
Konter itu terasa berbeda ketika Galuh masuk ke sana keesokan harinya. Senyum manis Ami yang hari ini bekerja satu shif dengannya, terasa berbeda ketika menyambut kedatangannya dan menyapanya pagi itu. Ada juga rangkaian bunga yang indah tersimpan rapi di atas meja.
“Ada apa, Mi. Tumben senyam-senyum terus dari tadi?” tanya Galuh heran, sembari menaruh tas kecilnya di gantungan.
“Gak ada apa-apa, lagi pengen senyum ajah!” sahut Ami diiringi tawa kecil. “Oh iya, hampir lupa. Ada kiriman bunga dari Ayangnya Kamu tadi. Tuh, Aku taruh di atas meja.” Ami menunjuk dengan dagunya.
“Siapa, Mi. Ayang Aku?” tanya Galuh, mengarahkan telunjuknya ke dada dengan kening berkerut.
Ami menganggukkan kepalanya mengiyakan. “Aku penasaran sama tulisan di kartunya itu, jadi Aku lihat. Eh, ternyata kiriman bunga dari Ayang Reza.”
“Dih, Ayang Eza siapa sih. Jadi penasaran?” Galuh mengitari meja dan memeriksa kartu ucapan yang terselip di antara rangkaian bunga.
Seketika pipi Galuh langsung merona saat membaca tulisan yang tertera di sana, dan Ami yang berdiri di dekatnya terus memperhatikan sambil mengulum senyum. “Sepertinya hari ini ada yang lagi jatuh cinta, pakai kirim bunga segala.”
“Jatuh cinta berjuta rasanya, siang malam selalu terbayang wajahnya ...” Galuh malah bernyanyi, menanggapi ucapan Ami barusan. “Hahaha, udah ah lanjut kerja.”
“Selamat ya, say. Sudah gak jomblo lagi,” goda Ami, yang langsung berkelit menghindar ketika jari tangan Galuh bergerak ingin mencubit pinggangnya.
Galuh tertawa, suasana hatinya pagi ini menjadi lebih ceria. Pagi-pagi ia sudah mendapatkan karangan bunga dan ucapan manis Reza yang menuliskan kata-kata cinta untuknya. Menyenangkan juga rasanya mendapatkan perhatian dari seseorang yang menginginkan kita dalam hidupnya.
Tidak berapa lama kemudian ponselnya berdering, Galuh segera melihatnya. Ada pesan singkat dari Reza yang menunggu kedatangannya saat jam istirahat kerja di ruangannya.
“Oke.” Galuh membalas singkat, pesan Reza padanya.
Sepanjang pagi hingga sore hari itu banyak sekali pengunjung yang datang berbelanja karena bertepatan dengan libur akhir pekan juga liburan sekolah. Dapat dipastikan hari itu adalah hari terberat bagi Galuh, karena ia diminta lembur kerja hingga malam hari untuk menggantikan Ami yang mendadak dipanggil pulang karena ada urusan keluarga.
Satu hal yang dilupakan Galuh saat itu, ia tidak bisa memprediksi jumlah para pengunjung yang datang berbelanja di konternya. Kesibukannya bekerja hari itu, membuatnya harus menunda waktu makan siangnya. Galuh bahkan lupa dengan janjinya pada Reza.
Tepat jam dua siang, seorang rekannya datang untuk menggantikan Galuh selama satu jam hanya untuk istirahat makan siang. Galuh mengembuskan napas lega, setelah selesai membereskan barang pesanan pelanggan, ia pun bergegas menuju lokernya untuk mengambil bekal makan siangnya.
Setelah makan siang dan melaksanakan kewajibannya, Galuh menggunakan sisa waktu istirahatnya dengan berjalan-jalan mengitari mal sambil melihat keramaian acara lomba peragaan busana yang diadakan oleh salah satu produsen pakaian ternama yang ada di negara ini.
Tengah asyik menonton, tiba-tiba saja lengannya ditarik oleh seseorang hingga keluar dari kerumunan orang yang sedang berdiri menonton di pinggir panggung. Galuh kaget bukan main, ia harus berjalan cepat karena mengikuti langkah lebar orang itu yang mengenakan jaket hoody juga masker yang menutupi wajahnya.
“Lepasin tangan Aku, sakit tau!” Galuh memukul tangan yang mencekal lengannya itu, namun orang itu bergeming dan terus saja membawanya berjalan melewati sepanjang koridor mal lalu berhenti di depan pintu ruang kerja direktur.
Reza membuka hoody yang menutupi kepalanya, lalu melepas maskernya. Ia melepaskan pegangan tangannya di lengan Galuh dan menyeka keringat yang membanjiri wajahnya. “Menunggu itu adalah pekerjaan yang paling menyebalkan! Jangan membuat orang lain menunggu kalau tidak bisa datang tepat waktu!”
Galuh memilih diam dan hanya jadi pendengar saja, ia tidak berusaha untuk menjelaskan. Toh, apa pun alasan yang ia kemukakan nanti akan tetap salah di mata laki-laki itu. Meski ia benar-benar lupa dan bukan bermaksud dengan sengaja membiarkan lelaki itu menunggunya lama.
“Aku gelisah menunggumu di ruangan ini, sampai harus melewatkan makan siangku. Berharap Kamu akan datang menemuiku. Tak masalah jika harus telat lima atau sepuluh menit, Aku mengerti karena mungkin Kamu sibuk dengan pekerjaanmu.” Reza mengembuskan napasnya, lalu menoleh pada Galuh yang hanya berdiri diam di tempatnya.
“Tapi kenyataannya, Kamu malah asyik menonton acara lomba di bawah sana dan melupakan janjimu, membiarkan orang lain menunggumu. Kalau memang berat bagimu memenuhi ajakanku, kenapa Kamu tidak menolaknya?”
“Maaf!” akhirnya kata-kata itu terlontar dari mulut Galuh.
Reza membuka pintu ruang kerjanya, melangkah masuk ke dalam tanpa mengucapkan sepatah kata pada Galuh yang masih berdiri menunggu di luar. Hingga beberapa menit kemudian Galuh masih tetap berdiri menunggu, berharap lelaki itu akan memanggilnya masuk.
“Apa yang harus kulakukan sekarang?” Galuh bertanya pada diri sendiri, belum apa-apa mereka berdua sudah berselisih paham.
Sepertinya komunikasi di antara mereka belum terjalin dengan baik, Reza masih menjaga gengsinya dan menahan diri untuk tidak terus menghubungi Galuh, sementara Galuh sendiri lebih banyak cueknya ketimbang menanggapi setiap ungkapan perasaan cinta Reza padanya.
“Tentu saja Kau harus melanjutkan pekerjaanmu dan menyelesaikannya dengan baik, mau apalagi? Lelaki itu toh tidak menyuruhmu untuk menunggunya di luar ruang kerjanya alih-alih menghukummu. Kecuali kalau Kau memang ingin menunggunya di sini,” bisik suara dari dalam hatinya.
“Semua keputusan ada di tanganmu, gak usah dibikin ribet. Santai saja, jalani apa adanya. Semua keputusan ada di tangan kalian berdua karena kalian yang akan menjalani hubungan ini. Kalau memang suka dia, ya terima. Tapi kalau gak suka, ya sudah tolak saja. Gampang kan!” ucap suara hatinya yang lain.
Galuh masih tetap menunggu, siapa tahu lelaki itu berubah pikiran dan memaafkan kesalahannya barusan dengan mengajaknya makan siang bersama. Meski sudah kenyang, Galuh akan tetap menemaninya.
Tapi hal itu tak kunjung terjadi, meski dilihatnya pintu ruang kerja Reza terbuka lebar. Tapi tidak terdengar suara apa pun dari dalam sana. Apa mungkin lelaki itu tertidur?
Galuh menghela napas dan memilih pergi meninggalkan tempat itu dan kembali ke konternya. Waktunya hanya tersisa lima belas menit saja, dan sebentar lagi rekannya yang menggantikannya akan kembali bertugas di konternya sendiri. Tapi sebelumnya ia akan berpamitan pada Reza terlebih dahulu.
Galuh berjalan mendekati ambang pintu, melongok ke dalam ruangan dengan tangan terjulur hendak mengetuk pintu. “Tuan, Saya pam ... Tuan, apa yang sudah terjadi? Kenapa Tuan gak panggil Saya dari tadi, dan membiarkan Saya menunggu dan berdiri lama di luar.”
Galuh memapah Reza yang tergeletak di lantai, bersandar pada dinding tembok di belakangnya, berjalan menuju sofa panjang yang ada di sudut ruangan. Wajah lelaki itu terlihat pucat.
“Ini semua gara-gara Kamu, Aku hampir pingsan karena lapar nungguin Kamu makan siang sama-sama. Kamu harus tanggung jawab,” ucap Reza menatap wajah Galuh yang terlihat khawatir.
Galuh melirik arlojinya, waktunya tersisa sepuluh menit saja. Dan sebelum Galuh sempat bepikir untuk mengatasi masalahnya, Reza sudah menelepon pak Susilo dan menyuruh salah satu anak buahnya untuk menggantikan Galuh sementara di konternya.
“Sekarang Kamu tidak bisa pergi dariku lagi,” bisik Reza di dekat telinga Galuh, yang menatapnya dengan jantung berdebar kencang karena tubuh mereka yang saling berdekatan.
▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎