
“Oma, bertahan Oma!” Galuh menangkupkan tangannya di tangan Oma, panik melihat keadaan oma. Ia hanya seorang diri di sana, Reza sedang turun membeli makanan untuknya.
Napas oma tersengal-sengal, mulutnya terbuka mengerang kesakitan dan dadanya turun naik dengan cepat. Galuh tak tahan melihat keadaan oma seperti itu.
“Oma.” Air mata Galuh tak berhenti mengalir, ia memencet lagi tombol di atas kepala oma berharap dokter segera datang.
Tidak lama kemudian terdengar suara langkah kaki memasuki kamar rawat oma.
Dokter dan dua orang perawat datang dan langsung memeriksa oma, salah satu dari mereka meminta Galuh untuk menepi agar tidak mengganggu kerja mereka.
“Tolong selamatkan, oma.” Kata Galuh, nada suaranya terdengar agak histeris. Dicengkeramnya lengan mantel putih sang dokter dengan tangan bergetar.
Dokter itu tersenyum mengangguk, ia mengerti kepanikan yang dirasakan wanita di hadapannya itu. Dokter itu menepuk pelan bahu Galuh dan meyakinkannya bahwa mereka akan melakukan yang terbaik untuk oma. “Kami akan melakukan yang terbaik untuk keselamatan dan kesembuhan pasien kami.”
Galuh menepi, berdiri di dekat pintu menatap nanar pada oma yang sedang ditangani. Galuh bisa mendengar bunyi tarikan napas oma yang tersengal, tubuhnya gemetar tiba-tiba. Ia ketakutan, sesuatu yang buruk terjadi pada oma.
“Tuhan, tolong selamatkan oma.” Galuh merapal banyak doa, memohon pada Sang Maha Kuasa untuk memberikan keselamatan pada oma.
Suara langkah kaki terburu-buru terdengar memasuki kamar rawat oma. Galuh menoleh saat pintu di dekatnya terbuka, ia langsung berhambur masuk dalam pelukan Reza yang datang sambil membawa bungkusan makanan di tangannya.
“Apa yang terjadi dengan oma?” tanya Reza setelah Galuh melepaskan pelukannya, ia menaruh bungkus makanan di tangannya ke atas meja sambil menatap ke arah dokter yang tengah memeriksa oma.
“Oma terbangun dan tiba-tiba saja napasnya tersengal. Aku langsung memanggil dokter,” cerita Galuh singkat, dan Reza mengangguk mengerti.
Tak lama kemudian dokter selesai memeriksa lalu mengajak mereka bicara, setelah kondisi oma tenang dan tertidur kembali. Galuh berdiri di samping Reza, dan laki-laki itu memeluknya sambil terus mengusap-usap bahunya.
“Bagaimana keadaan oma, Dokter?” tanya Galuh sambil menatap oma yang tertidur.
Dokter itu menghela napas sebelum mulai bicara, ia menatap cemas pada Reza lalu bicara pada Galuh yang terus menatapnya penuh harap. “Kondisi pasien saat ini sangat serius.”
Dokter itu melanjutkan ucapannya lagi dengan menerangkan banyak istilah-istilah kedokteran yang berkaitan dengan sakit yang dialami oma yang sama sekali tidak dipahami Galuh, tapi satu hal yang ia tahu pasti kondisi oma saat ini kritis.
“Apa kondisinya separah itu, apa oma bisa sembuh kembali?” tanya Galuh, ia berharap Tuhan mendengar doanya dan keajaiban akan menghampiri oma.
Usia oma yang sudah tua juga daya tahan tubuhnya yang menurun saat ini sangat berpengaruh pada proses penyembuhannya. “Kami khawatir pasien tidak akan semudah itu dapat sembuh kembali. Tapi kami akan terus berjuang keras untuk dapat menyelamatkannya.”
“Oma kuat, oma pasti bisa bertahan dan mampu melewati ini semua. Dan oma akan kembali pada kita,” kata Reza sambil mengusap punggung Galuh.
Beberapa jam berikutnya, mereka menunggu dalam keheningan. Dokter sudah kembali ke ruangannya sejak tadi, tinggal Reza dan Galuh di dalam kamar rawat oma.
Reza duduk di samping tempat tidur oma, menatap dalam diam dan tak banyak bicara sambil terus mengusap-usap tangan oma. Galuh duduk di seberangnya memperhatikan.
Mata Reza berkaca-kaca, lelaki itu terlihat berusaha menahan air mata juga kesedihan hatinya. Galuh ingin sekali menghiburnya, membisikkan kata-kata yang menenangkan di telinganya. Tapi ia tak yakin akan mampu melakukannya, sementara ia sendiri begitu ketakutan.
Lalu suara isak tertahan itu terdengar, pecah dan memenuhi ruang pendengaran Galuh. Mulanya ia tak menyadari, sampai kemudian dilihatnya bahu bidang Reza bergetar hebat. Lelaki itu menangis.
Galuh terkesiap, “Abang?”
Galuh bangkit berdiri, berjalan memutar dan langsung memeluk bahu Reza. Lelaki itu menangis dan membenamkan wajahnya di bahu Galuh, air matanya tumpah membasahi leher juga blus yang ia kenakan.
“Menangislah, Bang. Jangan ditahan, menangislah jika itu bisa membuat dadamu lega.” Galuh memeluk kepala suaminya itu di dadanya, menyapukan jemarinya penuh sayang di rambut tebal Reza. Ia sangat mencintai laki-laki itu, air matanya pun jatuh menetes di kepala suaminya.
Reza memeluk erat pinggang Galuh, membenamkan wajahnya semakin dalam di leher istrinya itu. “Aku ingin oma sembuh. Aku mau melihat oma terus ada bersama kita.”
Galuh mengangguk, ia menepuk-nepuk punggung lebar suaminya. “Kita sama-sama berdoa untuk kesembuhan oma dan papa.”
Keduanya saling berpelukan lama, Reza mendongak menatap Galuh dengan matanya yang basah. “Kamu tahu, Aku sangat mencintaimu. Aku tidak ingin kehilangan Kamu. Aku ingin melihat anak kita lahir dan tumbuh besat, dan kita bisa terus bersama-sama selamanya.”
Wajah Reza berubah sendu, ia menundukkan wajahnya dan mengusap perut Galuh yang masih rata dengan protektif. “Tumbuh dan berkembang dengan baik dalam perut mama, ya sayang. Ayah sayang kalian.”
Galuh menangkup wajah Reza, dadanya sesak oleh rasa cinta yang begitu dalam pada suaminya itu. Ia menghapus tetes air mata yang ada di sudut matanya. “Aku tahu, Aku juga cinta sama Abang. Kita berdua akan melihat anak kita tumbuh dan besar bersama. Dan jangan pernah coba-coba berpikir untuk pergi meninggalkan Aku sendiri.”
Reza menarik tengkuk Galuh dan mengecup bibirnya dalam dan lama. Galuh mengalungkan lengannya di leher suaminya dan membalas ciumannya.
“Aku cinta Kamu, Aku sangat mencintaimu.” Bisik Reza di telinga Galuh, setelah melepaskan pagutan bibirnya. Kening mereka bertemu, Reza mengusap bibir Galuh yang bengkak.
Kruuk krruuk!
Reza mengangkat wajahnya, menatap Galuh yang meringis sambil mengusap perutnya yang berbunyi. Lelaki itu tersadar, terlalu fokus dengan sakit oma hingga ia lupa dengan keadaan Galuh.
“Ya Tuhan, maafkan Aku yank. Aku sampai lupa kalau Kamu belum makan dari tadi.” Reza melepaskan pelukannya dan merengkuh bahu Galuh. “Kita makan, sayang.”
Galuh tersenyum balas memeluk pinggang suaminya. “Iya, Aku ngerti kok.”
Reza membuka bungkusan makanan yang dibelinya, dua porsi nasi lengkap dengan ayam bakar juga sayur. Mereka mulai makan dan sesekali menatap ke arah tempat tidur oma.
Setelah membereskan sisa makanan dan beristirahat sejenak, tak lama kemudian terdengar suara ketukan di pintu. Perawat datang untuk memeriksa kondisi oma yang masih terlelap.
“Kalau pasien sudah bangun, tolong usahakan beliau makan terlebih dahulu dan berikan obat ini untuk diminum.” Pintanya pada Galuh sembari memberikan bungkusan obat di tangannya.
“Baik, Suster. Terima kasih.”
“Sama-sama. Kalau begitu, Saya permisi dulu.”
Hingga satu jam kemudian, oma masih tertidur lelap. Wajahnya terlihat tenang, dan bibirnya seperti sedang tersenyum. Napas oma juga turun naik secara teratur.
Tak lama terdengar ketukan pelan di pintu. Galuh yang sedang duduk di samping oma menoleh pada Reza, lelaki itu sedang duduk setengah berbaring di sofa.
“Abang?”
Reza menegakkan tubuhnya, menoleh ke pintu lalu berjalan mendekat mengira dokter yang datang dan hendak melihat kondisi omanya. “Silah kan masuk, Dokter.”
Pintu terbuka perlahan, papa Mahendra datang menggunakan kursi roda ditemani seorang perawat.
“Papa?” Reza langsung mengambil alih mendorong kursi roda papa dan perawat itu menunggu di dekat pintu.
“Papa mau lihat keadaan oma,” kata papa dengan suara serak, matanya tertuju pada tubuh oma yang tengah terlelap tidur.
Galuh bangkit berdiri dan menepi, membiarkan papa mendekat. Tangis papa pecah melihat kondisi oma, “Maafkan, Mahen Ma. Maaf, Mahen bersalah sama Mama.”
▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎