
Seminggu setelah hari pernikahan mereka, Reza menyampaikan maksudnya pada oma juga papanya untuk memboyong Galuh tinggal di rumah mereka sendiri. Rumah yang sengaja disiapkan Reza sebagai hadiah perkawinan untuk wanitanya itu.
Galuh sebenarnya kurang setuju dan tak yakin maksud Reza itu akan berhasil, ia mengatakan pada suaminya tentang hal yang menjadi pemikirannya itu. Mengingat usia oma yang sudah mulai sepuh dan perlu ada keluarga yang menemani. Tapi Reza akan berusaha meyakinkan oma, bila perlu oma yang ikut tinggal bersama mereka.
Sayangnya, oma tak merestui keinginan cucu satu-satunya itu dan menginginkan mereka yang tetap tinggal di rumahnya. Sejak awal Reza mengenalkan Galuh pada keluarganya, oma memang sudah mengatakan pada keduanya.
“Rumah sebesar ini tidak ada yang menempati kalau kalian berdua pergi, hanya Oma dan papa kalian. Kalau papa kalian sibuk dengan pekerjaannya, Oma tinggal sendirian hanya dengan bik Salma. Masa iya, kalian tega meninggalkan Oma begitu saja?” Rajuk oma.
“Oma bisa tinggal bersama kami, sementara papa sibuk dengan pekerjaannya. Ada Galuh yang akan menemani Oma nanti.”
Oma menggeleng, tetap menolak. “Oma tidak bisa meninggalkan rumah ini, ada begitu banyak kenangan tentang kakekmu di sini. Sampai saat ini, Oma pun masih dapat merasakan kehadiran kakekmu di rumah ini."
Dan akhirnya Reza pun mengalah, dan menuruti keinginan oma. Galuh mengusap punggung suaminya itu dan tersenyum menenangkan, toh mereka bisa menginap sesekali di rumah baru dan oma pun setuju asal tidak tinggal di sana seterusnya.
Tiga bulan kemudian.
Cahaya mentari pagi yang masuk lewat celah kaca jendela membuat Galuh terjaga, ia bangun dan mendapati Reza tidak ada di dekatnya. Galuh melihat jam di dinding kamarnya, hari masih pagi.
Semalam ia tertidur lebih cepat, merasa kurang enak badan. Beberapa hari ini Galuh mengalami mual-mual di pagi hari, namun tak lama kemudian rasa mual itu berangsur menghilang. Nafsu makannya pun menurun, tak tahan mencium aroma bumbu masakan.
Reza yang mengkhawatirkan keadaannya bergegas memanggil dokter pribadinya, namun setelah melalui pemeriksaan tak ada yang perlu dikhawatirkan dengan kesehatan istrinya itu. Tamu bulanannya pun hadir seperti biasanya, dan dokter hanya memberinya vitamin.
Itulah sebabnya kenapa mereka tidak bisa ikut ke luar kota bersama oma dan papa, menghadiri undangan pesta pernikahan anak salah satu rekan bisnis Mahendra. Kesehatan Galuh lebih utama, oma sampai tak tega melihat Galuh yang muntah kuning menghabiskan isi perutnya setiap pagi bila rasa mual itu menyerangnya.
Galuh turun dari tempat tidur, menyeret langkahnya menuju kamar mandi. Ia mengalami mual-mual lagi, hingga berada lebih lama dari biasanya di kamar mandi.
Hampir setengah jam kemudian Galuh keluar dari sana dengan tubuh yang jauh lebih segar. Galuh pun keluar kamarnya mencari-cari sosok Reza, namun lelaki itu tak terlihat di mana-mana.
Di dapur ia bertemu dengan bik Salma, salah satu asisten rumah tangga oma Reza yang sudah lama tinggal di sana sedang menyiapkan sarapan pagi.
“Pagi, Bik.” Sapa Galuh, berjalan mendekati bik Salma. “Bibi lagi masak apa?”
“Pagi juga, Non.” Balas bik Salma tersenyum ramah. “Bibi lagi buat nasi goreng, Non Galuh mau sarapan sekarang?”
Wangi nasi goreng olahan bik Salma menggelitik perut Galuh yang tiba-tiba saja berontak minta diisi, semalam ia makan hanya sedikit saja karena masalah di perutnya. Aneh, berbeda dengan beberapa hari sebelumnya, wangi masakan bik Salma tak membuatnya mual kali ini.
“Biar bentar sarapan bareng sama bang Reza saja, Bik.” Lebih baik ia menunggu suaminya itu untuk sarapan bersama, pikir Galuh. “Tapi boleh icip dikit kan, Bik. Soalnya wangi masakan Bibi benar-benar menggugah selera.”
“Tentu saja boleh, Non.” Bik Salma tertawa senang mendengarnya, karena tahu cucu majikannya itu sering mengalami mual-mual di pagi hari dan kehilangan selera makannya. Bik Salma menyendokkan nasi goreng ke dalam piring dan memberikannya pada Galuh yang menerimanya dengan mata berbinar.
“Makan yang banyak ya, Non. Biar mualnya berkurang,” kata bik Salma tersenyum mengingatkan, ia mendapat pesan dari oma untuk memasak apa saja menu makanan yang menjadi keinginan cucu menantu majikannya itu.
“Terima kasih, Bik.”
“Dihabiskan makannya kalau Non Galuh suka,” sahut bik Salma tersenyum lega, senang karena Galuh menyukai masakannya.
“Selamat pagi, sayang.”
Suapan kedua siap meluncur, namun tertahan di udara. Suara seseorang mengalihkan perhatian Galuh. Reza datang dengan tubuh basah keringat sehabis berolahraga, tiba-tiba saja langsung berjalan ke belakang dan memeluk pinggangnya.
“Hap!”
“Aabaang!” protes Galuh, ketika Reza menyambar nasi goreng miliknya.
“Hem, enak sekali.” Ucap Reza mengunyah pelan, mengabaikan protes Galuh padanya.
Cepat-cepat Galuh memutar tubuhnya. Lengan Reza masih berada di pinggangnya dan laki-laki itu menariknya untuk mendekat, lalu menunduk dan mengecup bibirnya. Kecupan sayang yang lembut dan tidak tersimpan gairah di dalamnya, namun tetap saja membuat Galuh berdebar karenanya.
“Astaga!” Bik Salma yang berada di dekat mereka jadi malu sendiri, ia buru-buru membereskan masakannya dan bergegas berjalan keluar sambil menutup wajah dengan sebelah tangannya.
“Abang, ih!” Galuh menyentuh bibirnya, lalu mengeplak lengan Reza menyadari ada bik Salma yang melihat ulah suaminya itu. Pipinya menghangat, Galuh menjauhkan tubuhnya ketika Reza memonyongkan bibirnya lagi dan berusaha menahan tengkuknya. “Malu ada bik Salma yang lihat.”
Reza menoleh dan hanya meringis menyadari kebenaran ucapan Galuh.
“Maaf, Bibi gak lihat kok.” Ucap bik Salma bergegas menjauh dari sana.
Wajah Galuh semakin memerah, ia mendelik dan mencubit gemas perut Reza. Lelaki itu mengaduh tanpa melepaskan pelukannya di tubuh istrinya.
“Loh, Bik Salma mau ke mana. Itu nasi gorengnya bagaimana?” tanya Reza mengarahkan dagunya ke mangkuk besar di samping kompor.
“Sudah selesai masaknya, Mas. Tinggal ditaruh di meja saja,” sahut bik Salma menghentikan langkahnya, berpaling menatap Reza lalu cepat-cepat mengalihkan pandangannya lagi ke arah lain. “Kalau Mas Reza mau sarapan sekarang, biar Bibi siapkan.”
“Udah, gak usah Bik. Biar nanti Galuh saja yang siapkan buat Saya,” cegah Reza seraya tersenyum maklum, menyadari ulahnya yang membuat malu asisten rumah tangganya itu.
Bik Salma bergegas pergi, sekarang hanya tinggal Galuh dan Reza di dapur rumah oma. “Aku senang lihat Kamu akhirnya mau makan lagi, udah gak mual-mual lagi kan yank?”
Galuh tersenyum mengangguk, dan Reza kembali memeluknya. Lalu beberapa detik kemudian, Galuh menutup rapat mulutnya dan mual itu datang lagi.
“Hueegk!” Galuh mengibaskan tangannya menyuruh Reza menjauh. “Hueegh, Abang bau!”
Astaga!
▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎