If Tomorrow Never Come

If Tomorrow Never Come
Bab 25. Because I love you



Galuh menggenggam erat ponsel di tangannya, menatap Reza dengan tatapan seperti seekor macan yang siap menerkam mangsanya. Napasnya naik turun dengan cepat, ia tak menyangka Reza sudah menghubungi keluarganya di kampung tanpa meminta izin darinya.


Galuh benci laki-laki itu karena sudah berbuat sekehendak hatinya. Dan Galuh menjadi marah, karena laki-laki itu sudah membuat keluarganya di kampung berharap banyak padanya.


“Ikam tahulah, Luh ai. Si Rika sampai betandik kehimungan mendangar ikam handak bulik kemari lawan si Reza. Semalam Reza menelpon kalo, bepandir lawan inya. Betakun, handak dibawakan oleh-oleh apa jar pebila datang kena. Si Rika laluai menjawab handak tas hanyar jarnya." (Kamu tahu, Luh. Si Rika sampai jingkrak-jingkrak kesenangan mendengar kamu mau pulang kemari sama Reza. Semalam Reza menelepon, bicara sama Rika. Bertanya, mau dibawakan oleh-oleh apa bila datang nanti. Rika langsung bilang mau tas baru)


Galuh mengentakkan kakinya kesal, mendelik sebal pada lelaki yang berdiri santai bersandar pada tiang kayu di dekatnya itu.


“Ma, kena lagilah Galuh telpon. Paket datanya parak habis, Ma ai. Kena Galuh disariki yang ampunnya hp, kelawasan pang amun bekesah.” Galuh bicara sambil berbisik di telpon. (Ma, nanti lagi Galuh telpon. Paket datanya hampir habis. Nanti Galuh dimarahi sama yang punya hp, kelamaan kalau cerita katanya)


Reza mengerutkan keningnya, mencoba mendekat. Penasaran pada apa yang sedang dibicarakan Galuh dan mamanya di telepon, sampai-sampai wanita itu harus berbisik-bisik saat berbicara.


“Haow, kenapa? Maka jar pengusaha kaya, paket data haja kada beisi!” terdengar sahutan mama dari seberang sana dengan nada suara meninggi. (Kenapa? Katanya pengusaha kaya, paket data saja tidak punya)


Galuh menutup mulutnya dengan sebelah tangan menahan tawa, ia sengaja mengaktifkan speaker hp milik Reza di tangannya agar terdengar oleh lelaki itu. Meski ia sendiri tak yakin Reza akan mengerti apa yang sedang dibicarakan dirinya di telepon bersama mamanya.


“Yang beisi harta itu abahnya, amun inya kada Ma ai. Makanya Mama jangan percaya, inya ketuju mengebuwaow.” Galuh sengaja membuat Reza tampak seperti orang biasa saja di mata sang mama, tapi sepertinya caranya itu tidak berhasil. Terbukti dari sahutan mamanya sebelum sambungan telepon berakhir. (Yang kaya itu bapaknya, kalau dia enggak. Reza itu suka koar-koar saja)


“Tapi kadapapa jua Luh ai, kada mungkin abahnya bediam aja. Pasti banyak warisannya kalo gasan anaknya, itulah nyamannya beisi besan sugih. Umpat sugih jua kena kita.” (Tapi gapapa juga, gak mungkin bapaknya diam saja. Pasti banyak warisannya untuk anaknya, itulah enaknya punya besan kaya. Ikut kaya juga kita)


Oh my God! Mamanya juga mulai berharap punya besan orang kaya. Ia melirik ke arah Reza, lalu menyerahkan ponselnya kembali.


Lelaki itu tersenyum miring ke arahnya, menyimpan ponselnya ke dalam saku celana panjangnya, lalu merogoh saku jaketnya dan mengacungkan buku kecil yang diambilnya ke arah Galuh.


Wanita itu membaca sekilas tulisan besar di bagian depan buku itu, bola matanya membesar. Rona terkejut tampak jelas di wajah Galuh, dan langsung melengoskan wajahnya.


“Aku ngerti kok apa yang kalian bicarakan tadi, karena Aku punya ini. Kamus bahasa Banjar! Sudah Aku siapkan jauh-jauh hari, karena Aku tahu keluargamu selalu menggunakan bahasa daerah kalian kalau berbicara dengan Kamu.” Reza terkekeh merasa diri menang, “Aku cuman penasaran saja tadi, karena Kamu bicaranya sambil bisik-bisik.”


Galuh menggigit bibirnya, pipinya bersemu merah. Malu ketahuan membicarakan keburukan lelaki itu. “Serius, Tuan ngerti omongan Aku barusan?”


Reza mengangguk kuat, “Aku ngerti, dan harus kutegaskan sama Kamu sekali lagi. Aku bukan hanya koar-koar ngaku orang kaya pada keluargamu di sana. Aku punya usaha sendiri, dan Aku mampu memenuhi kebutuhan hidupku sendiri juga istriku nanti tanpa bergantung pada harta yang dimiliki oleh orang tuaku. Aku akan berikan apa saja yang Kamu mau, karena Aku mampu melakukannya!”


“Karena Aku menyukaimu, jatuh cinta padamu. Dan Aku sedang tidak mencari karyawan baru apalagi teman kencan semalam. Aku hanya ingin menikah denganmu, dan Aku tidak menginginkan orang lain. Aku hanya ingin Kamu,” jawab Reza, dan itu memang benar adanya.


Reza tidak sedang berbohong, ia berkata sejujurnya. Ia jatuh cinta pada seorang Galuh Nanda, sejak pertama kali bertemu dengannya.


“Kenapa Tuan ingin sekali menikah denganku, ingin menghabiskan sisa hidupmu denganku. Apa maksud ucapan Tuan, apa ada sesuatu yang ingin Tuan sembunyikan dariku?” tanya Galuh menuntut penjelasan.


Pandangan mereka bertemu, Galuh menaikkan satu alisnya menunggu Reza menjawab pertanyaannya. Namun lelaki itu hanya tersenyum penuh arti padanya. “Because i love you. That’s all, there’s no other reason.”


Galuh terpaku di tempatnya berdiri saat itu, mata itu berkata jujur padanya. Tapi ia tidak memiliki rasa yang sama seperti laki-laki itu saat ini, mungkin tepatnya belum. Mungkin hanya sekedar rasa kagum semata, karena wajahnya yang tampan dan juga bentuk tubuhnya yang ideal. Selain itu, Reza juga mapan di usianya yang terbilang masih muda.


“Kita pulang,” ajak Reza kemudian, membuyarkan lamunan Galuh.


Reza lalu menggamit tangan Galuh dan menuntunnya menyusuri jalan. Ia berhenti sejenak, melepaskan pegangan tangannya kemudian merangkum bahu Galuh saat melewati kerumunan anak muda yang sedang bermain gitar membentuk lingkaran di dekat api unggun.


Detak jantung Galuh terdengar kencang di telinganya, ia hanya bisa diam menerima perlakuan Reza padanya. Kedua pipinya sudah memerah karena sentuhan tangan lelaki itu di bahunya.


Sulit untuk berpikir dalam jarak yang terlalu dekat seperti saat ini, karena tubuhnya bersentuhan dengan tubuh lelaki itu. Langkah kakinya yang panjang, membuat Galuh sedikit kesulitan mengikutinya.


Saat sudah melewati jembatan kecil yang berada di tepi jalan, secara otomatis Reza memegang lengan Galuh. Membimbingnya untuk menyeberangi jalan yang terlihat padat karena banyaknya kendaraan yang lalu lalang, menuju mobilnya terparkir.


Galuh menatap Reza yang berjalan di sampingnya, kedua tangan mereka saling bertaut. Dilihatnya bibir lelaki itu tersenyum lebar saat seorang pengemudi mobil menyapanya dan menggoda dirinya yang terlihat begitu protectif pada wanita di sampingnya.


Galuh tersipu malu menyadari hal itu, ia ingin melepaskan genggaman tangan Reza di tangannya. "Tuan, bisa lepasin gak tangannya. Aku bisa kok jalan sendiri tanpa harus dituntun seperti ini?"


Tapi laki-laki itu tak mengindahkan ucapannya, malah makin mempererat pegangannya dan memasukkan jemari Galuh kembali dalam saku jaketnya. "Seperti ini lebih baik, dan Kamu juga pasti lebih aman."


Saat Galuh menengadah ingin melancarkan protesnya, lelaki itu pun sedang menatap ke arahnya dan menyentuhkan keningnya ke dahi Galuh. Sikap Reza itu seolah menegaskan pada semua orang yang melihat mereka berdua, kalau wanita yang sedang berjalan bersamanya itu adalah miliknya. Dan Galuh menjadi gelisah karenanya.


••••••••