
Pesta malam itu berlangsung meriah, tamu yang datang semakin bertambah banyak. Begitu banyak makanan dihidangkan di atas meja. Semua tampak lezat dan sedap dipandang mata. Perut Galuh langsung demo melihat sajian yang menggugah selera itu, tak sabar ingin mencicipinya.
Galuh meneguk minuman di depannya dan mulai memperhatikan keadaan di sekelilingnya, ia kini duduk sendirian di kursinya.
Oma tengah berbincang bersama rekan sejawatnya dan sudah berpindah ke meja lain, sementara Reza sedang berbincang dengan tamu undangan lain tak jauh dari meja di mana ia berada.
Hwuuhh! Galuh mengembuskan napasnya, bibirnya memberengut menatap punggung Reza yang berdiri membelakanginya.
Tangan kirinya bergerak menyangga wajahnya di atas meja, sebelah tangannya lagi mengetuk-ngetukkan ujung jarinya. Galuh sedang menunggu sejenak Reza selesai berbicara dengan tamunya, dan itu rasanya lama sekali.
Galuh menoleh ke arah pemain musik yang sedang melantunkan tembang lawas nan romantis, permintaan salah satu tamu undangan. Suara yang terdengar begitu indah, membuatnya kagum dan langsung bertepuk tangan yang kemudian diikuti oleh para tamu lainnya.
Bibirnya yang tadinya mengerucut, berubah menjadi senyum. Apalagi saat melihat interaksi si penyanyi utama yang berduet dengan salah satu tamu undangan.
Pertama lirikanmu, kedua bisikanmu Menggoda hatiku setiap waktu.
Wajahmu nan rupawan, senyummu nan menawan. Membuat hatiku berdebar sendu.
Pertama kali ku jatuh hati, pertama kali ku mengenal cinta.
Hanya padamu hanya untukmu, kan ku serahkan seluruh cintaku. Semanis senyummu.
“Mau kutemani memilih makanan di sana?” ajak Reza, tiba-tiba saja sudah berdiri di belakang Galuh dan mengejutkan dirinya. Memegang bahunya lembut, lalu mendekatkan wajahnya di telinga Galuh.
Galuh langsung menolehkan wajahnya. Jarak mereka begitu dekat, membuat hidung mereka saling bersentuhan. Embusan napas lelaki itu terasa hangat menyentuh kulit wajahnya.
“Bo-leh,” ucapnya gugup dan menganggukkan kepalanya.
Tanpa ragu Reza meraih tangan Galuh dan menggenggamnya erat, mereka berjalan menuju meja prasmanan yang menyajikan berbagai jenis hidangan makanan diiringi tatapan iri para tamu yang memandang.
Galuh mencicipi semua hidangan dan merasa sangat puas. Ia mengacungkan jempol, “Makanannya enak banget, kalau tiap hari kayak begini bisa-bisa body Aku bakal melar lebih cepat.”
Reza tertawa mendengarnya, “Tetap manis kok,” ucap Reza mengedipkan sebelah mata.
Galuh memutar bola matanya, tak urung bibirnya tersenyum juga. “Bang, Aku pamit ke toilet dulu ya.”
“Hem, toiletnya ada di sebelah sana.” Reza memberitahu letak toilet yang ada di rumahnya, khususnya yang berada di lantai dasar rumahnya. “Mau Aku antar ke sana?” tanya Reza ikutan berdiri. “Kamu kan belum tahu pasti letaknya di mana.”
“Ish, gak perlu.” Cegah Galuh menahan lengan Reza, dan memintanya untuk duduk kembali. “Aku bisa kok sendiri, kan sudah dikasih tau arahnya barusan. Lagi pula ada banyak pelayan di sini, Aku bisa tanya sama salah satu dari mereka.”
“Ya udah, Aku tunggu di sini.”
Galuh mengangguk lalu berdiri dari kursinya, ia melangkah mengikuti arahan dari Reza hingga sampai di sana. Letaknya yang berdampingan dengan dapur utama, hanya dibatasi oleh tembok tebal membuat Galuh bisa melihat kesibukan para pelayan di sana.
Keluar dari toilet, Galuh tidak langsung kembali ke ruang utama. Ia singgah terlebih dahulu di dapur. Penasaran, mengintip apa saja yang dilakukan para pelayan di dalam sana.
“Yul, kalau dah selesai makan bantu antar minuman ke taman ya. Tadi tuan Danil minta dibawakan jus alpukat dua buat dia sama tuan Aldi.” Ucap pelayan itu mengingatkan rekannya Yuli, yang sedang menyantap makanannya.
“Hmm, beres!” sahutnya dengan mulut penuh.
Galuh berjalan mendekat, menarik kursi kosong yang ada lalu duduk di samping Yuli. Matanya melebar melihat apa yang dimakan wanita itu.
“Wih, cenil campur getuk. Enaknya,” ucap Galuh menyebut nama jajanan pasar yang terbungkus di dalam daun pisang yang sedang dinikmati Yuli.
“Eh!” Yuli spontan menghentikan makannya, menatap wanita asing yang muncul tiba-tiba di dapur rumah tuannya. “Mbaknya mau?” tanyanya kemudian.
Galuh mengusap bibir dengan lidahnya, tak terasa meneguk liur melihat taburan kelapa parut yang di atasnya terdapat cairan kental gula merah. Jajanan pasar yang sudah jarang ditemuinya di kota ini, yang dulu selalu jadi favoritnya bila menemani ibunya belanja ke pasar tradisional di kampungnya.
“Mau,” sahut Galuh dengan mata berbinar.
Yuli terkekeh mendengarnya, “Nih, untungnya masih ada satu bungkus. Pas banget, rezeki ini mah namanya.”
“Terima kasih, ya. Tau gak, tadi Aku penasaran banget pingin tahu kesibukan kalian semua di sini. Eh, ternyata ini jawabannya. Aku bisa icip jajanan pasar di sini,” kata Galuh sambil tertawa. “Oh, iya. Kenalkan Aku Galuh Nanda.”
“Yuli,” jawab Yuli menyambut uluran tangan Galuh. “Ehm, Mbak Galuh bukannya tamu di pesta ulang tahunnya nyonya besar?”
“Iya,” sahut Galuh. “Aku datang ke sini diundang sama tuan Reza. Kebetulan Aku kerja di mal punya keluarga Mahendra.”
“Oh.”
Keduanya asyik berbincang, setelah menghabiskan satu bungkus besar jajanan pasar Galuh pun berpamitan untuk kembali bergabung di acara pesta ulang tahun oma Ratna.
“Hei, kenapa kalian malah enak-enakan di situ. Tidak lihat tamu yang datang makin banyak dan makanan di meja taman banyak yang mulai kosong!” teriak seorang wanita gemuk yang mengenakan baju khas koki dapur berdiri di hadapan mereka dengan berkacak pinggang menatap Galuh dan Yuli dengan wajah murka.
“Ayo cepat bawa makanan yang ada, jangan sampai nyonya besar marah karena ada tamunya yang komplain soal makanan yang habis karena telat disajikan!” perintahnya kemudian.
Galuh melongo, saat ia hendak keluar dari ruangan itu bahunya di dorong hingga tubuhnya mundur mengenai tembok di belakangnya. “Kamu mau ke mana, tugas kita masih banyak. Cepat bawa ini ke meja di bagian taman, dan sekalian periksa makanan yang kurang lainnya.”
“Tapi Nyonya, dia bukan ...” Yuli mencoba memberitahu wanita itu, tapi sepertinya ia tidak peduli dan malah memarahi Yuli.
“Kamu mau bilang dia bukan bertugas di bagian belakang. Tidak bisa! Semua pelayan yang bekerja malam ini, baik dia orang bawaan karyawan di sini atau bukan tetap harus menuruti perintahku. Sekarang cepat kalian bawa makanan ini!” Wanita itu menaruh mangkuk besar penuh berisi daging rendang ke tangan Galuh.
“Tapi Nyonya ...”
Galuh menarik ujung baju Yuli dan mengedipkan matanya. Ia membisikkan sesuatu di telinga gadis itu dan mengajaknya segera keluar dari sana.
Galuh memindai sekelilingnya berharap tidak bertemu dengan Reza di sana. Ia tersenyum lega sambil membawa mangkuk makanan, melangkah menuju taman. Malam ini ia akan menjadi pelayan sementara di pesta ulang tahun oma Ratna, nenek dari Reza kekasihnya.
▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎