
Hening sesaat, hanya suara ketukan jari di atas meja yang terdengar berulang. Seperti menghitung waktu, kapan saatnya mulai berbicara.
Kevin sudah pulang hampir satu jam yang lalu, dengan raut wajah sendu karena calon suami si pencuri hati tiba-tiba datang menginterupsi. Begitu pula dengan Reza yang sudah kembali ke ruang kerjanya, setelah membuat kegaduhan dengan pengumuman dadakannya di konter Galuh.
Ungkapan Reza yang mengatakan pada Kevin kalau ia adalah calon suami Galuh, serta-merta membuat lelaki bermata sabit itu segera meminta maaf. Ia tidak pernah menyangka kalau Galuh akan segera menikah dengan Reza, karena ia mengira Galuh adalah wanita bebas dan masih sendiri.
Sementara Galuh hanya bisa mendelik kesal pada Reza yang lagi-lagi mengingatkan padanya kalau ia adalah calon suami wanita itu, dan meminta padanya untuk tidak sembarangan menerima ajakan pria lain selain dirinya.
Tiga orang sahabat duduk mengelilingi meja bulat yang berada di depan konter, memasang wajah serius bersiap-siap mendengarkan penjelasan dari sang pemeran utama wanita dalam cerita cinta yang baru saja tersaji di depan mata.
Luna langsung datang ke konter Galuh begitu menerima kabar dari Meldy yang menyuruhnya untuk segera menemui mereka berdua di sana. Ia menjerit tak percaya saat mengetahui kalau Reza atasan mereka di mal itu adalah calon suami Galuh sahabatnya.
Plak!
“Lamaa!” Luna yang tidak sabar lagi menahan rasa ingin tahunya, langsung mengeplak bahu Galuh keras hingga mengejutkan wanita itu. “Kalau Kamu masih gak mau cerita sama kita, terpaksa deh kita yang harus menemui calon suamimu di ruangannya!”
“Aow, apa sih Lun?” Galuh meringis memegangi bahunya yang terasa panas. “Aku gak ngerti deh Kamu bicara apa?” Galuh memasang wajah polosnya.
“Gitu ya, masih juga ngeles sama kita. Itu tadi maksudnya apa, pak bos bilang kalau dia itu calon suami Kamu. Kalian kapan jadiannya, kok tiba-tiba sudah mau nikah aja. Apa pas Kamu diculik di kafe Senyiur waktu itu?” berondong Luna tak sabar, gemas dengan sikap Galuh yang seolah tak mengerti apa maksud dari pertanyaannya.
Meldy yang sedari tadi memperhatikan, tak dapat menahan tawanya. “Lun, sabar say. Kamu gak lihat gimana tampang Galuh barusan?”
“Ish!” Galuh tahu wajahnya yang berubah memerah, dan tanpa dapat dicegah ia menunduk sambil memegangi kedua pipinya. “Kalian berdua bikin malu Aku, tau!”
“Galuh Nanda buruan ceritaaa!” Luna mengentakkan kaki sebal.
“Dia memang memintaku untuk menikah dengannya,” ucap Galuh pelan.
“Teruss!” seru Meldy dan Luna bersamaan. “Kamu jawab apa lamarannya?”
Galuh menatap wajah kedua sahabatnya itu yang terlihat penasaran menunggu jawabannya, dan ia harus segera mengatakannya pada mereka berdua. “A-aku belum memutuskannya, menerima atau menolaknya. Terlalu cepat, dan Aku bingung menghadapinya.”
“Huuhfh!” Luna mengembuskan napas panjang. “Aku akan memberikan apa saja yang ada padaku jika ia yang memintaku untuk menikahinya, sayang itu tidak terjadi padaku karena Aku bukan wanita pilihannya."
Galuh memutar bola matanya, dan Meldy kembali tertawa melihat cara Luna yang mengesah seolah kecewa.
Meldy meraih tangan Galuh, dan menatap wajah sahabatnya itu sungguh-sungguh. “Katakan sejujurnya padaku, apa yang membuatmu menunda untuk memutuskan menjawab lamaran Reza. Aku tahu selama ini Kamu tidak pernah sekalipun menjalin hubungan asmara dengan seorang pria, dan Aku tahu pasti bukan itu alasannya bahwa ada pria lain yang sudah bercokol di hatimu lama.”
Galuh menggeleng, “Terlalu banyak pertimbangan yang harus Aku ambil. Aku masih belum siap, Aku juga masih punya kewajiban lain untuk membantu keluargaku di kampung. Membantu biaya sekolah adikku. Aku tidak mau jika menikah nanti, nasib keluargaku jadi beban dan tanggung jawab suami Aku.”
Luna tercenung mendengar jawaban Galuh, “Bukannya adikmu sebentar lagi akan menyelesaikan kuliahnya, dan dia juga sudah mulai bekerja. Jika itu yang menjadi alasanmu menunda untuk segera menikah, Kamu salah besar Galuh.”
"Hush!"
“Alhamdulillah, kalau soal yang satu itu kayaknya enggak ada deh Lun. Yakin mama bukan orang yang suka belanja sana-sini terus ninggalin hutang sana-sini juga.”
“Canda doang, Luh. Biar Kamunya gak terlalu tegang.”
“Aku tahu Kamu orang yang sangat hati-hati, tapi jangan sampai sikapmu itu menghalangi langkahmu untuk mencapai kebahagiaanmu sendiri. Apa salahnya menerima dia, dan Kamu bisa mencoba untuk mengenal Reza lebih dekat terlebih dahulu. Saling memahami sifat dan karakter masing-masing. Dari pengamatanku selama mengenal calon suamimu itu, Aku tahu dia orang yang baik dan bertanggung jawab. Dan yang pasti dan sangat jelas terlihat, dia sepertinya sangat mencintai Kamu.” Meldy bicara panjang lebar.
“Aku bicara seperti itu padamu berdasarkan pengalamanku sendiri dengan calon suami Aku. Apa salahnya mencoba dan mengambil kesempatan untuk lebih mengenal calon pasangan hidup kita, dari situ kita bisa tahu apa dia benar-benar berniat sungguh-sungguh untuk menikah dengan kita. Dan kita juga akan tahu kapan waktunya kita harus berhati-hati dalam bersikap dan kapan saatnya kita harus mengambil risiko untuk meraih kebahagiaan hidup kita sendiri.”
“Dan Aku bersyukur bisa mengenal calon suamiku saat ini, meski pada awalnya Aku enggan dan tak ingin menerima perjodohan itu. Tapi setelah bertemu dan mengenalnya lebih dekat, Akhirnya Aku tahu kalau dia memang jodoh yang paling tepat untuk Aku.”
Hingga jam kerjanya berakhir malam itu, kata-kata Meldy begitu melekat dalam pikiran Galuh. Mengapa ia tidak mencobanya dengan menerima hubungan yang ditawarkan Reza padanya. Ia bisa meminta waktu pada lelaki itu untuk memilih waktu yang tepat untuk menikah nanti, alih-alih mengenal Reza lebih dekat terlebih dahulu.
Mengapa ia tidak mencoba mengambil kesempatan untuk bisa mengenal laki-laki itu lebih dekat dan membuka hatinya yang selama ini selalu tertutup untuk hal yang berbau asmara. Pikiran itu tak urung membuat bibirnya tersenyum. Menikah sepertinya bukan sesuatu yang menakutkan baginya sekarang.
Galuh tersenyum sembari menatap arloji di tangannya, sore tadi Reza meminta ia menunggu lelaki itu untuk pulang bersamanya dan Galuh menyanggupinya. Kali ini ia tak ingin kelewatan lagi dan membuat lelaki itu menunggunya lama.
Tapi hingga kesibukan di mal hampir berakhir dan semua karyawan perlahan pulang satu persatu, Reza tak kunjung menghubunginya lagi. Lampu di lantai 2 akan segera dimatikan, dan Galuh masih berdiri di depan konternya. Ia mencoba menghubungi nomor Reza, tapi tidak ada jawaban.
Galuh berjalan cepat masuk ke pintu khusus karyawan, dan berjalan melewati ruang kerja Reza. Tapi tidak tampak kesibukan di sana, dan lampu di dalam ruangan sudah dimatikan.
“Kamu di mana Za, kok telpon Aku diabaikan!” keluh Galuh, ia berjalan cepat menuruni anak tangga menuju lantai bawah dan tiba tepat di area parkir mal.
Galuh berjalan sambil terus menghubungi nomor Reza, hingga matanya terpaku pada sebuah mobil yang dikenalnya. Galuh melangkah cepat, mendekati mobil Reza, dan tersenyum lega melihat lelaki itu berada di dalam mobilnya sedang memeluk setang mobilnya.
“Tuan,” panggil Galuh sembari mengetuk kaca mobil. “Eh, Abang Reza.” Galuh menutup mulutnya menahan rona merah di pipi kala mengganti panggilannya pada Reza yang menolak dipanggil dengan sebutan tuan olehnya.
Galuh mencoba membuka pintu mobil yang ternyata tidak terkunci. Ia masuk dan duduk di sebelah Reza, “Abang, pulang yuk!”
Galuh menyentuh bahu Reza, tapi lelaki itu bergeming di tempatnya. “Kok, badannya panas ya.”
Galuh meraba leher Reza yang terbuka, panas! Galuh mendadak cemas, ia memegang bahu Reza berniat merebahkannya di sandaran kursi di belakangnya.
“Sayang,” terdengar suara lirih Reza merespons sentuhan tangan Galuh di lehernya.
“Ya Tuhan, Abang!” Galuh panik, sesaat setelah melihat darah segar menetes dari hidung Reza.
▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎