If Tomorrow Never Come

If Tomorrow Never Come
Bab 51. Dilema



Galuh mengerjap dan perlahan membuka matanya. Samar-samar ia seperti melihat bayangan wajah seseorang berada dalam jarak yang begitu dekat dengan dirinya. Apa ia sedang bermimpi, atau memang benar lelaki itu yang datang menemuinya kali ini.


“Untung saja tidak ada pelanggan yang datang,” ucap Reza tersenyum tipis menatap wajah cantik Galuh yang tertidur dalam posisi setengah duduk di bangku panjang yang ada di konternya itu.


Galuh tersentak, terbangun dengan tiba-tiba. Seketika matanya melebar, menatap kehadiran Reza di dekatnya. “Abang,” sapanya lirih masih tak percaya lelaki itu datang menemuinya. Akhirnya, setelah satu Minggu lamanya mereka berdua saling bertegur sapa kembali.


“Kamu pasti kelelahan sampai tertidur di tempat kerja seperti ini.” Reza tersenyum tipis, menundukkan badannya sedikit di depan Galuh. Sebelah tangannya terulur, menyibak helai rambut yang jatuh menutupi sebagian pipi wanita itu.


“Beberapa malam ini Aku susah sekali memejamkan mata,” sahut Galuh, beringsut menggeser tubuh memberi tempat pada Reza untuk duduk di sampingnya.


“Apa ada yang mengganggu pikiranmu?” Reza menjatuhkan bokongnya tepat di sebelah kiri Galuh, duduk berselonjor kaki sambil menopang kedua tangannya ke belakang seraya mengedarkan pandangan ke seputar ruangan.


Galuh menoleh, menatap wajah lelaki di sampingnya itu yang terlihat begitu tenang. “Mungkin hanya kecapaian kerja saja, Aku rasa seperti itu.”


Kamu yang bikin Aku susah tidur. Bayangan Kamu selalu saja hadir mengusik pikiranku, membuat mata ini sulit terpejam.


“Ehm, Kamu sudah makan siang. Kalau belum, kita bisa makan bareng di kantin. Kebetulan Aku juga belum makan siang,” ajak Reza, lalu menarik kedua tangan dan menekuk kakinya duduk dengan punggung tegak.


“Aku sudah makan roti barusan tadi, masih kenyang.” Tolak Galuh halus, walau sebenarnya ia memang belum makan siang. Alasannya saja karena ia memang sedang tidak berselera makan.


Reza membulatkan bibirnya dan Galuh mengangguk mengiyakan. Suasana tampak aneh, dan Galuh tak nyaman dengan suasana canggung seperti ini.


“Oh, ya. Aku ke mari hanya ingin menyampaikan hal ini padamu.” Reza akhirnya bersuara lagi. Ia merogoh saku jasnya dan mengeluarkan ponselnya, lalu mengetikkan sesuatu dan beberapa detik kemudian ia kembali menyimpan ponselnya lagi.


Galuh diam menunggu, lalu tak lama kemudian terdengar ponselnya berbunyi. Galuh bergegas meraih ponselnya yang berada di atas meja kerjanya, dan membuka pesan singkat yang baru diterimanya. Ia melirik sekilas pada lelaki di sampingnya itu sebelum beralih membaca tulisan yang tertera di ponselnya.


“Menginap selama dua malam di vila Cemara Rindang, malam Sabtu dan Minggu tanggal ...” Ucap Galuh membaca tulisan di ponselnya, lalu beralih menatap Reza kembali. “Itu artinya acaranya diadakan Minggu depan. Apa teman-teman yang lain sudah diberitahu soal ini?”


Reza menggeleng, sambil memainkan kedua kakinya. “Belum, rencananya sore nanti sebelum pergantian shif kita akan mengadakan meeting bersama seluruh koordinator karyawan membahas soal ini.”


“Ehm, bukankah vila itu milik keluarga Mahendra?” tanya Galuh lagi.


“Papa sudah memutuskan untuk menggunakan vila miliknya sebagai tempat untuk liburan karyawan. Ada banyak kamar di sana, dan tempatnya juga sangat cocok dipakai untuk bersantai bersama keluarga.”


“Wah, surprise. Pasti akan sangat menyenangkan sekali bisa berakhir pekan di sana,” ucap Galuh senang.


Sepeninggal Reza, Galuh terdiam sejenak seraya berpikir. “Laki-laki itu datang menemuiku hanya untuk membahas soal liburan karyawan, sedikit pun tidak bertanya bagaimana kabarku.”


Galuh mengesah lirih, Reza terlihat sangat tenang. Sementara dirinya gelisah, meski sudah berusaha keras menyingkirkan bayangan laki-laki itu dari benaknya tapi tetap saja pikirannya selalu melayang kembali padanya.


Sore harinya sesuai rencana, meeting diadakan di ruang kerja Reza. Semua tampak gembira dan menyambut baik rencana itu. Liburan akhir pekan untuk karyawan di vila sang atasan, sungguh sesuatu yang sudah lama dinantikan.


Masing-masing koordinator sudah mendapatkan tugasnya, dan sesuai kesepakatan bersama Galuh dipilih sebagai ketua pelaksana acara. Semua akomodasi dari perjalanan sampai tempat tujuan telah disiapkan, juga dengan makanan telah disediakan perusahaan selama acara berlangsung.


“Saya mohon bantuan dan kerja sama rekan-rekan semua untuk kelancaran dan terlaksananya acara kita kali ini. Saya berharap sekali kita bisa memanfaatkan liburan ini dengan sangat baik.” Pungkas Reza di akhir meeting.


“Siap, Bos!” jawab mereka serempak.


Meeting telah selesai dan mereka semua bersiap pulang, terkecuali koordinator shif malam yang harus kembali bekerja.


Galuh berdiri di ambang pintu, menatap Reza lama sebelum meninggalkan ruang kerjanya. Sepertinya lelaki itu masih sibuk dengan pekerjaannya. Setelah meeting selesai keduanya tak lagi saling bertegur sapa, dan Galuh merasa terganggu dengan hal itu.


Apa lelaki itu marah dan kecewa padanya? Sikapnya kini tak lagi hangat seperti sebelumnya. Galuh meminta waktu berpikir untuk memantapkan hatinya, tapi ia merasa laki-laki itu seperti menghindar dan semakin menjauh darinya. Dan itu semakin membuatnya ragu, apa lelaki itu memang benar-benar menginginkannya, atau memilih mundur dan menyerah untuk mendapatkan hatinya


Merasa ada yang memperhatikan, Reza pun mengangkat wajahnya. Ia tertegun sesaat, lalu balas menatap Galuh. Wajahnya tampak kaku, dan sinar matanya seolah menyimpan sesuatu yang urung terucap lewat kata-kata. “Ada apa? Apa masih ada yang ingin Kamu tanyakan padaku soal meeting tadi?”


Galuh menggeleng cepat, merasa tertangkap basah menatap Reza sedemikian rupa. Ia pun memalingkan wajahnya. “Aku pulang,” ucapnya tanpa menoleh, Galuh menggenggam tali tasnya kuat. “Jangan terlalu lelah bekerja, jaga kesehatan Abang juga. Jangan sampai jatuh sakit.”


Tak ada sahutan, hening. Galuh menghela napas dan bergegas meninggalkan ruang kerja Reza. Berjalan menunduk, matanya menghangat. Dadanya tiba-tiba saja sesak menghadapi kenyataan sikap Reza yang berubah dingin padanya.


Reza mengepalkan tangannya kuat, hingga buku-buku jarinya terlihat memutih. Reza menahan diri untuk tidak berlari dan mengejar Galuh. Matanya nanar menatap punggung Galuh yang perlahan semakin menjauh. “Aku sayang kamu, cinta Kamu. Pertama kali dalam hidupku Aku jatuh cinta pada seorang wanita sepertimu.”


“Aku bukan dia. Aku tidak mungkin menyakiti hati wanita yang Aku cintai, kamu bagian terpenting dalam hidupku.” Bisik hati Reza, ia merebahkan kepalanya pada sandaran kursi di belakangnya. Kepalanya tiba-tiba saja sakit, dan Reza mencoba untuk tetap tenang.


Terlalu banyak pikiran akan sangat berpengaruh pada kondisi fisiknya, Reza merasakan hidungnya memanas dan setetes cairan kental berwarna merah menetes jatuh di bajunya. Reza merasakan pandangannya mengabur, ia berusaha tetap sadar dan segera menghubungi seseorang.


▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎