If Tomorrow Never Come

If Tomorrow Never Come
Bab 39. Berubah pikiran



Galuh melangkahkan kakinya keluar dari mobil yang ditumpanginya bersama Reza, tertegun sesaat menatap bangunan mewah di depannya itu.


Di halaman parkir yang luas itu banyak terdapat meja-meja bulat juga kursi-kursi yang dibungkus kain warna putih dan di bagian belakangnya diikat dengan pita warna keemasan. Sementara di atas meja telah tersedia minuman dan banyak penganan kecil.


Masing-masing meja telah penuh terisi oleh para tamu yang hadir, begitu pula dengan ruangan di dalam rumah.


Dari tempatnya berdiri saat itu, Galuh bisa mengamati kesibukan para pelayan yang berseragam putih hitam itu silih berganti menyajikan nampan berisi makanan dan minuman.


“Apa kita datang terlambat?” tanya Galuh seraya mengamati setiap tamu yang datang keluar masuk ruangan.


“Acaranya sih jam setengah delapan malam. Tapi tamu yang datang sudah berada di sini sejak satu jam yang lalu,” ucap Reza melihat arloji di tangannya.


“Sepertinya banyak sekali tamu yang datang malam ini.” Galuh melirik lelaki di sampingnya itu, yang berjalan memutar mendekati tempatnya berada.


“Sebenarnya acara apa sih, Bang. Kalau sekedar silaturahmi biasa saja, masa sampai seperti ini?” tanya Galuh penasaran. Karena sampai lelaki itu datang menjemputnya di rumah tadi, ia belum diberitahu acara apa yang sedang berlangsung di rumah Reza malam itu.


Reza tersenyum menanggapi, ia menyandarkan sejenak tubuhnya di pintu mobilnya. “Hari ini oma ulang tahun. Sebagai bentuk rasa syukurnya karena telah dipanjangkan umurnya oleh Sang Pencipta, oma mengadakan syukuran dan silaturahmi. Selain tetangga dekat dan keluarga besar yang hadir, papa juga mengundang relasi dan rekan bisnisnya.”


“Jadi ini hari ulang tahun omanya, Abang. Kenapa gak bilang dari siang tadi, pakai dirahasiain segala? Kalau tau gini kan Aku bisa nyiapin kado buat oma. Jadi gak enak datang dengan tangan kosong kayak begini,” keluh Galuh tak nyaman.


“Nah itu yang oma dan Aku gak mau, Kamu pasti bakal repot dan berusaha kasih kado buat oma.” Reza berbalik dan menatap Galuh serius.


“Oma gak butuh kado dari Kamu, bukan itu yang oma mau. Di hari ulang tahunnya ini, oma punya satu permintaan khusus padaku. Ia ingin bertemu dengan kekasihku. Jika Aku tidak bisa membawa wanitaku ke hadapannya malam ini, maka oma sudah bersiap memilihkan salah satu tamu wanita yang menurutnya layak untuk menjadi pasanganku.”


“Begitu?”


Reza kembali menatap Galuh, ada kejujuran di matanya dan Galuh menangkap jelas isyarat mata itu yang menginginkan dirinya sudi menemui oma dan mengatakan padanya tentang hubungan mereka berdua saat ini.


“Apa itu oma yang sedang berulang tahun?” tunjuk Galuh pada seorang wanita tua yang tengah duduk di kursi panjang di ruang utama didampingi seorang laki-laki paruh baya, sedang menerima ucapan selamat dan doa dari tamu yang hadir di sana.


Pintu rumah itu dibiarkan terbuka lebar sehingga setiap orang yang berada di sana, bisa melihat dengan jelas keberadaan yang empunya acara.


“Iya, tadinya oma mau Aku yang mendampingi. Tapi Aku menolak karena harus pergi menjemputmu,” jelas Reza.


“Loh, kok gitu?”


“Gitu gimana?” Reza menaikkan satu alisnya.


“Alasan Abang menolak keinginan oma, bisa-bisa oma ngambek sama Aku?”


Galuh merengutkan wajahnya, “Rahasia lagi! Suka banget main rahasia-rahasiaan sama Aku. Tadi siang juga gak kasih tau ngundang datang buat acara apaan sampai gak bawa kado,” sungut Galuh tak suka, menautkan tangan di dada.


Reza tergelak melihat wajah masam Galuh, ia bisa menebak kalau wanita itu tengah gusar karena tak nyaman berada di sana tanpa membawa apa-apa untuk omanya.


“Sekarang Kamu ikut denganku, Aku mau tunjukkan sesuatu sama Kamu. Kita lewat jalan samping saja,” ucap Reza lalu meraih tangan Galuh.


“Ke mana?” Galuh menahan langkahnya, “Apa tidak sebaiknya kita menemui oma terlebih dulu. Bagaimana kalau beliau mencarimu, Bang?”


“Apa kali ini Abang juga mau rahasiain itu dariku lagi?”


Reza berbalik dan memandang Galuh yang terlihat ragu untuk melangkahkan kakinya maju. “Aku mau tunjukkan kamarmu yang bakal Kamu tempati jika mau bermalam di rumah ini.”


“Oh ya?”


“Iya, sayang. Orang-orang di rumah ini sudah menyiapkan kamar khusus untukmu menginap, dan Aku sudah meminta mereka mengecat ulang sesuai dengan seleramu.”


“Hah!”


“Aku lakukan itu karena Aku ingin mengenalkanmu dengan keluarga besarku, dan itu kulakukan seminggu sebelum keberangkatanmu cuti pulang kampung waktu itu. Aku ingin memberimu surprise, dan oma begitu antusias mendengar cucu lelaki satu-satunya ini memiliki pasangan.”


“Bertepatan dengan acara oma, beliau ingin bertemu denganmu dan berharap bisa mengenalmu lebih dekat. Ajakanku menginap di sini waktu itu juga tidak lepas dari keinginan oma yang ingin punya waktu lebih banyak untuk bersama denganmu, yank.” Ungkap Reza.


Galuh tersipu malu mendengar semua cerita Reza padanya, oma hanya mendengar cerita Reza tentang dirinya tapi wanita itu sepertinya menyukainya. Galuh pun mengangguk dan menatap tangannya yang berada dalam genggaman Reza.


Reza menggenggam tangan Galuh erat dan membimbingnya ke samping bangunan rumahnya, melewati beberapa pintu yang terlihat biasa saja dan tahu-tahu mereka sudah berada di sebuah kamar yang tampak sangat menakjubkan.


Kamar itu sangat indah, perpaduan gaya modern dan antik. Dindingnya dilapisi wallpaper warna biru dengan pinggiran keemasan. Karpet di bawahnya pun sangat tebal dan lembut, Galuh bahkan tak berani menginjakkan kakinya di sana.


Di bagian tengah ruangan, sedikit menempel pada dinding di belakangnya terdapat ranjang besar dengan tiang penyangga di setiap sudutnya yang terbuat dari bahan kayu jati. Dari atas hingga bagian bawah ranjang ditutupi dengan kain kelambu warna putih bersih, yang dibiarkan terbuka di bagian depannya.


“Kamu suka kamarnya?” tanya Reza.


“Indah banget, Aku suka.”


Dan sepertinya malam itu Galuh berubah pikiran, mungkin kali ini ia akan menuruti keinginan Reza dan omanya untuk menginap di sana.


▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎