If Tomorrow Never Come

If Tomorrow Never Come
Bab 30. Baik-baik saja



Galuh menggigit bibirnya, sekuat tenaga berusaha menahan air matanya yang hampir menetes. Niat hati ingin mengungkapkan perasaannya kini dengan bersedia menerima lamaran Reza menjadi istrinya, namun urung dilakukan mengingat keadaan laki-laki itu yang mendadak mengalami sakit.


Darah di hidung Reza sudah berhenti, tapi panas tubuhnya masih belum juga mereda. Galuh sudah berusaha membujuknya untuk ke rumah sakit, tapi lelaki itu menolaknya dan mengatakan kalau ia baik-baik saja.


“Kita ke rumah sakit sekarang, ya Bang. Aku gak mau terjadi apa-apa sama Abang,” pinta Galuh memohon pada Reza agar lelaki itu mau menuruti ucapannya.


“Tatap mata Aku, sayang. Dan lihat Aku baik-baik.” Reza menegakkan tubuhnya dan duduk menyamping saling berhadapan. Ia menangkup wajah Galuh dan mengusap pipinya lembut. “Aku gapapa, sayang. Percaya sama Aku, Aku hanya kecapaian biasa.”


Galuh menggeleng, “Jangan buat Aku khawatir. Abang sekarang lagi demam, dan hidung Abang juga tadi keluar darah.”


“Ssstt!” Reza berusaha menenangkan Galuh yang terlihat begitu khawatir melihat kondisinya yang lemah. Ia lalu membuka layar ponselnya dan memperlihatkannya pada Galuh. “Aku sudah menghubungi dokter Haris, dokter pribadi Aku. Ia masih dalam perjalanan dan satu jam lagi akan datang ke rumahku.”


“Abang sendiri gimana, gak mungkin kan nyetir sendiri dalam keadaan sakit seperti ini. Berbahaya buat Abang juga orang lain?” tanya Galuh. “Kalau saja Aku bisa nyetir ini mobil, pasti Aku yang antar Abang pulang sekarang.” Imbuh Galuh dengan suara bergumam.


Reza tersenyum mendengarnya, ia menggenggam tangan Galuh dan membawanya ke dadanya. “Tenang, sayang. Aku gak mungkin ambil risiko yang bisa membahayakan nyawaku juga orang lain. Aku sudah telpon Danil bareng Aldy buat jemput kita di sini,” sahut Reza.


Galuh melirik arloji di tangannya, sudah jam setengah sebelas malam. Area parkir mal sudah terlihat sepi, hanya tersisa beberapa kendaraan saja. “Aku boleh gak ikut bareng Abang ke rumah, sekalian mau tahu kondisi Abang kalau sudah diperiksa dokter nanti.”


Reza menggeleng seraya memperlihatkan senyumnya, “Aku gapapa, sayang. Hanya kecapaian dan butuh istirahat saja, paling juga dapat vitamin kayak biasanya. Lagi pula ini juga sudah malam, kasihan Kamunya. Aku gak mau kalau Kamu nanti jatuh sakit.”


“Apa gara-gara telat makan tadi siang, jadinya sakit kayak gini?” tanya Galuh terlihat menyesal.


Reza tertawa mendengarnya, “Aku gak selemah itu, sayang. Hanya telat makan satu jam gak akan bikin kondisi Aku drop. Ini akumulasi dari kelelahan yang Aku alami selama beberapa minggu terakhir ini mengurus pekerjaan di luar kota. Jadi Kamu gak perlu merasa bersalah karena memang gak ada hubungannya sakit Aku sama Aku yang telat makan hari ini,” jelas Reza panjang lebar.


“Abang, sebenarnya Aku mau bilang ...” Galuh menghentikan ucapannya bersamaan dengan kemunculan sebuah mobil yang berhenti tidak jauh dari tempat mereka berada.


“Nah, itu mereka sudah datang.” Reza menurunkan kaca mobilnya dan mengarahkan dagunya pada dua orang sahabatnya yang baru saja keluar dari mobilnya.


Galuh menolehkan kepalanya, melihat pada Aldy dan Danil yang berjalan terburu-buru mendekati mobil Reza. “Syukurlah mereka cepat datang,” ucap Galuh menanggapi ucapan Reza padanya.


“Za!” panggil Danil dan Aldy bersamaan.


“Gimana keadaanmu, Za?” Danil berdiri dengan kedua tangan berada di kaca jendela mobil yang terbuka, menatap pada Reza yang duduk menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi di belakangnya.


Sementara Aldy hanya berdiri mengawasi sambil tatapannya tak lepas menatap raut wajah Reza yang terlihat pucat. Ia melirik sekilas pada Galuh, dan tersenyum samar melihat tangan Reza yang terus menggenggam erat jemari tangan wanita itu.


“Weh, Lo demam Za. Panas gini badan Lo?” seru Danil terkejut saat meraba kening Reza yang panas.


Aldy menoleh cepat mendengar seruan Danil, lalu bergegas berdiri di samping sahabatnya itu ikutan meraba kening Reza seperti yang sudah dilakukan Danil sebelumnya.


“Kecapaian kayaknya,” sahut Reza pelan.


“Ya udah, biar Gue yang antar Lo pulang sekarang. Lo duduk di belakang, biar Gue yang nyetir.” Aldy membuka pintu mobil dan membantu Reza turun dan berpindah duduk di belakang. “Lepasin dulu tangan Lo, Bro. Cewek Lo kagak bakal pergi, percaya deh sama Gue!”


“Ish!” Reza lalu melepaskan genggaman tangannya, mendengkus sebal pada Aldy. “Lo kalo iri bilang dong!”


Danil terkekeh mendengarnya, ia menepuk bahu Aldy dan berbisik dengan nada menggoda pada sahabatnya itu yang sudah duduk di depan kemudi menggantikan posisi Reza. “Cewek Lo biar duduk di depan, jadi Lo bisa bebas kalo mau baring-baring di belakang.”


“Gak! Enak aja Lo.” Reza mendengkus kesal. “Sayang, pindah belakang gih duduk bareng sama Abang.”


“Aciee, sudah panggil sayang sama abang segala. Ketinggalan berita kita, Bro!” goda Aldy yang disambut tawa Danil yang masih berdiri di sampingnya.


Galuh yang masih berada di kursi depan hanya bisa duduk menahan malu dengan wajah bersemu merah. Rasanya ingin segera pergi dan berlalu dari hadapan tiga orang laki-laki itu, bersembunyi dan berlindung sejauh mungkin agar terhindar dari godaan Aldy juga Danil.


“Ehm, karena teman Abang sudah pada datang biar Aku pulang naik angkot saja ya. Takutnya Abang sudah ditungguin sama dokter Haris di rumah nanti.” Galuh membuka pintu dan bergegas turun dari mobil.


“Gak boleh, uhuk! Danil, tolong Lo anter cewek Gue pulang!” suara lantang Reza menghentikan langkah Galuh, ia pun berbalik saat mendengar Reza terbatuk setelah berteriak barusan padanya.


“Abang!” teriak Galuh panik saat darah segar kembali keluar dari hidung Reza. “Ya Tuhan!”


Reza merogoh sapu tangan dari dalam saku jasnya, dan langsung menutup hidungnya. Napasnya turun naik dengan cepat, hingga beberapa saat kemudian Reza mulai terlihat tenang dan sudah melepas sapu tangan dari hidungnya.


“Gue antar Lo sekarang ke rumah sakit, biar cewek lo Danil yang anter.”


Reza menahan tangan Aldy, menggelengkan kepala dan menatapnya tajam. “Antar Gue pulang ke rumah, biar dokter Haris yang menangani!”


“Dan Lo, Danil. Please, sekarang juga antar Galuh pulang ke rumahnya!” pinta Reza pada Danil, yang hanya menghela napas lalu segera mengajak Galuh pergi dari sana.


Di dalam mobil, saat dalam perjalanan menuju apartemennya Reza menolak untuk menjawab pertanyaan Aldy soal penyakit yang dideritanya.


“Gue juga sering kecapaian kerja, kepanasan kehujanan di proyek. Demam juga iya, tapi gak sampai mimisan terus-terusan kayak yang Lo alami, Za.”


“Daya tahan masing-masing orang berbeda, Bro. Dan Lo pasti tahu soal itu. Setiap badan Gue demam, selalu diiringi dengan darah yang keluar dari hidung. Tidak banyak sih, tapi cukup membuat badan lemas.”


“Apa kata dokter soal penyakitmu itu, Za?”


“Bukan apa-apa, hanya mimisan biasa. Nanti juga berhenti dengan sendirinya, efek kelelahan fisik biasa. Dan hal ini sudah terjadi lama, bahkan sejak Gue masih kecil.”


“Kamu lagi gak nyembunyiin sesuatu dari Gue kan, Za. Selama kita kenal, baru kali ini Gue lihat Lo lemah seperti ini.” Selidik Aldy berusaha mengorek keterangan dari Reza, tapi lelaki itu selalu menjawab dengan hal yang sama. “lalu, apa benar berita santer yang Gue dengar ramai dibicarakan anak-anak mal, kalau Lo dan Galuh akan segera menikah?”


“Iya, Gue sudah lamar dia. Tapi Galuh belum kasih jawabannya, hanya saja sekarang dia gak pernah lagi protes kalau Aku panggil sayang dan sikapnya juga lebih terbuka.”


“Moga aja lancar dan cewek Lo kasih jawaban yang bikin hati Lo tenang,” ucap Aldy memberikan dukungannya. “Dan Lo harus sehat bugar, masa mau nikah sakit?”


Reza tertawa lirih, ia merintih dalam hati mengingat sakit dideritanya kini. “Aku pasti baik-baik saja, dan jika waktuku telah tiba. Aku akan sangat bahagia karena sudah hidup bersama wanita yang Aku cinta.”


▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎