If Tomorrow Never Come

If Tomorrow Never Come
Bab 33. Cuti lebih cepat



Rasanya Galuh baru saja terlelap tidur beberapa saat yang lalu, ketika ponselnya kembali berdering nyaring. Ia langsung terjaga dan mengerjapkan matanya, beranjak bangun menyibak selimut yang menutupi tubuhnya.


Galuh melirik sekilas jam di dinding kamarnya, pukul dua belas malam. Untuk sesaat lamanya, Galuh duduk terdiam sembari memejamkan matanya berusaha mengusir rasa pusing yang tiba-tiba datang menyerang. Bangun tidur secara dadakan membuat kepala serasa berputar-putar.


Ponselnya kembali berbunyi, kali ini lebih lama dan panjang karena Galuh belum juga beranjak dari tempatnya. Setelah rasa peningnya berkurang, Galuh bergegas meraih ponselnya yang berada di atas nakas.


“Sabar ih, siapa sih yang telpon malam-malam kayak gini. Gak tau apa ya, orang lagi istirahat!” rutuk Galuh sebal, lalu membaca nama yang tertera di layar ponselnya.


Rika? Keningnya langsung berkerut dan jantungnya berdebar keras seketika kala membaca nama adiknya yang tertera di sana.


“Ya, ding. Tumben malam-malam menelepon?” Galuh menyeret langkahnya kembali duduk di atas tempat tidurnya, menyandarkan kepala pada bantal besar di belakang punggungnya.


“Kak, rumah kita parak roboh kak ai! Semalaman hujan sing darasan kada ampih sampai wayah ini, kada banjir pang tapi angin kancang sampai atap rumah umpat tabongkar jua.” (Kak, rumah kita hampir roboh, sepanjang malam hujan deras gak berhenti sampai sekarang. Gak sampai banjir, tapi angin kencang bikin atap rumah ikut terbongkar)


“Astagfirullah!” Galuh langsung menegakkan punggungnya, terkejut mendengar kabar dari adiknya itu. Ia teringat mamanya yang hanya tinggal berdua saja dengan adiknya itu, “Mama kayak apa habarnya, ding. ?” (Mama gimana kabarnya, dek?)


“Mama baik aja, ka ai. Takajut jua pang melihat rumah tabalangkir. Ini kami mengungsi ke wadah paman Hardi, ujar sidin isuk handak melihati rumah amun kada hujan lagi.” (Mama baik aja, kak. Terkejut juga melihat rumah berantakan. Kami sekarang mengungsi di rumah paman Hardi, beliau bilang besok mau melihat rumah kalau sudah tidak hujan lagi)


“Iya, ding. Amun kadada halangan insya Allah isuk kakak bulik, hadangilah.” Galuh langsung mengambil keputusan untuk pulang esok pagi, bayangan wajah mama dan keluarganya di kampung langsung memenuhi pikirannya. (Iya, dek. Kalau tidak ada halangan insya Allah besok kakak pulang, tunggu ya)


Galuh meletakkan ponselnya ke atas meja dengan tangan bergetar, masih belum percaya sepenuhnya dengan kabar yang baru saja diterimanya dari Rika adiknya di kampung.


Meski bukan kali ini saja kejadian seperti itu terjadi di kampungnya saat memasuki musim hujan. Curah hujan dengan intensitas tinggi disertai angin kencang kerap kali terjadi di kampungnya yang kebanyakan penduduknya bertempat tinggal di pinggiran sungai.


Tidak hanya menerbangkan atap rumah warga, tapi juga menghancurkan bagian rumah lainnya. Dan kali ini rumah tinggal Galuh yang menjadi korbannya.


Malam itu juga, Galuh langsung menyiapkan kopernya untuk berangkat pulang ke kampungnya pagi-pagi sekali. Yang ada dalam pikirannya saat itu hanya keselamatan keluarganya, hingga ia lupa untuk menghubungi Reza dan memberi kabar padanya.


Sepanjang sisa waktu sampai menjelang subuh, Galuh terus menghubungi Rika dan mencoba berbicara langsung pada mamanya yang sepertinya masih syok dan tidak baik-baik saja.


“Luh, bulik nak lah. Lihati mama lawan adingmu di sini,” pinta mamanya dengan wajah sendu, membuat Galuh hanya mampu mengangguk dan tak bisa berkata-kata lagi. (Luh, pulang ya nak. Tengok mama sama adikmu di sini)


Hanya air mata saja yang mewakili perasaan Galuh saat itu kala melihat keadaan mamanya yang sangat berharap kepulangan dirinya. “Insya Allah, Galuh isuk bulik Ma lah.” ( Insya Allah, Galuh besok pulang Ma)


“Belawas nak lah, kena kita melihati rumah sekalian. Amun kawa dibaiki, langsung haja kita baiki.” (Lama-lama di sini ya nak, nanti kita sekalian melihat rumah. Kalau bisa diperbaiki, langsung saja kita perbaiki)


“Inggih Ma ai, kena kita mencari tukang. Mama istirahatlah, jangan kada guring.” Galuh terus mengiyakan permintaan mamanya, berharap wanita tersayang itu bisa melupakan sedikit saja kesedihannya akibat musibah yang baru saja menimpanya. (Iya Ma, nanti kita cari tukang. Mama istirahat, jangan sampai gak tidur)


Percakapan malam itu berakhir, seiring hujan yang sepertinya mulai mereda di sana. Sempat dilihatnya mama tertidur sambil duduk di kursi ruang tamu rumah pamannya, karena tak mau beristirahat di dalam kamar.


Galuh juga mengirim pesan pada pak Silo untuk meminta ijin cuti kerjanya selama satu minggu yang sudah disetujui admin dimajukan lebih cepat karena ada urusan mendesak. Galuh menceritakan musibah yang dialami keluarganya di kampung, dan ia harus segera pulang untuk melihat langsung keadaan mamanya.


Pagi-pagi sekali Galuh berangkat dengan diantar ojek yang biasa mangkal di depan gang rumahnya menuju bandara, membeli tiket penerbangan paling awal agar sampai di kotanya lebih cepat.


Tepat jam sembilan pagi, Galuh sudah sampai di kotanya dan kini sedang memesan tiket bus untuk sampai ke kampung halamannya yang menempuh perjalanan kurang lebih satu jam.


Sementara Reza yang setia mengantar jemput kerja Galuh setiap hari ke rumahnya, dibuat kalang kabut saat datang ke sana dan tidak mendapati wanita itu di sana. Apalagi saat mendengar dari tetangga sebelah rumah yang mengatakan Galuh keluar rumah pagi-pagi sekali dengan membawa koper besar bersamanya.


“Apa Galuh tidak mengatakan apa-apa, Bu. Menitip pesan atau apa gitu?” tanya Reza dengan hati tak keruan, karena berulang kali menghubungi wanita itu namun tidak mendapat jawaban.


“Gak ada, Mas. Mbak Galuh kelihatan terburu-buru dan seperti habis menangis,” jelas tetangga Galuh.


Deg!


“Ya sudah kalau begitu, Bu. Terima kasih informasinya,” balas Reza seraya menganggukkan kepala, lalu bergegas kembali ke mobilnya.


“Sayang, kamu di mana. Angkat telponku, jangan buat Aku khawatir!” Reza kembali mencoba menghubungi Galuh kembali, namun nihil.


Aarghk! Reza mengentakkan kepalanya ke sandaran kursi di belakangnya, dan tanpa disadarinya darah segar perlahan keluar dari hidungnya lagi dan menetes di bibirnya. Reza tersentak dan langsung menegakkan tubuhnya dan bernapas lewat mulutnya.


“Tenang, Za. Rileks, no stres!” ucap Reza dalam hati, dan perlahan ia mampu mengatasinya. Merasa cukup tenang, Reza melajukan mobilnya menuju mal untuk menemui Luna berharap sahabat Galuh itu mengetahui kabar tentang wanitanya.


Dan kabar yang didengarnya membuat Reza mengernyitkan keningnya. Galuh pulang kampung lebih cepat tanpa menunggu dirinya. “Apa ada masalah dengan keluarganya, sampai harus mendadak seperti itu pulangnya?”


“Aku gak tau, Mas. Tapi menurut pak Silo, Galuh meminta cutinya yang harusnya awal bulan dimajukan sekarang. Urgent katanya,” terang Luna.


"Hem, dia ingat pak Silo tapi lupa kasih kabar sama tunangannya sendiri!"


“Jadi Galuh pamit sama pak Silo, dan itu artinya pak Silo tau alasan Galuh pergi? Kalau begitu Aku langsung ketemu pak Silo saja. Makasih infonya, Luna.”


“Sama-sama, Mas.”


Detik itu juga Reza langsung menghubungi pak Silo dan meminta laki-laki itu menemuinya di ruang kerjanya. Dan tidak butuh waktu lama, info penting sudah berada di tangannya. Siang itu juga, Reza langsung menghubungi Danil dan memintanya untuk mengantarnya ke bandara.


▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎