
Setelah mendapatkan rumah yang diinginkan untuk anak buahnya yang datang siang itu, Reza mengajak Galuh untuk jalan ke swalayan yang ada di kota untuk membeli beberapa peralatan dapur yang dibutuhkan.
“Tolong bantu Aku memilih barang-barang untuk keperluan anak buahku selama mereka berada di kota ini. Aku pikir mereka akan butuh beberapa alat masak seperti panci, piring dan gelas juga sendok garpu, ketel air untuk mereka membuat kopi.”
“Biar semua alat itu diambil dari rumahku saja, toh mereka juga tidak lama berada di tempat ini. Mereka bisa memakainya, dan Abang tidak perlu membelikan mereka alat yang baru lagi.” Galuh memberi saran, namun Reza menggeleng.
“Jangan, yank. Biar mereka pakai alat masak yang lain, Aku tidak berani jamin kalau barang-barang milik mamamu akan kembali dalam keadaan baik. Seperti yang sudah-sudah, panci peyot, ketel air yang tutupnya hilang, lalu piring yang tepinya retak. Huhh, lebih baik beli saja yang baru dan tidak perlu merusak barang lama milik mamamu.”
Galuh meringis mendengarnya, bukan hal aneh dan sepertinya sudah sering terjadi pada Reza karena ia tahu bagaimana tingkah laku anak buahnya itu.
“Oke, biar Aku bantu memilih.”
Galuh lalu mulai berkeliling ke dalam toko, mencari barang yang disebutkan Reza tadi. Saat Galuh memilih gelas kaca untuk minum anak buah Reza, lelaki itu langsung mengambil satu lusin gelas plastik tebal yang ada di rak. “Lebih baik pakai bahan plastik tebal ini saja, dari pada gelas kaca. Sekali pakai bisa langsung buang, karena mereka bukan orang yang suka mencuci barang yang sudah dipakai dan selalu mengambil yang baru.”
“kok?” Galuh bengong ketika Reza mengambil gelas kaca dari tangannya dan mengembalikannya lagi ke rak. “Katanya mau dibuat bikin kopi, apa tidak sebaiknya pakai gelas dari kaca?”
“Gak! Aku tahu bagaimana mereka, lebih baik pakai gelas plastik saja.”
“Hem, baik lah.” Galuh lalu beralih ke rak lain dan mencari piring makan, namun lagi-lagi Reza menggantinya dengan piring dari bahan milamin. “Kok diganti lagi?”
“Aku tidak ingin ada kaki yang terluka karena terinjak pecahan beling dari piring makan yang dipakai mereka. Lebih baik pakai yang ini saja, lebih aman.”
Astaga!
“Ya udah, mending Abang yang pilih sendiri!” rajuk Galuh dengan wajah cemberut.
“Gak usah cemberut gitu, entar manisnya ilang.” Reza mencolek dagu Galuh, namun wanita itu menghindar cepat dan menepis tangan Reza.
“Biarin juga, kan tinggal diganti. Cari aja lagi yang lain,” sahut Galuh asal.
“Hei, memangnya barang main ganti sembarangan. Gak lah, yank. Kamu itu bukan gelas kaca yang bisa diganti dengan gelas plastik, bukan pula piring kaca yang bisa diganti dengan piring milamin. Kamu itu tak tergantikan,” cetus Reza, membuat wajah Galuh merona malu.
“Rayuannya garing banget, ah. Masa di samain sama alat makan?” protes Galuh yang kontan saja membuat Reza tertawa.
Setelah selesai berbelanja, mereka segera pulang ke rumah paman dan setelah itu kembali ke rumah Galuh. Di sana sudah datang anak buah Reza yang berjumlah tiga orang, dan sedang berbincang dengan paman Hardi dan dua orang tukang lain yang sudah datang terlebih dahulu.
Reza berbisik pada paman Hardi, mengatakan kalau ia yang akan membayar upah tukang yang dua orang itu. Selain itu juga ia akan membantu membeli bahan-bahan lain dan mengganti lantai papan di rumah Galuh menjadi keramik. Dan Galuh nanti yang akan memilih keramik lantai apa yang cocok dengan seleranya.
“Kenapa harus diganti keramik, Bang. Bukannya banyak papan di kolong rumah mama? Pakai itu saja, lumayan ngirit biaya.” Galuh menolak usulan Reza, tapi sekali lagi Galuh kalah suara karena mama sudah terlebih dahulu setuju dan terlihat antusias saat mendengar usulan Reza yang ingin memasang keramik di lantai rumahnya.
Esok harinya, pagi-pagi Galuh dan Reza berbelanja di toko terdekat dengan rumahnya. Dan Reza tertawa lebar saat melihat Galuh kebingungan memilih berbagai motif yang terlihat menarik dipajang di dinding rak.
Reza turun tangan dan membantu memilih, dengan berbagai pertimbangan dan disesuaikan dengan warna dinding cat rumahnya akhirnya pilihan jatuh pada motif marmer yang berwarna kilap.
Mata Galuh melebar sempurna saat melihat jumlah yang harus dibayar Reza, ia terdiam cukup lama dan merasa tak enak karena lelaki itu begitu banyak membantu biaya perbaikan rumahnya yang tertimpa bencana.
“Aku kok kayak aji mumpung gini ya, mentang-mentang dekat sama cowok kaya jadi kayak manfaatin keadaan. Sumpah, Aku beneran gak enak sama Abang.” Ungkap Galuh di sela-sela perjalanan pulang. Ia benar-benar tak nyaman dengan Reza. Ia merasa seolah-olah memanfaatkan musibah yang menimpa rumahnya untuk menarik simpati Reza.
“Sstt, jangan ngomong kayak gitu. Aku gak suka dengarnya. Aku ikhlas bantu Kamu, yank. Andai Kamu ada di posisi Aku, Aku yakin Kamu juga pasti lakuin hal yang sama.” Ucap Reza seraya mengacak rambut Galuh sayang.
Galuh hanya tersenyum menanggapi, ia menatap Reza sesaat lamanya. “Terima kasih, Bang.”
Dalam waktu kurang dari satu minggu rumah Galuh sudah selesai pengerjaannya, lebih cepat dari waktu yang direncanakan semula. Sebagai rasa syukur dan terima kasih mama dan keluarga, mama menjamu semua orang yang sudah membantu dengan menyajikan makan malam istimewa. Masakan khas daerah yang menggugah selera, dan semua menikmatinya dengan suka cita.
Tiba waktu untuk pulang kembali ke kotanya karena tuntutan pekerjaan yang sudah ditinggalkan, Galuh ikut bersama Reza. Masih ada waktu tersisa dua hari bagi Galuh, sampai waktu cutinya berakhir dan ia masuk kerja kembali.
“Kalau kemarin Aku harus nyusul Kamu pulang kampung, sekarang giliran Kamu yang ikut denganku ke rumahku untuk bertemu dengan papaku.” Reza menuntun langkah Galuh saat mereka baru saja keluar dari bandara dan sedang menunggu mobil yang akan mengantar mereka kembali pulang ke rumah.
“Apa harus secepat itu? Kita bahkan baru sampai,” ucap Galuh menatap pada Reza.
“Kamu bisa beristirahat di rumahku, ada banyak kamar di sana. Dan Kamu bisa menginap bersama dengan tamu keluarga lainnya,” ucap Reza membuka pintu mobil yang sudah datang menjemput mereka, membuat pertanyaan yang ingin dilontarkan Galuh padanya harus tertunda sementara.
“Maksud Abang apa, barusan. Menginap bersama tamu keluarga lainnya, memang ada acara apa di rumah Abang?” tanya Galuh setelah mereka sudah berada di dalam mobil, tak dapat menahan rasa penasarannya lagi.
Reza mengerling penuh arti, “Tenang saja, bukan kejutan namanya kalau Aku kasih tau sekarang.”
Galuh menghela napas, ditatapnya wajah tampan di sampingnya itu yang kini tersenyum menatap ke arah depan. Entah kejutan apa yang akan menyambutnya nanti, tapi Galuh tak ingin menebaknya karena ia takut tidak sesuai dengan harapannya.
▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎