If Tomorrow Never Come

If Tomorrow Never Come
Bab 36. Jalan-jalan



Pagi itu setelah tiba di kota B dan menurunkan barang miliknya di hotel tempatnya menginap, Reza langsung berangkat menuju lokasi rumah paman Galuh. Ia sudah mengantongi alamatnya setelah sebelumnya menghubungi Rika dan mendengar langsung tentang musibah yang terjadi pada rumah tinggal mereka.


Di tengah perbincangan, Reza sempat bertanya apakah Galuh kakaknya sudah sampai di sana. Namun Rika menjawab tidak tahu, karena saat itu ia sedang berada di tempat kerja dan sang kakak belum menghubunginya.


“Kamu di mana, yank. Aku nyampe sini, kok kamu belum ada kabarnya. Masa lupa jalan pulang?” Reza mengembuskan napas berat, berulang kali menghubungi Galuh namun nomornya tidak aktif.


Setelah taksi yang membawanya tiba di alamat yang dituju, Reza segera turun dan tertegun mendapati seorang wanita paruh baya duduk seorang diri di teras rumah dengan wajah sedih. Hatinya mendadak trenyuh kembali, teringat percakapannya tadi dengan adik Galuh yang bercerita tentang kondisi mamanya yang syok setelah musibah yang menimpa rumah mereka.


Tanpa berniat mengejutkan, Reza mengucap salam dan memperkenalkan dirinya sebagai teman dekat Galuh. Sempat tidak percaya karena Reza datang seorang diri tanpa disertai Galuh, tapi Reza berhasil meyakinkan calon mertuanya itu dengan menghubungi Rika kembali.


“Alhamdulillah, akhirnya datang juga. Sayang keadaannya begini, rumah kami hancur terkena angin ribut dan sekarang kami tinggal sementara di rumah keluarga.” Mama menyambut erat uluran tangan Reza yang mencium punggung tangannya dengan balas menepuk bahunya.


Reza juga berkenalan dengan paman Hardi yang hendak keluar rumah mencari bahan untuk perbaikan rumah, dan berbincang sejenak.


“Sambil menunggu kedatangan Galuh, bagaimana kalau Ibu mengizinkan Saya untuk melihat-lihat rumah. Kata Rika, lokasinya tidak jauh dari tempat tinggal paman.” Reza meminta izin untuk melihat rumah dan mama langsung menyetujuinya dan meminta ikut serta.


“Maka Pian hanyar haja bulik matan sana, Kak ai. Kada uyuh kah?” ucap paman Hardi saat mama berpamitan ingin melihat rumahnya kembali bersama Reza. (Padahal kakak baru saja pulang dari sana, gak capek kah?)


“Kada uyuh pang, ada si Reza mengawali. Siapa tahu kena bedapat lawan Galuh di sana,” jawab mama. (Gak capek kok, ada Reza menemani. Siapa tahu nanti ketemu Galuh di sana)


“Begamatan haja kak lah, awak pian masih lamah itu.” Paman Hardi lalu berpesan pada Reza untuk berhati-hati menuntun mama. (Pelan-pelan saja ya Kak, badan kakak masih lemah itu)


Hanya dalam waktu kurang dari dua puluh menit mereka tiba di lokasi, dan tertegun mendapati sebuah koper besar teronggok di depan pintu. Mama yang mengenali koper milik putrinya itu segera membuka pintu dan benar seperti dugaannya, Galuh ada di dalam sana.


Setelah berbincang dengan Galuh dan Reza yang berjanji akan membantu perbaikan rumahnya, mama bersedia diajak pulang kembali ke rumah paman Hardi karena memang berbahaya bila berlama-lama berada di rumah itu. Banyak sekali rusak di sana-sini, lantai rumah yang terbuat dari papan juga banyak yang patah.


▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎


Reza menatap tak percaya pada benda beroda dua yang ada di hadapannya itu, tampilannya sungguh sangat mengenaskan.


Gurat memanjang di sana-sini sepanjang jok, seperti habis dicakar kucing. Setang motornya hanya menyisakan besi bulat sepanjang telapak tangan tanpa penutup. Belum lagi knalpotnya yang saat mesin dihidupkan terdengar seperti bunyi kaleng jatuh.


“Yank, gak ada pilihan lain apa. Yang rada bening gitu modelnya. Masa paman Hardi gak punya motor?”


“Gak ada. Motor paman sudah lama dijual!” jawab Galuh galak, “Itu aja boleh minjam tadi sama tetangga belakang rumah.”


“Serius, kita keliling kampung naik motor ini?” tanya Reza pada Galuh, yang berjalan santai sambil menenteng helm di tangannya. Sementara ia sendiri sudah memakai helm di kepala.


“Iya,” jawab Galuh enteng sambil menyerahkan helm di tangannya pada Reza. “Emang kenapa?”


“Yakin ini motor gak bakal mogok? Takutnya nanti di lampu merah pada mereteli onderdilnya, lepas satu-satu.” Reza menunjuk knalpot motor yang terus bergetar seperti mau lepas saat mesinnya dipanaskan.


“Ish, yakin lah. Ini motor tampilannya doang yang rusuh, mesinnya masih bagus!” sahut Galuh. “Ayo buruan dipakai helmnya, keburu siang panas!”


“Hueekk!” Reza langsung memalingkan wajahnya, menjauhkan helm di tangannya dan memberikannya lagi pada Galuh. “Mending gak pakek deh!” imbuhnya lagi sembari menutup hidung dengan jari telunjuknya.


Reza menggelengkan kepala, lalu mencopot helm yang dipakai Galuh. “Aku pakai punya Kamu aja. Gapapa gak ada kacanya, yang penting masih ada wangi-wangi rambut Kamu.”


Galuh meringis mendengarnya, ia membuka tasnya dan mengeluarkan topi hitam dari dalam sana dan segera memakainya kemudian melapisnya dengan helm di tangannya. “Gak boleh banyak protes. Situasi darurat kayak gini, pakai saja yang ada”


Reza mencebikkan bibirnya, “Mending gak pakai sekalian.”


Mau tak mau Galuh tertawa melihat raut sebal yang ditunjukkan Reza padanya, “Ya udah, nanti kita beli di luar kalau mau yang baru. Gapapa juga punya helm baru duluan, motornya nyicil belakangan.”


“Ish, gemes. Jadi pengen tium itu bibir,” ucap Reza merangkul leher Galuh dan memonyongkan bibirnya.


“Gak usah macem-macem!” Galuh mendorong wajah Reza menjauh, jantungnya langsung berdegup kencang. “Abang yang bawa motornya.”


Reza terkekeh dibuatnya, ia segera naik ke atas motor dan Galuh membonceng di belakangnya. “Pegangan yang kenceng, Yank. Aku ngebut nih!”


“Gak usah ngebut, ntar kalau mereteli beneran ini motor bahaya. Bisa minta ganti yang baru ntar yang punya,” jawab Galuh setengah berteriak.


Reza benar-benar membawanya laju, dan Galuh berteriak sembari memejamkan mata saat motor yang membawa mereka berdua itu melewati turunan tajam. Kontan saja Galuh mendekap erat pinggang Reza, dadanya yang empuk menempel pada punggung keras laki-laki itu yang tersenyum penuh kemenangan.


“Benar katamu, Yank. Mesin motor ini masih bagus, knalpotnya doang yang harus diganti. Berisik!” Reza menangkup tangan Galuh di pinggangnya dan memegangnya sepanjang jalan menurun.


Tiba di jalan mendatar, Reza melambatkan laju motornya. Galuh melepaskan pelukan tangannya, dan menjauhkan tubuhnya. Tangannya langsung menepuk keras bahu Reza. “Abang sengaja ya, pilih jalan turunan tadi. Padahal kan bisa lewat gang sebelah tadi.”


“Dih, mana Aku tahu jalan daerah sini. Baru juga nyampe tadi pagi, langsung jalan. Itu juga tadi ingat-ingat pas diantar taksi ke rumah paman,” sahut Reza.


“Hilih, dasar modus!”


“Hahaha.” Reza tergelak.


“Ketawa!”


“Masa nangis, yank?” Reza menolehkan wajahnya, dan hampir saja hidung mereka bersentuhan karena Galuh juga tengah menolehkan wajahnya. “Sekarang kita ke jalur mana, nih. Kamu yang jadi penunjuk arahnya.”


“Iyaa.” Galuh menjawab cepat.


“Kita isi bensinnya dulu, ya.” Reza mengarahkan motornya ke pompa bensin yang ada di seberang jalan.


Sepanjang jalan mereka berdua banyak berbincang mengenai tempat kelahiran Galuh itu. Rasanya belum terlalu lama terakhir Galuh pulang ke kampungnya. Banyak sekali perubahan yang terjadi, terutama sarana jalan kota yang mereka lalui telah diperluas dan diperbaiki hingga kini tampak mulus dan lancar.


Hampir dua jam lamanya Galuh dan Reza berkeliling kota dengan motor yang mereka kendarai, jalan-jalan setelah berhasil menemukan penginapan yang sesuai keinginan Reza.


Meski dari luar terlihat sederhana tapi bila dilihat ke dalam penginapan itu sangat bersih dan fasilitasnya cukup lengkap dan murah untuk kantong seorang Reza. Dan yang pasti jaraknya cukup dekat dengan rumah Galuh yang akan diperbaiki, juga banyak penjual makanan di sekitar tempat itu. Hingga anak buahnya tak perlu repot memikirkan soal makanan.


▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎