If Tomorrow Never Come

If Tomorrow Never Come
Bab 32. Modus Abang Reza



Pagi-pagi sekali Reza sudah datang menjemput Galuh di rumahnya, lelaki itu terlihat segar seperti biasanya. Tidak tampak lagi garis pucat menghias wajah tampannya. Sepertinya benar seperti yang diucapkan Danil semalam saat mengantarnya pulang, kalau laki-laki itu hanya kecapaian biasa karena terlalu lelah bekerja.


"Harusnya Abang beristirahat saja di rumah, sampai benar-benar pulih. Kalau nurutin kerjaan gak pernah ada habisnya, adaa aja terus."


"Aku sudah sehat, dan harus tetap berangkat kerja. Biar bisa lihat Kamu terus," sahut Reza yang langsung membuat Galuh tersipu malu.


"Semalam saja gak bisa antar Kamu pulang itu rasanya kecewa banget, tapi mau gimana lagi. Dari pada membahayakan keselamatan diri sendiri juga orang tersayang, terpaksa mengalah melihat kekasih pulang diantar teman."


Galuh tertawa mendengarnya, "Syukurlah, Abang gak kenapa-napa. Aku khawatir banget sampai-sampai terus kepikiran gak bisa tidur. Lihat mata Aku, kelihatan ada garis itemnya kan."


"Kelihatan sih, tapi udah samar. Cuman kantung matanya masih kelihatan banget," ucap Reza sambil memeriksa mata Galuh dari dekat, kontan saja hal itu membuat Galuh langsung memejamkan matanya.


Reza tersenyum lagi, ia lalu mencondongkan tubuhnya ke depan mengikis jarak antara dirinya dan Galuh. Dan dengan gerakan tak terduga ia mengecup mata Galuh yang terpejam itu lembut dan lama.


Galuh terkesiap, matanya mengerjap dan perlahan terbuka. Rona merah menjalar di wajahnya saat tatapannya bertemu dengan mata Reza yang juga tengah menatapnya intens.


Tidak ada rasa gentar di hati Galuh seperti waktu pertama kali lelaki itu menciumnya, meski bukan bibir seperti waktu itu. Kali ini Reza melakukan dengan lembut dan penuh perasaan.


"Aku hanya ingin membuktikan teori seseorang mengenai kantung mata akibat kurang tidur. Bila ada sentuhan lembut dari orang tersayang di kelopak mata itu, maka kantung mata itu akan berangsur menghilang dan tidak meninggalkan bekas samar warna hitam pada bagian bawah matanya."


"Sepertinya itu berlaku untukku dan Aku mulai mempercayai teori itu, karena terbukti dan kantung matamu perlahan memudar." Reza menatap mesra Galuh.


"Teori siapa itu, baru tau?" tanya Galuh tak dapat menyembunyikan rasa gelinya, ia bisa menebak kalau itu hanya modus dari seorang Reza agar bisa mengecup matanya.


"Ada deh," sahut Reza dengan kerling menggoda di matanya. "Oh iya, Aku punya sesuatu untukmu. Aku harap Kamu menyukainya."


Reza mengeluarkan kotak mungil warna biru dari saku bajunya, lalu membukanya perlahan. Ia kemudian meraih tangan Galuh dan memasangkan cincin berlian itu di jari manisnya. Ternyata ukurannya pas sekali, dan cincin itu tampak begitu indah berada di tangan Galuh.


Galuh terkesiap, menatap cincin berlian di jari manisnya. Bentuknya seperti kelopak bunga yang sedang mekar, terlihat sederhana tapi begitu indah dan tampak berkilau. Untuk sesaat lamanya Galuh terdiam tak bisa berkata-kata.


“Itu cincin almarhumah mamaku,” ucap Reza menatap lekat wajah wanita di dekatnya itu. “Aku berharap Kamu mau terus memakainya dan menjaganya untukku. Tapi kalau Kamu tidak suka dengan modelnya, Aku bisa memberimu ...”


“Tidak, bukan seperti itu.” Galuh menggeleng, lalu menundukkan kepalanya. Matanya terpaku pada cincin berlian yang berkilauan di jari manisnya itu, pada kulitnya yang pucat, dan tanpa terasa matanya mulai berkaca-kaca. “Hanya saja, Aku tidak bisa memakai cincin milik mamamu ini.”


“Kenapa?” Reza mengangkat dagu Galuh dengan ujung jarinya, dan terkejut mendapati air mata menggenang di pelupuk matanya.


“Cincin ini pasti begitu berharga dan menyimpan banyak kenangan untuk Abang. Aku hanya merasa tidak pantas untuk memakainya,” ucap Galuh, akhirnya bisa mengeluarkan kata-kata itu.


Reza tersenyum mendengarnya, “Aku tahu dengan pasti, Kamu sangat pantas memakainya. Cincin itu terlihat begitu pas dan indah di jari manismu. Mama memberikan cincin ini pada papa untuk disimpan, dan papa menyerahkannya padaku lalu berpesan untuk memberikan cincin ini pada wanita yang kelak akan menjadi pendamping hidupku. Dan Aku sudah menetapkan pilihanku, kamulah wanita itu.”


Galuh tersenyum mendengarnya. Ia mengusap cincin di jari manisnya itu lalu memejamkan matanya sesaat. Cincin itu begitu indah, dan Galuh langsung menyukainya.


“Aargh, Aku merasa tersanjung sekali mendengarnya.” Galuh mengerjapkan matanya, setitik air mata jatuh menetes di pipinya.


“Hei, kenapa menangis sayang?” Reza menangkup wajah Galuh, mengusap lembut kedua pipinya dengan ujung jarinya. “Maafkan Aku, kalau apa yang Aku katakan tadi membuatmu merasa tertekan dan tak nyaman.”


Galuh kembali menggelengkan kepalanya, ia menangkup tangan Reza yang berada di wajahnya lalu menatap wajah tampan itu lama.


“Bisakah kita melakukannya secara perlahan, menjalani hubungan ini seperti pasangan lain pada umumnya. Saling mengenal pasangannya terlebih dahulu, karena semua ini rasanya terlalu cepat buatku.” Galuh bicara perlahan dengan intonasi lembut.


Reza tersenyum mendengarnya, ia pun berharap demikian. Menikah sekali seumur hidup dan hanya maut yang akan memisahkan. Ia benar-benar mencintai Galuh dan tulus menyayangi wanita itu.


“Aku akan menunggu sampai Kamu mau menikah denganku, tapi saat ini Kamu harus menurut padaku dan memakai cincin pemberianku. Itu sebagai tanda pengikat cinta di antara kita berdua, agar tak ada lagi lelaki lain yang mencoba-coba mendekatimu. Karena Kamu hanya milikku dan akan terus jadi milikku, selamanya!” tegas Reza.


Galuh mengangguk, lalu mengangkat tangannya mengagumi cincin yang melingkar di jari manisnya itu. “Cantik sekali.”


“Kamu menyukainya?” tanya Reza, dan Galuh mengangguk cepat. Ia senang melihat Galuh menyukai cincin pemberiannya itu. Cincin peninggalan mamanya untuk wanita yang dicintainya dan akan menjadi pasangan hidupnya.


“Kita berangkat sekarang,” ajak Reza kemudian, sembari menggenggam tangan Galuh melangkah bersama menuju mobilnya.


Sepanjang pagi hingga menjelang siang, Galuh tak berhenti tersenyum. Hatinya diliputi perasaan senang luar biasa dan itu berpengaruh pada cara kerjanya.


Galuh jauh lebih ramah dari pada biasanya, lebih sabar dalam menghadapi pelanggannya, dan tidak terlihat lelah terus saja menyunggingkan senyum meski harus bolak-balik berjalan ke gudang mengambil sepatu pesanan pelanggan.


Waktu makan siang tiba, dan Galuh mendapat jatah istirahat terlebih dahulu. Ia berjalan ke konter Luna dan mendapati sahabatnya itu masih sibuk melayani pelanggan yang datang.


“Sori bestie, dapat giliran istirahat kedua Gue.” Luna mengangkat dua jarinya, dan itu artinya Galuh makan siang sendiri tanpa Luna hari ini.


“Yaah,” sahut Galuh dengan nada kecewa.


“Lo kan bisa makan siang bareng ayang Reza. Tinggal telpon doang,” celetuk Luna yang sukses membuat pipi Galuh bersemu merah.


“Dih, ayang apaan?”


“Apa aja, asalkan Lo bahagia.” Luna nyengir, dan Galuh mesam-mesem dibuatnya.


“Luna, Aku duluan ya say.”


“Oke bestie.”


Galuh melangkah meninggalkan konter Luna, ia berjalan ke lokernya dan melewati ruang kerja Reza. Di ambang pintu ia berhenti, ragu sejenak saat tangan terulur ingin mengetuk pintunya.


“Masuk saja, yank. Gak dikunci kok,” suara dari dalam mengejutkan Galuh. Seketika wajahnya bersemu merah.


Perlahan Galuh membuka pintunya, lalu melangkah masuk dan menutup kembali pintu di belakangnya. Di depan sana, di atas meja sudah tersedia kotak makan siang lengkap dengan minuman di sampingnya.


"Aku sengaja menyiapkan makan siang untuk kita berdua, dan hampir sepuluh menit yang lalu menghubungi nomormu. Tapi tidak ada jawaban," ucap Reza membuat Galuh segera memeriksa ponselnya.


"Eh iya, bener. Maaf, Aku gak dengar, hpnya Aku silent tadi." Galuh memperlihatkan ponselnya dan memberikannya pada Reza.


Reza tersenyum lalu meraih tangan Galuh dan membawanya untuk duduk di sampingnya. "Hari ini Aku kangen Kamu suapin lagi, jangan tanya kenapa. Karena Aku juga gak tau kenapa," ucap Reza membuat Galuh mengernyitkan alisnya.


"Dasar modus!" sahut Galuh, membuat Reza tertawa dan segera membuka mulutnya karena Galuh sudah siap dengan suapan pertamanya.


▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎