If Tomorrow Never Come

If Tomorrow Never Come
Bab 58. Merah kebiruan



Reza masih tertidur pulas ketika Galuh terbangun dan membuka mata keesokan paginya. Perlahan ia melepaskan diri dari dekapan Reza, dan menaruh lengan kokoh itu ke atas guling di dekatnya. Untuk beberapa saat lamanya Galuh duduk sambil memandangi suaminya itu.


Tanpa dapat dicegah, bibir Galuh tersenyum lebar. Ini hari bersejarah untuk mereka berdua, pagi pertama di mana mereka tidur bersama dalam satu ranjang yang sama sebagai pasangan suami istri. Rasanya sulit diungkapkan, perasaan cinta di hatinya makin bertumbuh saja setiap detiknya.


Tangannya terulur menyibak rambut di kening Reza yang terlihat berantakan, tapi sama sekali tidak mengurangi ketampanan lelaki itu. Dadanya pun bergerak turun-naik seiring napasnya yang teratur. Galuh membungkuk sejenak seraya mendekatkan wajahnya, satu kecupan ringan ia sematkan di pipi Reza yang berbaring miring menghadap dirinya.


“Pagi, sayang.”


Galuh terkejut dan spontan menarik wajahnya menjauh, tapi gerakan Reza lebih cepat. Lelaki itu menarik tengkuknya dan langsung meraup bibir ranumnya dengan mata setengah terpejam.


“Curang, kirain masih tidur!” protes Galuh setelah Reza melepaskan bibirnya dan kini meraih pinggangnya hingga ia terjatuh dan berbaring di sampingnya lagi, dan lelaki itu memeluk erat tubuhnya.


Reza membuka sebelah matanya, mengernyit menatap Galuh dalam jarak begitu dekat. Bahkan embusan napasnya terasa hangat di kening Galuh. “Sekarang yang mulai duluan tadi siapa, suami lagi tidur diganggu.”


“Ish!”


Reza terkekeh. Kali ini sebelah kakinya yang bebas naik dan langsung membelit pinggang Galuh, membuat wanita itu terimpit tubuhnya dan merapat padanya. Dada lembut Galuh membentur dadanya yang keras, dan Reza suka sekali melihat wajah wanitanya itu yang merona merah tersipu malu.


“Abang, Aku mau bangun!” Galuh mendongak, menatap Reza dengan tangan mengeplak pelan pahanya yang melingkari pinggangnya.


“Mau ngapain? Masih pagi, nanti saja bangunnya.”


“Aku lapar,” sahut Galuh cepat.


Reza melirik meja yang berada tak jauh dari tempat tidur mereka, di atasnya ada banyak makanan. Dan Galuh bisa menyantapnya tanpa perlu keluar dari kamar.


“Abang?!” panggil Galuh tak sabar, perutnya memang mendadak lapar mengingat semalam ia makan hanya sedikit saja. Dan setelah aktivitas bersama suaminya, ia butuh asupan makanan untuk energi tubuhnya yang sedikit melemah. “Aku juga butuh mandi.”


Reza tersenyum jahil, seringai tipis tampak di wajahnya. Ia melonggarkan pelukannya, dan bergegas bangun dari tidurnya. “Kenapa gak bilang dari tadi kalau mau mandi. Kan bisa bareng biar cepat, abis itu baru sarapan.”


“Tapi, Bang. Kalau bareng man ...”


“Ayo kita kemon,” potong Reza tak memberi kesempatan pada Galuh untuk menyelesaikan ucapannya. Ia hanya bisa pasrah ketika Reza membopongnya masuk ke kamar mandi.


Satu jam kemudian Reza sudah duduk manis di depan meja dengan tubuh segar dan bibir tersenyum lebar, sementara Galuh duduk bersandar di kursinya dengan cara yang aneh. Di atas meja sudah tersedia makanan yang Reza ambil dari dapur rumahnya. Masih hangat dan menggugah selera, tapi Galuh tak melirik sama sekali.


“Katanya lapar, kenapa dari tadi cuman minum doang?” tanya Reza, melihat Galuh hanya memegangi gelas minumnya tanpa menyentuh makanannya.


Galuh melotot dengan bibir memberengut sebal, baru semalam bersama Reza tapi lelaki itu sudah membuat badannya lemas. Rencana ingin segera membersihkan diri dan setelahnya menikmati sarapan pagi, malah berlama-lama di kamar mandi.


“Hausss!” sahut Galuh singkat seraya memonyongkan bibirnya. “Hanyar semalam, rasa rakai awak.” Gumam Galuh dalam hati, sembari menaruh gelas minumnya ke atas meja. (Baru semalam, badan rasa rontok)


Reza meringis melihatnya, ia menggeser kursinya dan duduk di sebelah Galuh lalu meraih piring makan dan mulai menyuapi Galuh. “Aku suapin ya, sayang. Buka mulutnya, aaa ...”


Satu suapan, dua suapan, diselingi sesekali dengan kecupan sayang di dahi Galuh oleh Reza hingga suapan terakhir. “Abang sendiri kenapa gak makan?” tanya Galuh setelah mengelap mulutnya dengan tisu.


“Aku sudah makan roti tadi, masih kenyang.” Jawab Reza, setelah menyimpan piring ke atas meja. “Kamu kelihatan capek banget, istirahat saja dulu.” Reza mengusap rambut Galuh sayang.


Galuh menunjuk pangkal pahanya, “Rada keram,” jawab Galuh, lalu ujung jarinya beralih turun ke betisnya. “Ini juga kayak lemes.”


“Maaf, sayang.” Reza mengusap paha Galuh pelan dan berulang. Gerakannya itu justru membuat jantung Galuh berdesir dan tertegun sesaat lamanya ketika menyadari sepasang mata Reza yang menatapnya sayu. Ada kabut gairah terlihat jelas di matanya, dan Galuh menyadari hal itu.


Galuh menahan tangan Reza dengan gerakan lembut agar berhenti mengusap pahanya, ia harus melakukannya tanpa berniat menyinggung perasaan suaminya itu. Dan sepertinya Reza mengerti, ia membiarkan Galuh naik ke atas ranjang dan berbaring miring.


Ranjang itu bergerak dan melesak, Galuh tahu kalau Reza menyusulnya naik ke atas ranjang dan lelaki itu memeluk pinggangnya sembari menyusupkan wajahnya di keharuman rambut Galuh. “Tidurlah sayang, Aku hanya ingin memelukmu saja.” Bisik Reza di telinga Galuh.


Galuh menahan napas merasakan kehangatan pelukan Reza di lengannya, ia berusaha memejamkan matanya namun kedekatan tubuh mereka berdua mengganggunya. “Rileks sayang, pejamkan matamu. Aku akan memijit kakimu.”


Sebelum Galuh bersuara, Reza sudah duduk di dekat kakinya. Dan seperti ucapannya tadi, lelaki itu memijit betis Galuh dan membalurnya dengan lotion. Gerakan tangan Reza yang perlahan dan lembut, lambat-laun membuat Galuh rileks dan ia pun memejamkan matanya rapat.


Reza tersenyum melihatnya, ia bangkit dari atas tempat tidur dan beranjak keluar kamar sambil mendorong troli makanan. Di meja makan berkumpul keluarga Galuh bersama oma, mereka semua langsung melontarkan pertanyaan yang sama begitu melihat Reza keluar kamar hanya seorang diri.


“Galuh mana, Za. Kok gak kelihatan?”


“Haow, mana bini. Kanapa kaluar matan kamar sorangan haja?” (Mana istrimu, kenapa keluar kamar sendirian saja)


Reza meringis seraya mengusap tengkuknya, lalu balas menatap oma juga nenek Galuh yang serempak menunggu jawaban dirinya. “Keuyuhan jarnya, Nek ai.” (Kecapaian katanya, Nek)


Nenek tertawa, dan oma yang awalnya tak paham dengan jawaban Reza akhirnya ikutan tertawa ketika Reza mengulang jawabannya. “Capek Oma.”


“Memangnya Kamu apain Galuh sampai kecapaian kayak gitu?”


Reza hanya nyengir tanpa menjawab pertanyaan oma, ia menarik salah satu kursi yang kosong di sebelah omanya dan duduk di sana sembari menikmati makanan olahan yang sengaja dibawa mama Galuh dari kampung.


“Kok rasanya asin?” tanya Reza ketika mencoba salah satu masakan.


“Itu ngarannya masak asam iwak karing bambangan, asin-asin bebayanya haja tapi nyaman kalo?” sahut mama Galuh. (Itu namanya masak asam ikan asin bambangan, asin-asin sedikit tapi enak kan?)


Reza mengangguk, “Iya, enak. Tapi kalau kebanyakan bisa bikin naik tekanan.”


Sedikit-sedikit Reza mengerti bahasa daerah yang diucapkan nenek Galuh, jadi ia bisa berbaur dengan mereka semua. Beruntung mama mertuanya masih bisa berbahasa Indonesia, hingga tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Tiba-tiba sudah siang saja, dan Galuh masih belum keluar dari kamarnya.


Reza berpamitan kembali ke kamarnya setelah mama memintanya untuk memanggil Galuh makan siang bersama. Sementara di dalam kamar, Galuh tertegun menatap bayangan dirinya di depan cermin. Banyak warna merah kebiruan di seputar lehernya, dan Galuh baru menyadarinya setelah terbangun tadi.


“Yank, sudah bangun rupanya.” Reza menutup pintu di belakangnya dan langsung memeluk Galuh dari belakang. “Kok malah bengong?”


Galuh menunjuk lehernya, “Ini, gimana nutupinnya? Malu ih kelihatan orang-orang.”


“Kenapa harus ditutupi, mereka juga pada paham. Kenapa mesti malu?”


Astaga!


“Malu lah, Bang. Merah biru gini?” Galuh duduk di tepi ranjang sambil mencoba menutupi lehernya dengan mengancing rapat baju yang dipakainya, lalu mengurai rambut panjangnya dan menaruh sebagian di depan dadanya. “Masih kelihatan juga.”


“Pakai ini saja.” Reza membelitkan syal warna biru ke leher Galuh, beres. Warna merah kebiruan di lehernya tak kelihatan. Ia sedikit lebih tenang. Tapi ketika tiba di meja makan, semua mata memandangnya heran.


“Kada lain pang ini, leher si Galuh diigut kuyang lelakian!” cetus nenek melihat yang melilit leher Galuh yang sontak membuat wajah wanita itu merah padam. (Itu sudah, leher Galuh digigit kuyang laki-laki)


▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎