
Galuh bergegas keluar dari dapur bersama Yuli, ia memasang masker agar wajahnya tak ada yang mengenali. Malam ini ia mendadak pelayan di acara pesta omanya Reza.
“Maafkan Saya ya, Mbak. Gara-gara Saya ngajak ngobrol Mbak Galuh di dapur, jadinya Mbak dikira pelayan. Mana kena omelan nyonya Miska segala lagi. Suka heran, main semprot sembarangan aja itu orang. Gak pakai tanya dulu ini apa, ini siapa, yang didulukan marahnya saja.” Yuli meminta maaf disela langkah mereka menuju taman belakang rumah.
Galuh terkekeh, ia menoleh pada Yuli yang berjalan di sampingnya sambil membawa nampan berisi salad buah.
“Kenapa harus minta maaf, Kamu gak salah kok. Harusnya Aku yang minta maaf sudah bikin Kamu diomeli sama atasanmu. Lagi pula, Aku sudah biasa kali kerja kayak gini. Aku kan dah bilang, Aku kerja jadi pramuniaga toko di mal milik keluarga tuan Reza. Melayani pembeli yang datang ke konter. Jadi jangan merasa bersalah karena posisi kita sama.”
“Tapi kan Mbak Galuh tamu di acara ini?”
“Udah, santuy aja.”
Yuli tertawa, merasa sedikit lega karena sikap santai yang ditujukan Galuh padanya. Mereka berjalan menuju meja yang berbeda. Yuli di deretan meja sebelah kanan, di mana banyak tersedia potongan buah segar dan minuman. Sementara Galuh berada di meja yang menyajikan makanan prasmanan.
Setelah memeriksa makanan apa saja yang harus ditambah, Yuli menghampiri Galuh yang merapikan makanan di dalam wadah. Mengambil beberapa lembar tisu dan mengelap alas meja yang kotor terkena percikan makanan berkuah.
Di sudut taman di salah satu gazebo yang dekat dengan kolam ikan, Aldi dan Danil duduk bersama dengan dua orang teman wanitanya. Mereka sengaja memilih tempat yang paling jauh, agar lebih tenang dan lebih santai tentunya.
Salah satu dari perempuan yang bersama dengan mereka, ingin menambah minumannya. Dan Aldi berinisiatif mengambilkan. Saat hendak mengambil minuman yang diinginkan teman wanitanya, tak sengaja matanya menatap sosok yang dikenalinya sedang sibuk menuangkan makanan lalu merapikan meja.
“Apa ini hanya imajinasiku saja?” gumam Aldi seraya memicingkan matanya, ia seperti melihat penampakan Galuh di pesta itu. Tapi Galuh yang dilihatnya kali ini adalah seorang pelayan rumah Reza.
Seolah merasa ada yang memperhatikan dirinya, Galuh pun balik badan. Pandangan keduanya bertemu, dan untuk sesaat lamanya Galuh hanya terdiam.
“Galuh? Lo ngapain di sini, nyamar jadi pelayan segala. Reza tau bisa berabe urusannya!” tegur Aldi berjalan mendekat.
“Mbak, kayaknya sudah cukup semua deh makanannya.” Suara Yuli menyadarkan Galuh dan ia pun langsung berjalan tergesa seraya menggandeng tangannya menjauh dari sana.
“Ya udah, kita balik ke dapur saja lagi.” Ajak Galuh, tak dipedulikannya teriakan Aldi yang memanggil namanya. “Gawat, kenapa juga ada mahluk satu itu, mana teriak-teriak lagi.” Galuh merutuk dalam hati.
“Hei, mau ke mana Lo? Dih, malah pergi.” Aldi urung mendekat, karena Galuh sudah masuk ke dalam rumah. “Kurang kerjaan kali, ya sampai ikutan turun tangan jadi pelayan di rumah pacar sendiri.”
“Lama amat sih, Lo. Ngambil minuman gitu doang. Noh, ditungguin sama cewek Lo!” Danil datang menyusul, dengan wajah kesal berkacak pinggang di depan Aldi.
“Napa Lo, bengong kayak baru lihat penampakan?” Danil menepuk bahu sahabatnya itu, heran melihat Aldi yang masih berdiri bengong menatap pintu rumah Reza.
Aldi mendelikkan matanya, seraya mengusap bahunya. “Nah, Lo tau barusan ada penampakan ceweknya si Reza.”
“Galuh maksud Lo?”
Aldi mengangguk, “Doi barusan dari sini tadi, Gue panggil pura-pura gak lihat malah pergi!”
“Ya wajarlah kalau Galuh ada di sini, pasti Reza yang bawa dia. Rencananya kan memang mau dikenalkan sama keluarganya.” Sahut Danil. “Kalau dia pergi waktu Lo panggil, mungkin aja Galuh gak dengar.”
“Masalahnya Galuh jadi pelayan di sini, tuh barusan Gue lihat dia yang sibuk ngisiin makanan di meja. Ngelap-ngelap meja segala. Masa iya pacar tuan rumah jadi pelayan dadakan di pesta omanya sendiri?”
“Sembarangan Lo ngomong, Al. Kedengaran yang laen bisa panjang urusannya.” Danil menghela bahu Aldi dan membawanya duduk di salah satu meja yang kosong tidak jauh dari tempat di mana Aldi tadi melihat Galuh mengisi wadah makanan yang kurang.
“Gue serius, Danil. Gue lihat sendiri dan Gue yakin banget kalau itu Galuh meski doi pakai masker! Masa ia Gue ngarang cerita sama Lo.”
“Sstt, berisik Lo!”
“Ya mana Gue tau, Al!” jawab Danil kesal.
Dan benar saja, tak lama kemudian Galuh kembali muncul dari dalam rumah. Kali ini ia membawa ceret minuman dari kaca berisi campuran es buah. Aldi langsung bersuara dan menyikut keras perut Danil. “Lo lihat, benar yang Gue bilang kan!”
“Ck! Serius memang itu Galuh, cuy. Ngapain coba dia ikutan sibuk jadi pelayan kayak gitu?” Danil melebarkan matanya, pemandangan di depannya bikin ia geleng kepala. “Masa iya mereka kekurangan tenaga kerja?”
Aldi meringis mendengarnya, “Tahan, Bro. Asli Gue jadi penasaran, maksud sebenarnya Galuh ngelakuin hal itu.”
“Oke, let’s see what happens next!” (kita lihat saja apa yang akan terjadi selanjutnya)
Tak lama berselang serombongan wanita-wanita cantik berpenampilan modis dan seksieh lewat di belakang Galuh berdiri. Mereka lalu berkumpul di salah satu meja yang baru saja ditinggalkan pemiliknya.
“Ih, jorok!” seru salah satu dari mereka yang berambut pirang keemasan dan mengenakan baju yang terbuka di bagian dadanya. “Pelayan, cepat dibersihin dong mejanya.” Panggilnya pada Galuh yang berdiri membelakangi mereka.
Galuh balik badan, mengerutkan keningnya. “Mbak panggil Saya?”
Wanita itu bangkit berdiri dan menatap ke arah Galuh. “Iya, Kamu. Gak ngerasa?” wanita itu menelisik pakaian yang dikenakan Galuh, sangat sederhana dan terlihat kusut di bagian bawahnya.
Galuh mengikuti arah pandang mata wanita itu, lalu balas menatap.
“Kamu pelayan di sini kan, buruan dong dibersihkan mejanya. Masa iya tamu dibiarkan pada berdiri kayak gini, padahal ada meja yang kosong di sini.”
“Gimana sih kerjanya, laporin tuan rumah dipecat Lo!” ujar wanita yang lain.
“Jangan deh, Dri. Kasihan dia, gimana nasibnya nanti.” Dan ucapannya disambut tawa teman-temannya yang lain.
Galuh menahan napas, berusaha tenang dan tidak terpancing emosinya. Ia bergegas membersihkan meja.
Sial, salah satu wanita dengan sengaja menggeser gelas plastik minuman yang masih ada isinya dengan ujung jarinya, hingga tumpah ke atas meja dan mengalir mengenai gaun yang dikenakan salah seorang dari mereka.
Galuh terpekik, berusaha menahan air yang mengalir, justru malah memercik dan mengenai wajah wanita itu.
Astaga!
“Hyiaa! Gimana sih cara kerja, Lo. Gue gak mau tau, Lo harus ganti rugi karena udah ngerusak gaun mahal Gue. Lo tau berapa harganya? Dua puluh lima juta!”
“Gue gak sengaja, temen Lo yang dengan sengaja numpahin minuman itu ke atas meja. Gue lihat sendiri dan teman Lo yang lain juga pasti tau apa yang dia lakuin!” sanggah Galuh.
“Kenapa jadi salahin teman Gue, jelas-jelas Lo yang gak becus kerjanya! Pokoknya Gue gak mau tau, Lo harus ganti!”
“Gak! Gue gak mau.” Jawab Galuh tegas.
“Wow, seru nih! Galuh berani ngadepin cewek jadi-jadian itu!” Danil dan Aldi menonton kejadian itu dan tidak lupa merekamnya dengan ponselnya.
Detik berikutnya wanita itu mendorong bahu Galuh dan hendak memukulnya, namun sebelum hal itu terjadi ada sebuah tangan kekar yang menahan gerakannya. “Biar Saya yang akan mengganti gaun Anda!”
▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎