If Tomorrow Never Come

If Tomorrow Never Come
Bab 66. Tolong selamatkan suamiku



Galuh panik saat mendapati Reza tertidur dengan hidung mengeluarkan darah segar. Ia tak bisa menahan tangis melihat keadaan suaminya yang tampak tak berdaya. Dengan dibantu sekuriti yang berjaga di pos depan, mereka memindahkan Reza ke dalam mobil dan membawanya ke rumah sakit.


Mata Reza terbuka sesaat, berputar seperti sedang mencari-cari sesuatu. “Di mana istriku,” bisiknya dengan suara lemah, sembari menarik ujung baju orang di dekatnya. “Tolong bantu Saya duduk, Pak.”


“Non Galuh masih di belakang, Tuan.” Jawab sopir, sambil membantu Reza untuk duduk bersandar dan menaruh bantal panjang di belakang punggungnya.


Reza menolehkan wajahnya, dan berusaha tersenyum saat melihat Galuh datang mendekat bersama bik Mala asisten rumah tangga yang menemani mereka di vila.


“Sayang,” panggil Reza, masih dengan tubuh bersandar ia mengulurkan tangannya yang langsung disambut Galuh yang masih berdiri di dekat pintu mobil yang terbuka.


“Hati-hati, Non.” Bik Mala, berdiri di belakang Galuh dan membantunya naik ke mobil.


Galuh balas tersenyum dan mengangguk, lega melihat Reza sudah bangun. Perlahan satu kakinya naik, tapi tiba-tiba terhenti sejenak. Sebelah tangannya yang bebas, kuat mencengkeram sandaran kursi di dekatnya ketika merasakan perutnya kembali mengencang.


“Non Galuh!” Seru Bik Mala khawatir, melihat Galuh meringis menahan sakit. Ia mengusap pelan pinggang Galuh. “Apa bayinya gerak-gerak lagi, Non?”


“Iya, Bik.” Galuh mengangguk, sambil menggigit bibir. Ia mengatur napas dan mengusap lembut perutnya, Galuh menunduk dan berbisik lirih seolah sedang bicara dengan bayi dalam kandungannya.


“Yank.” Reza tampak cemas, melihat Galuh masih terus berdiri. Ia menggeser tubuhnya mendekat, tapi Galuh menggeleng dan memintanya untuk tetap duduk di tempatnya semula.


“Aku gapapa, si adek lagi minta disayang sama mamanya.” Kata Galuh setelah nyeri di perutnya berangsur menghilang. “Bik, Bibi naik aja dulu. Saya bisa kok sendiri.” Kata Galuh lagi ketika melihat bik Mala masih berdiri di belakangnya.


“Ya, Non.”


Galuh meraih satu bantal di sisi tubuh Reza dan menaruhnya di pahanya, ketika sudah berada di dalam mobil. Ia meminta Reza untuk berbaring di dekatnya, dan suaminya itu menurut.


Jarak vila menuju rumah sakit kota cukup jauh, perlu waktu hampir dua jam lamanya untuk sampai di sana. Tidak semua jalanan mulus, sebagian rusak dan berlubang. Guncangan di jalan, membuat Reza terjaga dan terbatuk.


“Pak, pelan-pelan saja bawa mobilnya.” Tegur Galuh pada sopirnya.


“Iya, Non. Maaf, Saya tadi tidak melihat lubang di depan.”


Dan Galuh menjadi sangat cemas saat menyadari ada darah segar keluar dari mulut Reza saat suaminya itu terbatuk.


“Tuhan, selamatkan suamiku. Izinkan kami untuk terus bersama, melihat anak kami lahir dan tumbuh besar.” Galuh merapal doa sambil menahan tangis, memohon pada-Nya demi keselamatan suaminya.


Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Reza kembali tertidur. Galuh terus menggenggam tangan suaminya itu, dan sesekali menciumnya.


Mereka tiba di rumah sakit, di sambut dokter Rendra yang sudah menunggu sejak tadi. Lelaki itu langsung meminta Galuh beristirahat di ruang kerjanya sementara ia dan rekannya yang lain menangani kondisi Reza yang tampak semakin lemah dan seperti tak sadarkan diri.


“Aku akan tetap menunggu di sini,” tolak Galuh, memilih bertahan di ruang tunggu rumah sakit ditemani bik Mala. “Tolong, selamatkan suamiku.” Pintanya dengan mata dipenuhi kabut.


“Aku akan berusaha dengan sekuat tenaga untuk menyelamatkan Reza,” kata Rendra, seraya menepuk tangan Galuh yang tadi memegang lengannya. Ia tak bisa memaksa wanita itu untuk menuruti kata-katanya, beristirahat di ruang kerjanya.


Rendra harus segera melakukan operasi pada Reza, usaha terakhir untuk menyelamatkan hidup sahabatnya itu meskipun kemungkinannya sangat kecil karena kondisi Reza yang sangat lemah dan penyakitnya sudah sangat parah. Tapi harapan itu pasti ada.


Beberapa jam kemudian mama Galuh datang bersama dengan adiknya, setelah Galuh menghubungi mereka. Galuh butuh sandaran untuk membuatnya terus kuat, kehadiran mama sangat membantunya. Wanita tersayang itu terus berada di sisinya dan memberinya banyak kata-kata yang mampu membuatnya lebih tenang.


“Serahkan semuanya pada Allah, hanya pada-Nya kita meminta dan memohon pertolongan.” Mama mengusap-usap bahu Galuh yang berada dalam pelukannya.


Dulu sebelum menikah, Galuh pernah melihat Reza sakit dan dari hidungnya mengeluarkan darah segar. Reza bilang, itu mimisan biasa. Hal itu kerap terjadi kalau ia kelelahan bekerja. Galuh percaya semua yang dikatakannya, karena Reza tampak sehat dan bugar setelahnya. Tak pernah menyangka sama sekali kalau laki-laki itu sudah lama menyembunyikan penyakitnya.


Seiring waktu berjalan dan hubungan mereka berdua menjadi dekat, Reza pun mengakui perasaannya pada Galuh dan secara tiba-tiba melamarnya. Tapi Galuh tidak langsung menerima begitu saja, ia minta waktu untuk berpikir. Dan selama itu pula, Reza selalu memberi perhatian lebih padanya. Terkadang mencari-cari cara agar bisa bertemu dan mengajaknya makan bersama.


Tak hanya mendekati Galuh, Reza juga mendekati keluarganya. Hingga ada satu musibah yang menimpa keluarga Galuh, yang akhirnya kembali mendekatkan hubungan keduanya yang sebelumnya sempat merenggang karena kehadiran dokter Kevin di antara mereka.


Meski Galuh bilang kalau mereka hanya berteman biasa, tapi Reza tetap tidak bisa menerimanya. Kedekatan mereka membuat Reza tak suka, ia terang-terangan bicara pada Kevin kalau Galuh adalah calon istrinya.


Galuh tersenyum bila mengingat kejadian lalu, semua kenangannya bersama Reza saat belum menikah. Pertemuan pertama yang diawali dengan perselisihan karena sikap Reza yang suka main perintah.


Kalau ditanya apakah ia menyesal menikah dengan Reza karena lelaki itu ternyata sakit parah, Galuh tegas menjawab tidak. Apalagi saat ini di rahimnya tumbuh buah cinta mereka. Galuh mencintai suaminya, ia tahu keinginan terbesar Reza adalah menikah dengannya. Suaminya itu jatuh cinta padanya sejak pandangan pertama.


Kesedihan mendalam dirasakan suaminya itu setelah kehilangan oma dan papa. Reza ambruk, tak kuat menahan semua kesedihan. Semua pekerjaan ditangani dua sahabatnya, sementara Reza menjalani pengobatan dan beristirahat di vila keluarga.


“Galuh.” Mama menepuk pipinya, menyadarkan Galuh dari lamunan panjangnya.


Galuh membuka matanya, dan melihat mama tersenyum padanya. Ia menegakkan tubuhnya, di hadapan mereka berdiri Rendra dan seorang perawat wanita di sampingnya. Lelaki itu mengangguk padanya, dan mama membantunya berdiri.


“Kau boleh melihatnya sekarang,” kata Rendra sambil menuntun langkahnya. Mama hanya menatapnya, dan menunggunya di sana karena hanya seorang saja yang boleh menemui Reza di ruangannya.


Galuh masuk ke dalam ruangan Reza, berjalan dengan tubuh gemetar. Dilihatnya suaminya itu tengah tertidur, wajahnya terlihat begitu damai dengan kedua tangan berada di kedua sisi tubuhnya.


Tak ada lagi alat medis yang menempel di tubuhnya, hanya selimut yang menutup hingga batas dada seperti permintaan terakhir Reza pada Rendra sebelum lelaki itu menjalani operasi. Ia tidak ingin Galuh melihatnya seperti itu.


“Abang,” sapa Galuh dengan suara bergetar, ia duduk di kursi dekat posisi kepala suaminya. Tangannya menangkup jemari Reza yang kurus, dan menempelkannya di pipinya. Air mata tak lagi bisa ditahannya.


Mata Reza mengerjap dan terbuka perlahan, menatap Galuh dalam dan lama seolah melukis wajah cantik itu dalam ingatannya. “Hai, sayang.”


Galuh mengecup telapak tangan Reza. “Hai, suamiku sayang.” Balas Galuh serak.


"Kau tahu, Aku sangat mencintaimu. Maafkan Aku, karena tidak bisa menepati janjiku padamu juga anak kita." Reza mengusap pipi Galuh yang basah.


Galuh menggeleng kuat, sambil terus terisak. Pandangan Reza turun, menatap perut Galuh. Tangannya terulur dan mengusapnya lembut, sudut matanya berair. “Maafkan Papa, nak. Maaf.”


Galuh tak tahan, ia berdiri memeluk Reza dan membiarkan laki-laki itu menangis sambil terus menciumi perutnya. Berulang kali mengucapkan kata maaf. Mereka menangis bersama.


Lalu Galuh merasakan tubuh Reza merosot dalam pelukannya, dan kepalanya terkulai lemah di bahunya. Galuh terkesiap, tangannya merangkum kuat tubuh suaminya itu dan mendekapnya di dada. Tapi Reza kembali tak sadarkan diri, tubuh Galuh terdorong ke depan tak kuat menahan beban tubuh Reza di tangannya.


“Abang, bangun!” pekik Galuh, tapi tubuh itu tak bergerak. “Dokter, tolong suami Saya!”


Galuh berteriak histeris, Rendra yang berjaga di depan berhambur ke dalam. Ia segera memeriksa keadaan Reza bersama seorang perawat. Beberapa saat berlalu, dan Rendra menoleh pada Galuh dan perlahan menggelengkan kepalanya.


Apa yang terjadi selanjutnya hanya bayangan gelap yang ada di depan mata, tubuh Galuh limbung dan jatuh tak sadarkan diri bersamaan dengan cairan bening yang merembes keluar dari sela kakinya.


▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎