
Suara alarm tepat jam enam sore yang berasal dari ponsel miliknya berbunyi nyaring, menyentakkan Galuh dari tidurnya yang sekejap. Cahaya terang yang menyorot dari bohlam lampu yang menempel pada plafon kamarnya tampak menyilaukan, membuat matanya yang bulat dihiasi bulu mata lentik itu mengerjap berulang. Galuh bangkit dari atas ranjang, menguap panjang lalu tertegun sesaat menatap bayangan dirinya di cermin.
Rambutnya yang kusut menyembul keluar dari ikatannya. Ia masih mengenakan seragam kerjanya, dan belum berganti sama sekali karena langsung merebahkan diri setelah meminta Reza pulang dan meninggalkan rumahnya sore tadi.
Deg! Jantungnya mendadak berdegup lebih cepat dan pipinya memerah ketika nama lelaki itu melintas dalam pikirannya, dan rekaman kejadian di teras rumahnya berputar kembali dengan jelas layaknya sebuah siaran tunda.
“Hufh, enyahlah Kau dari pikiranku. Lupakan, karena hanya akan menjadi pengganggu saja!” Galuh menangkup wajahnya dan menepuk kedua pipinya berulang. Sakit!
Helaan napasnya terdengar berat, mata itu tampak redup dan wajah yang biasanya ceria dan penuh semangat hidup itu terlihat muram seperti kehilangan cahayanya.
“Jangan biarkan dia senang dan merasa menang, karena sudah berhasil merampok ciuman pertamamu. Mengungkapkan isi hatinya dengan alasan mengatas namakan cintanya, bukan berarti hal itu sebagai sebuah pembenaran atas tindakan yang sudah dia lakukan padamu. Kamu harus membalas perbuatannya padamu, Galuh Nanda! Buat dia menyesal dan memohon-mohon maaf darimu!” suara lantang dari bilik hatinya yang dipenuhi hawa amarah menyeruak memenuhi ruang pendengarannya.
Galuh menyeringai, sudut bibirnya terangkat membayangkan pembalasan apa yang pantas ia lakukan untuk membalas perbuatan Reza padanya.
“Aow!” Keningnya langsung mengerut ketika merasakan nyeri pada bagian bibirnya.
Galuh menyapukan lidahnya, menyentuh luka kecil kemerahan di bibir bawahnya. Sepertinya itu bekas gigitan Reza tadi yang menciumnya dengan bernafsu.
“Jangan gegabah dalam bertindak, hanya akan membuatmu menyesal nanti. Mungkin memang benar apa yang dia ucapkan padamu, kalau dia jatuh cinta padamu dan ingin menunjukkan perasaannya itu padamu. Hanya saja ia memilih cara yang salah karena didorong oleh rasa cemburunya melihatmu akrab bersama pria lain, hingga akhirnya malah menyakiti dirimu. Beri dia kesempatan untuk menunjukkan rasa penyesalannya dengan memberinya maaf dan kesempatan untuk memperbaiki diri.” Suara lain dari bilik hati yang berbeda ikut menyuarakan pendapatnya.
Galuh mengembuskan napas, menutup mata dan kedua telinganya rapat berharap tidak akan mendengar lagi suara-suara lain yang hanya membuat pikirannya tidak tenang. Kumandang azan magrib mulai terdengar, Galuh perlahan membuka matanya kembali dan bergegas keluar menuju kamar mandi untuk segera membersihkan diri.
Kucuran air dingin membasuh kulit tubuhnya, menimbulkan kesegaran baru. Wajahnya kembali cerah meski sinarnya belum sepenuhnya kembali.
Galuh sudah berganti pakaian rumahan yang lebih santai, celana pendek sebatas paha dan kaos longgar lengan pendek bergambar angry bird dengan rambut yang digelung tinggi membentuk ekor kuda. Ia menyalakan televisi, memutar chanel tv yang menayangkan pertandingan olahraga voli kegemarannya sebelum beranjak ke dapur membuat mi goreng dan telur ceplok untuk makan malamnya.
Galuh meringis menatap kulkas miliknya yang berisi banyak olahan makanan jadi, yang awet dan tahan lama memenuhi freezer. Hasil buatan tangan mamanya yang sengaja dibawa dari rumahnya di kampung untuk makan sehari-hari. Hanya tinggal memanaskan saja, namun Galuh enggan melakukannya saat ini. Ia tidak memiliki nafsu makan yang besar bila seorang diri di rumah seperti saat ini, lain cerita kalau kedua sahabatnya itu datang dan menginap bersama.
Galuh menonton televisi sambil menikmati makanannya, sesekali mengetik di ponselnya membalas chat dari Meldy yang sedang cuti pulang kampung dan menanyakan kabarnya.
Drettt! Ponselnya bergetar. Galuh menghentikan suapannya, mengangkat telepon masuk dari Luna yang mengajaknya makan di luar sekaligus jalan-jalan.
“Ini Aku lagi makan,” sahut Galuh lalu mengubah panggilan telepon menjadi vc.
“Mi lagi mi lagi, gak bosan apa. Lama-lama keriting itu usus kalau tiap hari makan mi. Gak ada yang lain apa ya? Lo itu irit apa pelit, sih.”
Galuh hanya tertawa menanggapi ucapan Luna, ia memilin mi dengan garpu di tangannya dan menyuapkannya ke dalam mulut. Satu suapan terakhir, makanan di hadapannya habis tak bersisa. “Malas masak yang lain, Lun. Banyak kok bahan makanan di kulkas, tapi Aku memang lagi pengen makan ini.”
“Ayo dong, bestie. Temani Aku makan di luar, kita cari tempat makan yang enak sambil mantai. Mau ya?” rayu Luna.
Galuh melirik jam di dinding, pukul tujuh malam. Lalu beralih menatap Luna yang menunggu jawabannya. “Oke deh!”
“Yes! Aku otw jemput Kamu sekarang.”
“Iya, Aku tunggu.”
Lima belas menit kemudian Luna sudah sampai di halaman rumah Galuh dengan mengendarai motornya, sementara Galuh sudah siap menunggu di teras rumahnya.
“Makan di mana, Lun?” tanya Galuh melangkah ke halaman rumah.
“Aku pengen makan pepes kepiting yang ada di dekat bandara, sampingnya kan ada kafe tuh.”
“Senyiur maksudmu? Itu kan lumayan jauh dari sini, Lun.”
“Iya. Kan bisa santai makan di sana, Luh. Tempatnya enak di pinggir pantai, sekalian bisa cuci mata lihat cowok cakep.” Luna terkikik geli.
“Dih, modus!” Galuh mencebik. “Tunggu, Aku ambil jaket dulu.”
“Ya, makan malam sekalian cuci mata. Kali aja nemu jodoh di sana, kecantol sama bule ganteng terus diajak nikah. Ahhaha!”
Galuh tersenyum mesem, ia sudah siap dengan jaket tebalnya karena tempat yang akan mereka tuju berada di tepi pantai. Pasti dingin sekali di sana, apalagi malam seperti saat ini, beruntung langit cerah, banyak bintang di atas sana. Setidaknya ia bisa melupakan sedikit masalahnya dengan Reza. Ah! Kenapa nama itu enggan menjauh dari pikirannya.
Sepanjang perjalanan Luna tak berhenti bicara, dan Galuh jadi pendengar yang baik dan sesekali menimpali canda sahabatnya itu. Sedikit banyak ia jadi terhibur dengan cerita-cerita lucu Luna. Hingga tak terasa mereka sampai di tempat yang di tuju. Luna memilih parkir di bagian ujung dekat arah jalan ke pantai, dan memilih meja kosong yang ada di luar hingga mereka tak perlu berjalan jauh jika ingin ke pantai.
Seperti dugaan Galuh sebelumnya, kafe itu ramai dipadati pengunjung yang kebanyakan adalah para pekerja asing yang bekerja di perusahaan-perusahaan asing yang banyak tersebar di sekitar bandara, tujuan mereka ke sana tentunya untuk menikmati kopi lokal juga mencicipi pepes kepiting yang merupakan menu andalan kafe yang sudah terkenal enak sejak lama.
Sementara itu Reza yang duduk menyendiri di meja terpencil jauh dari keramaian pengunjung Senyiur kafe yang datang malam hari itu, tengah menikmati secangkir kopi seperti biasanya sembari menatap keindahan langit malam juga deburan ombak pantai.
Pikirannya masih tertuju pada Galuh dan kejadian sore tadi, bagaimana ia dengan mudahnya lepas kendali dan tidak bisa menahan diri. Ia begitu bernafsu dan seolah ingin menguasai wanita itu, marah karena melihatnya bersama lelaki lain.
Ia merasa bukan seperti dirinya selama ini, dan Reza merasa begitu bersalah melihat ketakutan di mata bulat itu saat menatap dirinya. Wanita itu sudah membuat akal sehatnya hilang. Meski harus dibenci seumur hidupnya sekalipun, Reza tetap ingin mengulang menyesap rasa bibir ranum Galuh yang membuatnya semakin menginginkan wanita itu jadi miliknya.
Reza seolah tenggelam dalam pikirannya tentang Galuh, hingga ia tak menyadari kehadiran dua sahabatnya di tempat itu. “Apa Kamu lupa kalau Kamu yang mengundang kami berdua untuk datang ke tempat ini?” tanya Aldy menatap heran Reza, sebelum menarik salah satu kursi di hadapan Reza dan menjatuhkan bokongnya di sana.
“Tidak sama sekali,” jawab Reza datar.
“Ada apa denganmu, tumben kusut?” tanya Danil, ia lalu melambaikan tangan memanggil pelayan dan memesan minuman yang sama dengan Reza.
“Nothing!” jawab Reza singkat.
“Ck! Apa kalian berdua ini memang jodoh kali yak, selalu saja berada di tempat dan waktu yang sama.” Aldi mencondongkan tubuhnya, menatap ke arah pintu luar di mana dua orang wanita muda sedang menikmati makanan di depannya.
“Maksud Lo?” Danil mengerutkan kening, menatap Aldi dengan sorot mata bertanya yang kentara.
“Coba saja Lo lihat ke arah pintu luar,” ujar Aldy mengarahkan dagunya. Penasaran, Danil mengikuti dan langsung menepuk keras bahu Reza yang sedari tadi hanya diam dengan mata terus mengarah ke pantai.
“Apa sih!” Reza mendelik tak suka, seraya memegangi bahunya.
“Noh, lihat. Cewek Lo lagi maem sama sohibnya!” tunjuk Danil ke arah meja Galuh dan Luna. “Lo samperin sono.”
Seketika Reza terdiam, menatap lurus ke arah Galuh. Seolah merasakan kehadiran Reza di sana, Galuh pun menoleh. Tatapan keduanya bertemu, Galuh menelan ludah dengan susah payah dan dengan cepat memalingkan wajahnya ke arah lain. Suara langkah kaki mendekat membuatnya mengangkat wajah, dan di hadapannya kini berdiri Reza dengan mata terus menatap ke arahnya.
▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎