If Tomorrow Never Come

If Tomorrow Never Come
Bab 6. Best friend forever



“Hem, wanginya.”


Galuh terbangun oleh aroma kopi yang baru diseduh, ia berusaha duduk bahkan sebelum mampu membuka mata.


“Andai ada yang memberiku coklat panas saat ini, Aku janji akan membuatkan bekal spesial untuknya siang ini.” Galuh menjilat bibirnya, menelan salivanya kuat membayangkan kenikmatan yang di dapatnya saat cairan coklat panas memasuki tenggorokannya.


Terdengar suara tawa tertahan dari luar kamarnya, Galuh mengerjapkan mata. Dengan malas menyibak selimut di tubuhnya, lalu beranjak berdiri. Dilihatnya Luna dan Meldy duduk melipat kaki di lantai ruang tamu sambil menikmati camilan sembari menonton acara stand up comedy di televisi.


“Eh!” Meldy sontak mengangkat pahanya, saat Galuh tiba-tiba saja muncul dan duduk merapat di antara dirinya dan Luna.


Dengan mata setengah terpejam dan mulut menguap lebar Galuh menyorong piring berisi kacang kulit ke arah depan dengan tangannya, lalu menarik nampan di depan Luna kemudian meraih salah satu gelas yang berisi coklat panas yang ia yakini milik sahabatnya itu.


“Dih, ditutup napa Luh kalau nguap kayak gitu. Kalau ada yang liat, Kamu bakal malu tiga kali!” tegur Meldy.


Galuh meringis mendengar ucapan Meldy yang mengingatkan dirinya pada kejadian saat mereka turun dari angkot malam itu. Fokusnya kini pada minuman di tangannya. Ia meniup pelan, melirik sekilas pada Luna sebelum menyeruput coklat panas di dalam gelas yang masih mengepulkan uap panas.


“Enak, Non?” tanya Meldy berusaha menahan senyumnya. Kedua sahabatnya itu memang punya selera sama, sama-sama suka minuman bercita rasa manis tidak seperti dirinya yang lebih menyukai minuman kopi.


“Enak banget,” sahut Galuh mengacungkan ibu jarinya ke arah Luna. “Lumayan, bisa bikin melek mata. Tau aja kalau Aku lagi pengen minum ginian,” imbuh Galuh, lalu sekali lagi menghirup coklat panas di dalam gelas sebelum menaruhnya kembali di atas nampan.


“Eitdah, bikin sendiri napa Non!” tegur Luna sembari mengangkat gelas minumnya, melihat isinya yang hanya bersisa setengah saja.


“Minum dikit doang, tuh masih banyak!” balas Galuh mengarahkan telunjuknya pada gelas di tangan Luna.


“Dih!” Luna memutar bola matanya, membuat Meldy tertawa melihatnya.


“Kalian beneran begadang, kirain sudah pada tidur semua.” Galuh kembali berbaring di dekat Luna, beralas ambal tebal yang baru saja di gelarnya. “Pada mau bahas apa sih, sampai bela-belain tidur telat.”


“Lah, dia pindah tidur di sini lagi? Galuh ih!” Luna terkikik geli saat tangan Galuh melingkari perutnya. “Aku jitak nih!”


Malam itu suasana rumah Galuh ramai dengan gelak tawa, tidak ada yang mereka lakukan selain hanya mengobrol bersama. Saling curhat tentang hal-hal lucu yang terjadi di tempat kerja mereka, hingga satu kalimat pendek yang keluar dari mulut Meldy menghentikan tawa mereka semua.


“Aku mau menikah!” ucap Meldy memasang wajah serius, menatap wajah kedua sahabatnya yang terkejut mendengar ucapannya barusan.


“Mel, Lo kesambet apaan tiba-tiba bicara kayak gitu. Jadi merinding Gue. Ini rumah gak ada mahkluk halusnya kan, Luh?” Luna bergidik memandang sekeliling ruangan.


“Kali ini giliran Lo yang Gue jitak. Lo kira Gue piara jin di rumah?” balas Galuh sebal, memiringkan tubuhnya menatap ke arah Meldy.


“Heran aja, tadi ketawa-ketiwi ngobrol soal trio cowok rese di tempat kerja. Tiba-tiba Meldy bicara soal nikah, Gue kan binun jadinya.”


“Kedua orang tuaku sudah menerima lamaran dari keluarga ustad Zaki, pemilik pesantren yang rumahnya kami tempati selama ini.” Meldy melanjutkan bicaranya.


“Kamu serius, Mel?” Galuh terbangun dari tidurnya, menggeser tubuhnya lebih dekat dengan Meldy. “Kamu gak boong kan?”


Meldy menarik napas, menepuk paha Galuh. “Aku serius Luh, bulan depan Aku harus balik ke rumah.”


“Terus kerjaan Kamu gimana?” tanya Luna.


“Yaah Mel, kenapa gak pernah cerita sebelumnya sama kita. Bukan sebulan dua bulan kita saling kenal, tapi tahunan. Susah senang sama-sama, bahkan hampir di setiap akhir pekan kita kumpul di rumah buat nginap bareng. Biar persahabatan kita tetap langgeng, biar persaudaraan kita tetap utuh. Tapi Kamu gak cerita masalah penting kayak gini sama kita, Kamu atasi sendiri masalahmu tanpa meminta pendapat kita. Bukannya selama ini kita sudah saling janji setiap ada masalah kita selesaikan sama-sama,” ujar Galuh tidak dapat menyembunyikan rasa kecewanya.


“Maafkan Aku sudah bikin kecewa kalian.” Meldy menundukkan wajahnya, “Tadinya Aku mau cerita soal ini sama kalian berdua.”


“Aku pikir perjodohan kami hanya gurauan antara dua keluarga yang sudah saling kenal lama, Aku gak pernah anggap serius ucapan mereka. Lagi pula kita sibuk dengan urusan masing-masing, ketemu juga bisa dihitung dengan jari. Zaki sibuk nyelesaiin sekolahnya di luar negeri, sementara Aku kerja di sini. Sampai satu hari ustad Hadi jatuh sakit dan meminta Zaki pulang kembali ke tanah air. Hari Minggu kemarin mereka datang ke rumah, dan mengajukan lamaran.”


“Ck, jadi selama ini kalian sudah dijodohkan?” Luna berdecak, “Dan Lo terima nasib gitu aja.”


Meldy mengangguk seraya tersenyum kecil, “Aku tidak mungkin mengecewakan harapan kedua orang tuaku, mereka terlanjur suka dengan calon menantunya.”


“Lo suka gak sama Zaki? Ngaku aja, Lo dipaksa kawin kan sama itu cowok. Dan orang tua Lo gak bisa nolak karena sudah banyak hutang budi sama keluarga mereka,” cecar Luna.


Pletak!


“Sok tau, Lo! Sudah nyaring salah lagi,” dengus Meldy emosi.


“Terus, alasannya apa Lo tiba-tiba aja mau terima nikah sama si Zaki. Gimana kabarnya hubungan Lo dengan si Bintang, masa Lo putusin gitu aja anak orang. Baru juga jadian,” balas Luna melengoskan wajahnya.


“Luna, biarkan Meldy jelasin semuanya sama kita. Jangan potong sampai dia selesai bicara!” Galuh menengahi, ia tahu sahabatnya itu sebenarnya belum siap untuk menikah.


Dan seperti ucapan Luna barusan, Meldi memang tengah menjalin hubungan dengan Bintang, seorang dokter muda yang baru saja membuka klinik pengobatan di daerah Sentosa dekat dengan rumah kos yang ditempati Meldy.


“Aku tau kalian kecewa sama sikap Aku, tapi jujur Aku belum siap nikah dalam waktu dekat. Aku masih pengen main dan kumpul bareng sama kalian, kerja bareng sama kalian. Aku juga pengen sekali mewujudkan mimpiku jadi model yang dikenal banyak orang.”


“Soal hubunganku dengan Bintang ...” tatapan Meldy berubah sendu, “Sebelum hubungan kami semakin dalam, lebih baik kami berpisah sekarang.”


“Meldy, maafin gue. Lo pasti sedih banget harus pisah sama Bintang,” ucap Luna seraya memeluk Meldy erat, diikuti Galuh dari belakang.


“Apa pun keputusan yang Kamu ambil, kita akan selalu dukung.” Galuh mengusap bahu Meldy, “Aah, akhirnya salah satu dari sahabatku akan menikah juga.”


“Apa itu artinya sebentar lagi, kita gak akan bisa kumpul bareng seperti ini lagi?” Luna menatap Meldy dengan sorot mata sedih.


“Entah lah, jalani saja dulu seperti biasanya. Yang jelas Meldy tidak akan bisa sebebas dulu lagi,” sahut Galuh.


“Kenapa gak coba bicara sama Zaki, bilang kalau Kamu mau nikah sama dia asalkan diizinkan tetap bekerja. Itung-itung buat bantu biaya adikmu yang masih sekolah,” cetus Luna terlontar begitu saja membuat wajah sendu Meldy berubah seketika.


“Kenapa Aku gak kepikiran ide Lo buat bicara sama Zaki soal itu, ya?”


“Dan kita berdua yang akan bicara pada orang tuamu, bila perlu kita berdua akan berusaha meyakinkan mereka kalau pekerjaan tidak akan membuatmu mengabaikan kewajiban utamamu sebagai seorang istri Zaki kelak.”


“Semoga aja Zaki mau memenuhi keinginanku, dan kedua orang tuaku juga mau mendengar ucapan kalian. Sekarang hatiku sedikit lebih lega. Terima kasih, kalian memang sahabat terbaikku.” Meldy merentangkan tangannya, merangkum kedua sahabatnya dalam pelukannya.


“Best friend forever!” jawab Luna dan Galuh bersamaan, “Apa pun masalahnya, kita akan hadapi bersama.” Ucap Galuh yang diangguki kedua sahabatnya.


▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎