
Satu bulan berlalu, hari-hari yang dilalui Galuh selanjutnya menjadi jauh lebih mudah. Tak ada lagi laki-laki muda iseng yang datang ke konter dan menguji kesabarannya dengan segala macam model pesanan yang diinginkannya.
Semua kembali seperti biasanya, Galuh kembali disibukkan dengan pekerjaannya. Apalagi menjelang akhir tahun seperti sekarang ini, ia harus bekerja ekstra. Hampir sebulan full Galuh menghabiskan waktunya dengan lembur kerja dari pagi hingga malam, begitu terus setiap harinya.
Tak ada waktu berleha-leha sepulang dirinya bekerja, apalagi memikirkan soal asmara seperti yang sering kali didengungkan Meldy padanya. Sahabatnya itu kini terlihat begitu antusias menyambut hari pernikahannya. Wajahnya semakin bersinar. Tidak seperti waktu pertama kali mendapat berita kalau dirinya akan dinikahkan dengan anak ustaz Hadi.
Rupanya panah asmara sudah menancap di hatinya, ia jatuh cinta pada sikap manis Zaki calon suaminya yang beberapa waktu lalu sempat datang menemuinya di konter. Mengejutkan Meldy dengan berlagak sebagai seorang pembeli, lalu tiba-tiba memberi Meldy rangkaian bunga.
“So sweat!” Luna menatap meja di seberang mereka di mana Meldy dan Zaki duduk berdua menikmati makan siang. “Makin hari mereka berdua terlihat makin mesra, dan Meldy sudah benar-benar melupakan kita.”
Luna menarik napas, tangan kirinya menopang dagu sementara tangan kanannya masih mengaduk es krim di dalam gelas.
“Kalau Kamu pengen kayak Meldy, buruan cari pasangan.” Galuh acuh, masih fokus menyantap makan siangnya.
Hari itu mereka bertiga makan siang di luar, tepatnya di resto yang ada di seberang gedung mal tempat mereka bekerja. Tidak sengaja malah bertemu dengan Zaki yang juga sedang menikmati makan siang di sana. Jadilah Meldy bergabung bersama calon suaminya, meninggalkan Luna dan Galuh di meja belakang.
“Dih, apaan sih. Lo tuh yang kelamaan jomblo!” Luna menoleh, lalu menggeleng tak percaya menatap makanan di hadapan mereka yang sudah habis tak bersisa. “Astaga, si Galuh! Kentang goreng sama perkedelnya Lo abisin semua. Lo kalap apa doyan, sih?”
Galuh mesem, “Nih masih ada kalau Kamu mau?”
Galuh mengulurkan potongan kentang terakhir di tangannya ke hadapan Luna yang langsung memundurkan wajahnya. “Nggak mau!”
Galuh terkekeh seraya menyeka mulutnya dengan selembar tisu di tangan. Ia menggeser piring kosong ke tengah meja, tangannya kini beralih meraih mangkuk berisi es campur miliknya yang masih utuh.
“Sayang makanan dianggurin dari tadi juga. Kamu bukannya makan, malah sibuk melamun liatin Meldy!” kilah Galuh, sembari menyeruput minumannya.
“Gue sebenarnya heran lihat Lo, Luh. Makan banyak, tapi body Lo tetap aja langsing. Lo cacingan?” Luna menaikkan satu alisnya.
“Sembarangan!” sentak Galuh, bibirnya mencebik tak suka. “Asal Kamu tau aja, Aku rutin minum kombantrino tiga bulan sekali tauu!”
“Dih, pantes aja! Hahaha.” Keduanya tertawa bersama, Meldy sampai menolehkan wajahnya mendengar suara berisik di belakangnya.
Galuh mengibaskan tangannya, memberi kode pada Meldy untuk mengabaikan mereka berdua. Ia kembali melanjutkan acara makannya, mengaduk perlahan es campur yang masih menggunung di dalam mangkuk. Satu suapan besar potongan buah segar siap masuk ke dalam mulutnya.
Dan tiba-tiba saja, Galuh melihat lelaki itu lagi. Berdiri di ambang pintu sembari mengedarkan pandangannya, tersenyum sejenak lalu melangkah memasuki ruangan. Seketika Galuh mendadak terdiam, ia taruh kembali sendok es di tangannya dan matanya mulai memperhatikan pria yang tengah berjalan tepat ke arah mejanya.
Ada yang berbeda dari penampilan lelaki itu kali ini. Ia tidak lagi memakai jaket hoody, topi dan masker seperti biasanya. Lelaki itu mengenakan setelan jas yang tampak mahal dibalik kemeja putihnya yang rapi, melekat pas di tubuhnya yang ramping berisi. Rambut hitamnya yang tebal dan agak bergelombang tertata rapi. Kesan mewah memancar dari dirinya. Harus diakui, lelaki itu terlihat sangat tampan. Galuh merasakan jantungnya berdebar-debar kencang.
Semua wanita memperhatikan Reza yang berjalan mendekat dengan penuh percaya diri dan berhenti tepat di depan meja Galuh. “Hai, cewek.” Reza menyapa dengan nada riang, seringai tipis tampak di wajahnya. “Apa kabar kalian, sudah lama tak bersua.”
Galuh meneguk salivanya dengan susah payah, kedua tangan Reza berada di atas meja. Galuh bisa melihat dengan jelas kuku jarinya yang panjang dan ramping, terawat dengan baik. Galuh juga bisa mencium aroma segar menguar dari tubuh lelaki di dekatnya itu.
Teringat saat Reza merengkuh pinggangnya dan wajah lelaki itu begitu dekat dengannya. Tanpa dapat dicegah, pipinya memerah dan itu terlihat jelas oleh Reza yang langsung mengulum senyum. Seolah ia bisa menebak apa yang sedang dipikirkan wanita muda di hadapannya itu.
Luna yang pertama kali membuka suara, “Ehm, kabar kami baik. Mas juga kelihatan sehat, lebih fresh. Apa mau makan siang di sini juga?” tanya Luna sembari melirik Galuh yang masih diam di tempatnya.
Luna tertawa mendengarnya, “Ya gak ada lah, Mas. Di sini cuman sedia ayam goreng, sama kentang. Kalau mau makan menu model gitu adanya di kafetaria mal.”
Reza meringis, “Iya juga, sih. Lupa gak perhatiin di depan!”
“Tapi, ngomong-ngomong nih ya. Mas kenapa jadi samaan gitu sama Galuh, suka sama menu yang satu itu. Gak kapok kemarin sempat mules?” tanya Luna sambil menyembunyikan tawanya.
“Kapok sih, enggak. Malah bikin nagih. Kepingin coba lagi dan lagi,” sahut Reza sambil melirik pada Galuh. “Temannya lagi sakit gigi, tumben diem aja?”
Galuh masih diam saja dan mulai memasang sikap waspada. Sedari tadi ia hanya jadi pendengar, tak ingin ikut menanggapi. Lelaki di depannya itu sepertinya sudah mulai memasang perangkapnya. “Ish, Galuh!” bisik Luna mengejutkan Galuh, sembari mencubit gemas paha sahabatnya itu. “Ngapain bengong! Tuh, ditanya.”
“Aow!” Galuh mengaduh, mengusap pelan pahanya yang dicubit Luna. “Apaan sih, Lun!”
Reza tertawa melihatnya, “Kirain sakit gigi, diem aja dari tadi.” Ia melirik minuman di dalam mangkuk yang ada di depan Galuh, masih utuh dan sepertinya belum dimakan sama sekali.
Dan seperti sebelum-sebelumnya, Reza memulai aksinya lagi. Ia tarik mangkuk es campur milik Galuh ke hadapannya, dan dengan santainya mulai menikmatinya. Satu suap, dua suap, hingga hanya tersisa airnya saja.
Kan, kan. Dia mulai lagi! Galuh tak bisa berbuat apa-apa untuk mencegah lelaki itu menyantap habis es campur miliknya. Ia gantian mencubit lengan Luna yang hanya mengaduh kecil, namun kemudian tertawa melihat tingkah Reza yang menurutnya tidak biasa.
“Jangan protes, dan gak usah banyak tanya kenapa Aku suka sekali menyantap setiap makanan yang Kamu pilih.”
“Terus Aku harus bilang wow gitu?” cetus Galuh mengedikkan bahunya. “Kalau di mejaku ada nasi goreng sea food, mie ayam, orek tempe, apa Kamu mau makan juga?”
“Why not, Aku suka makanan yang Kamu sebutkan itu semua. Oh ya, satu catatan buat Kamu. Nasi gorengnya pakai ati sama telur saja. Aku alergi sea food!” ucap Reza memelankan suaranya, dan Galuh langsung membulatkan mulutnya.
Luna tertawa lepas, melihat tingkah Reza yang seolah tidak peduli dengan tatapan orang di sekitarnya.
“Ya Tuhan, mimpi apa Aku semalam. Bisa ketemu lagi sama cowok model kayak yang satu ini!” bisik Galuh dalam hati.
Reza mengusap bibirnya dengan sapu tangan yang diambilnya dari saku bajunya, ia tersenyum pada kedua wanita di hadapannya dan menatap lebih lama pada Galuh dari yang seharusnya. Membuat debar di jantung Galuh makin kencang, hingga membuat Luna berdeham melihatnya.
“Terima kasih untuk minumannya, lain kali Aku akan menjamu kalian sebagai gantinya.”
Reza beranjak dari kursinya, tersenyum kepada mereka berdua lalu berbalik dan berjalan menuju pintu dan berhenti di depan meja kasir. Ia merogoh dompet dari saku celana panjangnya, mengeluarkan beberapa lembar uang dan menunjuk ke arah meja Galuh. Selanjutnya ia pergi dari sana meninggalkan Galuh yang masih bengong melihat tingkahnya.
“Ini cuma mimpi, kan? Ini gak benar-benar terjadi, kan?” Luna tidak bisa menahan diri, ia beranjak ke meja kasir dan bertanya pada wanita muda yang berjaga di sana. Lalu tak lama kemudian ia kembali sambil membawa nota kecil di tangannya.
“Weh, doi traktir kita lagi. Malah bungkusin es campur lagi buat Lo!” ucap Luna memperlihatkan nota di tangannya.
“Aku heran, itu cowok maksudnya apa sih. Tiba-tiba muncul terus ngabisin minuman Aku. Kenapa gak pesan sendiri coba?”
“Udah, lain kali kita tanyain dia kalau ketemu lagi. Sekarang mending balik kerja, tinggal lima belas menit, kuy!” ajak Luna menggamit lengan Galuh meninggalkan pertanyaan yang masih bersemayam dalam hati mengingat sikap Reza padanya.
▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎