
Ruangan itu serasa berputar dan bergoyang-goyang, Galuh memejamkan mata dan menggelengkan kepalanya berusaha mengusir rasa pusing yang menyerang kepalanya tiba-tiba. Seperti orang mabuk, jalannya oleng dan ia harus berpegangan pada tepi meja yang ada di sebelahnya agar tidak terjatuh.
“Assyeem tenan!” umpatnya kesal mengingat sikap Reza padanya. Laki-laki itu berhasil membuat kepalanya mendadak pening dan mual secara bersamaan.
“Galuh?” Ami yang baru saja kembali dari istirahat siangnya terkejut melihat Galuh berjalan sempoyongan sambil mengernyitkan dahinya. “Hei, Kamu kenapa?” seru Ami ketika tangan Galuh berhasil menyentuh lengannya.
“Stop, Ami!” perintah Galuh yang kontan saja membuatnya bingung.
“Lo kenapa, sih! Kalau sakit mending pulang, gak usah kerja. Istirahat,” cecar Ami sembari memegang kening Galuh, lalu melepaskan pegangan tangan Galuh di lengannya.
“Jangan bergerak, Mi. Sumpah, Aku beneran mual kalau Kamu gerak terus!” sahut Galuh tidak jelas.
“Ck! Ya udah, Gue diem sekarang.” Ami berdecak dan terdiam, menuruti ucapan Galuh padanya.
Galuh menarik napas panjang lalu perlahan membuka matanya, “Terima kasih,” ucap Galuh kemudian, sembari melepaskan pegangan tangannya.
“Sudah, begitu saja.” Ami menatap Galuh dengan tatapan penuh selidik. “Apa gak ada yang ingin Kamu ceritakan? Terus apa maksudnya dengan tumpukan kotak sepatu yang ada di bawah sana?”
“Barusan ada cowok rese yang borong tujuh pasang sepatu bola,” sahut Galuh teringat kartu nama yang diberikan Reza padanya. “Dan dia memintaku untuk mengantar sepatu-sepatu itu ke alamat ini.” Galuh lalu memperlihatkan kartu nama itu pada Ami, yang langsung membacanya dengan saksama.
“Sport center jalan pemuda.” Ami mengeja alamat yang tertera di kartu nama, “Lah, ini kan GOR di jalan pemuda, tempat biasa anak-anak main futsal.”
“Seumur-umur kerja, baru sekarang diminta anter barang tempat pelanggan. Heran, kalau buru-buru kan bisa langsung dibawa sendiri. Ngapain coba pakai minta diantar segala. Padahal barang dah Aku siapin, tinggal bungkus doang tapi gak mau nunggu bentar.” Galuh memijit keningnya. “Kalau gak abis borong tujuh pasang sekaligus aja, males banget rasanya ngeladenin orang model kayak dia. Bossy banget gayanya,” rutuk Galuh sebal.
Ami berusaha menahan senyumnya, ia lalu melirik arloji di tangannya. “Emang minta dianter jam berapa, sih?”
“Dua jam dari sekarang sudah harus nyampe alamat yang dituju. Gimana gak pening kepala,” keluh Galuh.
“Sekarang sudah jam setengah dua, satu jam lagi jam kerjamu selesai. Masih ada waktu setengah jam buat anter itu barang ke lokasi yang dia minta. Kalau Kamu gerak cepat, Kamu bisa tepat waktu sampai di sana. Bahkan mungkin lebih cepat sebelum waktu yang diminta. Setelah itu Kamu bebas,” ujar Ami memberi solusi.
“Ribet, Mi. Mending kasih kurir aja biar antar ke sana,” sahut Galuh.
“Bukanya Kamu dah nyanggupin buat antar sendiri, kenapa harus pakai kurir segala. Sudah lah, pakai motorku buat antar itu barang, biar Aku bantu ikat nanti.”
“Hadeh Ami, Kamu teman Aku bukan sih. Kenapa malah dukung itu cowok?”
“Anggap saja service perusahaan untuk pelanggan terbaik kita,” ujar Ami tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya.
Galuh mengangguk pasrah, dan berusaha tersenyum. “Ya sudah lah, kali ini Aku mengalah.”
Beberapa menit kemudian, kotak-kotak sepatu di depannya itu sudah tersusun rapi menjadi dua bagian. Galuh menatapnya lama, ia masih tak percaya ia mau melakukan hal seperti yang diminta laki-laki itu padanya. Benar-benar merepotkan.
Satu jam berikutnya, Galuh sudah berada di jalan raya mengendarai motor scoopy milik Ami untuk mengantar sepatu bola milik Reza. Sambil memasang headset dan mendengarkan lagu Roller Coaster dari Luke Bryan, bikin mood-nya kembali membaik.
And we spent that week wide open (dan kami menghabiskan minggu itu terbuka lebar)
Upside down beside the ocean (terbalik di samping lautan)
I didn’t know where it was goin’ (aku tak tahu ke mana perginya)
Just tryin’ to keep my heart on the tracks ( hanya mencoba menjaga hatiku tetap pada jalurnya)
Tanpa terasa Galuh sudah sampai di tempat yang dituju, ia memarkirkan motornya di barisan belakang berjajar dengan motor lainnya. Dibacanya berulang papan nama yang terpasang di atas gedung, sudah sesuai dengan kartu nama yang ada di tangannya.
Galuh melepas ikatan tali di motornya, lalu membawa kotak sepatu di kedua tangannya. Matanya sibuk mencari sosok Reza, sambil mencoba menghubungi nomor telepon yang tertera di kartu nama. Tidak lama kemudian lelaki itu muncul di depan matanya bersama dua orang temannya sambil menenteng sepatu bola di tangannya.
“Bos, ukuran sepatu Aku kayaknya gak pas nih. Kebesaran! Harusnya cukup size 41 saja, kalau begini caranya Aku bisa batal tanding!”
“Punyaku juga,” sambung yang seorang lagi. “Ini malah kekecilan, gimana sih jualannya. Kok pada salah ukurannya?”
Galuh mengernyitkan keningnya, ia lalu memeriksa nota di tangannya dan mencocokkan dengan ukuran sepatu yang dibawanya. “Saya tidak salah kirim, ya. Ukuran sepatu sudah sesuai pesanan. Kalau ada ketidak cocokan, itu di luar tanggung jawab kami!” tegas Galuh.
“Apa gak bisa ditukar sekarang, kami harus bertanding sebentar lagi. Apa tidak ada toleransinya, toh bos kami sudah membayar lunas semuanya.”
“Bagaimana ini, Bos. Apa kami harus bertanding tanpa memakai sepatu bola?”
Suara-suara berdengung di sekitar Galuh, telinganya terasa panas. Ia merasa itu bukan kesalahannya, tapi ia juga tidak bisa mengabaikan ucapan teman-teman Reza padanya.
“Maaf, kesalahan bukan berada dipihak kami. Semua sudah sesuai pesanan, dan tugas Saya mengantar pesanan bos Anda sudah selesai. Barang sudah diterima. Permisi!” Galuh balik badan, namun sekali lagi ia seperti mengenal tangan kuat yang mencekal lengannya.
“Kamu tidak bisa pergi begitu saja, apa tidak ada kebijaksanaan dari pihak kalian untuk bisa menukar ukuran barang pesanan. Oke, Fine itu kesalahan dari kami. Tapi, tidak bisakah Kamu mengganti ukurannya dan meminta orangmu di sana untuk melakukannya. Aku akan mengirim orangku untuk datang mengambilnya sekarang. Dan Kamu bisa membawanya kembali setelah orangku mendapatkan gantinya,” ucap Reza, membuat Galuh tak bisa berkata-kata lagi.
“Ini bahkan sudah di luar jam kerjaku!” balas Galuh.
“Aku akan membayar upah di luar jam kerjamu, asal Kamu mau menghubungi orangmu di sana untuk menukar ukuran sepatu pesananku!” Reza menatap tajam Galuh, ia berkata tanpa melepaskan pegangan tangannya.
“Lepaskan tanganmu!” sentak Galuh.
“Lakukan permintaanku!” balas Reza tak kalah keras.
Dan akhirnya Galuh menuruti permintaan lelaki itu padanya, ia menghubungi Ami dan memintanya menyediakan ukuran seperti yang diminta teman Reza. Lelaki itu tersenyum, lalu mengeluarkan dompetnya. Ia mengeluarkan beberapa lembar uang warna merah dan memberikannya ke tangan Galuh.
Galuh marah, tapi berusaha menahannya hingga ia merasa dadanya sesak. Galuh menepis tangan Reza dan meminta lelaki itu menyimpan kembali uangnya.
“Biarkan Aku lewat,” ucap Galuh dengan nada yang teramat tenang sampai terdengar tidak wajar.
“Maukah Kau mendengarkan kata-kataku sebentar?” tanya Reza, lalu menahan pergelangan tangan Galuh. Namun gadis itu berontak dan mengempaskan pegangan tangannya dengan marah.
“Aku membencimu!” bisik Galuh seraya mengetatkan giginya, ia bahkan benar-benar merasakan kebencian itu. Ia balik badan dan berjalan cepat meninggalkan tempat itu.
Bugh!
Aarghkk!
Huaa! Galuh terduduk di lantai lapangan yang keras, menangis sambil memegangi kepalanya yang terkena bola mental yang ditendang keras pemain hingga keluar lapangan dan mengenainya.
“Maaf, Mbak. Kita gak sengaja ngelakuinnya,” ucap seorang pemuda yang berlari keluar lapangan dan mengambil bola di dekat kaki Galuh.
Galuh terus menangis sambil memegangi kepalanya yang nyeri, ia bangkit dengan tubuh terhuyung.
Reza berlari mendekati Galuh, lalu berjongkok di depannya. wajahnya tampak khawatir, apalagi melihat Galuh terus memegangi kepalanya. “Apa Kamu baik-baik saja?”
Galuh meradang. Jelas-jelas lelaki itu melihatnya menangis kesakitan karena terkena bola di kepalanya, masih saja bertanya keadaannya.
“Aku bahagia, terlalu bahagia sampai rasanya tidak ingin berhenti menangis. Puass!” sembur Galuh lalu bangkit berdiri dan pergi meninggalkan Reza yang hanya bisa bengong menatap kepergiannya.
▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎