
Reza berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya, bibirnya komat-kamit mengapal bacaan. Wajahnya terlihat tegang, bulir keringat tampak jelas di keningnya dan Reza mengusapnya perlahan.
“Kamu gugup, Za. Kelihatan tegang begitu?” Tanya tuan Mahendra, dengan nada menggoda. “Sini duduk di samping Papa.”
“Aku akan menikah pagi ini. Wajar kalau Aku gugup, Pa.” Sahut Reza sambil berjalan mendekati papanya, dan segera menjatuhkan bokongnya di sana.
Tuan Mahendra tertawa mendengarnya, “Jangan tegang, Nak. Kamu harus tetap tenang, rileks. Tarik napas panjang dan embuskan perlahan.”
Reza mengikuti ucapan papanya, dan tuan Mahendra tersenyum memperhatikan. “Apa Papa dulu juga setegang ini, saat hendak menikahi mama?”
Senyum di bibir tuan Mahendra kian melebar, ia menepuk bahu lebar putranya itu. “Intinya harus tetap tenang, itu saja pesan Papa.”
“Apa Kau siap?” tanya tuan Mahendra ketika jam di dinding hampir menunjuk angka delapan.
“Siap, Pa.” Jawab Reza sambil tersenyum.
Reza berjalan perlahan keluar kamar menuju ruangan yang akan menjadi tempatnya melaksanakan ijab kabul. Jantungnya berdegup kencang seirama ayunan langkahnya yang terasa mengencang.
Tiba-tiba ia merasa gugup lagi, tapi usapan lembut tangan papa di punggungnya perlahan membuat jadi lebih tenang.
Satu jam berikutnya menjadi momen yang tidak terlupakan untuk Reza dan Galuh. Dalam satu kali tarikan napas, Reza dengan lancar mengucapkan ijab kabul.
“SAH!”
“Barakallah!”
Ucapan doa bergema di dalam ruangan yang dipenuhi banyak tamu itu, raut bahagia terpancar di wajah-wajah mereka yang hadir. Luna yang terus mendampingi Galuh di dalam kamarnya bahkan menangis terharu ketika menyadari sahabatnya itu telah sah menjadi istri dari seorang Fahreza Raka Mahendra.
“Selamat ya bestie, bahagia selalu menyertai perjalanan hidup kalian. Selamanya, sampai maut memisahkan.” Luna memeluk erat Galuh yang juga menangis terharu setelah mengetahui Reza telah menyelesaikan ijab kabul dengan lancar.
“Terima kasih, say. Aku juga terus berdoa untuk kebahagiaan hidupmu,” balas Galuh sambil tersenyum.
Saat oma membuka pintu kamar dan memeluknya, Galuh kembali menangis. Luna menyingkir dari sana, memberi kesempatan pada keluarga untuk menyapa Galuh di dalam kamarnya.
“Selamat datang di dalam keluarga Mahendra, Oma sangat senang Kamu menjadi bagian keluarga kami.”
“Terima kasih, Oma.”
Oma menangkup wajah Galuh dan mengusap sudut matanya yang berair. “Jangan menangis, ini hari bahagia kalian. Tersenyumlah, dan lihatlah bagaimana suamimu menunggumu di sana.”
Galuh tertawa kecil, bersama mama dan oma yang berjalan di sampingnya ia melangkah menuju tempat Reza menunggunya.
Reza mengembuskan napas lega. Hilang sudah ketegangan yang tadi melingkupi hatinya, berganti dengan senyum lebar. Tak terasa matanya menghangat, dan untuk sesaat lamanya ia memejamkan matanya.
Rasa syukur tak terhingga tertuju pada-Nya, hari ini akhirnya impiannya menjadi kenyataan bisa duduk berdampingan di pelaminan dengan wanita yang dicintainya.
Hari ini hari pernikahannya. Hari ini statusnya pun telah berubah menjadi seorang suami bagi wanita pemilik nama Galuh Nanda.
Tak ada kata yang tepat untuk mengungkapkan perasaan Reza dan Galuh saat itu, selain kata bahagia. Sorot mata Reza tak lepas menatap kedatangan Galuh, wanitanya itu tampak memesona dalam balutan kebaya warna putih tulang.
Reza menyelipkan cincin di jari manis Galuh, dan Galuh menyelipkan cincin di jari manis Reza. Galuh mencium tangan lelaki yang telah sah menjadi suaminya itu, dan Reza mengecup keningnya dalam dan lama.
Acara setelahnya merupakan kesempatan yang ditunggu-tunggu para sahabat keduanya, yang tak berhenti terus menggoda. Namun Reza hanya menanggapinya dengan senyum kalem, sementara tangannya terus menggenggam jemari Galuh dan sesekali mengecupnya.
Galuh balas menatap Reza dengan penuh cinta, dan hal itu sudah cukup membuat sahabat keduanya berhenti menggoda.
Luna menarik lengan Danil untuk menjauh, membawanya duduk di salah satu kursi yang tersedia di sana. “Percuma juga kita ngomong sampai berbuih ini mulut, mereka malah anteng saling tatap mesra. Yang ada kita makin baper lihatnya.”
“Sama, Aku juga sangat senang melihat mereka akhirnya bersatu dalam ikatan pernikahan.”
Luna menatap Galuh dan Reza dari kejauhan, tersenyum melihat keduanya yang selalu saling memandang dengan penuh cinta. Tanpa sadar tangan Danil merengkuh bahu Luna, dan wanita itu membiarkan saja.
"Bagaimana kalau kita lanjutkan nanti malam?"
Luna terkikik dan Danil tersenyum simpul membayangkan apa yang akan mereka lakukan nanti.
▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎
Sejak Galuh memberitahu keluarganya kalau ia akan menikah dengan Reza, mama menyambutnya dengan suka cita.
Mama bahkan membuat banyak persiapan untuk berangkat dan menginap di rumah Reza, karena oma menginginkan mereka untuk tinggal di sana selama acara berlangsung.
Tiga hari sebelum akad nikah, Galuh melaksanakan batimung seperti kebiasaan wanita di daerahnya. Reza sempat bengong saat tanpa sengaja lewat dan melihat Galuh menutupi tubuhnya dengan kain hingga batas leher.
Mama menjelaskan padanya, dan Reza akhirnya mengangguk mengerti. Ia tersenyum dan mengerlingkan matanya pada Galuh yang menyuruhnya segera menjauh dari sana.
Selama acara berlangsung, mama selalu mendampingi Galuh. Setelah para tamu pulang, mama memanggilnya dan memberikan banyak wejangan padanya.
Namun yang membuatnya tegang adalah ucapan Luna yang sengaja menggodanya tentang malam pengantinnya.
Untuk mengurangi rasa tegang yang dialaminya, Galuh mengajak Reza untuk keluar kamar. Mereka kini duduk berdua di balkon rumah, menikmati malam pertama menjadi sepasang suami istri sembari menatap langit malam.
“Aku suka wangimu hari ini,” ucap Reza berbisik perlahan di telinga Galuh, sambil mengendus lehernya dan memberikan gigitan kecil di sana. “Apa ini maksud dari ucapan mama waktu itu, membuat tubuhmu menjadi lebih wangi alami?”
Galuh mengerutkan bahunya, ketegangannya bertambah. Lelaki itu sengaja berlama-lama di sana, membuatnya resah. Napas Reza terasa hangat di lehernya, dan tanpa disadarinya tubuhnya menggigil tiba-tiba.
“Kamu kedinginan, yank? Kita masuk sekarang, yuk.” Ajak Reza.
“Gak, Aku gak kedinginan. Kan dipeluk Abang,” tolak Galuh yang makin membuat Reza menggeram tak tahan.
Sebelum Galuh menyadari apa yang terjadi selanjutnya, Reza sudah mengangkat tubuhnya ke dalam pelukannya dan menggendongnya masuk kembali ke dalam kamar.
“Sudah malam, waktunya kita tidur sayang.” Ucap Reza tak melepaskan pandangannya dari wajah Galuh.
Pipi Galuh memerah, ia melihat kabut gairah di mata suaminya itu. Melewati ambang pintu, Reza menunduk dan menciumnya.
Mengikuti nalurinya, Galuh mengalungkan lengannya ke leher Reza. Lelaki itu menciumnya lagi dan lagi, hingga Galuh tergelitik untuk membalasnya.
Reza mengendurkan pelukannya dan menurunkan Galuh dengan kelembutan yang ia miliki, sementara tubuh mereka masih tetap menempel rapat.
Galuh menahan napas ketika Reza menundukkan wajahnya dan menekan tengkuknya untuk lebih dekat padanya dan melanjutkan ciumannya lagi.
Suara ketukan di pintu membuyarkan permainan keduanya, Reza menarik wajahnya dengan cepat dan bergumam tak jelas. “Sepertinya kita harus menundanya sementara waktu.”
Reza mengusapkan ujung jarinya ke bibir Galuh yang basah, ia tersenyum lembut. Dan suara ketukan itu terdengar lagi, kali ini lebih keras dan lama.
Reza berbalik dan berjalan hendak membuka pintu, dan Galuh menggunakan kesempatan itu untuk menjauh dan menenangkan jantungnya yang berdegup kencang.
Reza membuka pintu dan terkesiap menatap dua orang berpakaian aneh berdiri di depan pintu menatapnya dengan pandangan menyelidik.
▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎