If Tomorrow Never Come

If Tomorrow Never Come
Bab 11. Maunya Reza



Galuh berjalan sambil menggandeng tangan Meldy dan Luna. Sesekali ia memalingkan wajahnya, melirik pada meja tempat Aldy dan Danil berada. Ia sengaja berlama-lama sampai di konternya hanya untuk melihat Reza kembali lagi ke mejanya.


Sedikit banyak ia jadi merasa khawatir kalau lelaki itu kenapa-kenapa setelah memakan pecel ayam pesanannya yang memang pedas level dewa, itu katanya Luna sih. Tapi biasa saja menurut Galuh.


Galuh menarik lengan Meldy dan Luna, mengajak mereka singgah di konter penjualan hp yang dilewatinya. Kebetulan suasana konter saat itu sedang sepi pembeli, hanya ada seorang karyawan yang sedang menata barang di dalam rak kaca, sementara om Stevan sang pemilik konter sedang duduk santai di belakang meja sambil memainkan game di ponselnya.


“Siang Om ganteng,” sapa Galuh ramah, sambil memasang senyum di wajahnya. Yang disapa langsung mengangkat wajahnya dan terkekeh saat melihat Galuh datang bersama dua rekannya.


“Eh si Galuh, tumben kemari. Biasa juga main telpon aja, mau beli paket data lagi? Jangan sekarang deh, mending besok saja. lagi gangguan soalnya, jaringan pada eror. Sinyal juga ngajak gelut terus seharian ini,” sahut om Stevan tanpa jeda.


Galuh terkekeh mendengarnya, ia menaruh ponselnya ke atas meja kaca kemudian menarik bangku tinggi lalu duduk menghadap kafetaria agar bisa leluasa melihat kedatangan Reza. Sementara Meldy dan Luna lebih memilih berdiri sambil melihat-lihat kartu baru yang berada dalam wadah plastik di atas meja.


“Mampir doang sih, Om. Mumpung masih ada waktu, sekalian mau lihat-lihat hp. Kali aja ada yang disuka terus dibeli deh,” jawab Galuh sambil cengengesan.


“Kebetulan banget kalau begitu, kita baru dapat kiriman dami dari ponsel keluaran terbaru punya opel.” Dan selanjutnya di depan Galuh sudah berjajar banyak macam model ponsel keluaran terbaru lengkap dengan penjelasan detail dari om Stevan.


Meldy dan Luna heran melihat sikap Galuh yang tidak seperti biasanya, lalu sejurus kemudian mereka terkikik geli saat menyadari mata Galuh yang terus melirik ke arah kafetaria mal dan tidak fokus dengan lawan bicaranya yang begitu bersemangat menjelaskan produk jualannya.


“Om Stevan, kami pamit dulu ya. Nanti disambung lagi ngobrolnya,” potong Galuh, saat melihat Aldy dan Danil keluar terburu-buru dari kafetaria mal sambil menenteng tas belanja milik Reza yang tertinggal di kursinya.


Mereka berdua berjalan menuju tangga eskalator, turun menemui Reza yang telah menunggu di lantai dasar lalu bersama-sama keluar dari dalam gedung mal. Galuh mengembuskan napas lega saat melihat Reza terlihat baik-baik saja.


“Jangan sampai kehabisan, Luh. Ini barang limited edition, cuman ada satu di setiap modelnya!” om Stevan mengingatkan.


“Siap, Om!” Galuh mengangkat ibu jarinya. “Balik yuk!” ajaknya kemudian pada Meldy dan Luna.


“Kirain tadi beneran mau ganti hp. Serius amat milihnya,” sindir Luna disela langkah kaki mereka menuju konter Galuh berada.


Galuh hanya meringis mendengarnya, “Awalnya kan lihat-lihat dulu, tertarik, cocok dan duitnya ada, baru deh beli.”


“Idem kalau kayak gitu, Luh.” Meldy menimpali.


“Luh, Kamu yakin si Reza bakal baik-baik aja?” tanya Meldy setibanya mereka di konter Galuh.


Galuh mengedikkan bahunya, “Ya, Aku gak tau pasti. Tapi kayaknya dia baik-baik aja, barusan Aku lihat dia lagi jalan bareng sama temannya tadi.”


“Syukurlah kalau begitu, sempat kaget juga tadi lihat itu anak tiba-tiba aja gabung di meja kita. Gak pakai a b c langsung nyobain makanan Galuh,” ucap Meldy sambil tertawa kecil.


“Kalian belum balik sekarang, kan? Bentar, Aku ke dalam gantiin Mia dulu. Biar dia bisa istirahat sekarang,” kata Galuh menyela ucapan Meldy. Ia lalu melangkah masuk ke dalam konter dan menyuruh Mia, rekan kerjanya untuk segera beristirahat sementara dirinya mengambil alih pekerjaan Mia yang masih tersisa.


“Ya kali aja itu anak langsung jatuh sakit, abis makan makananmu barusan.” Luna mencebikkan bibirnya. Ia berjalan masuk dan duduk di bangku panjang bersama Meldy, sengaja mengeraskan suaranya agar terdengar jelas oleh Galuh yang masih berada di dalam.


“Bukan salah Aku kali kalau dia langsung mules,” sahut Galuh yang keluar sambil membawa kantong plastik dan menaruhnya di balik pintu. “Sudah tau gak tahan pedas, tapi pesanan Aku malah diabisin sampai ludes.”


“Udah gitu malah nambah dua porsi lagi, katanya buat temannya. Beneran gak mau sakit sendiri, temannya juga harus ngerasain mules kayak dia.” Luna ikutan tertawa.


“Itu cowok kayaknya memang suka iseng, deh. Seneng banget ngerjain orang,” timpal Galuh lagi, dan disambut tawa kedua sahabatnya.


“Sudah jam satu, kita balik sekarang ya Luh. Yang semangat kerjanya, biar dapat bonus tahunan kayak kemarin lagi. Lumayan buat jajan akhir tahun!” ucap Meldy menyemangati Galuh.


Baru saja Galuh hendak berbalik, tiba-tiba saja ia melihat laki-laki itu datang kembali. Tanpa sadar Galuh mendadak bengong ketika Reza muncul dan sudah berdiri di ambang pintu. Kali ini dia datang bersama dua sahabatnya, yang berdiri di belakangnya menyilangkan tangan di dada. Gayanya sudah seperti bodyguard yang sedang mengawal majikannya berbelanja.


“Bukannya tadi kalian sudah pergi keluar dari mal ini?” tanya Galuh tidak dapat menyembunyikan rasa terkejutnya melihat kehadiran Reza kembali di depannya.


“Benar juga apa kata si bos, dia pasti perhatiin kita dari tadi!” bisik Aldy di telinga Danil, yang langsung diangguki rekannya itu.


“Ho oh, kelihatannya aja cuek. Ternyata diam-diam perhatian juga,” balas Danil sambil menutup mulut dengan sebelah tangannya. Keduanya malah saling berbisik, meski pelan namun terdengar jelas di telinga Galuh yang berada di dekat pintu berhadapan langsung dengan Reza.


Galuh melengos mendengarnya, sambil mengusap telinganya yang terasa panas ia memutar kepala dan menatap tajam Reza. Entah apalagi yang akan dilakukan laki-laki itu di konternya kali ini, yang jelas Galuh tidak mau terkecoh untuk yang ke sekian kali dan harus bolak-balik gudang untuk memenuhi permintaan laki-laki itu.


“Kalian itu gak ada kerjaan lain apa ya. Seharian bolak-balik ke mal dan masuk di konter yang sama!” cetus Galuh terlontar begitu saja, sebal melihat Reza yang senyam-senyum ke arahnya. “Apa Lo cengar-cengir, mau lapor pak Silo lagi. Mau lihat dia marahin Aku lagi. Silah kan, Aku gak takut!”


Bukannya menanggapi ucapan Galuh, Reza malah menjentikkan jarinya dan menyuruh Aldy dan Danil masuk ke dalam dan mengikutinya. “Lakukan seperti apa yang sudah kita bicarakan di bawah tadi!” perintahnya kemudian.


“Siap, Bos!” keduanya segera berpencar dan langsung memilih beberapa model sepatu dan menaruhnya di dekat kaki Reza, sementara lelaki itu hanya duduk menunggu sambil memainkan ponselnya. “Silah kan Bos pilih model yang mana yang akan dipakai nanti?” tanya Aldy berjongkok di depan Reza.


Galuh panik, banyak sepatu sudah berpindah tempat dari raknya dan kini berjajar hampir memenuhi jalanan di depan pintu masuk konternya. “Kalian ini sebenarnya mau apa, sih. Datang-datang bikin rusuh konter Aku! Kalau begini caranya Aku panggil sekuriti biar mereka yang tangani kalian bertiga sekarang!” ucap Galuh tegas, dan bersiap melangkah keluar.


Grepp! Sebuah tangan kuat menarik lengannya hingga Galuh kontan memundurkan langkahnya. “Lepasin, gak!” bentak Galuh berusaha melepaskan pegangan tangan Reza di lengannya.


“Kamu sudah keterlaluan, Kamu pikir Aku robot gak punya perasaan. Kamu seenaknya ngelakuin hal seperti ini, Kamu pikir Aku gak capek apa bolak-balik mesti beresin semua barang yang sudah Kamu buat berantakan. Belum lagi Aku harus bolak-balik ke gudang buat cari pesanan Kamu yang akhirnya semua percuma karena satu pun gak ada yang jadi Kamu beli!”


“Ssstt, tenang. Kali ini Aku pasti beli, kok. Dan mereka berdua bakal balikin semua kembali ke tempatnya. Jadi sekarang, mending Kamu ambil nota dan catat apa-apa saja yang dipilih sama mereka berdua,” ucap Reza kalem, ia masih duduk santai di bangku sambil terus mengetikkan sesuatu di ponselnya. Namun Galuh bergeming di tempatnya, ia tidak percaya dengan semua yang barusan diucapkan laki-laki itu padanya.


“Tiga pasang warna hitam dengan size nomor 42, dua pasang warna merah dengan size no 41, dan dua pasang warna oranye size 43.” Aldy menyebutkan warna dan ukuran sepatu yang dipilihnya, dan Danil menyebutkan harga satuan dari tiap-tiap sepatu yang ada.


“Totalnya ada tujuh pasang dan harga satuannya sembilan ratus ribu, Bos!”


“Oke!” Reza lalu mengeluarkan kartu debet dari dompetnya dan menyerahkannya pada Galuh. “Kalau memang barang itu ada di gudang dan Kamu butuh orang untuk membantumu mengambilnya, Kamu bisa mengandalkan mereka berdua. Tenang, pak Silo tidak akan marah karena Aku sudah mengantongi izin darinya.”


“Kamu gak lagi nge-prank Aku kan?” tanya Galuh ragu, tapi kartu di tangan Reza diambilnya juga.


“Kalau Kamu ragu, Kamu bisa buat transaksi pembayarannya terlebih dahulu. Setelah itu baru sediakan barangnya, apa itu yang Kamu mau biar percaya dengan ucapanku?”


“Kelihatannya itu lebih masuk akal,” sahut Galuh cepat, dan dalam hitungan menit saja ia sudah mencatat semua barang yang akan dibeli Reza dan mulai melakukan auto debit di kartunya. Galuh tersenyum lega saat transaksi selesai dan ia langsung menyerahkannya kembali pada Reza. “Terima kasih,” ucapnya kemudian.


Reza bangkit dari kursinya setelah sebelumnya menyuruh Aldy dan Danil membereskan kembali barang-barang yang diturunkannya dari rak, dan membantu Galuh menyediakan barang pesanannya dari dalam gudang. Ia lalu mengajak mereka berdua pergi dari sana.


“Loh, sepatunya gimana. Kalian gak nunggu dulu, biar Aku bungkusin barangnya sebentar?” tanya Galuh bingung.


Reza memutar tubuhnya, dan menurunkan sedikit kaca mata di hidungnya. “Ups! Hampir lupa, begini saja. Tolong Kamu antar ke alamat ini. Aku tunggu dalam waktu dua jam dari sekarang,” ucap Reza sembari mengeluarkan kartu nama dan memberikannya pada Galuh yang masih berdiri bengong di tempatnya.


“Gitu? Kenapa harus diantar, kenapa gak ditunggu aja? Tinggal bungkus doang kok.”


“Karena Aku mau Kamu yang datang mengantarnya, ada masalah?” Dan sebelum Galuh menyampaikan protesnya lagi, Reza sudah berlalu dari sana sambil bersiul seperti biasanya.


▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎