
Reza duduk setengah berbaring sembari berselonjor kaki di sofa ruang kerjanya. Matanya terus mengawasi Galuh yang tengah sibuk menyiapkan makanan untuknya.
“Ehm, Tuan mau makan pakai supnya gak?” tanya Galuh, memperlihatkan cup kecil berisi sup terbungkus dalam wadah plastik di tangannya pada Reza. “Kelihatannya enak sih.”
Reza menggeleng, “Kalau Kamu mau, buat Kamu aja. Lagi pula, Aku juga gak suka sayur yang ada sounnya.”
“Kalau Tuan gak suka, kenapa dipesan?” ucap Galuh balas bertanya, sembari menaruh kotak makanan ke atas meja, lalu duduk di ujung sofa dekat kaki Reza.
“Itu hanya bonus tambahan untuk menu utamanya, bukan karena Aku yang pesan.” Reza bangun dan menegakkan tubuhnya, menggeser turun kedua kakinya sembari melirik sekilas pada makanan di dekatnya.
“Ayo dimakan, mumpung masih anget. Gak enak kalau sudah dingin,” ujar Galuh menyerahkan sendok dan garpu ke tangan Reza, lalu mencomot bungkusan kerupuk emping di atas meja, kemudian duduk menyandarkan punggungnya di sofa.
Reza bergeming. Ia hanya diam memandangi Galuh yang duduk santai menikmati makanannya, dengan tangan masih memegang alat makannya.
“Suapin!” pintanya halus, tapi lebih seperti sebuah perintah dan terdengar jelas di telinga Galuh yang nyaris membuat wanita itu tersedak makanannya.
Galuh mengusap mulutnya dengan punggung tangannya, bingung menatap Reza yang langsung menyodorkan alat makan di tangannya kepadanya. “Tuan kan bisa makan sendiri, kenapa harus disuapin?”
Reza mengangkat tangan kanannya, dan memperlihatkan pada Galuh garis memanjang kemerahan di telapak tangannya yang terluka. “Tadi jatuh gak sengaja kena ujung meja kaca. Lukanya kecil sih, tapi lumayan perih dan bikin Aku kesulitan buat makan sendiri.”
Galuh cepat-cepat menaruh bungkusan emping di tangannya ke atas meja, lalu mengelap tangannya dengan selembar tisu, kemudian meraih tangan Reza dan memeriksa lukanya. “Tuan kenapa diam aja, sih. Tau gitu kan Saya obati dulu lukanya, sampai merah begini.”
Galuh tampak cemas, wajah lelaki di hadapannya itu juga terlihat pucat dan lemas. Dan hal itu makin menambah kekhawatiran Galuh. “Ya sudah, biar Saya suapin makannya.”
Dengan telaten Galuh melayani Reza, menyuapinya dengan sabar dan sesekali menyeka ujung bibirnya yang terkena saus ayam bakar.
Reza tersenyum menatap Galuh, hatinya menghangat. Cara Galuh melayaninya membuatnya semakin yakin untuk mempersunting wanita itu menjadi pendamping hidupnya.
Tak ingin kehilangan momen kebersamaannya yang berharga itu dengan Galuh, Reza sengaja berlama-lama mengunyah makanannya dan beralasan kalau ayam bakar itu masih alot dan belum matang sepenuhnya.
“Masa sih?” Galuh tak percaya, karena sejak tadi ia dengan mudah merobek daging ayam itu dengan ujung garpu di tangannya. “Kalau masih alot, ini ayam pasti susah di robeknya.”
Galuh memasukkan potongan daging ayam ke dalam mulutnya dan mengunyahnya perlahan. Dahinya berkerut, matanya menatap lurus wajah lelaki di hadapannya itu.
“Gimana, benaran alot kan? Kamu sih gak percaya sama omongan Aku.” Reza mencebikkan bibirnya.
“Alot apaan!” Galuh mendelik sebal. “Dasar Tuan aja yang sengaja makannya di lama-lamain.”
“Masa sih?” ganti Reza yang bertanya balik. Sisa potongan ayam di tangan Galuh pun diambilnya, dan langsung mengunyahnya dengan cepat. “Eh, benar juga. Kok yang ini gak alot, lunak malah. Kenapa bisa begitu ya, padahal dari potongan ayam yang sama?”
Galuh berusaha menyembunyikan senyumnya, dan menjaga suaranya agar tetap serius. “Udah, buruan makannya. Masa makan begini aja lama banget!”
Reza pura-pura tidak mendengar, ia lalu menunjuk gelas minumnya dan menyuruh Galuh mengambilkan untuknya. “Sedotannya jangan lupa, sayang. Susah kalau minum langsung dari gelas.”
Galuh mengernyit sebal, tapi tetap saja ia menuruti permintaan laki-laki itu. Hampir satu jam lamanya, akhirnya makan siang yang terlambat itu berakhir dengan senyum lebar di wajah Reza. “Terima kasih ya, sayang. Kamu sudah temani Aku makan siang.”
“Heemmm!” jawab Galuh tanpa menoleh, sibuk membereskan bekas makan mereka berdua.
“Kok hemm!”
“Terus, Tuan maunya Saya jawab apa?”
“Sama-sama sayang, seperti itu.”
“Dih! Itu sih maunya Tuan, kalau Saya mah enggak ya.”
Reza tergelak mendengar jawaban Galuh, sampai-sampai bahunya terguncang dan tanpa sadar tangannya yang terluka mengenai ujung meja kembali.
“Aduh!” Reza mengibaskan tangannya yang mendadak nyeri, darah segar menetes dari lukanya yang belum mengering.
“Tuh, kan. Gak hati-hati sih!” Galuh bergegas mengambil kotak obat yang tergantung di dinding persis di sudut ruangan, lalu segera mengobati luka di tangan Reza.
“Tuan, Saya harus kembali bekerja secepatnya. Jika terlalu lama berada di sini, Saya bisa-bisa kehilangan pekerjaan Saya.” Galuh berucap pada Reza sebelum berbalik pergi dari ruangannya.
“Aku bos di tempat ini, ingat itu. Dan Kamu tidak perlu khawatir soal itu, karena bila hal itu sampai terjadi maka Aku yang akan bertanggung jawab sepenuhnya atas hidupmu. Dan Kamu pasti tahu apa yang Aku maksudkan.”
“Saya pasti akan selalu mengingat hal yang satu itu, Tuan!” ucap Galuh tak nyaman.
Reza tersadar melihat perubahan wajah Galuh, "Maafkan Aku, bukan maksudku mengingatkan Kamu tentang status pekerjaan diriku di tempat ini. Percayalah, Aku tidak akan pernah menggunakan jabatan atau posisiku untuk menekan orang lain, terlebih pada orang yang Aku sayangi. Aku tulus menginginkanmu jadi istriku.”
Galuh hanya bisa menghela napas, lalu secepatnya pergi dari sana dan kembali ke konternya. Senyumnya langsung merekah ketika melihat Meldy sahabatnya berada di sana sedang membantu melayani pengunjung yang datang berbelanja.
“Luh, Nieke sport nomor 41 magenta 1 pasang, yang baru di gudang ready stok gak?” seru Meldy mengacungkan sebelah sepatu di tangannya saat melihat kedatangan Galuh tepat di ambang pintu masuk.
“Ready stok, say. Oke, Aku ambilkan segera.” Galuh bergegas berlari ke gudang dan kembali dengan membawa sepatu pesanan pelanggan.
“Terima kasih ya, Mel. Aku gak nyangka Kamu bakal datang bantuin Aku di sini,” kata Galuh memegang lengan Meldy.
“Aku memang sengaja datang mau ketemu Kamu sama Luna, sekalian mau pamitan. Aku resign mulai besok, persiapan buat acara minggu depan sekalian awal bulan depan mau ikut suami ke Kairo ada tugas di sana.”
“Selamat ya, Mel. Ikut senang lihat Kamu bahagia kayak gini,” ucap Galuh tulus, dan langsung memeluk sahabatnya itu.
“Kalian harus datang ke acara nikahan Aku, bila perlu nginap di rumah Aku nanti.”
“Moga aja bisa ya, Mel. Tapi, kalaupun gak bisa nginap juga. Aku pasti akan datang ke acara nikahan Kamu.”
“Pokoknya Harus!” ucap Meldy. Galuh tertawa, memeluk bahu Meldy dan menempelkan pipinya di sana.
“Ekhem!”
Suara berdeham seseorang di belakang mereka membuyarkan kebersamaan Galuh dan Meldy. Keduanya menoleh bersamaan dan terdengar seruan tertahan Galuh saat melihat sosok lelaki bermata sabit yang tersenyum lebar padanya.
“Bang Kevin?” seru Galuh terkejut melihat laki-laki itu tiba-tiba sudah berada di konternya.
“Hai Non,” sapa Kevin ramah, lalu mengangguk pada Meldy yang mencubit pinggang Galuh.
“Aduh!” Galuh meringis, menoleh pada Meldy yang mendelikkan mata padanya. “Bang, kenalin Meldy teman Aku. Minggu depan dia mau nikah, jadi jangan coba-coba tebar pesona sama dia ya.”
“Ish!” Kevin tertawa, dan langsung menyentil kening Galuh. “Bisa aja!”
Dalam sekejap, Galuh larut dalam kegembiraan bersama dengan hadirnya Meldy juga Kevin di konternya. Kedatangan laki-laki itu ke sana secara kebetulan saja, karena tanpa sengaja melihat Galuh lewat di depannya saat ia sedang makan di salah satu kafe yang ada di mal itu.
“Pulang kerja jam berapa, Non?”
“Aku lembur sampai malam hari ini, kenapa?”
“Kirain pulang sore, pengen ngajak Kamu jalan-jalan. Mumpung malam Minggu,” ucap Kevin.
“Uhuk, keselek kacang!” celetuk Meldy, sambil menepuk dadanya.
Galuh meringis mendengarnya, “Minum yang banyak, Mel! Pelan-pelan makannya, sampai keselek gitu!”
“Ya udah, nanti malam biar Aku jemput pulangnya.” Kevin kembali bicara.
“Galuh Nanda nanti malam pulang dengan Saya.” Reza tiba-tiba muncul di hadapan Galuh, dan langsung berdiri berhadapan dengan Kevin. “Kenalkan, Saya Fahreza Raka Mahendra. Calon suami Galuh Nanda!”
“Uhuk uhuk!” kali ini Galuh yang keselek kacang yang diambilnya dari tangan Meldy.
▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎