If Tomorrow Never Come

If Tomorrow Never Come
Bab 57. Mencintaimu



Dua orang berpakaian aneh itu langsung menerobos masuk ke dalam kamar ketika Reza baru saja membuka pintu kamarnya. Seorang dari mereka berjalan mendekati Galuh dan langsung menarik lengannya.


“Ikut Gue sekarang!” Perintahnya galak tanpa memberi kesempatan pada Galuh untuk bicara.


“Heii, kalian ini siapa. Main nyelonong masuk kamar orang sembarangan?!” teriak Reza gusar.


Seorang dari mereka langsung berbalik dan menatap tajam Reza dengan tangan masih tetap memegang lengan Galuh. “Kalau Lo mau malam pengantin kalian lancar, nurut apa kata Gue!”


“Honey, urus dia. Biar Aku yang urus wanita ini!” Tunjuk wanita berpakaian ala bajak laut itu pada rekannya, yang langsung menghadang langkah Reza.


“Oke, sayang.” Lelaki berpakaian ala Jack Sparrow itu merentangkan kedua tangannya lebar. Bandana merah yang dipakainya hampir menutupi matanya, seringai tipis tampak di wajahnya.


“Apa-apaan, sih!” sentak Reza kesal sembari berkacak pinggang, ketika menyadari wajah dibalik rambut panjang di hadapannya itu.


Danil membawanya keluar kamar, dan duduk di sofa yang ada di lantai dua. Berlagak seperti pemilik rumah, Danil menyuguhkan makanan dan minuman ringan ke atas meja pada Reza.


“Lo mau ngapain sih, sebenarnya. Ngapain coba pakai dandan kayak begituan?!”


“Ini semua idenya Luna. Gerah sih sebenarnya pakai ginian, tapi demi kalian Gue rela.” Ucap Danil melepas wig, lalu menggaruk rambut kepalanya yang gatal dan kembali memakainya lagi.


“Maksud Lo?”


Danil meringis, “Tenang Za, kita punya hadiah istimewa buat kalian berdua biar makin hot!”


Astaga!


“Sekarang aja hati Gue langsung hot begitu lihat kalian berdua tiba-tiba nongol masuk kamar kita!”


“Kalem Bos, kali ini Lo bakal berterima kasih sama kita. Lihat aja nanti,” sahut Danil sambil terkekeh, melihat Reza yang melotot sebal padanya.


Sementara di dalam kamarnya, Galuh menggeleng kuat dengan wajah merah padam ketika Luna menunjukkan padanya pakaian dalam seksieh aneka warna dan mengangkat kain kurang bahan itu ke depan wajahnya.


“Aku gak butuh pakaian model gitu, Lun. Udah deh, bawa balik sana!” tolak Galuh.


“Hei, jangan salah. Semua pengantin memerlukan pakaian seperti ini, dan para suami akan sangat menyukainya. Meski Aku yakin ini pasti tidak akan bisa bertahan lama,” ucap Luna sambil mengedipkan sebelah matanya.


Ucapan Luna itu membuat Galuh jadi salah tingkah, “Aku sudah punya banyak baju tidur, dan suamiku menyukai modelnya.”


“Aku juga sudah lihat semua. Apa Kamu lupa, kita membelinya sama-sama. Dan semua modelnya terlalu biasa dipakai pengantin baru macam kalian berdua,” sergah Luna.


“Ish, mau tidur saja ribet!”


“Aku sengaja membelikannya untukmu, Ini hadiah dariku untukmu. Sekarang tinggal pilih warnanya. Maron, peach, atau warna kesukaanmu yang ini, biru. Kamu ingin memakai yang mana dulu?” Luna menempelkan baju-baju itu ke dadanya dan tersenyum penuh arti pada Galuh.


Galuh melirik sekilas, dan tanpa sadar ia bergidik membayangkan dirinya memakai pakaian itu. Pipinya kembali memerah, dengan menahan malu Galuh memalingkan wajah cepat.


“Terserah Kamu aja deh, Lun. Kamu yang mau kasih Aku hadiah, ya udah Aku terima. Soal warna biar Aku sendiri yang pilih nanti. Sekarang Aku ngantuk,” jawab Galuh seraya menguap dan tak berusaha untuk menutup mulutnya.


“Dih, yang gak sabar mau cepat-cepat bobok sama abangnya.” Ledek Luna, dan ucapannya itu makin membuat Galuh salah tingkah.


Tidak berapa lama kemudian Luna keluar dari dalam kamar Galuh. Di luar Reza menunggu dengan raut wajah tak sabar. Melihat kedua wanita itu berdiri di ambang pintu kamarnya, Reza bergegas mendekat.


“Oke sayang, kita pulang sekarang.”


Luna melirik sekilas pada Reza yang berdiri merapat di sebelah Galuh dan dengan sikap posesif merangkum bahu wanitanya itu.


“Say, saran Aku lebih baik malam ini pakai yang warna maron. Biar lebih membara,” ucap Luna seraya mengedipkan matanya, ia berlalu dari hadapan pasangan pengantin baru itu dan membuat Reza mengernyitkan keningnya.


“Memang ada apa dengan warna maron, yank?”


Pertanyaan Reza itu membuat perut Galuh seperti bergolak. Ia menggeleng cepat dan memaki dalam hati pada Luna yang bicara asal.


“Bukan apa-apa,” sahut Galuh dengan wajah tegang dan pipi memerah.


Reza tersenyum menyadari ketegangan di wajah Galuh, ia menggenggam jemari wanita itu dan mengecupnya lembut.


“Para pengacau itu sudah pergi, sebaiknya kita masuk sekarang.”


Reza membimbing Galuh masuk dan mendudukkannya ke atas ranjang, untuk sesaat lamanya ia hanya diam dan menatap lekat wajah wanitanya itu.


Rambut panjang Galuh tergerai indah dan sebagian jatuh menutupi dadanya, ia memakai gaun tidur dari bahan halus yang panjangnya sampai menyentuh mata kaki. Lekuk tubuhnya tampak jelas tercetak, membuat sesuatu di dalam diri Reza memberontak.


Perlahan tangannya bergerak menyibak rambut Galuh dan menaruhnya ke balik punggungnya. Galuh menolehkan wajahnya, tatapan keduanya bertemu. Jantung Galuh berdesir, dan matanya mengerjap.


“Abang,” desis Galuh, suaranya seolah tercekat melihat wajah Reza yang begitu dekat. “Ada apa?”


Tangan Reza terulur menangkup wajah Galuh, ia memiringkan kepalanya dan melabuhkan bibirnya ke bibir Galuh yang bergetar. Ciumannya terasa lembut dan hangat, sesudahnya Reza tersenyum mesra padanya.


“Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Aku berjanji akan selalu membuatmu bahagia,” bisik Reza di telinga Galuh, membuat wanita itu memejamkan matanya.


Dadanya dipenuhi keharuan hingga sudut matanya berair. Sebelum air matannya tumpah, Reza mengecup matanya lagi. Galuh tertawa dibuatnya, dan hal itu membuat pertahanan diri Reza runtuh. Bibir ranum itu membuatnya tak tahan, dan Reza mengecupnya lagi.


“Yank, boleh Aku melakukannya malam ini?” tanya Reza, menatap Galuh intens.


Galuh menggigit bibirnya, balas menatap Reza. Kabut gairah tampak jelas di wajah tampan itu.


“Yank ...”


Galuh mengalungkan kedua tangannya di leher Reza, sebelah tangannya terulur menyusuri setiap detail inci garis wajah suaminya itu. Alis mata yang tebal, hidung yang mancung, lalu bibir tipisnya yang sedikit terbuka. Tak berhenti hanya di situ, ujung jemari Galuh turun hingga leher Reza dan dan berhenti di dadanya.


Reza menggeram, ia meraih tangan wanitanya itu dan mengecup telapak tangannya sembari memejamkan matanya. Galuh tersenyum, ia tahu Reza berusaha menahan diri untuk tidak menerkamnya langsung.


Galuh merasa cukup bermain-main. Ia menarik tengkuk Reza untuk mendekat padanya, dan dengan suara lirih Galuh berbisik di telinganya. “Abang.”


Reza membuka matanya, Galuh melengkungkan bibirnya dan tersenyum menatapnya. Galuh lalu menganggukkan kepalanya.


Reza menurunkan tubuhnya, dan mulai menciumi seluruh wajah Galuh sambil terus menggumamkan kata-kata cintanya.


Malam itu Reza memperlakukannya dengan penuh kelembutan, tanpa tergesa-gesa dan membuatnya nyaman. Rasa cinta di hatinya semakin membuncah, dan setelahnya Galuh menangis. Tangisan bahagia karena sudah memberikan dirinya seutuhnya pada suaminya.


▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎