If Tomorrow Never Come

If Tomorrow Never Come
Bab 13. Penasaran



Galuh menyeret langkahnya cepat menjauhi gedung olahraga di belakangnya itu sambil menenteng kembali kotak sepatu di tangannya. Keinginannya hanya satu, segera menghilang dari sana karena tak ingin berurusan lagi dengan lelaki bernama Reza yang sudah membuat dirinya tampak menyedihkan hari ini.


Menangis di depan banyak orang bukanlah gayanya, argkh! Galuh merutuk gusar dalam hati. Merasa malu karena tidak dapat menahan emosinya dan laki-laki itu yang menjadi penyebab semuanya.


Galuh mencintai pekerjaannya, di sana ia bertemu banyak orang dan mengenal dua sahabat karibnya Luna dan Meldy layaknya saudara. Ia gadis pekerja keras dan selalu memberikan yang terbaik untuk para pelanggannya.


Tidak pernah sekalipun berniat untuk mengecewakan mereka. Tapi kalau ia terus-terusan bertemu dengan pelanggan macam Reza, yang ada cepat atau lambat ia akan benar-benar kehilangan pekerjaannya. Setiap hari akan terus mendengar lagu cinta dari pak Susilo yang suka sekali mengawasi cara kerjanya.


“Galuh!” Suara teriakan lantang yang mulai akrab di telinganya itu, mampu membuat Galuh menghentikan langkah kalinya saat itu juga. Sambil mengentakkan kaki kesal, Galuh berbalik dan menatap marah pada Reza yang berlari ke arahnya.


“Bisa Aku bicara denganmu sebentar saja,” pintanya setelah jarak mereka cukup dekat.


Galuh mendengkus, “Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, urusan kita sudah selesai. Sepatu yang Kamu minta juga sudah ditukar dan mendapat gantinya.”


“Bukan seperti itu,” kilah Reza sambil mengusap tengkuknya. “Aku tahu itu sudah selesai.”


“Terus, mau apa lagi? Masih belum puas melihat Aku menanggung malu menangis di depan semua orang? Berhenti mengikutiku atau Aku tidak akan segan-segan lagi melemparmu dengan sepatu ini!” sembur Galuh murka, sembari mengangkat kotak sepatu di tangannya bersiap untuk melempar.


“Hei, Kamu marah?” Lelaki itu menyeringai, bukannya menghindar ia justru melangkah semakin dekat. Dan sebelum Galuh menyadari apa yang terjadi selanjutnya, tangan kuat lelaki itu sudah mencekal pergelangan tangannya dan mengambil alih kotak sepatu di tangannya. Galuh mendelik menyadari kotak di tangannya dengan mudah sudah berpindah tempat.


“Lain kali jika Kau ingin melemparkan sesuatu padaku, sebaiknya kau gunakan sepatu larimu.” Reza mengarahkan dagunya ke bawah pada sepatu yang dikenakan Galuh. “Dan pastikan tanganmu mampu melakukan lemparan dengan baik!” dengus lelaki itu dekat sekali dengan wajah Galuh, hingga embusan napas kasarnya terasa hangat menyentuh keningnya.


“Le-paskan tanganku!” sentak Galuh gugup, dengan nada suara bergetar. Namun cekalan Reza di tangannya tidak mengendur bahkan semakin erat hingga Galuh meringis. Dalam jarak yang begitu dekat seperti saat ini, Galuh dapat melihat dengan jelas wajah lelaki di hadapannya itu.


“Wajahmu memerah, dan Kamu terlihat gugup saat berdekatan denganku seperti ini.” Reza menarik tangan Galuh dan merapatkan tubuhnya, matanya bersinar menggoda menatap tepat di kedalaman mata gadis di hadapannya itu.


“Kenapa, apa ini pertama kalinya seorang lelaki memegang tanganmu dalam jarak dekat seperti yang kita lakukan saat ini? Atau Kamu yang begitu terpesona dengan ketampananku sampai-sampai Kamu tidak bisa berkata-kata lagi?” imbuhnya lagi.


“Breng sek! Laki-laki kurang ajar, mes sum, lepaskan tanganku!” Galuh menyentak kuat tangannya hingga terlepas dari cekalan tangan Reza. Dan sebelum lelaki itu sempat menghindar, lutut Galuh naik dengan cepat dan tepat mengenai selang kangan Reza hingga membuatnya jatuh terduduk dan mengaduh kesakitan.


“Lo terima pembalasan dari Gue. Awas aja, sekali lagi Lo macam-macam sama. Gue jadiin pepes itu burung!” ancam Galuh, lalu meraih kotak sepatu di dekat kaki Reza. Ia balik badan dan segera berlalu dari sana meninggalkan Reza yang meringis kesakitan di belakangnya.


“Galuh Nanda sia lan!” pekiknya lantang sambil menunduk memegangi asetnya yang terkena tendangan pinalty mematikan dari Galuh. “Haish, aset Gue bisa ancur kalau begini caranya!”


Reza menarik napas panjang lalu mengembuskannya perlahan. Ia terus mengulangnya hingga beberapa kali. Setelah dirasa mulai membaik dan nyeri di bagian bawah tubuhnya berangsur menghilang, ia segera menghubungi Aldy dan Danil yang sedang berada di lapangan untuk datang menemuinya di luar.


Aldy menyerahkan botol air mineral di tangannya pada Reza yang duduk sambil melebarkan kedua pahanya. Dengan gerakan cepat Reza membuka penutup botol dan meminumnya hingga bersisa setengahnya saja.


“Gue harus buat perhitungan sama itu cewek,” gumamnya pelan namun masih terdengar jelas di telinga Aldy. “Kalau sampai terjadi apa-apa sama Gue, Lo harus pastiin. Dia orang pertama yang harus Lo hubungi buat tanggung jawab!”


“Bentar!” potong Aldy. “Otak Gue masih loading. Lo cerita yang jelas, siapa sebenarnya cewek yang Lo maksud, kenapa dia harus tanggung jawab? Kagak tebalik Lo ngomong. Kalau misalnya ada apa-apa sama itu cewek, bukannya Lo yang harus tanggung jawab?”


“Ish! Makanya dengarin omongan Gue sampek habis, jangan Lo potong biar paham. Ngerti Lo!”


“Oke, Gue dengar!”


Dua menit pertama Aldy serius mendengar cerita Reza, dan membenarkan apa yang sudah dilakukan Reza dengan meminta kebijaksanaan pada pihak Galuh untuk mau menukar barang yang salah ukuran.


“Lanjut!” ucap Aldy menunggu Reza menyelesaikan ceritanya.


“Bhuahahaa!” Dua menit berikutnya tawa Aldy pecah seketika sampai ia harus memegangi perutnya yang keram karena terus tertawa. “Jadi sekarang Lo mau minta pertanggung jawaban si Galuh biar aset Lo aman?”


“Lo harus cari alamat dia, temui dia, dan bilang sama dia kalau Gue sakit gara-gara dia!” perintah Reza, membuat Aldy kontan mengatupkan bibirnya.


“Lo serius nyuruh Gue lakuin ini, Za? Lo sadar gak sih kalau apa yang Lo lakuin ini sudah kelewatan. Lo gak kasihan lihat dia kemarin harus bolak-balik nyediain barang buat menuhin permintaan Lo, terus Lo batalin gitu aja. Dan yang barusan, Lo suruh dia buat nganter barang belanjaan tim kita.” Aldy bicara panjang lebar mengingatkan Reza pada apa yang telah dilakukannya pada Galuh.


“Jujur Gue penasaran sama itu cewek. Entah lah, seperti ada sesuatu yang buat Gue terus pengen lihat dia.” Reza tercenung sesaat, matanya menerawang menatap langit yang mulai beranjak sore.


“Gokil Lo, Za. Ngaku Lo kalau suka sama itu cewek!”


Reza menarik napas, “Entah lah, Gue cuman penasaran sama itu cewek. Dan Lo harus cari tahu soal dia. Bila perlu, Lo temui dia di tempat kerjanya besok!”


“Bukannya sebentar lagi Lo juga bakal ambil alih usaha bokap Lo di sana, dan Lo bisa ketemu Galuh tiap hari nanti.”


“Gue mau dia kenal Gue sebagai seorang Reza, cowok usil yang suka isengin dia. Bukan Fahreza Raka Mahendra anak pemilik mal tempatnya bekerja!”


▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎