
Danu Mahendra duduk di single sofa ruang kerja Reza dengan bertopang kaki seraya mengetuk-ngetukkan ujung jarinya ke sandaran sofa di sampingnya. Matanya lurus menatap tajam wajah Reza putranya yang duduk gelisah di dekatnya, terus menatap ponsel di tangannya.
Tidak berapa lama kemudian terdengar suara ketukan di pintu.
“Masuk!” seru Danu, lalu menurunkan kakinya.
Reza hanya melirik sekilas, lalu kembali menatap layar ponselnya. Sedari tadi ia menahan diri untuk tidak menghubungi Galuh dan berharap wanita itu yang akan menghubunginya terlebih dahulu, namun sepertinya hal itu tak akan terjadi karena sampai detik ini tak ada satu pun panggilan atau pesan singkat Galuh untuknya.
“Tuan Mahendra.” Ratri masuk dengan membawa setumpuk file di tangannya dan menaruhnya ke atas meja. “Ini berkas data karyawan seperti yang Tuan minta.”
“Ya, terima kasih.” Sahut Danu sambil membetulkan letak kaca matanya, sebelum tangannya terulur mengambil file di depannya. “Apa Kau sudah memberitahu karyawan wanita bernama Galuh Nanda itu, kalau Aku ingin bertemu dengannya?”
Reza langsung mendongakkan wajahnya, menatap Ratri dengan kening berkerut ketika mendengar papanya menyebut nama Galuh di depannya.
Ratri tersenyum kecil pada Reza seraya menganggukkan kepalanya, ia bisa melihat sorot tanya di wajah lelaki muda di hadapannya itu.
“Sudah, Tuan. Dia akan datang ke sini setengah jam lagi,” sahut Ratri seraya melirik arloji di tangannya. “Apa ada yang bisa Saya kerjakan lagi untuk Tuan saat ini?”
“Itu artinya Galuh hanya punya waktu istirahat tiga puluh menit saja, bisa-bisa wanita itu akan menunda waktu makan siangnya. Dan ia akan datang jam setengah satu siang ini.” Reza bermonolog dalam hati saat mendengar Galuh akan datang ke ruangannya sebentar lagi.
“Cukup, terima kasih sekali lagi Ratri. Kamu boleh keluar sekarang,” sahut Danu tanpa menoleh pada Ratri, wanita itu pun segera undur diri dan berlalu keluar dari ruang kerja Reza.
“Papa ada urusan apa sama Galuh kok tiba-tiba nyuruh dia datang ke mari?” tanya Reza sembari memainkan jarinya di ponsel, memesan makanan untuk Galuh yang ia yakini pasti belum makan siang saat datang ke ruangannya nanti.
“Kamu nanyaa?” Danu mencebikkan bibirnya.
“Ish, Papa. Reza serius nanya, Pa?” ucap Reza lagi, lalu menyimpan ponselnya setelah selesai memesan makanannya.
Danu terkekeh melihat wajah Reza yang ditekuk, “Kamu kenapa, penasaran sampai muka ditekuk seperti itu?”
“Ya aneh aja, Papa tiba-tiba datang ke mari terus nyuruh ibu Ratri buat bawa berkas data karyawan segala.” Reza menyampaikan alasannya. “Kalau ada masalah pekerjaan, Papa kan bisa bilang sama Reza, biar Reza yang urus semuanya jadi Papa gak perlu turun langsung ke mari.”
“Papa datang kemari bukan berarti ada masalah di mal ini. Papa hanya ingin berkunjung dan melihat langsung kemajuan yang sudah dicapai mal ini setelah dipimpin oleh putra Papa,” ungkap Danu menjawab rasa penasaran Reza.
“Kan bisa Reza jelaskan nanti di rumah, Pa. Semua data Reza kasih ke Papa, jadi Papa gak perlu datang langsung ke mal ini.”
Danu tersenyum lebar mendengar ucapan Reza, “Papa tahu, bukan itu alasan sebenarnya Kamu gak mau Papa sampai datang ke mal ini. Tenang, Nak. Papa hanya ingin ngobrol sama pacar Kamu.”
Danu melirik arloji di tangannya, untuk melihat apakah Galuh Nanda, wanita yang sudah merebut hati putranya itu adalah orang yang bisa menghargai waktu dengan baik. Hanya tinggal beberapa menit menuju tepat jam setengah satu.
Dan wanita yang sedang jadi bahan pembicaraan antara ayah dan anak itu kini tengah berdiri di muka pintu ruang kerja Reza. Muncul kecemasan dalam hatinya, memikirkan apa maksud dari Danu Mahendra memanggilnya datang ke sana.
“Masuk!” Danu tersenyum lebar ketika mendengar suara ketukan di pintu tepat jam setengah satu siang itu.
Galuh membuka pintu dan melangkah masuk lalu menutup kembali pintu di belakangnya. Reza duduk mengawasi ketika Galuh melangkah masuk dan tersenyum sejenak ke arah Danu. Ia bisa melihat sinar terkejut dari bola mata Galuh ketika melihat kehadiran dirinya di sana.
Jantung Galuh berdebar kencang saat melihat wajah lelaki itu ketika melintas di depannya, tanpa sapa tanpa senyum. Datar!
Galuh menelan salivanya dengan susah payah, seperti ada yang tercekat di tenggorokannya. Ia berusaha bersikap tenang, di depannya Danu Mahendra sang pemilik mal tempatnya bekerja duduk diam mengawasinya.
“Silah kan duduk, rileks saja. Jangan tegang seperti itu, abaikan saja orang sekitar kita. Tarik napas, nah seperti itu.” Ucapan Danu yang terdengar ramah namun tegas itu masih belum mampu mengurai ketegangan di hati Galuh.
“Ish!” Reza mendengkus sebal, melirik papanya yang terlihat menikmati ketegangan di wajah Galuh.
Galuh mengembuskan napas, ia harus tetap tenang. Bukan pandang mata Danu yang terus mengawasi seolah menilai dirinya yang membuatnya jadi panas dingin dan tegang seperti ini. Galuh tahu penyebabnya kini, semua karena kehadiran Reza di dalam ruangan itu.
“Kita bertemu lagi,” ucap Danu memulai percakapan seraya mengulas senyum.
Galuh menggumam sopan dan balas tersenyum, ia menggenggam erat ponselnya dan hampir saja terlonjak dari duduknya ketika menyadari ponsel di tangannya bergetar.
Mukamu pucat, jangan tegang. Papa bukan orang jahat!
Galuh menghela napas, menoleh pada Reza yang duduk setengah menundukkan wajahnya. Danu senyum dikulum memperhatikan sikap kedua anak muda di dekatnya itu.
Kamu pasti belum makan siang, jawab!
Galuh menghela napas lagi. Tidak sopan rasanya jika ia tengah berhadapan dengan Danu Mahendra yang sedang mengajaknya bicara, ia malah sibuk berbalas pesan dengan Reza.
Pertanyaan Danu berikutnya membuatnya menarik napas lega, ia menunda membalas pesan Reza. Meski sempat dilihatnya Reza menatap sebal padanya.
“Apa Kau senang bekerja di tempat ini, Nanda?” tanya Danu dengan nada halus, ia bersandar di kursinya sambil terus memandang gadis di depannya itu.
“Ya?” Galuh terkejut mendengar Danu memanggilnya dengan nama akhirnya, tidak terbiasa tapi ia mencoba menerimanya dengan tersenyum. “Senang sekali, Tuan.”
“Saya sudah melihat berkas data milikmu, dan Kamu orang yang pantas untuk mendapatkan promosi jabatan ini.”
“Perusahaan kami Trijaya Mahendra sebagai pemilik dan pengembang mal ini sedang melakukan promosi jabatan untuk tiga orang karyawan yang berprestasi dalam pekerjaannya.”
“Setiap karyawan yang terpilih akan mendapatkan penempatan tugas di mal yang sudah ditunjuk untuknya, dan mereka yang terpilih akan mendapatkan fasilitas pendukung untuk kenyamanan bekerja. Salah satunya, hunian. Jika jarak rumah dan tempat bekerja dirasa jauh, maka perusahaan akan memfasilitasi dengan rumah tinggal untuk karyawan tersebut.”
“Dan sebagai bentuk apresiasi kami atas kerja keras dan usaha kalian dalam memajukan mal selama ini, perusahaan juga melakukan program hiburan yaitu piknik karyawan. Untuk kota tujuan menyusul dan akan dibicarakan bersama. Saya minta Kamu yang koordinir acara ini, bagaimana Nanda. Apa Kamu bersedia menerima tanggung jawab ini?”
“Saya bersedia, Tuan.” Galuh tersenyum lebar.
Selamat, kamu naik jabatan.
Galuh menoleh pada Reza, dan tersipu malu saat lelaki itu mengedipkan sebelah matanya.
▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎