
Suara bunyi kayu terinjak keras untuk yang kedua kalinya cukup membuat kedua orang yang berada di dalam rumah itu terkejut dan menolehkan wajah bersamaan.
Dan pemandangan di ambang pintu rumahnya itu membuat Galuh terkesiap dan langsung menghentikan gerakannya. Ia taruh keranjang plastik di tangannya ke lantai rumah, dan berdiri tegap menatap kedatangan dua orang di hadapannya itu.
“Abang,” bisiknya parau melihat kemunculan laki-laki itu bersama mamanya, yang datang dengan menuntun tangan mamanya yang berpegangan kuat di lengannya.
Keheningan menyergap, rasanya terlalu lama untuk diartikan sebagai sebuah kegembiraan. Sebuah pertemuan yang tak terduga, dan Galuh tidak pernah menyangkanya akan melihat Reza di tempat itu. Ia masih berdiri bengong di tempatnya, hingga suara lirih mamanya memanggil namanya.
“Galuh.”
“Mama!” Galuh tersentak seketika, lalu berjalan cepat menghampiri mamanya. mencium punggung tangannya dan memeluknya erat. “Mama baik-baik aja kan? Rika mana Ma, kenapa Mama bisa datang bersama bang Reza?”
“Rika meurus gawiannya satumat jar, handak meminta izin lawan bosnya di kantor kada bagawi hari ini. Kena siang hanyar kamari malihati rumah lawan Idam, si Hardi mencari bahan gasan mengganti atap. Pas isuk tadi Reza muncul, laluai Mama umpat dibawa kemari.” Jelas mama pada Galuh.
(Rika mengurus pekerjaannya sebentar, mau minta izin dengan bosnya di kantor tidak masuk kerja hari ini. Nanti siang baru kemari bareng Idam melihat rumah ini, kalau Hardi mencari bahan untuk mengganti atap. Pas tadi pagi Reza muncul, sekalian Mama ikut minta dibawa ke sini)
“Oh.”
Galuh menatap Reza dan tersenyum padanya. Matanya menyiratkan rasa terima kasih yang dalam, namun lelaki itu hanya membalasnya dengan mengerucutkan bibirnya. Sepertinya masih merajuk karena Galuh pulang kampung tanpa memberi kabar padanya.
Beruntung Reza bergerak cepat dan langsung bergegas mencari informasi, dan segera memesan tiket penerbangan tercepat pagi itu untuk menyusul Galuh.
Sempat terlintas ingin memarahi wanitanya itu karena sudah membuatnya khawatir, namun mendapati keadaan mama Galuh yang masih syok dan mendengar langsung musibah yang menimpa keluarga Galuh di kampungnya dari paman Hardi juga foto keadaan rumah Galuh membuat Reza ingin segera bertemu dengan wanitanya.
Dan saat itu juga ia langsung menghubungi Danil dan Aldi untuk segera mengirimkan orang terbaik yang mereka punya untuk membantu perbaikan rumah Galuh.
Reza menyingkir, bergerak menjauh dari kedua orang mama dan anak itu yang sedang melepas rindu dan sepertinya hanya ingin berbicara berduaan saja. Ia melangkah ke sekitar rumah untuk melihat-lihat keadaan rumah dan berhenti sejenak saat menyadari kehadiran lelaki lain di dekat mereka.
Mama mengangguk lemah seraya mengusap lembut rambut putrinya, “Galuh, bebila datang Nak. Kenapa kada mendapati Mama bedahulu?” (Galuh, kapan datang Nak. Kenapa tidak menemui Mama terlebih dahulu)
“Hanyar haja biisukan tadi Ma ai, singgah satumat malihati rumah.” Galuh mengusap bahu mamanya, seolah memberi kekuatan pada wanita tersayang itu. (Baru saja pagi ini Ma, mampir sebentar melihat rumah)
Mama melipat bibir seperti menahan tangis, matanya mulai memerah. “Sabarai kita, musibah ngarannya.” Ujar mama dengan suara bergetar. (Kita harus bersabar, namanya musibah)
“Insya Allah ada rezeki langsung kita baiki Ma, lah.” Galuh tersenyum membesarkan hati mamanya. Terlalu banyak kenangan di rumah ini, di mana Galuh dan adiknya menghabiskan masa kecil mereka hingga remaja bersama mama dan ayah tercinta yang kini sudah tiada.
Galuh menghela bahu mamanya membawanya untuk duduk di sofa ruang tamu, satu-satunya ruangan yang masih terlindung dari sengatan sinar matahari yang masuk langsung menembus ke dalam rumah.
“Ibu seharusnya tetap berada di rumah pak Hardi, biar Saya saja yang membantu memindahkan barang-barang di rumah ini sementara menunggu tukang datang untuk memperbaikinya.”
Rendra muncul dari arah dapur dengan membawa beberapa barang di tangannya.
“Ekhem!”
Reza berdeham, lalu berjalan mendekati Rendra dan berdiri di sampingnya. “Kapan rencananya tukang akan datang memperbaiki rumah ini?”
“Insya Allah, siang ini selepas zuhur. Ada dua orang yang sudah dikonfirmasi akan datang membantu perbaikan di rumah ini, sementara yang dua orang lagi berhalangan hadir karena harus membantu di tempat saudara mereka juga yang terkena musibah banjir di desa sebelah.” Jawab Rendra.
Bruakk!
“Astagfirullah!” Galuh terpekik kaget mendengar suara keras di depan pintu rumahnya. “Lama-lama bisa jantungan juga kalau terus dengar suara-suara keras kayak begini,” gumamnya dalam hati sambil memegang dadanya.
Tok tok ...
Tidak lama kemudian terdengar suara pintu rumah diketuk keras dari luar, dan seseorang menyembulkan wajahnya dari balik pintu yang terbuka lebar dengan wajah pias dan napas terengah-engah.
“Pak Dokter, ada pasien gawat. Barusan dibawa ke puskesmas desa, kakinya bengkak besar. Katanya dipatuk ular di sawah tadi pagi.”
Galuh mengernyitkan dahi, menatap lelaki yang baru datang itu lalu beralih menatap pada orang yang diajak bicara olehnya.
“Tinggal aja Dok ai, kalau ada pasien gawat kayak itu. Kena bisa aja kita menggawinya begamatan,” sahut mama menatap Rendra yang langsung bergegas berpamitan pada mereka semua.
(Tinggal saja Dok, kalau ada pasien gawat seperti itu. Nanti bisa saja kami yang mengerjakannya pelan-pelan)
“Maaf, Saya harus segera ke puskesmas. Ibu jangan capek-capek lagi, dan Kamu Galuh. Jaga ibumu baik-baik, jangan biarkan beliau jatuh pingsan lagi karena berusaha membersihkan rumah ini lagi seperti tadi pagi,” ucapnya sebelum bergegas pergi, meninggalkan kerutan di kening Galuh yang semakin dalam.
Ia tidak menyangka kalau Rendra adalah seorang dokter dan sedang bertugas di puskesmas, lebih tidak menyangka lagi saat mendengar keterangan lelaki itu kalau mamanya tadi pingsan karena membersihkan rumah mereka dan lelaki itu yang harus turun tangan membantunya.
“Jadi benar Mama tadi pagi pingsan?” tanya Galuh menatap mamanya, dan wanita itu hanya mengangguk pelan. “Apa yang Rendra bilang barusan itu juga benar, kalau Mama mencoba membersihkan rumah ini?”
Sekali lagi mama menganggukkan kepalanya, dan hal itu membuat Galuh menarik napas dalam. “Ma, itu berbahaya buat Mama. Galuh gak mau terjadi apa-apa sama Mama. Mama harus sabar, dan Galuh mau Mama tetap di rumah paman Hardi sementara ini. Serahkan semuanya dan biarkan ahlinya yang melakukan pekerjaannya.”
“Siang ini orang-orangku akan datang membantu perbaikan rumah ini. Dan untuk saat ini, Saya mohon Ibu mau mendengarkan ucapan dokter tadi juga Galuh. Tolong biarkan orang lain yang melakukannya, dan Ibu lebih baik beristirahat di rumah saja. Insya Allah, dalam waktu seminggu ke depan rumah ini akan kembali baik dan Ibu bersama keluarga bisa menempatinya lagi.” Pinta Reza pada mama.
“Terima kasih ya Allah, bauntung banar Galuh tadapat jodoh baik kayak ikam itu.” Mama langsung berdiri memeluk Reza yang balas memeluk mama seraya mengusap bahu mama dan mengedipkan matanya pada Galuh yang menatapnya dengan pandangan haru. (Beruntung banget Galuh bertemu jodoh sebaik Reza)
“Sekarang biarkan kami mengantar Ibu pulang ke rumah paman Hardi lagi untuk istirahat, dan izinkan Saya dan Galuh berjalan keluar rumah mencari penginapan sementara untuk orang-orang Saya yang akan datang ke kampung ini.”
Satu jam kemudian Reza dan Galuh sudah berada di jalan menggunakan sepeda motor, berboncengan mencari penginapan untuk anak buah Reza yang akan datang siang itu.
▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎