
Galuh sudah terlihat rapi dengan pakaian kerjanya, namun harus menunda keberangkatannya karena telepon dari ibunya yang mengabarkan kalau mereka sudah tiba di bandara dan sekarang tengah menunggu taksi yang akan membawa mereka sampai di rumahnya.
“Kalian duluan aja berangkat, ntar Aku nyusul kalau ibu sudah sampai di sini.” Galuh berkata pada dua orang rekannya yang duduk menunggu di teras rumah.
“Baru juga jam satu, masih lama Luh. Biar kita tunggu aja, sekalian kenalan sama keluarga Kamu.” Luna menaruh tasnya ke atas meja, lalu duduk sejajar dengan Meldy yang sedang memainkan game di ponselnya.
“Lo itu sebenarnya nungguin oleh-oleh atau beneran mau kenal sama keluarga Galuh?” tanya Meldy, tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel di tangannya.
Luna mencebik, memiringkan tubuh menghadap Meldy. Ujung jari telunjuknya bergerak mendorong bahu sahabatnya itu.
“Ish, gak baik tau berprasangka buruk kayak gitu sama teman sendiri. Serius, Aku pengen kenal sama keluarganya Galuh.” Luna memasang wajah serius, “Ya, kalau kebagian oleh-oleh juga anggap saja itu bonus buatku.” Luna nyengir.
“Modus!” balas Meldy cepat.
Galuh menahan senyum mendengar ucapan kedua sahabatnya itu. Matanya melirik arloji mungil di tangan kanannya. Sudah hampir satu jam menunggu, namun yang ditunggu belum datang juga. Galuh mengangkat ponselnya dan mendekatkan ke telinganya, berniat untuk menghubungi ibunya lagi.
Tidak lama kemudian, terdengar deruman suara mobil mendekat dan terlihat sebuah mobil berwarna hitam berhenti tepat di depan pagar rumah Galuh. Luna menyikut lengan Meldy yang langsung mengangkat wajahnya, sementara Galuh langsung bergegas keluar dan membuka lebar pagar rumahnya.
Sang sopir turun dari mobil lalu membuka pintu di belakangnya, kemudian berbicara sejenak sebelum membuka bagasi dan menurunkan koper juga beberapa kotak kardus sedang dari dalam sana. Satu persatu penumpang yang berjumlah empat orang terdiri dari ibu, nenek, dan dua orang adik perempuan ibunya itu turun, dan Galuh langsung mencium punggung tangan mereka semua.
“Galuh! Tuntun tangan Nenek, Nak. Mabuk pinanya, sepanjangan jalan kada tedangar besuara ( sepertinya mabuk, karena sepanjang perjalanan tidak terdengar berbicara).” Ibunya menyuruh Galuh menuntun tangan neneknya yang terlihat lemah karena mabuk perjalanan, sementara ibunya bantu memegang lengan kanan neneknya.
“Galuh, ikam kah itu (kamu kah itu)?” tanya neneknya menoleh pada Galuh.
“Inggih Nek ai (iya Nek). Kuatlah bejalan sampai ke dalam rumah?” tanya Galuh, yang langsung diangguki neneknya.
“Kada tahan be-AC kalo mama itu (tidak tahan dengan AC Mama itu), makanya mabok. Mual jar!” timpal acil Tati, adik dari ibunya memberikan alasan.
“Dingin banar pang, sampai rasa beku tangan (dingin sekali, sampai tangan terasa beku).” Nenek Galuh memperlihatkan tangannya yang pucat kekuningan.
“Haoww, kenapa kada bepadah lawan sopirnya (kenapa tidak bilang sama sopir)?” tanya Galuh balik bertanya pada neneknya.
“Kada tahu pang, sangka kita teguring aja. Pina nyaman kelihatannya, kada tahunya mabok (Gak tahu, kita kira tidur saja. Kelihatan nyaman, gak tahunya mabok).” Ujar acil Mitha, adik ibu Galuh satunya lagi.
Luna dan Meldy yang berdiri menunggu di teras rumah, hanya bengong mendengar percakapan Galuh dan keluarganya yang menggunakan bahasa daerah asalnya. Mereka berdua hanya tersenyum menganggukkan kepala dan ikut bersalaman memperkenalkan diri, tanpa sedikit pun mengerti dengan apa yang sedang Galuh dan keluarganya bicarakan.
Setelah mengantar keluarganya beristirahat di dalam kamarnya, ibunya menyuruhnya untuk segera pergi berangkat bekerja. Mereka semua berpamitan dan keluar rumah dengan tersenyum cerah karena ibu memberi Luna dan Meldy masing-masing sekantung plastik besar oleh-oleh khas daerah yang dibawanya.
Di dalam angkot yang membawa mereka menuju tempat kerja, Galuh meminta maaf pada Luna dan Meldy karena mengingat kedua sahabatnya itu hanya bengong saja saat berkumpul dan berbincang bersama keluarganya.
“Kami semua terbiasa menggunakan bahasa daerah saat berkumpul seperti tadi, kadang lupa kalau ada orang lain yang tidak mengerti dengan bahasa yang kami gunakan.”
“Asli Gue gak tahu kalian tadi ngomong apaan. Ngerti artinya dikit doang tapi gak bisa ngucapinnya,” ucap Meldy yang disambut tawa oleh Luna.
“Sama, Mel. Gue juga bengong doang dari tadi. Tapi serius nanya, nenek Lo memang gak bisa ngomong Indo gitu?” tanya Luna penasaran.
“Bisa Lun, tapi dikit doang. Gak selancar kalau beliau bicara dalam bahasa daerah,” jelas Galuh. “Apalagi lingkungan rumah kami di sana semua kalau bicara pakai bahasa yang sama, kalian bakal bingung bedain mana yang orang banjar asli mana yang gak.”
“Seru kayaknya, jadi pengen jalan-jalan ke sana.”
“Inget! Bulan depan Lo dah balik kampung,” ujar Luna mengingatkan, membuat wajah Meldy seketika berubah sendu.
“Udah jangan sedih gitu. Doa’in deh Aku dapat rezeki lebih, Inshaa Allah sebelum Kamu balik ke kampungmu, kita bakal jalan-jalan dulu ke kampungku.”
“Galuuh!” Meldy langsung memeluk Galuh, “Jadi tambah sedih, akan banyak kenangan yang terjadi nanti bersama kalian semua, dan itu bikin Aku makin gak rela pisah dengan kalian berdua.” Tanpa terasa sudut matanya berair, dan suaranya terdengar bergetar karena berusaha menahan tangisnya. Dan hal itu menarik perhatian penumpang lain di dalam angkot.
“Hei, rencana Galuh kan sebelum Lo pulang kampung Mel. Lagi pula Lo kan belum ketemu sama calon laki Lo, belum bicarain saran dari kita berdua. Yaah, moga aja dia kasih izin Lo tetap kerja, asal Lo ngomong baik-baik dan alasan yang Lo ajuin tepat, Gue yakin si Zaki bakal setuju!” Luna membesarkan hati Meldy, meski ia sebenarnya juga sedih karena sahabatnya itu akan segera menikah dan kemungkinan besar akan jarang berkumpul bersama mereka lagi.
“Ssstt, jangan sedih terus ih. Gak enak dilihat penumpang lain, ntar dikira kita yang bikin nangis Kamu Mel,” ucap Galuh melirik ke arah penumpang di depan mereka, yang mengerutkan kening saat mendengar nada suara Meldy seperti sedang menangis.
Meldy menghapus sudut matanya yang berair, ia menegakkan tubuh dan memasang senyumnya. Tangannya meraih kedua tangan sahabatnya dan menggenggamnya erat. “Apa pun yang terjadi padaku nanti, Aku berharap persahabatan di antara kita tetap terjaga utuh. kita harus terus jaga komunikasi meski Aku mungkin tidak bisa bersama kalian terus nanti.”
Luna dan Galuh balas menggenggam tangan Meldy. Saat tiba di tempat tujuan, ketiganya bergegas turun. Sejenak Meldy berdiri memandang sekeliling mall, memejamkan mata berusaha merekam semua kenangannya bersama kedua sahabatnya di tempat itu.
Di pintu masuk, saat hendak menuju eskalator lantai dua ketiganya berpapasan dengan pak Susilo yang berjalan tergesa-gesa seperti hendak menemui seseorang. “Siang, Pak.” Sapa mereka berbarengan, namun hanya dibalas dengan anggukan kepala tanpa sedikit pun menoleh pada mereka.
“Tumben, biasanya komentar. Ini kok lempeng aja,” ucap Luna penasaran, lalu memutar tubuhnya menatap punggung atasannya yang berhenti tepat di depan pintu ruang kerjanya. Di sana terlihat sudah berdiri menunggu seorang pemuda yang memakai jaket hoody dan masker menutupi wajahnya.
Dilihatnya pak Susilo menundukkan tubuhnya di depan pemuda itu yang menurunkan masker wajahnya, dan sebelum ia sempat melihat wajahnya Meldy sudah menarik lengannya dan membawanya berjalan menjauh menuju pintu loker tempat mereka berganti pakaian kerja.
▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎