If Tomorrow Never Come

If Tomorrow Never Come
Bab 17. Pertanyaan Reza



Galuh bersiap-siap pulang ketika jam kerjanya hampir usai, hanya tinggal menunggu kedatangan Ami lima menit sebelum pergantian shif. Ia memeriksa kembali tasnya, meneliti siapa tahu ada barang pribadinya yang tertinggal.


Ting! Ponselnya berbunyi, dan benda pipih itu menampilkan notif pesan singkat dari nomor yang tidak dikenalnya. No hp 088812345678 Anda masih memiliki koin pulsa segera ambil bla bla bla ... Galuh langsung menghapusnya saat itu juga.


Tak lama kemudian ponselnya kembali berbunyi, kali ini notif pesan datang dari Luna yang mengiriminya stiker bergambar hati berikut pasangan di bawahnya. “Good luck kencannya ya bestie. Gue melipir duluan bareng Meldy 😘” pesan tambahan Luna di bagian bawah. Galuh langsung membalasnya cepat dengan emoji mata juling 🙄, dan menaruh ponselnya di atas rak.


Ting! Lagi-lagi ponselnya berbunyi, dan kali ini Galuh mengabaikannya karena bertepatan dengan kedatangan Ami di konternya. Setelah menyerahkan data barang masuk dan menitipkan laporan penjualan siang itu pada Ami yang akan diserahkan sebelum shif malam berakhir, Galuh langsung bergegas keluar konternya.


Di ambang pintu langkahnya terhenti, karena mendengar teriakan Ami memanggil namanya. “Galuh Nanda, ponselmu ketinggalan!” ujar Ami sambil mengacungkan ponsel di tangannya. “Dari tadi bunyi terus, coba dilihat kali aja ada pesan penting.”


Galuh mesem, ia menurut dan langsung membuka layar ponselnya. “Makasih ya, Mi. Aku langsung balik pulang,” pamitnya kemudian.


Alisnya langsung bertaut kala membaca pesan singkat dari seseorang yang kemudian mengingatkannya pada kejadian setelah meeting siang tadi. Sempat heran bagaimana lelaki itu bisa tahu nomornya, lalu tersenyum kecut teringat ia pernah menghubungi Reza saat mengantar sepatu pesanannya.


“Tunggu Aku di kafetaria mal.”


“Kamu molor sepuluh menit dari waktu perjanjian!”


“Apa perlu Aku yang datang dan menjemput di kontermu?!”


Galuh mengembuskan napas kasar, sebal karena harus kembali berurusan dengan lelaki itu. Harusnya ia menolak permintaan Reza saat itu juga, sayang lelaki itu langsung beranjak pergi dari sana.


“Cerewet!” ucapnya sambil mengetik kata itu di ponselnya, setelah itu memasukkannya kembali ke dalam tasnya.


Mau tidak mau Galuh melangkahkan kakinya juga menuju kafetaria mal, dan matanya langsung menangkap sosok lelaki yang penampilannya terlihat paling menonjol dengan tubuh menjulang lebih tinggi dari pada sejumlah lelaki lain yang ada di sekitarnya.


Reza sedang memainkan ponselnya di deretan bangku paling belakang, ketika Galuh sampai di sana. Dahinya terlihat berkerut ketika membaca balasan pesan yang diterimanya.


“Ekhem! Saya sudah memenuhi permintaan Bapak untuk datang ke sini. Maaf, waktu Saya tidak banyak. Silah kan utarakan apa yang ingin Bapak katakan di ruang meeting tadi!” Galuh mengubah panggilannya, biar bagaimanapun juga Reza adalah atasannya sekarang.


Reza mengangkat wajahnya, menelisik wanita yang masih berdiri di hadapannya itu. Secara fisik wanita ini memenuhi kriterianya. Wajahnya serius tapi enak untuk dilihat. Tubuhnya langsing, namun padat berisi di bagian yang memang seharusnya. Penampilannya juga menarik meski terlihat sederhana namun tidak ketinggalan zaman. Pas dan ideal.


Reza paling suka dengan rambutnya yang panjang bergelombang, warnanya hitam alami dan dibiarkan tergerai melewati punggungnya. Reza terpesona dan seolah tak bisa mengalihkan pandangannya, ia ingin sekali menyentuhnya sejak pertama kali melihatnya.


Ia sudah mempelajari resume kerja Galuh, ia wanita pekerja keras dan salah satu karyawan terbaik yang dimiliki mal ini. Ia juga orang yang sangat bertanggung jawab dengan pekerjaannya. Ia terlihat dewasa di usianya yang menginjak 25 tahun. Hal yang sangat disukai oleh setiap pengusaha pastinya, memiliki karyawan potensial dengan nilai plus.


Dan tiba-tiba saja gagasan itu muncul di kepalanya, ia seolah melihat gambaran wanita yang dicarinya ada pada Galuh Nanda. Kali ini Reza yakin, ia sudah menemukan jawaban untuk masalah yang terus menghantuinya dalam kehidupan pribadinya.


Tapi sebaiknya ia tidak terburu-buru melakukannya, ia harus lebih bersabar. Karena dari beberapa kali pertemuan dirinya dengan Galuh, Reza tahu wanita itu bukanlah orang yang mudah untuk ditaklukkan. Ia harus punya cara untuk bisa dekat dengannya, sebelum ia menyampaikan maksud sebenarnya.


“Ya Tuhan, maunya apa sih ini orang. Bukannya cepat bicara, malah bengong!” Galuh gerah dipandang dengan mata tak berkedip seperti itu. Seharian kerjanya mengharuskannya untuk terus berdiri. Pinggangnya lumayan capai dan kakinya mulai kesemutan. Jika saja hari ini ia tidak mengenakan celana panjang, mungkin mereka semua bisa melihat banyak koyo yang menempel di betisnya.


“Maaf.” Reza tersenyum lebar, lalu mempersilah kan Galuh untuk duduk. “Silah kan duduk ...”


“Kelamaan!” sahut Galuh sebelum lelaki itu menyelesaikan ucapannya, ia menarik kursi yang ada di depannya dan menjatuhkan bokongnya di sana.


“Jangan suka ngambek, nanti manisnya ilang.” Reza tersenyum manis, menatap lekat wajah Galuh yang langsung melengos mendengar ucapannya.


“Garing banget!” Galuh memutar bola matanya, “Asal tahu aja ya, Saya memang sudah manis dari lahir,” tambahnya lagi dengan memasang wajah jutek.


Reza terkekeh, “Aku percaya, sayang. Sesuai dengan namamu, Kamu juga orang yang mudah sekali untuk disayangi.”


“Dih, gak jelas. Selain tukang perintah, ternyata situ tukang gombal juga!”


Reza tergelak, tawanya lepas begitu saja membuat sebagian pengunjung yang ada langsung melihat ke arah mereka dan langsung berbisik-bisik. Sebagian dari mereka mengenal Reza sebagai seorang pengusaha muda yang sering tampil di televisi, sebagian lagi mengenalnya sebagai anak pemilik mal tempat mereka bekerja.


“Mulai deh gosip hangat siap beredar!” keluh Galuh sembari mengedarkan pandangannya, dan seperti dugaannya ada saja yang diam-diam mengambil fotonya yang sedang bersama dengan Reza.


“Galuh, Aku mau tanya sesuatu sama Kamu. Tolong jawab dengan jujur.”


Galuh tiba-tiba merasa jantungnya berdebar kencang, belum apa-apa ia sudah nervous duluan. Untuk meredakan debar jantungnya, ia mengalihkan perhatian dengan memanggil pelayan kafe. “Mas, akuanya satu ya. Biasa, jangan yang dingin.”


Reza mengulum senyum, ia tahu Galuh gugup. Setelah pelayan mengantar pesanan Galuh, ia melanjutkan bicaranya. “Apa Kamu senang bekerja di mal ini?”


Galuh balas menatap Reza, menaikkan satu alisnya. “Sangat senang, Saya bisa bertahan selama ini karena Saya senang bekerja di tempat ini.”


“Apa Kamu pernah berpikir untuk mencari pekerjaan lain yang lebih baik dan bisa menunjang kariermu kelak, atau melakukan sesuatu yang lain dalam hidupmu. Menyelesaikan impianmu yang tertunda misalnya?” tanya Reza hati-hati.


“Saya ingin punya usaha sendiri suatu hari nanti. Saya ingin bekerja sesuai bidang yang Saya sukai.” Galuh tersenyum kecil, seraya menatap kuku jarinya yang berada di atas meja. “Tapi sepertinya untuk saat ini Saya harus menundanya ... “


“Bagaimana dengan menikah. Apa Kamu sudah punya kekasih?”


“Hah?” wajah Galuh langsung tegang, ia tak mengira mendapat pertanyaan seperti itu. “Pertanyaan macam apa itu. Apa hubungannya dengan pekerjaan Saya?”


“Tenang Galuh, Aku hanya bertanya padamu. Jika Kamu keberatan menjawabnya, Kamu bisa abaikan pertanyaan itu.”


“Maaf, sepertinya sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Saya harus pulang.” Galuh mendorong kursinya ke belakang, sebelum Reza sempat mencegahnya, Galuh sudah berjalan cepat keluar.


Reza mengacak rambutnya kasar, menyesali sikapnya barusan yang pastinya mengejutkan Galuh. Ia bisa melihat bagaimana wanita itu terlihat gugup sebelum menjawab pertanyaannya, namun kemudian dengan mudahnya bercerita tentang impiannya. Masih ada hari esok, ia akan terus berusaha mendekati Galuh.


▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎