mengantarkan Aku pulang,” ucapnya kemudian, lalu mundur selangkah menunggu Reza berlalu pergi dengan mobilnya.


“Besok jam satu siang temui Aku di kantor, ada yang perlu kita bahas lagi.”


“Ta-pi ...”


Sebelum Galuh menyelesaikan ucapannya, Reza sudah pergi dari tempat itu meninggalkan Galuh yang masih berdiri menatapnya hingga menghilang di belokan jalan.


▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎