If Tomorrow Never Come

If Tomorrow Never Come
Bab 59. Tamu bulanan



Galuh meraba lehernya yang tertutup syal milik Reza, lalu menatap wajah-wajah di sekitarnya yang tersenyum penuh arti. Sepertinya percuma saja jika ia terus berdiam diri, lebih baik bersikap santai dan tak ambil pusing dengan godaan neneknya.


Sementara Reza yang duduk bersama mama, hanya diam mendengarkan ucapan nenek sambil memakan camilan kue buatan mama di sofa ruang keluarga. Sesekali ia tersenyum menanggapi setiap kali nenek menyinggung dirinya.


“Luh, dangarilah pandiran peninian ikam ini. Awak uyuhkah, garingkah, amun sudah baisi laki kada baik behanjam di kamar mambiarakan laki sorangan handak makan. Dilayaniai dahulu, dikawaliai laki makan hanyar istirahat bedudi.” Petuah nenek pada Galuh yang duduk sambil menyantap makanan di sebelahnya.


(Luh, dengarkan ucapan nenekmu ini. Badan capaikah, sakitkah, kalau sudah punya suami tidak baik berdiam diri di kamar dan membiarkan suami sendirian hendak makan. Dilayani dulu, ditemani suami makan setelah itu baru istirahat)


“Inggih Niai, Galuh lawas pang taguring tadi hanyar haja tabangun jadi bedudi manyusul bang Reza makan.” Jawab Galuh mengiyakan ucapan neneknya.


(Iya Nek, Galuh lama tertidur baru saja bangun jadi lama baru menyusul bang Reza makan)


“Amun begadang haja semalaman kayak apa handak bangun isuk, dijaga kasehatan nakai. Kada baik gasan awak sorang, guring jam berapa gerang semalam?” tanya nenek ingin tahu.


(Kalau begadang saja semalaman kayak apa mau bangun pagi, dijaga kesehatan nak. Tidak baik untuk badanmu sendiri, tidur jam berapa sih tadi malam?)


“Uhuk uhuk!” Reza tersedak kacang atom yang dimakannya sesaat setelah mendengar ucapan nenek, mama yang berada di sampingnya pun bergegas mengulurkan air putih di gelas padanya.


“Ummaai Nini inilah, kaya kada tahu haja. Pengantin hanyar kalo si Galuh,” sela mama mengingatkan sambil menepuk pelan paha nenek. (Nenek ini, kayak gak tahu saja kalau Galuh itu pengantin baru)


“Astagfirullah, iih lah. Hanyar haja semalam betatai, kada ingat Nini. Maafakanai urang tuha ini kada paingatan lagi,” ucap nenek sambil mendekap mulutnya, lalu tak lama kemudian terdengar ledakan tawanya disusul yang lainnya ikutan tertawa. (Astagfirullah, iya ya. Baru semalam bersanding, nenek lupa. Maafkan orang tua yang suka tidak ingat ini)


Galuh hanya meringis dan Reza mengulum senyumnya, keseruan bersama nenek Galuh tak berhenti hanya sampai di situ saja. Seperti kebanyakan orang tua di kampungnya, nenek tak pernah lupa membawa kapur sirih untuk menginang.


Oma Reza sampai bengong melihatnya, dan tertarik untuk mencobanya meski harus terbatuk pada awalnya karena tidak terbiasa.


Dua hari berikutnya nenek dan mama beserta keluarga Galuh lainnya berpamitan pulang kembali ke kampungnya, Reza bersama Galuh ikut mengantar bersama rombongan sampai bandara dan berjanji akan berkunjung ke kampung dalam waktu dekat.


“Amun rancak bagadang malam, hancap tu baisi kena.” Bisik nenek di telinga Galuh ketika ia mencium punggung tangan neneknya itu. (Kalau sering begadang malam, cepat itu berisi nanti/hamil)


Wajah Galuh menghangat, ia memeluk neneknya dan balas berbisik. “Doakan Galuh Nek, biar bisa cepat dapat momongan.”


Nenek mengusap-usap punggung Galuh, matanya berkaca-kaca penuh keharuan membayangkan memiliki cicit dari cucu perempuannya itu.


Pesawat lepas landas meninggalkan bandara, Galuh dan Reza terus melambaikan tangannya hingga badan burung dari baja itu sudah tak terlihat lagi.


Galuh mengusap sudut matanya yang berair, seminggu bersama keluarga besarnya banyak keseruan yang terjadi. Terutama kebersamaan dengan sang nenek. Reza yang paham akan suasana hati istrinya itu terus memeluknya sambil menepuk pelan pundaknya.


“Mau jalan-jalan dulu atau langsung pulang saja?” tanya Reza sambil menatap mata Galuh yang sembab, ia merenggangkan pelukan tubuhnya dan menangkup wajah wanitanya itu. Diusapnya perlahan pipinya yang basah dengan ujung jarinya.


Galuh tersenyum dengan mata basah, “Kita jalan-jalan dulu aja, Bang.”


“Oke, kalau begitu hapus air matanya. Kita jalan sekarang,” ajak Reza sambil menggandeng tangan Galuh dan membawanya masuk ke mobilnya.


Reza menyuruh sopir keluarganya untuk pulang terlebih dahulu, sementara ia dan Galuh memilih untuk jalan-jalan.


Reza membawa Galuh berkeliling kota pagi itu, ia terus berusaha menyenangkan hati istrinya itu yang masih merasa sedih karena baru berpisah dengan keluarga besarnya.


Hingga menjelang tengah hari, Galuh meminta pulang karena mengeluh tidak enak badan dan sakit di bagian belakang pinggangnya.


Galuh memilih untuk rebahan dan tidak lama kemudian ia pun tertidur. Entah berapa lama matanya terpejam, Galuh mengerjapkan matanya saat kasur tempat tidurnya terasa melesak turun dan Reza memeluk tubuhnya dari belakang.


Jemari tangan Reza menyentuh helai-helai rambut Galuh yang jatuh menutupi pipi wanitanya itu, dan merapikannya di atas bantal.


Galuh memutar tubuhnya menghadap Reza, lelaki itu berbaring miring dan bertumpu pada siku kanannya menatap Galuh lama. Jemari tangannya menyibak rambut Galuh dan menyelipkannya ke balik telinganya.


Galuh mengesah perlahan, seraya menggigit bibir bawahnya. Ia menggeser tubuhnya dan berbaring telentang, lalu meringis dan kembali bergerak lagi.


“Kamu kenapa yank, kok mukamu kelihatan pucat gitu?” tanya Reza terdengar cemas melihat wajah pucat Galuh.


“Aku gapapa, sayang.” Jawab Galuh sambil terus menggigit bibirnya seperti menahan nyeri.


“Pasti ada apa-apanya, Kamu sakit?”


Galuh menatap Reza dengan cara berbeda, hingga Reza pun sepertinya mengerti arti tatapan Galuh padanya.


“Oh, itu. Mulai kapan, yank?” tanya Reza terlihat sedikit kecewa.


“Siang tadi setelah kita pulang dari jalan-jalan, sebenarnya Aku sudah merasakan tanda-tandanya semalam tapi baru siang tadi keluar.”


Reza meringis mendengarnya. Baru saja menikmati indahnya malam pengantin berdua, hari ini ia harus mulai puasa. Tamu keluarga baru saja pulang, tapi kali ini ia kembali harus kedatangan tamu bulanan istrinya.


“Sudah minum obat?”


Galuh menggeleng, “Aku jarang sekali minum obat kalau lagi dapat seperti sekarang ini. Cukup dibawa istirahat saja dan rasa tak nyaman itu nanti akan mereda dengan sendirinya.”


“Begitu?” Reza menarik dirinya dan duduk di belakang Galuh yang kini berbaring miring membelakanginya sambil menyentuh pelan pinggang istrinya itu. “Apa bagian pinggang ini yang terasa sakit?”


“Hem.” Galuh mengangguk.


Reza menurunkan selimut yang menutupi pinggang Galuh, matanya menelusuri tubuh istrinya itu. Gaun tidur yang dikenakan Galuh berbahan tipis, dibaliknya Reza bisa melihat bayangan pakaian dalam yang dikenakan istrinya itu.


Perlahan Reza menyentuhkan tangannya lagi di pinggang Galuh, lalu bergerak berputar di sekitar bawah perut dan menekan telapak tangannya di sana. Setengah mati Reza berusaha menahan gairahnya, “Apa bagian ini juga sakit?”


“Hemm.”


Reza memijit pelan, menggerakkan tangannya secara berputar di bagian bawah perut Galuh yang terasa kembung dan kaku. “Apa terasa lebih baik?”


“Hemm.” Galuh mengangguk, dengan mata setengah terpejam menahan rasa kantuk.


“Kasihan,” ucapnya sambil mengecup pipi Galuh dengan penuh sayang, wanitanya itu terlihat begitu rapuh. “Aku senang, setidaknya kami kaum laki-laki tidak harus mengalami hal seperti ini setiap bulannya.”


Galuh tersenyum tanpa membuka matanya, ia mengusap pipi Reza dengan sebelah tangannya. “Terima kasih, Abang sayang.”


“Tidurlah,” ucap Reza tanpa menghentikan gerakan tangannya memijit perut istrinya. Galuh kembali tersenyum, sekarang perutnya terasa jauh lebih baik.


Reza menghentikan gerakan tangannya saat dirasakannya Galuh sudah tertidur lelap, perlahan ditariknya tangannya dan matanya kini menerawang menatap langit-langit kamarnya.


“Aarghk!” Detik berikutnya, Reza menjatuhkan dirinya ke bawah tempat tidur dan mencoba melakukan push up dan hal lainnya untuk meredakan gairahnya yang tiba-tiba bangkit. Hingga tubuhnya berkeringat dan jatuh kelelahan, ia tersenyum dengan napas tersengal.


▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎