If Tomorrow Never Come

If Tomorrow Never Come
Bab 16. Meeting dadakan



Galuh sibuk dengan pikirannya sendiri hingga tak memperhatikan jalanan di depannya. Ia yang berjalan beriringan bersama Luna dan Meldy, nyaris saja menabrak pintu kaca mal di lantai 2 kalau saja tangan sigap Luna tidak segera menahan kepalanya.


“Astaga, Galuh. Awas nabrak kaca!” seru Meldy lantang, hingga mengejutkan Galuh yang spontan menempelkan kedua tangannya sembari memejamkan matanya. Menahan agar tubuhnya tidak langsung berbenturan dengan pintu kaca yang ada di depan mereka.


“Hadeh, jalan pakai acara melamun. Lo mikirin apaan sih, Luh?” sungut Luna sambil mengusap telapak tangannya yang barusan dipakai untuk menahan kepala Galuh. “Pakai mau nanduk kaca segala!”


Galuh mendelik seraya memegangi keningnya. “Lo kira Gue sengaja apa!”


Meldy mengulum senyum, wajah Galuh terlihat lucu. Dahinya kemerahan bekas cap lima jari tangan Luna. “Makanya ati-ati kalau jalan atuh, Non. Fokus! Keselamatan nomor satu,” ujar Meldy berusaha menahan tawanya.


“Dih! Kalau mau ketawa ya ketawa aja, Mel. Gak usah ditahan-tahan segala.” Galuh memutar bola matanya.


Meldy menyenggol lengan Luna lalu mengarahkan dagunya ke wajah Galuh, “Weh! Jidat Lo jadi merah gitu. Sori, Gue kayaknya terlalu keras nahan kepala Lo tadi.”


“Pantesan aja nyeri!”


“Ya maaf, daripada jidat Lo benjol gara-gara ngehantam kaca. Mending merah gitu, bentar juga ngilang.” Luna merangkul bahu Galuh sementara Meldy meraih lengan Galuh. Ketiganya kembali melanjutkan perjalanan sambil terus bercanda.


Tiba-tiba langkah ketiganya terhenti saat melihat pak Susilo berdiri di depan kasa 1 sambil memutar-mutar arloji di tangannya. Lalu terdengar perintahnya melalui pengeras suara untuk semua karyawan shif pagi setelah jam istirahat kerja berakhir agar segera berkumpul di ruang meeting.


Akan ada pertemuan penting dengan pemilik mal terkait dengan pemindahan sementara sejumlah karyawan ke gedung lain selama renovasi di beberapa bagian gedung mal berlangsung.


“Lah, terus yang jaga konter kita siapa, anak siang kan belum pada datang?” Luna celingukan melihat-lihat ke arah konternya.


“Tenang, sudah diantisipasi sama pengelola mal. Sekuriti dah pada jaga di depan area konter kita!” tunjuk Galuh pada sekuriti mal yang mulai sibuk mengatur tempat dengan sesama rekan kerjanya.


“Hei, kalian bertiga. Cepat ke ruang meeting sekarang!” tegur pak Susilo yang melihat Galuh, Luna, dan Meldy, masih berdiri di tempatnya sambil kasak-kusuk.


“Eh, pak Silo lihat kita.” Galuh terkikik, sambil memasang senyumnya ia mengangkat tangan ke dahi. “Ashiaap Bapak! Kemon gaes, kita cabut.”


Pak Susilo hanya menggelengkan kepala, ia bergegas menyusul ke ruang meeting setelah terlebih dahulu memberi arahan pada kasir yang tetap berada di mejanya dan sekuriti yang berjaga di depan area konter yang kosong.


Di ruang meeting sudah berkumpul semua karyawan shif pagi, pak Susilo segera menghubungi pemilik mal dan mengabarkan kalau semua karyawan sudah berada di ruang meeting.


“Sepuluh menit lagi Saya sampai!” ucap suara dari seberang telepon.


“Siap, Tuan.”


Sambil menunggu kedatangan pemilik mal, pak Susilo mulai meeting dadakan itu dengan menerangkan kondisi lantai mal yang mulai mengalami banyak kerusakan. Semua sudah diajukan kepada pengelola mal, dan pemilik langsung menanggapi dengan memerintahkan pengelola mal yang ditunjuk untuk segera melakukan perbaikan demi kenyamanan karyawan juga pengunjung yang datang.


Ketiga sahabat yang memilih berdiri di barisan belakang sibuk juga dengan perbincangan mereka sendiri, sesekali hanya mengangkat wajah ketika terdengar pak Susilo menanyakan pendapat mereka jika harus alih tempat kerja di mal lain yang masih satu kepemilikan dengan si empunya mal yang mereka tempati saat ini.


“Kita sih oke-oje aja Bapak, asal ada uang transport-nya. Lumayan jauh kan kalau kita harus ke mal BB. Mesti dua kali naik angkot, kalau mal sini mah jalan kaki aja dah nyampe!”


“Iya, benar Pak. Kalau ada uang bensin kita mah siap aja. Mau pindah mal mana aja, yang penting masih di kota yang sama!”


“Kalau bisa kita tetap masuk shif pagi aja deh, Bapak. Kasian kan rumah kita jauh, bisa kemalaman di jalan kalau masuk shif malam.”


Sebagian karyawan sudah menyampaikan pendapatnya, yang kebanyakan sudah mewakili pendapat karyawan lainnya. Semua sudah dicatat dan tinggal menunggu bagaimana nanti tanggapan si pemilik mal yang masih belum datang juga.


“Oke, semua pendapat kalian akan kita bicarakan dengan pemilik mal ini. Jika masih ada yang ingin menyampaikan pendapatnya, silah kan diutarakan sekarang!” ucap pak Susilo masih memberikan kesempatan.


“Ish, kirain baru wacana doang. Ternyata beneran, pantesan banyak bahan material di lantai bawah.” Galuh mulai berbisik-bisik di telinga Luna. Meldy yang berada di sampingnya langsung merapat dan memasang wajah serius saat mendengarkan ucapan sahabatnya itu.


“Kita bakal kena gusur juga gak ya?” tanya Luna, balas berbisik.


“Pasti kena lah, kan kontermu yang paling parah lantainya. Keramiknya pada meledak semua!” sambar Meldy cepat dengan suara sedikit keras, lupa kalau mereka bertiga sedang berada di ruang meeting dan langsung mendapat tatapan tajam pak Susilo yang mendengar ucapannya.


“Itu artinya konter Aku aman, karena berada dalam satu ruangan yang tertutup kaca. Tidak seperti konter kalian. Otomatis kalau pindah, harus beres-beres barang karena berada di ruangan terbuka.” Galuh menanggapi ucapan kedua sahabatnya.


“Yaah, kita bakal pisah dong. Gak bisa bareng-bareng lagi kayak sekarang,” keluh Luna memasang wajah nelangsa.


“Bulan depan juga Aku mau cuti, sudah ngajuin sih dari minggu kemarin. Moga aja cepat di acc,” beritahu Meldy pada dua sahabatnya itu.


“Jadi juga Lo nikah, Mel?” tanya Luna spontan, yang langsung mendapat keplakan tangan Galuh di bahunya.


“Tanyanya yang benar, masa gitu!” Galuh melotot, dan Luna hanya meringis melihatnya. “Aku doain lancar semua urusannya sampai hari H tiba.”


“Terima kasih, sayangku. Kamu memang sahabat terbaik Aku,” ucap Meldy lalu merangkum bahu Galuh.


“Ikut peluk juga.” Luna ikut bergabung, dan ketiganya tertawa bersama.


“Ekhem! Sudah selesai peluk-pelukannya, atau masih mau dilanjut?” tiba-tiba saja pak Susilo sudah berdiri di depan mereka bertiga. Galuh segera melepaskan pelukannya dan langsung berdiri tegap menghadap atasannya itu. Meldy dan Luna langsung bergerak menjauh, seraya menahan senyum. Tak tahan melihat kumis tebal pak Susilo yang bergerak-gerak dan menutupi hampir seluruh bagian bibirnya saat sedang berbicara.


“Lanjut meeting sama Bapak saja. Kalau kita mah sudah selesai peluk-pelukannya juga,” sahut Galuh, yang langsung memancing tawa rekan-rekannya yang ada di sana.


Di saat yang bersamaan, pintu ruang meeting dibuka lebar. Sesosok pria tampan berpenampilan menarik masuk ke dalam ruangan di dampingi kedua rekannya yang mengikuti dari belakang.


“Selamat siang semuanya. Maaf Saya terlambat datang,” sapa Reza ramah, sembari menyapukan pandangannya ke seluruh ruangan dan berhenti pada satu wajah yang menatapnya dengan sorot mata tak percaya.


Sambil tersenyum kecil Reza mengedipkan sebelah matanya pada Galuh yang kontan saja langsung memalingkan wajahnya ke arah lain, lalu tersenyum kepada mereka semua. Luna merapat kembali dan menyikut lengan Galuh cukup keras, membuat wanita itu mengaduh hingga membuat perhatian mereka semua teralih lagi padanya.


“Maaf, barusan keinjak sepatu Luna.” Galuh langsung mendelik pada Luna, menundukkan wajah dan berpura-pura mengusap kakinya.


“Ssstt, jangan berisik napa. Ada bos di depan lagi mau bicara, fokus!” Meldy menaruh telunjuk di bibir, memberi isyarat pada Luna dan Galuh untuk tenang.


Galuh membulatkan ibu jari dan telunjuknya, masih sebal dengan tingkah Luna padanya ia berbisik di telinga sahabatnya itu. “Sakiit tau, kira-kira kalau becanda. Lo kira badan Gue spon bisa balik mental kalau disikut!”


“Astaga, astaga! Gue gak nyangka dia bos besar kita. Lo gak lihat dia kedipin mata sama Lo!”


“Tau ah, Lo aja yang salah lihat. Kali aja dia kelilipan, Lo lihatnya dia ngedip!” kilah Galuh, lalu kembali mengarahkan pandangannya ke depan.


Pak Susilo bergegas kembali dan berbicara sebentar pada Reza, sebelum mengenalkan lelaki itu sebagai anak pemilik mal yang akan menggantikan posisi ayahnya untuk saat ini. Reza juga yang akan memimpin dan turun langsung mengawasi renovasi lantai gedung mal. Otomatis mereka semua akan sering bertemu muka dengannya.


Meeting kembali berlanjut, semua masukan dari karyawan langsung ditanggapi cepat. Reza menyanggupi akan memberi uang transport bagi karyawan yang dipindahkan tempat kerja, sementara untuk pergantian shif seperti yang diminta sebagian karyawan wanita akan dibicarakan secepatnya.


Meeting berakhir cepat dan para karyawan kembali ke konter masing-masing, demikian pula dengan Galuh, Meldy dan Luna. Sepanjang jalan mereka berdua terus menggoda Galuh. Apalagi tadi sebelum meeting berakhir, Reza terang-terangan mendatangi Galuh dan meminta untuk menunggunya saat jam pulang kerja berakhir.


“Ada yang hendak Aku bicarakan denganmu, penting!” dan sebelum Galuh menjawab ajakannya, Reza sudah berbalik pergi meninggalkan mereka. Ucapannya itu kontan saja membuat Luna dan Meldy tak berhenti menggodanya.


“Lo lihat cara dia bicara dan menatapmu? Seperti ada pesan terselubung. Hem, matanya bicara banyak sekali.”


“Kalian terlalu berlebihan menilainya,” sahut Galuh datar. Meski terlihat cuek saat menanggapi ucapan kedua sahabatnya itu, tak urung hati Galuh tergelitik juga ingin mengetahui apa maksud sebenarnya ajakan Reza padanya.


“Seratus persen Aku yakin sekali, dia tertarik padamu. Dan itu jelas terlihat!”


“Bubar! Kerja kerja. Udah, ya. Gak capek apa gosip mulu dari tadi.” Galuh berjalan cepat meninggalkan dua sahabatnya yang tertawa di belakangnya.


“Galuh Nanda, kalau doi ngajak nikah langsung terima ya. Biar barengan acara sama Meldy, hahaaha!” Galuh menutup kedua telinganya, berbalik sebentar lalu mengepalkan jari tangannya dan mengarahkannya pada Meldy dan Luna yang semakin kencang tertawa.


▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎