If Tomorrow Never Come

If Tomorrow Never Come
Bab 38. Undangan di rumah Reza



Galuh masih berdiri diam di tempatnya, mencoba mencerna ucapan Reza padanya. Waktu cutinya hanya tersisa dua hari saja, dan Reza meminta dirinya untuk ganti menginap di rumahnya bersama dengan para tamu keluarga lainnya.


Heig heig!


Galuh tiba-tiba saja cegukan. Mendengar kata menginap, membuat tenggorokannya terasa tercekat dan jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.


“Kamu kenapa, yank. Kayak anak kecil kurang minum, sampai cegukan kayak gitu?” Reza mengulurkan botol minuman di tangannya pada Galuh, yang langsung menerimanya dan meminumnya segera.


“Kaget!” sahut Galuh singkat.


Galuh menggeleng kuat. Meski dengan alasan bersama keluarga lainnya, tetap saja terasa aneh buat Galuh. Mereka bahkan baru saja jadian, tapi Reza dengan berani memintanya untuk menginap di rumahnya.


“Kamu kenapa, sih. Kaget, kaget kenapa?” tanya Reza heran.


Tidak! Itu tidak boleh terjadi, toh ia bisa datang ke sana nanti. Kalau lelaki itu sibuk dan tidak bisa menjemput dirinya, Galuh akan berangkat naik taksi. Galuh sibuk dengan pikirannya sendiri, hingga mengabaikan pertanyaan Reza padanya.


“Sebaiknya Aku langsung pulang ke rumahku saja,” ucap Galuh, mengambil keputusan cepat.


“Heii, Kamu mikir apa sih?” kerutan di kening Reza makin dalam


Galuh sudah memutuskan, setelah memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi bila ia menuruti ucapan Reza. Menginap bukan pilihan terbaik, apalagi banyak keluarga laki-laki itu di sana. Ia tidak mau orang lain berpikir buruk tentang dirinya.


“Sepertinya menginap di rumah Abang bukanlah pilihan yang tepat. Aku tidak ingin hubungan dekat kita ini jadi alasan untuk berbuat hal semaunya. Aku merasa kurang pantas saja menginap di rumah lelaki yang bukan pasangan halal atau saudara sedarah. Itu saja.”


“Kalau memang di rumah Abang ada acara keluarga, dan Abang mengundang Aku untuk datang malam ini. Maka Aku akan datang sebagai seorang tamu,” ucap Galuh mengungkapkan alasannya.


“Astaga, yank. Kamu kok mikirnya gitu. Beneran, Aku gak ada maksud seperti itu. Oma dan papa sangat ingin mengenalmu dan memintaku untuk mengajakmu ke rumah sore ini,” ujar Reza.


“Aku sayang banget sama Kamu, Aku gak mungkin berbuat macam-macam sama Kamu. Aku gak mungkin ngancurin kepercayaan yang sudah Kamu berikan sama Aku, dan Aku menghormati keputusanmu.”


“Aku hanya ...” ucapan Galuh terhenti, pipinya terlihat bersemu merah. “Aku hanya merasa kurang pantas saja bila harus menginap di rumah laki-laki, meski dia pacar Aku sekalipun.”


Reza tersenyum mendengarnya, “Aku paham perasaanmu.”


“Hem.”


“Kita berangkat sekarang,” ajak Reza menggandeng tangan Galuh, ketika mobil yang menjemput mereka sudah tiba di depan. Keduanya berjalan memasuki mobil.


“Aku sangat lelah, bisakah Abang mengantarku pulang ke rumahku terlebih dahulu?” tanya Galuh saat sudah berada di dalam mobil. Tubuhnya memang lelah luar biasa, dan Galuh ingin segera beristirahat dan tidur di kamarnya sendiri.


“Padahal orang-orang papa sudah menyiapkan kamar untukmu di rumah,” gumam Reza pelan, menoleh pada Galuh sebelum beralih menatap layar ponselnya yang menyala.


Reza menggeser ikon hijau dan menempelkan benda pipih itu di telinganya. “Aku tunggu kalian di rumah nanti malam, jangan lupa bawa sekalian pacar kalian.”


Reza tersenyum lebar, menutup obrolan singkatnya bersama Danil yang menelepon menanyakan kabarnya. Ia menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku jaketnya, “Yank, gimana kalau nanti Aku jemput Kamu jam tujuh malam. Biar ada jeda waktu panjang buat Kamu istirahat, gim mana?”


Reza tersenyum kecut melihat Galuh yang ternyata sudah tertidur di sampingnya, kepalanya tergolek ke sebelah kiri dekat kaca jendela mobil. Ia menatapnya cukup lama, wajah lelap itu tampak tenang saat tertidur.


“Ish, andai saja Kamu mau beristirahat di rumah kami.” Ucapnya meraih kepala Galuh dan merebahkannya di bahunya. “Orang-orang di rumah bahkan sudah menyiapkan kamar khusus untukmu, jadi Aku hanya perlu menggendongmu dan memindahkanmu tidur di sana.”


Hingga mobil yang mereka tumpangi tiba di depan halaman rumah Galuh, wanita itu masih terlelap. Reza tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


“Yank, bangun. Sudah sampai,” ucap Reza seraya menepuk pelan pipi Galuh.


Galuh mengerjapkan matanya, menatap sekelilingnya. “Sudah sampai ya.”


Reza mengangguk, “Masih ngantuk, apa perlu Aku gendong sampai ke kamarmu?”


“Aduh!” Reza meringis sembari memegangi bahunya yang dikeplak Galuh yang mendelikkan mata padanya.


“Jangan macam-macam, jangan coba-coba cari kesempatan dalam kesempitan!” ujar Galuh galak, dengan mengepalkan tangannya ke depan wajah Reza yang langsung tertawa lepas melihatnya.


Galuh membuka pintu mobil setelah mengucap terima kasih terlebih dahulu pada sopir yang sudah mengantarnya pulang dan membantunya membawakan koper miliknya sampai ke depan pintu rumahnya, sementara Reza mengikutinya dari belakang.


“Bapak tunggu sebentar. Saya mau antar tunangan Saya dulu,” pamit Reza pada si sopir, yang menjawab dengan ucapan siap.


“Satu macam saja belum tentu berhasil. Gimana mau macam-macam, yank?” ucap Reza mengiringi langkah Galuh, ia mengambil alih membantu membawa koper milik Galuh masuk ke dalam rumahnya dan meletakkannya di depan pintu kamar wanita itu.


“Nah, tuh tau!” sahut Galuh.


“Ish!”


Galuh terkekeh, “Sudah sana pulang, Aku mau lanjut tidur lagi. Ngantuk tau,” usir Galuh dengan mendorong bahu Reza keluar rumahnya.


“Iya, iya Aku pulang.” Reza meraih tangan Galuh dan menggenggamnya erat. “Nanti malam Aku jemput jam tujuh, siap-siap ya sayang.”


“Hem.”


Reza tersenyum, mengusap rambut wanitanya. “Dah, istirahat sana.”


“Bang, tunggu dulu. Nanti malam itu acara santai atau gimana, apa Aku harus pakai gaun atau baju biasa aja?” tanya Galuh menahan langkah Reza, ketika lelaki itu hendak berbalik meninggalkan rumahnya.


“Santai, yank. Senyaman Kamu saja. Pakaian apa pun yang Kamu kenakan pasti akan terlihat cantik di mataku,” sahut Reza sambil tersenyum lebar.


“Dih, kenapa jadi pinter gombal ya sekarang?”


“Itu bukan gombal, yank. Fakta!”


“Ya udah, bentar malam Aku tunggu Abang jemput.” Galuh melambaikan tangannya, “Hati-hati!”


Setelah kepergian Reza, Galuh masuk ke dalam kamarnya dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Rasa kantuk yang menyerang sejak berangkat dari bandara tadi mendadak menghilang berganti rasa lapar.


“Aargh, malah lapar!” sungut Galuh, mengusap perutnya yang berbunyi nyaring.


Mau tak mau ia turun dari ranjang dan bergegas ke dapur rumahnya. Beruntung mama memberinya banyak makanan untuk dibawa pulang, jadi Galuh hanya perlu memanaskannya saja.


Sambil menunggu waktu Reza datang menjemputnya, Galuh berbenah isi kopernya. Membereskan barang-barangnya, lalu menyiapkan pakaian yang akan dikenakannya untuk pergi ke rumah Reza nanti.


Pilihannya jatuh pada gaun sederhana sepanjang lutut dan berlengan gantung dengan motif bunga-bunga. Bahannya adem di badan, dan Galuh suka memakainya. Saat lelaki itu datang menjemputnya, Galuh sedikit tertegun karena penampilannya yang terkesan sempurna.


Reza memakai setelan jas lengkap dengan dasi warna senada, sepatunya pun mengkilap dan potongan rambutnya rapi sekali.


“Katanya acara santai, kok Abang tampilannya kayak mau kondangan pesta resmi gitu?” tanya Galuh.


“Masa sih, ini biasa kali. Kan Aku suka pakai jas juga kalau kerja,” sahut Reza.


“Aku gak salah pakai baju kan, apa perlu Aku ganti baju juga. Biar kelihatan pas gitu sama Abang?”


“Gak perlu, Kamu cantik kok pakai gaun itu. Aku suka.”


Galuh tersenyum malu, malam itu mereka menuju rumah Reza. Sesampainya di sana, Galuh kembali tertegun karena tamu wanita yang hadir semua memakai gaun yang indah dan dandanan cantik tidak seperti dirinya yang memakai gaun sederhana dan bedak tipis di wajahnya.


▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎