If Tomorrow Never Come

If Tomorrow Never Come
Bab 55. Menuju hari H



Galuh tidak habis pikir bagaimana mereka bisa melewati waktu satu Minggu ini tanpa merasa khawatir dan berharap semua akan baik-baik saja.


   Reza baru saja keluar dari rumah sakit setelah dua hari di rawat, ia begitu bersemangat dan langsung menyibukkan dirinya dengan segala urusan persiapan pernikahan mereka. Meski terlihat sehat dan segar, tapi Galuh tetap saja takut lelaki itu kelelahan dan jatuh sakit lagi.


   “Kenapa Abang menatapku seperti itu?” tanya Galuh lembut, ketika mereka sedang duduk berdua di bangku taman belakang rumah Reza.


  Reza mengusap bibirnya perlahan dengan punggung tangannya, pandangannya kini beralih menatap cangkir teh di tangannya. Cangkir teh itu sudah kosong, tapi masih terus dipegangnya.


   Galuh mengerutkan keningnya, menatap Reza heran. Lelaki itu berubah pendiam sejak kepulangannya dari rumah sakit, seperti ada yang mengganggu pikirannya tapi Reza enggan untuk bicara. “Abang, ada apa?”


   Reza hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis, jemarinya bergerak perlahan memutar-mutar cangkir kosong di depannya.


   Jawaban itu membuat Galuh bertambah bingung, ia bangkit dari kursinya dan berdiri menatap Reza lama. “Baiklah, kalau memang Abang tidak mau bicara. Lebih baik Aku pulang kembali ke rumahku saja sekarang. Lagi pula, Aku harus menyambut kedatangan keluargaku dari kampung.”


   “Jangan!” Reza mengangkat wajahnya cepat. Tangannya terulur menahan lengan Galuh, membuat wanita itu terdiam di tempatnya.


   Galuh menghela napas, lalu kembali duduk. “Abang harus bicara, jangan seperti ini. Membuatku bertanya-tanya tentang sikap Abang, ada apa?”


   “Aku bersalah padamu. Maaf, sudah egois karena membuatmu harus menuruti semua keinginanku,” kata Reza, perlahan menundukkan wajahnya.


   “Maksud Abang?”


  


   Reza mengangkat wajahnya, balas menatap Galuh. Teringat kejadian siang hari itu saat ia bertemu dan bicara dengan dokter Rendra.


   Sebelum Reza pulang ke rumahnya sore itu, dokter Rendra datang menemuinya di rumah sakit. Lelaki itu ingin bicara sesuatu yang penting padanya.


   Saat itu Reza sedang sendirian di kamarnya, ia harus menuruti keinginan omanya yang memaksa Galuh untuk menemaninya makan siang di kafe rumah sakit. Tiba-tiba saja oma kepingin makan nasi goreng kambing, setelah melihat tayangan di televisi. 


   Dokter Rendra meminta maaf padanya karena sudah menceritakan tentang penyakit yang dideritanya sejak lama pada Galuh.


Bukannya terkejut, wanita itu justru makin mantap ingin menikah dengannya. Tapi Reza tak ingin Galuh menikahinya karena tahu ia sakit, Reza tidak bisa menerima alasan itu.


   “Kamu sudah mendengar apa yang dikatakan dokter Rendra tentang penyakitku. Aku tidak mungkin memaksamu melakukannya. Kamu tidak harus tetap berada di sampingku, dan melanjutkan pernikahan ini. Jika Kamu ingin meninggalkan Aku dan membatalkan rencana pernikahan ini, Aku tidak apa-apa. Aku bisa menerima alasanmu. Aku ...”


   Ya Tuhan! Galuh menatap nanar wajah tampan lelaki di hadapannya itu. Ia tidak pernah menyangka kalau Reza akan berpikir seperti itu. Ia menangkup tangan Reza dan menggenggamnya erat.


   “Aku tidak akan ke mana-mana, Aku tidak akan pergi meninggalkanmu, Bang. Seperti keinginanmu juga, Aku ingin kita terus bersama menghabiskan waktu berdua.”


   “Aku tidak ingin melihatmu menangis dan menyesali keputusanmu kelak. Aku terlalu mencintaimu dan Aku tidak ingin melihatmu menderita karena keegoisanku, memaksamu dalam pernikahan ini.” Balas Reza.


   “Aku mencintaimu, Aku ingin menikah denganmu. Jangan pernah ragukan ketulusanku padamu. Dan Aku yakin, kita akan mampu melewati semua hal bersama.” Galuh meyakinkan Reza.


   Tuhan, terima kasih Engkau telah mengirimkan dia dalam hidupku. Aku mencintainya dan tidak bisa kehilangan dirinya. Dia bagian terpenting dalam hidupku.


   "Maafkan Aku, Aku terlalu mencintaimu. Tapi Aku juga tidak ingin melihatmu menderita jika terus bersamaku." Reza tak tahu harus berkata apa lagi, ia terlalu cinta dan takut kehilangan kesempatan untuk hidup bersama wanita yang dicintainya.


   Reza memeluk Galuh erat. Jika tidak ada hari esok, Aku ingin dia tahu kalau Aku begitu mencintainya. Semua yang kulakukan untuk menunjukkan padanya, kalau dialah satu-satunya.


   "Aku mencintaimu." Ungkap Reza dengan haru, dan Galuh semakin menenggelamkan diri dalam pelukan hangat laki-laki itu.


   Langit sore mulai menghilang berganti malam, suasana hati Reza membaik setelah perbincangan dari hati ke hati dengan Galuh. Tak ada lagi raut wajah muram, berganti keceriaan.


   Setelah makan malam usai, Reza mengajak Galuh untuk memilih tempat acara resepsi pernikahan mereka. Ada banyak pilihan hotel lengkap dengan dekorasi mewahnya, namun Galuh hanya menjawab dengan gelengan kepala.


   "Apa Abang setuju jika Aku meminta acara kita dilangsungkan di rumah ini saja?"


   "Maksud Kamu, resepsi pernikahan kita diadakan di rumah ini saja?" ulang Reza.


   “Maaf, Bang. Bukannya tidak menghargai keluarga Abang di sini. Tapi ini semua keinginan dari nenek dan mama yang merasa lebih nyaman bila acara diadakan di rumah saja,” ungkap Galuh menyampaikan alasannya.


   Reza langsung mengerutkan dahinya mendengar alasan yang diungkapkan Galuh padanya. "Memangnya kenapa kalau acaranya di hotel, bukankah lebih nyaman berada di sana ketimbang acara diadakan di rumah?”


   “Kami orang kampung biasa mengadakan acara-acara besar seperti ini di rumah kami sendiri. Selain memudahkan buat tetangga yang akan datang nanti, juga kebiasaan kami berkumpul bersama seluruh keluarga hingga larut malam sebelum hari H. Kalau di hotel kan gak bisa leluasa seperti itu, Bang.”


   Reza terdiam sejenak, mengingat ucapan oma yang mengatakan pada mereka waktu itu untuk menikah terlebih dahulu dan mengadakan acara resepsi belakangan.


   “Ada bagusnya juga sih, kalau pesta diadakan di rumah. Pasti banyak keluarga yang akan bergabung dan ikut menginap di rumah ini.”


   Reza akhirnya mau menuruti keinginan Galuh dan keluarganya, papa dan oma pun tak keberatan justru mereka merasa sangat senang.


   Atas permintaan oma pula, Galuh pun akhirnya setuju tinggal bersama mereka di rumahnya. Hanya tinggal beberapa hari menjelang acara pernikahan, Galuh harus ada di rumah itu karena keluarganya akan datang dan menginap di sana.


   Tanpa terasa, waktu yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Satu Minggu telah berlalu, dan esok hari adalah hari pernikahan Galuh dan Reza.


   Siang itu, Reza kembali sibuk mengurus pernak-pernik pesta dengan WO yang sudah ditunjuk dan tak sekalipun membiarkan Galuh ikut serta membantunya.


   “Calon pengantin wanita lebih baik berdiam diri di dalam rumah saja, biarkan calon suamimu ini yang mengatur semuanya.”


   “Tapi Aku gak mau lihat Abang kecapaian, biar Aku bantuin ya.”


   Reza menggeleng, dan menyuruh Galuh tetap berada di dalam rumah. Dan wanita itu akhirnya hanya bisa menurut meski dengan wajah cemberut. Dan satu kecupan mesra Reza di keningnya, akhirnya membuat wajah wanitanya merona dan kembali ceria karena besok hari pernikahan mereka.


Malam harinya kesibukan semakin bertambah. Suasana riuh juga tampak mewarnai rumah kediaman Reza, tempat acara pesta pernikahan akan digelar.


   WO yang ditunjuk Reza sedang menata ruang tamu yang akan dijadikan tempat untuk acara akad nikah, sementara semua keluarga berkumpul di ruang tengah duduk di lantai rumah sambil menikmati makanan ringan. 


   Semua orang merasa sangat gembira. Galuh bisa melihat mamanya tampak begitu bahagia, dari sikapnya mama terlihat begitu menyayangi Reza dan percaya kalau lelaki itu akan mampu membahagiakan putrinya.


▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎