
Sore itu mereka habiskan waktu berdua di pantai, berlarian saling kejar-kejaran. Senyum bahagia tergambar jelas di wajah keduanya. Sesekali Reza mencuri ciuman di pipi Galuh saat wanita itu tengah membelakanginya, berdiri berendam kaki di pinggir pantai.
“Hei, curi-curi kesempatan ya!” Galuh menolehkan wajah, mendelik pura-pura marah. Reza terkekeh melihatnya, ia memeluk Galuh dari belakang dan menyandarkan dagunya di lekuk leher wanitanya itu.
“Balik yuk, yank. Sudah sore banget, nanti kemalaman sampai di rumah.” Ajak Reza, ia mengangkat wajah lalu merangkum bahu Galuh dan membawanya melangkah bersama.
Galuh mengangguk, ia pun balas memeluk pinggang Reza. Sebelah tangannya meraih jemari laki-laki itu yang memeluk bahunya dan menautkannya di sana.
Reza tersenyum senang, disela-sela langkahnya ia mengecup sayang puncak kepala Galuh dan berlama-lama di sana. “Rambutmu wangi, yank. Hem,” bisik Reza serak.
Galuh menengadah, “Abang suka?”
“Hem.”
Galuh terkekeh, ia mempererat pelukannya di pinggang Reza. Kepalanya kini berada tepat di dada laki-laki itu, Galuh bisa merasakan detak jantung Reza yang berdegup kencang. Galuh perlahan menarik dirinya, ia melangkah mundur sambil mengerlingkan matanya dengan gaya menggoda.
“Ish, yank!”
Galuh tertawa, ia berbalik dan berlari kecil meninggalkan Reza di belakangnya yang berteriak memanggilnya. Di depan sebuah bangku panjang tak jauh dari mobil Reza berada, Galuh menghentikan langkahnya. Ia menunduk dan meraih sepatunya yang diletakkannya di dekat kaki kursi lalu memakainya kembali.
Reza menghentikan langkahnya, menatap wajah cantik Galuh yang penuh senyum ceria. Sepertinya ini adalah waktu yang tepat bagi dirinya untuk mengungkapkan kembali keinginan terbesarnya selama ini pada wanita itu.
“Yank.” Reza perlahan berjalan mendekat, memutar tubuh Galuh agar menghadap ke arahnya. Ia menatap lekat mata wanita itu. “Lihat dan dengarkan Aku baik-baik kali ini.”
Galuh menurut, ia tersenyum mengangguk. Pandangannya kini tertuju pada wajah lelaki di hadapannya itu. Seketika keningnya berkerut, dan tangannya terulur begitu saja meraba dahi dan leher Reza. “Kok, wajah Abang pucat. Abang sakit?”
Reza menggeleng, mengabaikan ucapan Galuh lalu menggenggam jemari tangan wanita itu dan membawanya ke bibirnya. Matanya terus memandang Galuh dengan serius, hingga membuat wanita itu tersipu dan menundukkan wajahnya.
“Aku harus mengatakan ini lagi padamu, dan Aku tidak ingin menundanya lagi. Setiap saat setiap detik, Aku selalu memikirkanmu sepanjang waktu.”
“A-a-pa yang ingin Abang katakan padaku?” ucap Galuh tampak gugup, degup jantungnya berpacu lebih cepat.
“Kamu tahu bagaimana perasaanku padamu, bukan?”
Galuh mengangguk perlahan, “A-Aku tahu.”
“Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Dan Aku bersungguh-sungguh dengan ucapanku itu, yank. Aku yakin Kamu juga punya perasaan yang sama denganku. Itulah sebabnya Aku minta padamu untuk menikah denganku.”
Deg!
“Ini kali kedua Aku memintamu untuk menikah denganku. Aku harap kali ini Kamu mau memenuhi permintaanku.” Reza menggenggam tangan Galuh.
Galuh terdiam untuk beberapa saat lamanya, ia begitu terkejut mendengar lamaran pria itu padanya hingga tak bisa mengatakan apa-apa. Ia berdiri mematung di hadapan Reza, hingga sebuah sentuhan halus di kulit lengannya menyadarkannya.
“Aku tidak tahu harus mengatakan apa,” ucap Galuh pada akhirnya, ia memalingkan wajahnya menatap langit yang mulai temaram.
“Katakan ya sebagai jawabannya, itu yang ingin kudengar darimu.”
Galuh menatap wajah tampan di depannya itu, yang sedang menunggu jawaban dirinya. “Mengapa Abang sepertinya terburu-buru ingin segera menikah, apa tidak sebaiknya kita jalani saja dulu hubungan kita ini sampai kita benar-benar siap untuk menikah.”
Reza menghela napas, “Awalnya Aku sendiri tidak percaya ada cinta pada pandangan pertama, sampai Aku sendiri mengalaminya. Aku jatuh cinta padamu saat pertama kali melihatmu berdiri di bawah derasnya air hujan, dan menolak tawaranku untuk mengantarmu pulang.”
“Meski Aku mencoba mengingkarinya, tetap saja rasa itu lebih kuat bertahan di hati ini. Hanya dengan melihatmu saat itu, Aku sudah tahu kalau Kamu adalah wanita yang akan mendampingi hidupku menjadi istriku kelak.”
“Aku butuh waktu untuk menjawabnya,” sahut Galuh.
“Aku sudah memenuhi permintaanmu waktu itu, saat Kamu meminta waktu untuk menjawab lamaranku. Kali ini pun jika Kamu minta hal yang sama lagi, Aku juga akan memberimu waktu lagi. Tapi berjanjilah, setelah sore ini Kamu akan memikirkannya. Yakinlah bahwa Aku benar-benar serius ingin menikah denganmu.”
Canggung, itu yang dirasakan Galuh saat ia berada di dalam mobil Reza dalam perjalanan pulang, ia lebih banyak diam dan terus menatap ke samping kaca jendela. Sementara Reza berusaha bersikap biasa saja, dan sesekali menoleh pada Galuh.
“Yank,” panggilnya lembut, ia berusaha mencari cara untuk mencairkan suasana.
Ujung jarinya sengaja ia dekatkan ke wajah Galuh. Saat wanita itu menoleh padanya, ujung jarinya mengenai hidung Galuh membuat wanita itu mengerutkan keningnya sembari mengusap-usap pucuk hidungnya.
“Pasti sengaja, iya kan?” gerutu Galuh sambil mencebikkan bibirnya.
Reza meringis, “Lehermu bisa sakit kalau Kamu terus menengok ke arah luar, yank.”
“Pemandangannya bagus, sayang untuk dilewatkan.” Ujar Galuh beralasan.
Reza tertawa mendengarnya, “Bukannya tadi kita sudah melewati jalan ini sebelumnya, dan Kamu tidak tertarik melihatnya tadi.”
“Ya kan baru sekarang perhatiin,” sahut Galuh lagi, “Ish, kenapa Abang jadi rese gitu sih!”
Galuh cemberut, sambil melipat tangan di dada. Pandangannya kini tertuju pada jalanan lurus di depannya. Reza tersenyum melihatnya, ia kemudian memutar stereo mobil dan memilih salah satu lagu favoritnya seraya melirik Galuh yang duduk di sampingnya.
If tomorrow never comes, will she know how much I loved her
DId I try in every way to show her every day, that she’s my only one
And if my time on earth were through, and she must face this world without me
Is the love I gave her in the past, gonna be enough to last
That she’s my only one
Jika tak pernah ada hari esok, akankah dia tahu betapa besar aku mencintainya
Yang kulakukan dengan berbagai cara untuk menunjukkan itu padanya setiap hari, bahwa dialah satu-satunya
Dan jika waktuku di dunia ini telah habis, dan dia harus menghadapi dunia ini tanpaku
Apakah cinta yang kuberikan padanya di masa lalu, akankah terus cukup abadi
Bahwa dialah satu-satunya
Mobil melaju dengan tenang, seperti suasana yang terjadi di dalam mobil. Galuh terdiam menikmati alunan lagu merdu yang sengaja diputar Reza untuknya. Ia tahu apa arti lagu itu untuk Reza saat ini, lelaki itu ingin mengungkapkan isi hatinya lewat lagu yang diputarnya.
“Kamu tahu, ini lagu favorit Aku sejak dulu.” Reza menepikan mobilnya di pinggir jalan, ia lalu memiringkan tubuhnya dan bicara serius lagi pada Galuh.
“Aku tidak ingin mengalami penyesalan yang sama seperti cerita dalam lagu ini, kehilangan hari esok dan kesempatan untuk mengungkapkan perasaan cintaku pada orang yang dicintainya.”
“Aku ingin mengatakannya setiap hari, bagaimana berartinya dirimu untukku. Betapa besar rasa cintaku padamu, bahwa Kamu satu-satunya cinta dalam hidupku. Menikahlah denganku, Galuh Nanda.”
▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎