
Galuh menatap wajah tampan yang terlihat pucat di hadapannya itu, lalu beralih menatap jemari tangan Reza yang menggenggam erat pergelangan tangannya.
Di hadapan dokter dan petugas medis yang akan menanganinya, Reza meminta agar Galuh tetap berada di dekatnya. Dan dokter itu pun tersenyum maklum, ia pun meluluskan permintaan pasiennya itu.
“Namanya Galuh Nanda. Dia tunanganku, dokter. Wanita yang sangat Aku cintai, dia bagian terpenting dalam hidupku kini.” Reza terus menatap Galuh, pegangan tangannya seolah tak mau lepas.
“Saya sangat mengerti sekali. Tanpa saudara ucapkan sekalipun, Saya tahu dia wanita spesial untuk Anda.” Sahut dokter Rendra, lalu berjalan mendekat dan berdiri tepat di samping Reza.
Reza menolehkan wajahnya, beralih menatap dokter Rendra dan tersenyum lebar. “Aku ingin, Dokter jadi saksi kami malam ini.”
“Abang,” sela Galuh dengan suara lembut, sembari mengusap perlahan punggung tangan Reza. “Biarkan dokter memeriksa Abang terlebih dahulu, setelah itu kita bisa bicara lagi nanti.”
“Lima menit! Silah kan kalian bicara, sekarang.” Lembut namun tegas, dokter Rendra memberikan waktu lima menit pada pasiennya itu untuk bicara dan menyampaikan keinginannya.
Dokter Rendra memanggil salah seorang perawat untuk mendekat, dan meminta padanya untuk memberikan berkas riwayat kesehatan Reza.
“Aku ingin mendengar jawabanmu sekarang, sebelum dokter mulai memeriksaku.” Reza menghela napas sebelum melanjutkan bicaranya. “Galuh Nanda, menikahlah denganku. Aku ingin menghabiskan sisa waktuku bersamamu.”
Galuh tak dapat menutupi rasa terkejutnya, hingga ia kehabisan kata-kata. Lelaki itu benar-benar tidak ingin kehilangan momen meski tengah terbaring di atas brankar rumah sakit. Untuk yang ke sekian kalinya Reza melamarnya lagi.
Semua mata kini menatap ke arahnya, seolah menunggu jawaban dirinya. Galuh terdiam untuk beberapa saat lamanya, ia memejamkan matanya sejenak sebelum akhirnya kepalanya mengangguk mengiyakan.
“Apa itu artinya ...” Reza berusaha menegakkan lehernya, tapi dicegah Galuh dan menyuruh agar lelaki itu tetap berbaring.
“Aku bersedia menikah denganmu, Bang. Abang harus tetap sehat, demi Aku.”
Senyum bahagia terpancar di raut wajah Reza. Ia meraih bahu Galuh dan merangkumnya dalam pelukannya. “Aku akan terus sehat demi Kamu, yank.”
Galuh tersenyum mengangguk, perlahan ia melepaskan pelukan Reza. Ia pun kini merasakan kelegaan yang sama seperti laki-laki itu. Seolah mendapatkan kekuatan baru, wajah Reza yang tadi pucat perlahan berangsur memerah.
Setelah mendapatkan penanganan dan minum obat, Reza tertidur. Galuh memanfaatkan waktu untuk menemui dokter Rendra dan menanyakan apa sebenarnya sakit yang dialami Reza sehingga lelaki itu sering mengalami mimisan.
Awalnya dokter Rendra yang sudah berjanji pada Reza untuk menyimpan rapat-rapat soal penyakit yang dideritanya pada semua orang, tidak mau menceritakannya pada Galuh. Tapi wanita itu terus mendesaknya dan memohon padanya.
“Bukankah Dokter sudah melihat sendiri tadi, dia melamarku untuk yang ketiga kalinya, dan Saya sudah mengiyakan lamarannya. Saya bersedia dan kami akan segera menikah. Apa Dokter masih menganggap Saya orang lain yang tidak berhak mengetahui apa sebenarnya penyakit yang diderita calon suami Saya?”
“Sebaiknya Kamu tanyakan langsung pada Reza. Maaf, Saya sudah berjanji untuk tidak menceritakan soal penyakitnya pada orang lain.”
“Saya tidak mungkin menanyakannya pada Abang, sementara Abang selalu saja mengatakan hal yang sama setiap itu terjadi. Dia hanya kecapaian dan akan sembuh setelah beristirahat.”
“Setiap banyak pikiran, apalagi setelah kami berselisih paham, Abang selalu mengalami mimisan. Percayalah, Dokter. Apa pun sakit yang dia alami, Saya tetap akan menikah dengannya.”
“Leukimia,” ungkap dokter Rendra pada akhirnya. “Sudah hampir dua tahun ini, dan Reza menolak melakukan kemoterapi. Katanya ia belum mau mati muda.” Dokter Rendra tertawa getir, “Tapi dua bulan belakangan ini, kondisi tubuhnya mulai menurun.”
“Ya Tuhan!” tanpa sadar Galuh menutup mulutnya. “Apa sakitnya parah, Dokter. Apa Abang bisa sembuh?” tanya Galuh dengan mata mulai memerah, sekuat tenaga ia berusaha menahan air matanya yang berontak ingin keluar.
“Beberapa kali Saya melihat dia mimisan. Saya takut, Saya tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada orang yang Saya sayangi.” Lanjut Galuh lagi.
“Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Banyak pasien yang mengalami hal sama seperti yang dialami Reza, dan mereka sembuh dengan cepat. Lewat penanganan yang tepat, juga rutin berobat, Reza pasti bisa pulih lebih cepat.”
“Kami akan menikah, itu keinginan terbesar Abang.” Galuh menatap dokter Rendra, “Sekarang baru Saya mengerti, kenapa abang sering mengucapkan kalimat itu.”
Aku ingin menghabiskan sisa waktuku bersama denganmu, Aku tidak ingin kehilangan momen hidup berdua hanya bersamamu. Galuh teringat ucapan Reza padanya waktu itu.
Dokter Rendra menghela napas, balas menatap Galuh. Ia tahu ini tidak mudah buat Galuh setelah mengetahui kebenaran tentang penyakit yang dialami Reza.
“Apa Kamu menyesal dan berubah pikiran, dan menolak untuk menikah dengannya setelah mengetahui kenyataan yang sebenarnya tentang penyakit yang diderita Reza?” tanya dokter Rendra.
Galuh tersenyum kecil dan menggelengkan kepala sembari mengusap sudut matanya yang berair.
“Saya akan tetap menikah dengannya, Saya ingin melihat Abang terus tersenyum bahagia. Seperti ucapan Dokter tadi, tidak ada yang tidak mungkin terjadi. Jika kehadiran Saya di dekatnya bisa membuat Abang tersenyum bahagia, Saya tetap akan menikah dengannya.” Jawab Galuh.
“Kamu pasti tahu risiko terburuk yang akan Kamu hadapi nanti, apa Kamu siap?” tanya dokter Rendra lagi.
Aku siap, meski kemungkinan terburuknya Aku akan kehilangan dia untuk selamanya.
“Lagi pula semua orang juga akan pergi dan kembali pada penciptanya, hanya soal waktu saja. Siapa yang terlebih dahulu menghadap-Nya. Dan Saya akan memanfaatkan sisa waktu yang kami punya untuk terus bersama.”
Dokter Rendra tersenyum mendengar semua ucapan Galuh, “Pantas saja Reza begitu mencintai Kamu, ia tahu kalau dirinya egois. Membuat Kamu seolah terjebak dengan pernikahan yang dia inginkan. Tapi itu adalah impian dia, bisa hidup bersama dengan wanita yang dia cinta.”
Malam itu Galuh menemani Reza dan memilih bermalam di rumah sakit, sementara Luna harus pulang ke rumahnya dan berjanji akan datang lagi esok hari. Galuh berusaha tetap tenang dan bersikap wajar di depan Reza, menampilkan senyum bahagia karena mereka akan segera menikah.
Sepanjang malam Galuh terus berada di samping Reza, hingga ia terlelap dengan satu tangan menyangga kepalanya sementara tangan satunya menggenggam jemari Reza.
Tengah malam Reza terbangun karena merasakan tangannya keram. Ia tersenyum mendapati tangannya berada dalam genggaman tangan Galuh. Perlahan Reza melepasnya, lalu mengusap rambut kepala Galuh sayang.
“Maafkan Aku, karena tak bisa melepaskanmu pergi begitu saja dariku. Aku terlanjur mencintaimu dan ingin Kamu jadi milikku.”
“Aku mohon pada Tuhan, untuk bisa menyatukan kita dalam ikatan suci pernikahan. Aku akan berusaha terus sehat, demi kamu. Agar bisa tetap hidup lama denganmu. Agar bisa terus ada di sampingmu, mendampingi kamu, membahagiakan Kamu selamanya. Aku cinta Kamu my future wife.”
▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎