
Galuh berjalan cepat ke arah dapur menemui Yuli, lalu berpamitan pada wanita itu.
“Terima kasih sudah membantu pekerjaanku,” ucapnya tulus, membuat Galuh menghentikan langkahnya lalu berbalik menatapnya. “Dan Aku minta maaf soal insiden tadi. Gara-gara membantuku, Mbak Galuh jadi ribut sama perempuan tadi,” imbuhnya lagi sambil menundukkan wajahnya.
“Hei, Aku gapapa. Lagi pula itu bukan salahmu, mereka saja yang cari masalah sendiri.” Galuh menyentuh bahu Yuli, membuat wanita itu mendongak dan menatap wajahnya. “Aku balik dulu, ya. Kalau nyonya itu mencariku, bilang saja sudah pulang.”
Yuli tertawa seraya menutup mulutnya, “Akan Aku sampaikan padanya.”
Galuh melambaikan tangannya dan segera berlalu dari sana, ia berjalan ke ruang utama sambil matanya mencari-cari sosok Reza. Tapi ia tidak menemukan laki-laki itu di sana.
Tak ada yang memperhatikannya. Kalau pun ada yang melihat padanya, mereka hanya mengernyit dan tak peduli padanya. Tentu saja, karena Galuh bukan dari kalangan atas seperti mereka. Lihat saja penampilan mereka, sangat kontras sekali dengan gaun sederhana yang dikenakannya.
Galuh mengembuskan napas, dan meninggalkan ruangan itu. Ia berjalan ke sudut ruangan dan mengambil jalan memutar, keluar melewati samping rumah menaiki tangga putar yang ada di sana. Ia memerlukan sesuatu untuk menghibur hatinya.
Dari lantai dua rumah Reza, ia bisa melihat keriuhan di bawahnya. Galuh berdiri mengawasi selama beberapa menit, lalu memilih duduk di kursi panjang yang ada di sana. Setengah berbaring ia menatap langit malam.
“Di sini Kau rupanya.”
Galuh menoleh cepat dan mengerjapkan matanya, terkejut mendapati Reza tengah berdiri di dekatnya.
“Aku mencari-carimu sejak tadi. Ke mana saja tadi Kamu, yank. Pamit ke toilet sampai satu jam lebih gak balik-balik?” Reza menjatuhkan bokongnya di kursi tepat di dekat kaki Galuh, yang langsung menarik kakinya menjauh.
“Kok tau Aku ngumpet di sini?” ucap Galuh balik bertanya.
“Ish! Ditanya malah balik nanya?”
Galuh terkekeh melihat bibir Reza mengerucut, ia menarik tangan Reza dan menautkan jarinya dalam genggaman tangan laki-laki itu.
“Aku sekarang di sini, Abang. Di depanmu,” ucap Galuh, tersenyum lembut menatap wajah Reza.
Reza terpana menatap senyum di wajah Galuh, manis sekali. Seolah tak mempercayai penglihatannya, Reza mengucek matanya berulang.
“Eiyy, jangan dikucek kayak gitu matanya. Bisa iritasi tau.”
“Yank, jadi nginap di sini kan?” Reza mengabaikan ucapan Galuh padanya.
Galuh menggelengkan kepala, “Sepertinya malam ini Aku harus pulang. Aku lupa, besok jadwal shif pagi. Dan Aku belum menyiapkan apa-apa,” jawab Galuh beralasan.
“Bukannya tadi Kamu sudah setuju menginap di sini, yank. Kenapa sekarang berubah lagi?”
“Mungkin lain kali, deh. Maaf, sudah merepotkan kalian semua di rumah ini.”
“Hmm, ya sudah kalau begitu.”
“Jangan ngambek gitu dong, Bang. Aku pulang sekarang aja sudah.”
“Jangan! Kok jadi Kamu sekarang yang ngambek. Gak boleh, enak aja mau pulang sekarang!”
Galuh terkikik melihat sikap Reza padanya, hatinya jadi terhibur dengan kehadiran lelaki itu di dekatnya.
“Lihat itu, Bang!” Galuh berbisik pada Reza, seraya mengarahkan telunjuknya ke langit. “Indah banget, begitu banyak bintang yang bersinar malam ini.”
Reza mengikuti arah telunjuk tangan Galuh, lalu tersenyum manis. “Tapi bintang yang paling bersinar itu ada di hadapanku kini.”
Galuh senyum dikulum, tersipu malu seraya memegang kedua belah pipinya. “Jadi pengen nyanyi.”
Lihatlah bintang-bintang di angkasa malam, biarkan matamu menatap indahnya. Katakanlah pada yang bersinar, khayalanmu dan mimpimu.
Coba pejamkanlah dua matamu, biarkan cahaya membias dipelukmu. Resapi dan yakinkan dirimu, harapanmu kan menjelma.
Bintang-bintang berikan cahyamu, bintang-bintang taburi kami malam ini. Bintang-bintang biarkan sinarmu menerangi indahnya cinta.
Dengarlah cerita cinta ini, satukan bersama rangkaian pancaranmu. Dan sebarlah ke penjuru agar damai isi dunia ini.
Bintang-bintang berikan cahyamu, bintang-bintang taburi kami malam ini. Bintang-bintang biarkan sinarmu menerangi indahnya dunia.
Siapa yang sendiri dengarlah kami, melagukan bahagia. Suara cinta ini kan menemani.
Suasana romantis menyelimuti keduanya, Reza meraih tangan Galuh dan mendekatkan ke bibirnya. Keduanya tertawa bersama, dan kemudian Reza mengajak Galuh untuk turun menemui omanya.
Hanya berselang sepuluh menit, kedatangan Dani menemui Reza di tengah acara pesta membuat perubahan sikap terjadi pada Reza. Apalagi setelah melihat rekaman video yang terjadi di taman.
Malam itu Galuh pulang diantar Reza, wajah lelaki itu terlihat geram. Ia tidak menyangka akan mendengar cerita mengejutkan dari mulut Dani tentang perlakuan tak mengenakkan yang dialami Galuh dari tamunya.
“Kenapa berpura-pura menjadi pelayan di sana, dan kenapa juga Kamu gak cerita soal itu sama Aku. Kamu gak nganggap Aku, yank. Sampai soal penting seperti itu harus Kamu sembunyikan dariku?” ucap Reza di sela perjalanan pulang menuju rumah Galuh.
“Kamu marah, Bang?” Galuh balik bertanya. “Aku hanya ingin membantu pelayan di rumahmu, itu saja. Tidak banyak yang kulakukan, Aku hanya membantu mengantar makanan. Itu saja,” jelas Galuh.
Reza menggelengkan kepala, “Gak!” sahut Reza cepat. “Aku gak marah.”
“Syukurlah!” sahut Galuh lega. “Tapi kalau dipikir-pikir, ucapan mereka ada benarnya juga. Aku memang seorang pelayan, pekerjaanku melayani setiap tamu yang datang. Entah itu di mal, atau pesta sekalipun.” Ucap Galuh sambil tersenyum.
“Hentikan, Aku gak suka dengar Kamu bicara seperti itu!” sentak Reza gusar.
“Faktanya memang seperti itu, kan. Aku memang pelayan, apalagi dengan pakaian seperti ini. Mungkin hanya Abang seorang yang menganggapku beda, tapi tidak dengan mereka di sana.”
“Kamu tau Bang, apa yang Aku rasakan saat mereka memintaku membersihkan meja bekas tamu yang lain. Bagaimana mereka melihatku dengan pandangan melecehkan. Aku seperti upik abu yang kebetulan hadir di tengah pesta mewah para bangsawan.”
“Gak ada yang berpikir seperti itu tentangmu, yank. Aku tulus sayang sama Kamu, Aku gak pernah menilai seseorang dari apa yang melekat di tubuhnya. Semua hanya pajangan, sementara doang!”
“Ya Tuhan, hanya soal pakaian saja kenapa jadi seperti ini!” Reza menyugar rambutnya gusar, ia tak pernah mengira akan begini jadinya.
“Abang mungkin gak, tapi orang lain akan berpikir beda. Pada kenyataannya kita memang berbeda jauh, Aku hanya perempuan biasa, anak orang biasa, sementara Abang orang berada ...”
“Kenapa harus memikirkan pendapat orang lain, toh yang akan menjalani hubungan ini kita sendiri.”
“Kita bukan hidup hanya berdua saja, Bang. Kita makhluk sosial, hidup berdampingan dengan orang lain.”
“Jangan diteruskan, Aku mohon.”
Malam itu untuk pertama kalinya mereka berselisih pendapat, dan Galuh tidak merasa dirinya nyaman setelah pertengkaran kecil di antara dirinya dan Reza.
Lelaki itu pulang tanpa berpamitan, dan Galuh tetap berdiri di sana sampai mobil yang dinaiki Reza itu menghilang dari pandangannya.
Keesokan harinya Galuh bekerja seperti biasa, ia sengaja melewati ruangan Reza untuk sekedar melihat kehadiran lelaki itu di sana. Sudah hampir jam sembilan pagi, namun ruangan di hadapannya itu masih tertutup rapat.
▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎