If Tomorrow Never Come

If Tomorrow Never Come
Bab 48. Takut khilaf lagi



Galuh merasa gugup, ia bahkan memarahi dirinya sendiri karena bertingkah seperti orang bodoh. Namun tak urung ia tetap terlonjak kaget setiap kali mendengar dering ponselnya berbunyi, dan langsung bergegas meninggalkan pekerjaannya untuk melihat siapa yang meneleponnya.


Wajahnya berubah masam ketika membaca pesan singkat Luna, sahabatnya itu mengiriminya banyak gambar gaun yang indah untuknya.


“Pestanya sudah bubar!” balasnya, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.


Waktu rasanya berjalan lambat, hingga jam kerjanya berakhir sore itu. Galuh melirik arloji di tangannya, lalu menengok ke atas meja di mana ponselnya berada. Satu jam lalu Reza kembali menghubunginya dan mengingatkan Galuh untuk menunggunya.


Galuh mulai bersiap pulang setelah selesai membereskan semua pekerjaannya, ia menunggu Reza di depan konternya. Meski ini bukan yang pertama kalinya mereka pulang bareng, namun Galuh tetap saja merasa gugup.


Setelah pertengkaran waktu itu, Galuh berharap ia bisa lebih mengontrol emosinya hingga tak akan ada lagi pertengkaran selanjutnya. Dan saat matanya menangkap bayangan tubuh tegap Reza yang berjalan ke arahnya, Galuh pun mendongakkan wajahnya.


“A-pa ini?” Galuh tak bisa berkata-kata lagi, ketika Reza datang menghampirinya dengan membawa buket bunga di tangannya.


“Buat Kamu, yank. Sebagai ungkapan permintaan maafku padamu,” kata Reza.


“Makasih,” balas Galuh, mencium lembut buket bunga di tangannya lalu menatap Reza dengan sorot mata yang sulit diartikan.


Reza mengangguk, lalu meraih lengan Galuh. “Mau langsung pulang atau jalan-jalan dulu?” tanya Reza, ia membimbing Galuh menuju mobilnya yang sudah terparkir di depan gerbang mal.


“Masih sore, jalan dulu aja yuk.” Sahut Galuh.


“Punya tempat pilihan buat kita jalan sore ini?” tanya Reza ketika mereka sudah berada di dalam mobil.


“Ehm, nonton film mau gak?”


Reza menoleh sesaat lalu tersenyum, matanya beralih menatap jalanan di depannya lagi. “Aku gak suka nonton film, paling nonton pertandingan bola doang di tv. Itu pun suka ketiduran,” jawab Reza sambil nyengir.


“Mantai aja dah,” usul Galuh berikutnya, ia lalu menatap Reza menunggu jawabannya. “Gak suka juga?”


Reza mesem, “Oke deh kalau mantai, sore gini suasananya lebih nyaman.”


Reza melajukan mobilnya menuju lokasi pantai terdekat yang berada di pelabuhan kota, cukup bersih dan terawat. Galuh membuka kaca jendela mobil, menikmati semilir angin yang berembus menerpa wajahnya. Membuat rambut panjangnya yang terurai jadi berantakan. Reza tersenyum menatapnya.


“Ikat rambutmu, yank. Nih, pakai saputangan Aku.” Reza merogoh saku celana panjangnya, dan memberikannya pada Galuh.


Galuh meraihnya dan langsung mengikatkannya di rambutnya. “Makasih, Abang.” Ucap Galuh dengan nada manja seraya mengerjap-ngerjapkan matanya.


“Ish.”


Galuh tertawa, ia terus menatap ke arah Reza. Tiupan angin yang menerpa wajahnya tak dirasakannya, fokusnya kini hanya pada lelaki di sampingnya saja.


“Apa yang Kamu pandangi, yank.”


“Abang.”


Reza menoleh, “Aku? Memang kenapa denganku?”


“Karena Abang terlihat gugup sekarang.”


“Masa, sih. Biasa saja, kok.”


Galuh menggeser duduknya lebih mendekat, kali ini tangannya terulur menyibak rambut yang jatuh di kening Reza. Lelaki itu mengetatkan cengkeraman tangannya di setir mobilnya, dan wajah tampan itu terlihat memerah.


“Jangan begitu, yank. Aku bisa saja khilaf kalau Kamu seperti ini,” ujar Reza menangkap jemari Galuh dengan sebelah tangannya dan menaruhnya di atas pahanya.


“Karena Aku gak suka dipandangi seperti itu, yank. Bikin Aku gak konsen nyetirnya.”


“Terlalu indah untuk dilewatkan. Tidak ada pemandangan menarik yang bisa Aku lihat di luar sana,” sahut Galuh seraya mengerlingkan matanya.


Terdengar suara menggeram setelahnya, dan detik berikutnya Reza langsung memutar setir mobilnya dan menghentikannya di pinggir jalan yang cukup sepi.


“Jangan salahkan sikapku karena Kamu sudah coba-coba membuyarkan konsentrasiku!” ucap Reza. Mata lelaki itu tampak lebih gelap dari biasanya, ia menatap lekat wajah Galuh.


Detik berikutnya Reza menarik tengkuk Galuh, dan sebelum wanita itu memprotes tindakannya Reza sudah lebih dulu melabuhkan bibirnya di bibir ranum Galuh.


Galuh membelalakkan matanya, berusaha mendorong dada Reza untuk menjauh darinya. Tapi laki-laki itu justru menarik pinggangnya dengan tangannya yang lain sementara tangan satunya tetap menahan tengkuknya. Bibir lelaki itu bergerak lembut menyentuhnya, tanpa menuntut.


Apa yang terjadi setelahnya terasa menyenangkan, sensasi yang ditimbulkan terasa indah. Perlahan Galuh mulai membalas perlakuan Reza. Meski terasa kaku karena kurang pengalaman, tapi berkat kelembutan sikap Reza membuat Galuh merasa rileks. Ia berhasil mengenyahkan traumanya, saat dulu Reza menciumnya dengan kasar.


Suara klakson kendaraan yang lewat di dekat mereka, menyadarkan Reza. Ia menarik wajahnya untuk menjauh, namun rangkulan tangan Galuh di lehernya menahan gerakannya.


Senyum tersemat di bibirnya melihat Galuh masih memejamkan matanya, perlahan jemarinya terulur mengusap sudut bibir Galuh yang basah. Wanita itu mengerjapkan matanya, dan tersipu malu menyadari tatapan lekat mata Reza padanya.


Galuh tak mampu berkata-kata, ia seolah terperangkap dalam tatapan gelap mata Reza yang membuat tubuhnya bergetar. Perlahan ia beringsut menjauh, dan menarik tangannya dari leher Reza.


Galuh memalingkan muka menatap ke arah samping kaca jendela mobil, dan terus menatap ke sana sampai mereka tiba di pantai pelabuhan kota. Reza memarkir mobilnya di deretan tengah, berjajar dengan mobil pengunjung lainnya.


“Turun yuk,” ucap Reza, meraih tangan Galuh yang masih duduk diam di kursinya.


Bukan jawaban yang diterima Reza, tapi sikap malu Galuh padanya yang langsung menarik tangannya dan menutupi wajahnya. “Kamu marah, yank?”


Galuh menggeleng, masih tetap menutup wajahnya.


“Kenapa ditutup gitu mukanya?” tanya Reza lagi, gemas dengan sikap Galuh padanya.


Perlahan Galuh menurunkan tangannya, namun sedetik kemudian kembali menutup wajahnya. Ia mengintip dari sela-sela jemari tangannya yang terbuka. “Aku malu,” ucapnya pelan.


Sontak saja ucapan Galuh itu membuat Reza tertawa, ia merangkum wajah Galuh dan dengan gerakan lembut menurunkan tangan yang menutupi wajah cantiknya. “Aku takut Kamu marah tadi, yank.”


Galuh menggeleng cepat. “Gak, Aku gak marah. Justru Aku malu, udah bikin Abang khilaf.”


Reza tergelak mendengarnya, “Aku senang kalau Kamu gak marah, yank. Aku malah senang kalau Kamu sering-sering bikin Aku khilaf.”


“Dih!” Galuh mencebik, dan hal itu tidak luput dari pandangan Reza. Diusapnya bibir ranum yang terlihat bengkak akibat ulahnya itu.


“Sakit gak?”


Galuh mengangguk, “Sedikit, rasanya aneh!”


Reza tersenyum mendengarnya, ia kembali merapatkan tubuhnya. Perlahan bibirnya mengecup kening Galuh, lalu turun ke matanya membuat wanita itu menutup matanya. “Aku sayang banget sama Kamu, yank.”


Galuh membuka matanya dan kembali mengangguk. “Aku juga sayang sama Abang.”


“Kita turun ya, kalau lama-lama di dalam sini Aku takut bakal khilaf lagi.”


Galuh tertawa, berdua mereka menuju pantai menikmati suasana sore hari. Kedua tangan saling bertaut, berjalan dengan hati yang jauh lebih ringan.


▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎