
Galuh menghela napas, menatap pintu ruang kerja Reza yang masih tertutup rapat. Sudah lewat jam sembilan pagi, namun bayangannya pun tak tampak. Biasanya laki-laki itu selalu datang tepat waktu, tapi kali ini tidak.
Galuh menatap ponsel di tangannya, menimbang-nimbang apakah akan menghubungi Reza atau tidak. Teringat pada pertengkaran mereka semalam, Reza pulang dengan wajah gusar. Galuh mengeraskan hati, menunggu Reza yang menghubunginya terlebih dulu.
“Biarin dah, paling bentar juga datang.” Galuh balik badan, berjalan kembali ke konternya.
Galuh mulai menyibukkan diri dengan membersihkan ruangan, mengelap kaca, dan berakhir dengan menata barang-barang di rak. Galuh tahu benar, ia harus tetap bekerja dengan baik meski sedang diterpa masalah. Biar bagaimanapun juga ia harus segera membereskan pekerjaannya, dan hal itulah yang dilakukannya sekarang.
Dengan bekerja seperti ini, Galuh berharap ia bisa mengenyahkan bayangan wajah Reza yang terus saja mengganggu pikirannya.
Galuh bukan perempuan manja yang biasa berleha-leha, ia perempuan mandiri, terbiasa bekerja keras selama bertahun-tahun agar bisa hidup dan bisa membantu keluarganya.
Masalah seberat apapun tidak akan membuatnya mengabaikan tanggung jawabnya sebagai seorang pekerja, ia berusaha bersikap tenang seperti biasanya di hadapan pelanggannya. Meski tak bisa ia pungkiri, pertengkarannya semalam dengan Reza tetap saja mempengaruhi mood kerjanya.
“Enyahlah kau dari pikiranku,” gumam Galuh seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. Bukannya menghilang, kepalanya mendadak pusing dan bayangan wajah Reza justru makin tercetak jelas di depan matanya.
Luna mampir ke konternya satu jam kemudian sambil membawa kantung plastik belanja berisi alat tulis dan beberapa lembar buku agenda.
Galuh sedang duduk bersandar di kursinya sambil berselonjor kaki usai melayani pelanggan yang datang. Dua set sepatu olahraga berhasil terjual.
“Suntuk Non, sudah dapat kabar dari bos tampan belum?” tanya Luna sambil berbisik, ia menaruh kantung belanja di tangannya ke atas meja. “Tumben sampai jam segini belum gentayangan di mari.”
“Kabar apaan? Lo kira dia makhluk astral!” Galuh melirik sebal. “Aku sibuk.” Ucapnya kemudian seraya memejamkan matanya.
“Dih, merem gitu dia kata sibuk!” cibir Luna menaikkan satu alisnya.
Galuh tersenyum tipis, lalu membuka matanya perlahan. Dilihatnya Luna sedang memoles bibirnya di depan cermin sedang yang tergantung di dinding ruangan.
“Biasa juga gitu, kantornya di ono stay-nya di sini.” Sahut Luna enteng.
“Lagi keliling meriksa konter kali, siapa tahu nemu karyawan yang suka kelayapan model kayak Kamu gini!” balas Galuh.
Luna meringis mendengarnya, “Iya kali kelilingnya cuman di bagian konter Lo doang, meriksa pacar lagi kerja atau ngobrol sama pelanggan cowok. Lo kira Gue gak tahu gimana posesifnya bos tampan Lo itu?”
Luna menepuk-nepuk bibirnya dengan ujung jarinya, tersenyum di depan kaca sambil memainkan bibirnya.
“Udah tebal masih aja dipoles. Coba buka lebar itu mulut, tuh ada yang nempel di gigi.” Cetus Galuh seraya menegakkan tubuhnya.
“Jorok ih, geli Gue dengarnya.”
“Lah, Lo yang jorok miss Luna. Harusnya Aku yang bilang geli lihat lipstik Kamu yang lengket di gigi kayak gitu.”
“Asli Gue suka geli kalau dengar ada yang nempel-nempel kayak gitu. Hahaha!” Luna tertawa sendiri, lalu menepuk bahu Galuh dengan ekspresi gemas.
Mau tidak mau Galuh pun ikutan tertawa. Luna masih anteng berdiri di depan kaca, kali ini ia menggulung rambutnya ke atas tinggi-tinggi lalu mengikatnya dengan sapu tangan yang digulungnya kecil.
“Lo kenapa sih, Non. Dari tadi Gue perhatiin kayak suntuk gitu?” Luna menempelkan bokongnya di pinggir meja, melipat kedua tangan di dada lalu menatap Galuh lama. Sahabatnya itu terlihat lesu, tidak ceria seperti biasanya.
“Lo lagi ada masalah sama bos tampan? Cerita sama Gue. Muka Lo kayak cucian kusut tau, gak enak banget dilihat.”
Galuh mengesah lirih, “Kamu bener kali ini, say. Dari semalam sampai detik ini Aku belum dengar kabar dari bang Reza. Masih ngambek kayaknya sama Aku, gara-gara kejadian semalam di rumahnya.”
Luna mengernyitkan keningnya, “Kejadian apaan,emang Lo ngapain di rumahnya?”
“Kok malah ketawa, sih?”
“Lah, Lo mah ada-ada aja. Ngapain juga pakai acara jadi pelayan dadakan segala, ya wajar orang jadi salah paham sama Lo. Udah gitu, ada kejadian Lo pendam sendiri gak cerita sama Reza. Sekalinya tau, dari mulut orang lain.” Luna menghentikan bicaranya ketika melihat Galuh melengos mendengar ucapannya.
“Banyak kali Luh, cewek model si Indri itu di pesta-pesta orang berduit macam keluarganya Reza. Yang suka banget merendahkan orang lain, apalagi kalau melihat tampilan yang tidak sekelas dengan gaya mereka.”
“Tapi Gue salut sama Lo, berani melawan mereka.” Luna mengacungkan jempolnya. “Mereka pada gak tau kan kalau Kamu ada hubungan sama Reza?”
Galuh menggelengkan kepala, “Aku sengaja gak bilang apa-apa, andai ngomong juga paling mereka gak percaya. Orang buluk begini pakaiannya, masa iya pacar Reza?”
“Nah itu, tuh. Lo mah suka ngadi-ngadi, menduga-duga pikiran orang yang belum tentu seperti apa yang Lo pikirkan.”
“Ish, Aku gak ngadi-ngadi Luna!” Galuh mengerucutkan bibirnya.
“Lo udah hubungi Reza belum? Kalau dia gak nelpon Lo dari semalam, mungkin aja ponselnya lowbat atau habis paket data. Bisa aja kan?”
“Dih, orang kaya sampai kehabisan data. Kamu yang ngadi-ngadi!” Ujar Galuh melengoskan wajahnya.
Luna terkekeh, “Kalau Lo gelisah nungguin kabar dari dia, kenapa gak Lo aja yang coba hubungi duluan. Jangan pasif gitu, say. Yang puyeng kan Lo sendiri.”
“Iya, bentar Aku telpon. Aktifin dulu hpnya,” sahut Galuh lalu mengaktifkan ponselnya.
“Astaga, Galuh. Kesel gak dijawab telponnya malah balas matiin hp.” Luna menepuk jidatnya.
Galuh meringis, “Namanya juga lagi kesel, ya diharap maklum.”
Saat ponselnya aktif kembali, Galuh terkejut mengetahui banyak panggilan tak terjawab dari Reza.
“Lun, Reza nelpon barusan!” serunya memperlihatkan layar ponselnya.
Luna melirik sekilas, lalu tersenyum kecil. “Ya udah, Lo telpon balik.”
Baru saja Galuh hendak menelpon Reza, ponselnya berdering menampilkan nama Ratri. Galuh segera mengangkatnya dan terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Baik Bu, Saya segera ke ruangan Bapak.”
“Telpon dari siapa?” tanya Luna, mengambil plastik belanjaannya di atas meja dan bersiap kembali ke konternya.
“Bu Ratri, Aku dipanggil bos katanya.”
“Maksud Lo, pak Mahendra. Apa katanya?”
Galuh menganggukkan kepalanya dengan wajah setengah tak percaya. “Gak tau, Lun. Bu Ratri cuman bilang pak Mahendra mau ketemu Aku segera, gitu doang.”
“Ya udah, buruan ke sana. Gue juga mau balik konter,” sahut Luna.
Galuh mengangguk, masih dengan pikiran berkecamuk ia bergegas menemui Mahendra di ruang kerjanya.
▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎