
Galuh tersenyum lebar seraya memejamkan matanya sejenak, merasakan embusan angin menerpa kulit wajahnya yang tidak tertutup kaca helm. Sore itu ia habiskan waktunya bersama dengan Kevin, sohib barunya yang beberapa saat lalu dikenalnya tapi sudah langsung akrab layaknya sahabat lama.
Lelaki itu membawanya masuk ke salah satu gerai HP terbesar di kotanya. Tanpa aba-aba ia langsung meminta ponsel keluaran terbaru merek Sumsang pada pramuniaga toko. Hanya butuh waktu dua puluh menit, ponsel baru itu sudah berpindah tangan kepada Galuh.
“No!” Kevin menggeleng keras, melihat Galuh hendak melayangkan protes padanya. “Aku tidak mau mendengar kata penolakan! Anggap saja ini sebagai ungkapan maaf dariku, karena sudah membuat ponselmu rusak dan lenganmu terluka.”
“Tapi, gak harus kayak begini juga kali. Aku jadi gak enak, beneran Bang!” ucap Galuh tak nyaman.
“Begini saja, biar Kamu juga merasa nyaman. Bagaimana kalau sore ini Kamu ikut Aku ke rumah sakit, Aku harus memeriksa ...”
“Ke rumah sakit mau ngapain sih, Bang. Kan barusan sudah beli obat di apotek. Tangan Aku aman, Bang. Memar doang, gak perlu deh ke sana segala.”
Tuk!
“Aow!” teriak Galuh seraya mengusap keningnya. “Yang di siku aja belum sembuh, malah tambah di kening lagi!”
Gemas, Kevin menyentil kening Galuh. “Makanya, dengar dulu penjelasan Aku. Main potong aja!”
“KDPB ini namanya!”
Kevin mengerutkan keningnya, “Apaan?”
“Kekerasan dalam pertemanan baru!” jawab Galuh dengan wajah kesal.
Kerutan di kening Kevin makin dalam, perlahan kedua sudut bibirnya melengkung dan berakhir dengan tertawa lepas. Galuh merengut, melirik sebal pada lelaki itu. Namun sejurus kemudian ia ikut tertawa karena tak tahan melihat mata Kevin yang seperti bulan sabit.
“Aku harus ke rumah sakit sore ini, karena ada janji temu dengan salah satu pasienku.” Kevin melirik arloji di tangannya. “Kira-kira satu jam, setelah itu Aku akan mengantarmu pulang ke rumahmu.”
“Jadi Bang Kevin ini dokter toh. Kirain tadi saingannya Rossi di sirkuit, lagi liburan di Indo.”
“Nyindir? Sentil lagi, nih!”
“Jangan, ih! Maksud Aku gini, kalau Abang sibuk lebih baik Aku pulang sendiri aja sekarang. Aku bisa kok naik angkot, mumpung masih belum terlambat sebaiknya Abang berangkat sekarang ke rumah sakit.”
“No! Aku yang bawa Kamu jalan, Aku juga yang harus mengantarmu pulang dan memastikan Kamu sampai dengan selamat tiba di rumahmu!” tegas Kevin.
“Ya udah, deh. Terserah Abang gimana baiknya, yang penting Abang bisa tepat waktu sampai di rumah sakit dan Aku pulang dengan selamat sampai di rumah. Titik!”
“Oke! Sekarang kita ke rumah sakit dulu.”
Hanya butuh waktu sepuluh menit mereka sudah sampai di tempat yang dituju. Galuh memilih untuk menunggu di musala rumah sakit sembari menjalankan kewajibannya. “Telpon aja kalau Abang sudah selesai tugas, biar Aku menyusul di parkiran.”
Satu jam kemudian keduanya sudah kembali melanjutkan perjalanan. Di tengah jalan Kevin memutuskan untuk singgah membeli makanan. “Maklum, bujangan. Gak ada yang masakin di rumah,” ucapnya santai.
“Kalau sudah ada jodohnya, buruan disegerakan. Biar ada yang masakin di rumah, biar ada yang angetin kalau dingin!” seloroh Galuh terkikik geli.
“Mulai! Otak langsung traveling deh.”
“Lah benar, kan. Kalau masakannya dingin jadi ada yang angetin maksudnya. Dih, si Abang omes mulu pikirannya.”
“Hahhaha, iya juga ya.”
Sepanjang jalan keduanya terus bercanda. Galuh bahkan dibuat terpingkal-pingkal oleh ulah Kevin yang suka sekali menggodanya dengan memainkan mimik wajahnya. Tak jarang ia harus memegang rahangnya yang terasa keram karena terus tertawa. Lelaki berkulit putih dengan wajah oriental itu tampak menggemaskan saat sedang tertawa.
“Non, jangan bobok dulu!” tegur Kevin, melambatkan laju motornya. Panggilan dadakan Kevin untuk Galuh yang memanggil abang padanya. Ia menatap dari balik kaca spion, wanita yang duduk di belakangnya itu tengah memejamkan matanya.
Galuh mengerjapkan matanya, “Bukan bobok, Abang. Merem bentaran doang, menikmati embusan angin yang lembut membelai kulit wajah!”
Kevin mengulum senyum, merasa lucu melihat Galuh yang menangkupkan kedua tangan ke wajah sambil mengedip-ngedipkan matanya. “Kirain merem kena asap knalpot angkot yang lewat barusan!”
“Bang Kev, lewatin itu angkot. Gas pol!” Galuh menurunkan kaca helmnya, lalu menepuk keras pundak Kevin.
“Pegangan yang kenceng, Non!” Kevin meraih tangan Galuh dan menaruhnya di pinggangnya, lalu tancap gas. Meliuk, melewati angkot di depannya.
“Huh, akhirnya sampai juga!” Galuh turun dari boncengan motor Kevin, membetulkan tasnya yang melorot jatuh ke sikunya.
“Sudah lama tinggal di sini, Non. Mobil bisa masuk gak sampai depan rumah sini?” tanya Kevin mengamati sekelilingnya. “Aman juga gak?”
Matanya melihat sebuah mobil berwarna hitam yang ada di ujung jalan, terparkir dengan lampu depan menyala. Sepertinya ada seseorang di dalam sana, sayang ia tidak dapat melihat dengan jelas karena wajah itu tertutup jaket hoody dan masker.
“Bisalah, truk aja bisa masuk apalagi mobil kecil. Lagi pula di sini itu aman daerahnya. Emang kenapa sih tanya kayak gitu, mau kos di sini juga?”
“Maunya sih gitu. Lagi mikir aja, gimana caranya mindahin kamar Aku biar dekat sama kamar Kamu?” sahut Kevin sambil mengetuk-ngetuk ujung dagunya, seolah sedang berpikir keras.
“Mulai deh eror lagi!” Galuh memutar bola matanya, membuat Kevin tertawa lepas dan sekali lagi Galuh melihat bulan sabit itu muncul kembali di depan matanya.
“Ya udah, Aku balik dulu. Terima kasih sudah menemani soreku hari ini. Benar-benar menyenangkan. Senang bisa berkenalan denganmu, Nona Galuh Nanda.” Kevin menatap Galuh lama, tangannya terulur menyentuh wajah Galuh.
“Eh!” Galuh kaget dan spontan memundurkan tubuhnya.
“Ah eh ih, helmnya atuh Non. Dilepas, masa mau dibawa masuk?”
“Eh, sampai lupa.” Galuh tersenyum malu, dan segera melepas helm di kepalanya lalu menyerahkannya pada Kevin yang tersenyum menatapnya.
“Terima kasih sudah antar Aku selamat sampai di rumah. Terima kasih sekali lagi karena sudah kasih Aku ponsel baru.” Galuh mengangkat paper bag di tangannya. “Dan terima kasih juga buat sore yang seru banget hari ini. Aku senang sekali,” ucap Galuh tulus.
“Sama-sama. Kalau ada waktu luang, libur kerja misalnya. Mau gak jalan bareng Aku lagi?”
“Ehm, mau gak ya?” Galuh memutar-mutar tubuhnya ke kiri dan ke kanan, pura-pura berpikir. “Nunggu ya ...?”
“Ish, lama jawabnya. Dah lah nanti langsung culik aja,” ujar Kevin menghidupkan kembali mesin motornya.
Galuh tergelak, “Dih, maksa!”
“Aku pamit dulu, hati-hati di rumah. Jaga diri baik-baik. Bye, Non.”
“Bye, Abang. Hati-hati!” Galuh melambaikan tangannya, menatap kepergian Kevin hingga punggung lebar lelaki itu menghilang dari pandangannya.
Galuh berbalik hendak masuk ke dalam rumahnya, ia berjalan melewati teras rumahnya. Tiba-tiba sebuah tangan kuat mencekal pergelangan tangannya, hingga membuat tubuhnya berputar dan terkesiap menatap sosok lelaki di hadapannya itu.
“Jadi lelaki itu alasannya, kenapa Kamu tidak mau menerima tawaran pekerjaan dariku tadi?” Reza mencengkeram kuat pergelangan tangan Galuh membuat wanita itu meringis menahan sakit.
“Lepaskan tanganku!” Galuh meronta, menyentak kuat tangan Reza. Tapi laki-laki itu bergeming. Baru saat Galuh merintih, ia tersadar dan melonggarkan pegangan tangannya tanpa berniat melepaskannya.
“Jawab Galuh!” desis Reza dengan nada penuh penekanan.
“Tuan apa-apaan, sih! Lepasin tangan Aku, sakit tau!”
“Jawab saja pertanyaanku, apa dia alasanmu menolakku?”
“Siapa pun dia, gak ada hubungannya dengan masalah ini. Aku menolak tawaran pekerjaan dari Tuan karena Aku memang tidak menginginkan pekerjaan itu. Meski dibayar sepuluh kali lipat gajiku sekalipun, Aku tetap menolaknya. Kalau Tuan terus memaksa lebih baik Aku mengundurkan diri daripada ...”
Dan sebelum Galuh sempat menyelesaikan ucapannya, lelaki itu sudah menarik tubuhnya kuat hingga membentur dadanya yang bidang. Satu gerakan cepat ia sudah merangkum wajah Galuh dan menciumnya lama.
▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎