
Pagi itu langit terlihat begitu cerah, tidak seperti kemarin. Tak ada awan gelap yang menghalangi. Meski begitu, tanah di tempat itu tampak masih basah dan menyisakan banyak genangan air di tiap-tiap ruas jalan yang dilewatinya.
Sepanjang perjalanan Galuh cermat mengamati setiap bangunan rumah warga yang dilewatinya, tersenyum tipis melihat kesibukan para ibu yang menjemur pakaian di atas terpal yang digelar di depan halaman rumah mereka. Belum lagi tali nilon yang dibentang di tiang-tiang rumah untuk hal yang sama.
Tiba di depan sebuah mulut gang yang berada persis di belokan jalan utama, taksi yang mengantar Galuh pun berhenti. Suara burung-burung kecil yang terbang rendah di atas portal kayu panjang, ramai saling bersahutan menyambut kedatangannya. Suatu pemandangan yang jarang sekali ditemuinya saat berada di kota.
“Kenapa tidak masuk sekalian saja, neng? Biar Saya antar, kasihan kalau harus jalan jauh.” Sopir taksi itu menundukkan wajahnya melihat portal yang berada di depannya.
Sebuah portal kayu memanjang yang sepertinya sengaja dipasang rendah dan hanya berjarak lima meter saja dari tepi jalan raya. Menjadi penanda agar mobil besar tidak sembarangan masuk ke area tersebut.
“Gapapa, Pak. Biar turun di sini saja, sudah dekat kok rumahnya. Sekitar lima puluh meteran saja,” tolak Galuh halus, ia lalu turun dari taksi sembari menyeret kopernya menuju rumahnya.
Galuh menjatuhkan kopernya di teras depan rumahnya yang masih terlihat berdiri kokoh, lalu menatap tak berkedip pada bangunan tua yang memiliki banyak tangga dan kolong di bagian bawah rumah. Cahaya terang menyilaukan mata berasal dari ruang tamu rumahnya yang atapnya menganga terbuka.
“Aargh!” Galuh tiba-tiba saja merasakan dadanya dipenuhi oleh rasa sesak, terlebih lagi saat melihat ke sekelilingnya.
Angin kencang tidak hanya menghancurkan atap rumahnya, tapi juga bangunan sekitarnya. Gudang sebelah rumah yang telah beralih fungsi menjadi warung kecil-kecilan tempat mama berjualan penganan pun tak luput menjadi korban, ikut hancur tertimpa pohon rambutan yang roboh.
Rumahku istanaku, sepertinya dua kata itu saat ini tak berlaku untuk rumahnya. Istana yang menjadi saksi kenangan masa kecil hingga usia remajanya itu harus segera mendapat perbaikan.
Suara seorang lelaki yang menyanyikan beberapa bait lagu hit milik Ronan Keating, berkumandang di dalam rumah. Galuh terpaku sesaat lamanya, karena lagu itu adalah lagu kesukaannya dan lelaki itu menyanyikannya dengan sangat indah.
Sometimes late at night, I lie awake and watch her sleeping. She’s lost in peaceful dreams, so I turn out the light and lay there in the dark. And the thought crosses my mind, if I never wake in the morning. Would she ever doubt the way I feel, about her in my heart.
Kadang saat larut malam, Aku terjaga lalu memandang dirinya terlelap. Dia terbuai dalam mimpinya yang damai, jadi kupadamkan lampu dan terdiam dalam gelap. Dan terlintas di pikiranku, jika Aku tak pernah terbangun esok pagi. Akankah dia meragukan perasaanku, tentang dia di hatiku.
If tomorrow never comes, will she know how much I loved her. Did I try in every way to show her every day, that she’s my only one. And if my time on earth were through, and she must face this world without me. Is the love I gave her in the past, gonna be enough to last.
Jika tak pernah ada hari esok, akankah dia tahu betapa besar aku mencintainya. Sudahkah kucoba semua cara untuk menunjukkan itu padanya setiap hari, bahwa dialah satu-satunya. Dan jika waktuku di dunia ini telah habis, dan dia harus menghadapi dunia ini tanpa Aku. Apakah cinta yang kuberikan padanya di masa lalu, akan terus cukup hingga akhir nanti.
“Assalamualaikum, halo, sampurasun, kulonuwun ...” panggil Galuh sambil melangkah hati-hati, berpegangan pada tiang tangga di dekatnya.
“Halo, loha, hola ... siapa di dalam sana?” panggil Galuh lagi.
Krieet! Galuh perlahan mendorong pintu di depannya, Galuh berharap orang di dalam sana bukan orang asing baginya. Matanya memindai sekelilingnya, lalu terkesiap saat melihat pemandangan di depannya.
“Siapa Kamu? Apa yang sudah Kamu lakukan di rumahku, berani sekali menyentuh barang-barang milikku!” sembur Galuh berang, menatap lelaki yang baru saja keluar dari dalam kamarnya dan kini berdiri saling berhadapan dengannya.
Lelaki itu bertelan jang dada, membawa keranjang plastik besar berisi barang-barang pribadi milik Galuh. Tersenyum miring dan menatap Galuh dengan sorot mata penuh selidik.
“Kalau Aku tidak salah menebak, Kamu pasti Galuh. Anak perempuan sok jagoan yang suka sekali mengacaukan rencana kami mengerjai guru di kelas.” Lelaki itu dengan cueknya, menaruh keranjang plastik di tangannya ke atas lantai lalu menyambar baju kaos hitam miliknya yang terjuntai di atas kursi ruang tamu dan memakainya di depan Galuh.
Kali ini ganti Galuh yang mengerutkan dahinya, mencoba mengingat-ingat siapa lelaki di depannya itu. Setahunya teman yang sering mendapat hukuman di sekolah karena iseng mengerjai guru mereka saat hendak duduk mengajar di kelas itu hanya Ivan songong dan Narendra.
“Kamu Rendra yang ...”
“Tepat sekali, seribu buat Anda Nona.” Rendra langsung mengeluarkan selembar uang ribuan dari saku celananya. “Jika tebakan kedua berhasil dijawab dengan benar, akan ada hadiah besar menanti.” Rendra mengedipkan sebelah matanya dengan gaya jenaka.
“Ish!” Galuh memutar bola matanya, lalu mengibaskan tangan di depan Rendra dan berlalu pergi sambil membawa keranjang berisi barang-barang miliknya.
“Bukannya Aku mau lancang mengambil tanpa ijin barang milikmu, tapi itu semua atas perintah paman dan mamamu. Dan beliau baru saja pergi sejam sebelum Kamu datang,” beritahu Rendra pada Galuh.
Gubrak!
Hampir saja Galuh copot jantungnya kala mendengar papan kayu yang berada di lantai dapur rumahnya patah akibat kucing yang berlarian masuk ke dalam rumahnya.
Brak, krakk!
Terdengar bunyi keras papan kayu yang kembali patah, tapi kali ini suaranya berasal dari depan rumah. Galuh memalingkan wajahnya, dan detik itu juga langsung melongo karena di ambang pintu rumahnya sudah berdiri lelaki tampan yang dikenalnya datang bersama mamanya.
▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎