If Tomorrow Never Come

If Tomorrow Never Come
Bab 64. Yang pergi untuk selamanya



Reza berdiri di samping papanya, sambil tangannya terus mengusap-usap lembut punggungnya. Lelaki paruh baya itu tampak begitu terpukul melihat kondisi oma, dan berulang kali mengungkapkan penyesalannya.



Galuh memilih untuk menepi duduk sendiri di sofa, membiarkan ayah dan anak itu bicara berdua. Sesekali terdengar isak tertahan papa, lalu disusul kata-kata lembut menenangkan dari bibir Reza.


“Apa yang dokter katakan?” tanya papa, sambil terus menggenggam tangan oma yang terbaring dengan mata terpejam rapat di atas ranjang rumah sakit.


Napas oma turun naik dengan teratur, tak lagi cepat seperti sebelumnya. Bibirnya pun seperti sedang tersenyum, membuat mata yang memandang diliputi rasa haru tak terkira.


“Kau lihat, oma tersenyum pada kita.” Kata papa seraya mengecup tangan dalam genggamannya.


Setengah mati Reza menahan diri untuk tetap kuat berdiri di samping papa, berusaha tegar agar tak menangis di dekatnya meski air mata sudah menggenang di pelupuk mata.


“Dokter sedang melakukan upaya terbaik untuk proses kesembuhan oma, hanya saja kondisi tubuhnya yang lemah ditambah faktor usia menjadi hambatan. Dokter khawatir, oma tidak akan semudah itu sembuh seperti apa yang kita harapkan.” Ungkap Reza, mengatakan kondisi oma yang sebenarnya.


“Itu artinya, kondisinya memang sangat serius?”


Reza menghela napas, kembali mengusap pundak papa dan menjawab dengan suara serak. “Ya, kondisi oma memang sangat serius.”


“Ya, Tuhan.” Bahu papa terguncang hebat, dan pria itu menangis seperti anak kecil. Papa melepaskan pegangan tangannya, dan menutupi wajahnya yang berurai air mata.


“Papa yang salah, harusnya Papa menuruti apa kata omamu dan pulang sore hari. Papa lebih mementingkan pertemuan dengan klien ketimbang mendengarkan ucapan oma. Papa tidak tahu kalau omamu sedang tidak enak badan pagi itu, dan tetap memaksakan diri ikut pulang bersama Papa.” Ungkap papa dengan penuh penyesalan.


“Jangan terus menyalahkan diri papa sendiri, semua sudah terjadi. Sekarang kita hanya bisa berharap dan terus berdoa semoga oma bisa selamat dan kembali pada kita lagi.” Reza berusaha menenangkan papa, meski ia sendiri tidak yakin akan mampu melakukannya karena papa begitu larut dalam rasa sedih dan penyesalannya.


“Jika sesuatu yang buruk terjadi pada omamu, Papa tidak akan pernah bisa memaafkan diri Papa sendiri. Papa akan ikut bersamanya,” kata papa dengan suara lirih. Lelaki itu menurunkan tangannya, lalu meraih tangan lemah oma dan menempelkan di pipinya.


Reza tersentak mendengar ucapan papanya, dadanya tiba-tiba saja sesak. Bayangan buruk kehilangan orang-orang tersayang begitu saja terlintas di depan matanya. Apa yang akan terjadi dengan kehidupan mereka selanjutnya, bagaimana dengan Galuh dan anak dalam kandungannya jika ia tak kuat menghadapi rasa kehilangan yang tiba-tiba saja muncul dan menghantui pikirannya.


“Papa jangan bicara seperti itu, oma pasti akan sembuh.” Kata Reza, ia berjongkok di samping papanya dan papa hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


Sepanjang hari itu mereka menghabiskan waktu di kamar inap oma, papa bahkan menolak pergi dan beranjak dari sana meski untuk makan sekalipun dan terus bertahan di sisi oma.


Reza kewalahan membujuk papa, lelaki itu berkeras dengan keinginannya dan menolak apa pun yang ditawarkan Reza padanya.


“Bagaimana Aku bisa makan dengan tenang sementara ibuku terbaring lemah di depan mataku?” Tolak papa, saat perawat membantu berusaha membujuknya untuk makan demi kesembuhan papa sendiri.


“Kami sangat paham, apa yang Tuan rasakan saat ini.” Perawat itu tersenyum maklum, “Tapi, Tuan juga harus memikirkan kesehatan diri Tuan sendiri. Bukankah Tuan tidak ingin saat Ibu Tuan terbangun, lalu melihat Tuan dalam keadaan sakit dan lemah. Pasti ibu Tuan akan sangat sedih melihat Tuan seperti ini.”


Tapi laki-laki itu bergeming, dan tetap menolak untuk makan dan pergi dari sana sampai sang ibu terbangun dari tidurnya. Tak ada seorang pun yang bisa memaksanya. Hingga menjelang tengah hari, papa belum juga mau beranjak dari tempatnya.


Galuh terdiam cukup lama, ia bisa merasakan apa yang tengah dirasakan papa. Ia pun kesulitan menelan makanannya, meski perutnya lapar dan berontak minta diisi. Tenggorokannya serasa tercekat.


Tak terasa air matanya menetes di pipi, saat menatap pemandangan mengharukan di depan matanya. Papa duduk di kursi roda dan merebahkan kepalanya di dekat kepala oma, sambil bergumam seolah sedang mengajak oma bicara.


Reza akhirnya meminta pihak rumah sakit untuk memperbolehkan papanya dirawat dalam satu ruangan bersama oma. Melalui berbagai pertimbangan selain melihat kondisi oma yang harus terus mendapat pengawasan dari pihak keluarga, pihak rumah sakit meluluskan keinginan Reza.


“Sekarang Papa bisa terus dekat dengan oma. Papa makan, ya.” Reza kembali membujuk papa makan, tapi tetap saja papa menolaknya dan bersikukuh dengan keinginannya.


Tubuh papa terlihat melemah, wajahnya pucat sekali. Papa terus saja menolak untuk makan sampai melihat oma terbangun dari tidurnya. Tak ada yang tahu, apa yang tengah berkecamuk dalam hatinya saat itu. Tatapan matanya kosong dan terus tertuju pada ranjang oma yang ada di sebelahnya.


“Abang, apa yang harus kita lakukan?” suara Galuh pecah menjadi tangisan melihat keadaan dua orang yang disayanginya itu, ia tak bisa menutupi kesedihannya.


“Aku tidak tahu bagaimana papa bisa berubah keras seperti itu.” Reza menarik Galuh masuk dalam pelukannya, membenamkan wajah itu di dadanya. Raut cemas tampak jelas di wajahnya, dan Reza hanya bisa menghela napas berat.


“Semua pasti akan baik-baik saja, sayang.” Reza mengecup pucuk kepala Galuh, lengannya merengkuh kuat dan bibirnya terus membisikkan kata-kata lembut pengharapan.


Galuh menjauhkan wajahnya dari dekapan Reza, ia meraih tangan suaminya itu dan meletakkannya di perutnya yang masih rata. “ Mungkin papa mau makan setelah mengetahui kabar kehamilanku ini,” ucapnya penuh harap.


Reza mengangguk, mungkin saja. Ia menyambar setiap helai harapan yang ada, dan menemani Galuh berjalan mendekati papa dan duduk di sampingnya.


Galuh menghela napas sebelum mulai bicara dengan papa, lelaki itu tidur menyamping dan terus menatap ke arah oma.


“Papa, Galuh punya kabar baik untuk Papa.” Galuh meraih tangan papa dan membawanya ke perutnya. “Galuh hamil, Pa. Sudah jalan dua bulan, dan Papa akan segera punya cucu.”


Perlahan pupil mata itu bergerak-gerak, lalu kepala papa menoleh padanya. Tangan yang berada dalam genggaman Galuh itu bergetar, bibir papa berbisik parau. “Maafkan, Papa. Papa bersalah pada kalian semua.”


“Papa.” Galuh menggeleng kuat. “Tidak ada seorang pun yang akan menyalahkan Papa, semua sudah kehendak-Nya.”


“Gara-gara Papa, oma jadi seperti ini.”


Galuh tak tahan, ia memeluk papa. Reza berdiri di dekatnya terus mengusap lengan papanya.


“Mahen ... anakku.” Terdengar suara lirih yang mengejutkan semua orang. Reza langsung berpaling dan berhambur memeluk oma yang telah terbangun dari tidur panjangnya.


“Oma.” Suara tertahan Reza, tak dapat menahan rasa harunya. Sedari tadi ia menahan tangisnya, kini air matanya tumpah di dekat pipi oma.


Galuh melepaskan pelukannya, papa langsung bangkit dan duduk tegak di atas ranjang. Bola matanya kembali bersinar, ia turun dari ranjangnya dan berjalan mendekati tempat tidur oma.


“Ibu,” bisiknya masih setengah tak percaya. Oma tersenyum menatap padanya. Papa menangis, dan tak berhenti berucap syukur.


Dokter kembali datang memeriksa kondisi oma, ia tersenyum menangguk pada Reza. “Kami akan terus memantau kesehatan pasien, saat ini kondisinya masih belum stabil.”


“Terima kasih, Dokter.”


Satu jam kemudian oma kembali tertidur, dan papa memenuhi janjinya. Ia makan dengan lahap, Galuh sampai menangis dibuatnya.


Malam itu mereka menginap di rumah sakit, sambil terus memantau kondisi oma. Papa mulai terlihat lebih kuat dan mau turun dari ranjangnya.


Keesokan harinya Galuh terjaga saat mendengar suara erangan tertahan dari oma, dilihatnya Reza masih tertidur di lantai beralas selimut rumah sakit. Ia melompat dari atas sofa dan segera menghampiri tempat tidur oma.


“Abang, Papa!” seru Galuh memanggil Reza dan papa yang tengah berada di dalam kamar mandi.


Reza tersentak dari tidurnya, terbangun tiba-tiba dengan tubuh terhuyung berjalan mendekati ranjang oma.


Mata oma terbuka perlahan. Satu kali tarikan napas panjang oma, dan kepalanya pun jatuh terkulai.


“Oma, Oma bangun Oma!” Reza mendekatkan wajahnya ke hidung oma, dan memeriksa nadinya. Panik, ia memencet tombol di atas kepala oma.


“Oma.” Galuh mengangkat kedua tangan ke bibirnya yang pucat.


“Ibu!” suara teriakan papa terdengar pilu, ia sudah berada di dekat mereka begitu mendengar teriakan Reza menyebut nama oma.


Dokter dan beberapa perawat datang segera, memeriksa langsung keadaan oma. Tak lama kemudian dokter menutupi tubuh oma dengan selimut hingga dia atas kepalanya, lalu dengan suara bergetar mulai mengumumkan tanggal dan waktu kematian oma.


“Ibuu!” suara tangis papa menyadarkan Galuh kalau oma sudah benar-benar pergi meninggalkan mereka semua.


▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎